Gadis Buruk Rupa

Gadis Buruk Rupa
Bab. 9 Gadis Desa


__ADS_3

Aliando membuka pintu kamar dengan sangat pelan dan berhati-hati agar tidak menimbulkan suara berisik yang akan mengganggu seisi rumah itu,karena jam tangannya masih menunjukkan pukul tiga pagi.karena di jam seperti itu orang masih enak-enaknya menikmati mimpi mereka.Aliando keluar dari kamar berjalan berjinjit agar tidak menimbulkan suara kakinya yang menempel di lantai kayu rumah Sale.Aliando berpikir sejenak,kalau Dia mandi sekarang,pasti suara air yang jatuh ke lantai kamar mandi akan terdengar sangat jelas ke seluruh ruangan rumah ini,karena kamar mandi di rumah Sale hanya satu dan tidak ada kedap suara seperti di rumahnya.Aliando mengacak rambutnya kasar,dan menghembuskan nafasnya dengan pelan."Apa yang harus gue lakukan,Ya Allah".katanya dalam hati yang kini Aliando hanya berdiri di depan kamar tempat dirinya dan ketiga temannya itu tidur.


"Gue tidak perduli,mau terdengar atau tidak,gue akan mandi".kata Aliando kemudian berjalan pelan menuju kamar mandi yang letaknya di samping dapur rumah itu.Aliando mengguyur tubuhnya dengan air yang di ambilnya dengan gayung yang juga terbuat dari kayu,antik dan sangat indah,terus di guyurnya tubuhnya dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya.


Entah berapa lama Aliando melakukan itu,hingga pintu kamar mandi di ketuk seseorang dari luar,Aliando baru menghentikan aktivitasnya itu.


"Apa yang lu lakukan Do?",tanya Amar setelah pintu kamar mandi itu terbuka."Dari tadi lu mandi kagak selesai-selesai".Amar melihat heran ke arah sahabatnya itu."Apa-apaan lu Do,,,,mandi dengan pakaian lengkap seperti ini?".


"Gue kegerahan Mar".kata Aliando asal,sebenarnya Dia juga baru menyadari apa yang Dia lakukan setelah melihat baju yang di kenakannya sudah dalam keadaan basah kuyup.


"Kegerahan,,,,?",Amar mengulang kata Aliando keheranan."Tapi ini musim dingin Do, bukan musim panas",kata Amar sambil menyodorkan handuk yang ada di tangannya itu kepada Aliando yang masih berdiri di depannya."Ayo gantilah pakaian lu Do,nanti lu masuk angin".


Aliando menerima handuk itu dari tangan Amar dan melilitkan di tubuhnya yang masih terbalut baju basahnya,berlari kecil masuk ke dalam kamarnya.


Amar hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku sahabat gantengnya itu,dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang akan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Tepat pukul empat pagi Aliando dan Amar sudah melaksanakan sholat subuhnya,kemudian Amar membangunkan Daniel dan Reno untuk melaksanakan ibadah mereka.


"Lu mau kemana Do?",tanya Amar yang melihat sahabatnya itu mengambil kameranya,dan hendak pergi keluar dari kamar mereka.


"Gue mau jalan-jalan Mar",katanya sambil terus melangkah keluar kamar tanpa menoleh pada Amar."Gue ikut".kata Amar menyusul langkah Aliando.Sedang Daniel dan Reno tidur lagi setelah melaksanakan ibadahnya.


Sedangkan di ruang depan Amar dan Aliando berpapasan dengan Mamah yang sudah bangun dari tidurnya,dan sedang membuka jendela depan rumahnya.


"Kalian mau kemana?",tanya Mamah kepada keduanya.


"Kami ingin jalan-jalan sebentar Mah",kata Aliando pelan.


"Jalan-jalan kemana?",tanya Mamah lagi.


"Ke arah timur Mah".jawab Aliando sambil berjalan keluar rumah di ikuti Amar.


"Baiklah,,,kalian hati-hati,ini masih gelap".kata Mamah yang mengikuti kedua anak muda itu menuruni tangga di teras depan.


"Baik Mah,,,,"jawab keduanya sambil melambaikan tangannya ke arah Mamahnya Sale.


Mereka berjalan-jalan menikmati udara pagi yang saat ini sangat dingin.Aliando mengalungkan kameranya pada leher jenjangnya yang putih.


"Do,,,,kita pulang jam berapa?",tanya Amar.


"Kita berangkat dari Samarinda saja ya Mar,gimana?",tanya Aliando balik.


"Ok Do,,, ide yang baik".


"Kita naik taksi dari kota,ke Bandar Udaranya".kata Aliando tatapannya menyapu ke segala arah,yang jalanan Desa itu masih sangat gelap.Mereka berjalan-jalan ke arah yang sama saat mereka berempat dengan Sale kemarin lusa jalan-jalan pagi menyusuri Desa.


"Sebentar Do,,,gue lihat dulu jam berapa penerbangan akhir dari Samarinda",kata Amar tangannya memainkan handphonennya,melihat informasi Penerbangan Pesawat.


"Malam,ada kan?",tanya Aliando.


"Iya Do,,,jam tujuh malam".

__ADS_1


"Ok,kita berangkat siang dari sini".kata Aliando menjentikkan tangannya sehingga menimbulkan sedikit bunyi dari dua jarinya yang saling bergesek dan bersentuhan ibu jari dengan jari telunjuknya.


"Do,,,, si Karolin,telfon ke ponsel gue,katanya ponsel lu sulit di hubungi",kata Amar menyebut nama cewek yang bisa di katakan idola di kampusnya,yang lagi ngebet banget sama si Aliando.


"Gue lagi males lihat HP Mar,lagi pula Sim Card dah gua lepas,Ponselnya buat Mamah".


"Ngapain coba,,,si Karolin kagak naksir gue",kata Amar konyol.


"Ngapain lu kagak tembak aja dia Mar,kalau lu suka",kata Aliando dengan cuek.


"Kagak bro,,,, dia nya dah ngebet banget ama lu".


"Gua kagak Mar,tenang aja".


"Hahahaha....kagak bro,gue cuma bercanda,dia bukan type gue".


"Emang type lu,,,,?sebangsa ama lu ya Mar?".candanya pada sahabatnya itu,yang memang Amar keturunan dari Timur Tengah,sedangkan Karolin adalah cewek blasteran sama halnya dengan Aliando.


"Sialan lu Do,,,emang bangsa jin".


"Hahahaha...",Aliando tertawa lepas demi mendengar kata Amar.


Mereka sampai di tepi anak sungai,yang kala itu mereka duduk-duduk di tepinya melihat anak -anak kecil yang polos dengan bertelanjang dada mandi di sungai itu.Amar mencelupkan kakinya tanpa melepaskan sandalnya ke sungai itu.


"Wow,,,,, dingin banget airnya Do",teriaknya pada Aliando.Membuat Aliando jadi penasaran ikutan seperti yang di lakukan Amar.


"Ini mah dingin banget Mar".


Mereka seperti anak kecil yang sedang mendapatkan mainan kesukaannya,bahagia sekali karena di sungai itu hanya mereka berdua,tidak ada yang lain karena memang masih jam lima pagi.


Aliando mengerutkan keningnya,"Di mana kamu?"tanya Aliando dengan lirih.Aliando berjalan lagi,dengan maksud agar bisa menemukan siapa gadis sederhana itu,sebelum dirinya kembali ke Jakarta.Dan sampai-sampai Aliando melupakan Amar.


"Do,,,,lu mau kemana?"teriak Amar yang melihat Aliando semakin melangkah jauh darinya."Jangan jauh-jauh Do,,,",Amar menyusul Aliando dengan sedikit berlari.


Samar-samar Aliando mendengar suara minta tolong,dan ternyata Amar juga mendengarnya,"Siapa yang minta tolong?",tanya Amar penasaran.Aliando berlari kencang,tanpa menghiraukan Amar, mencari asal suara itu.Di susul Amar yang juga berlari kencang.Mereka mencari asal suara orang yang meminta tolong,namun suara itu tidak terdengar lagi.Aliando penasaran apa yang sedang terjadi.


Benar saja tak jauh dari tempat Aliando dan Amar berdiri,di semak-semak yang rumputnya rimbun,ada seorang pria yang akan berbuat tidak senonoh pada seorang gadis yang kini mulut si gadis di bekap oleh tangan pria itu,sedang tangan satunya mengoyak baju si gadis yang terlihat sudah sobek di lengan dan lehernya.tanpa pikir panjang Aliando menarik baju pria itu yang sudah menindih tubuh gadis itu.Aliando menghujamkan pukulannya ke wajah dan tubuh pria itu secara membabi buta.Entah apa yang membuat Aliando seperti itu,Dia begitu marah,karena ternyata gadis yang dia perhatikan dari lensa kameranya itu sedang di sakiti oleh laki-laki lain.


"Sudah Do,,,,dia sudah tidak berdaya",teriak Amar menghentikan pukulan Aliando kepada pria itu dengan membabi butanya.Pria itu sudah jatuh ke tanah tidak sadarkan diri.


Aliando meremas rambutnya dengan kasar,matanya memancarkan kemarahan yang begitu membuncah.


Ada darah di jari-jarinya,entah itu darah siapa,darah jari Aliando yang terluka atau darah dari pria itu yang menempel di jari Aliando.Namun yang pasti Amar melihat kemarahan yang sangat di wajah sahabatnya itu,yang tidak pernah Amar temukan di wajah Aliando selama ini,semarah apapun Aliando tapi tidak sekalipun berbuat seperti yang baru saja di saksikan dengan mata kepalanya sendiri,ini bukan seperti sahabatnya yang selama ini dia kenal."Ada apa dengan Aliando??",tanya Amar hanya di dalam hatinya.


Di saat bersamaan,Sale,Daniel dan Reno tiba di tempat itu,yang sempat mereka lihat kejadian Aliando menghajar pria itu,mereka bertiga berlari ke arah Aliando dan Amar,yang masih berdiri dengan pria itu yang sudah tergeletak tak berdaya di tanah.Sedang tak jauh dari tempat mereka,gadis itu duduk memeluk kedua lututnya sambil menangis sesenggukan,kepalanya menunduk ke bawah.


"Kita harus melaporkan kejadian ini ke polisi",kata Aliando dengan suara tertahan.


"Iya Do,,,harus laporkan kejadian ini,agar tidak ada korban lagi".Jawab Amar.


Sale yang penduduk asli Desa itu berusaha untuk membantu gadis yang tak jauh dari Aliando dan Amar berdiri,Sale mendekati gadis itu,dan menepuk pelan lengan gadis itu.

__ADS_1


"Tidak,,,,,!!!!!",Gadis itu masih menunduk dan semakin menangis histeris."Jangan sakiti saya",tangannya semakin erat memeluk lututnya dan pundaknya berguncang karena tangisannya."Jangan sakiti saya".


Daniel dan Reno berjalan ke arah Sale bermaksud untuk membantu Sale menenangkan gadis itu.


"Tenang,,,,,tenang,kami tidak akan menyakitimu",kata Sale menenangkan gadis itu yang masih dengan tangisnya.


"Kami bukan temannya orang yang tadi menyakitimu",kata Reno membujuk gadis itu agar mau melihat dirinya dan teman-temannya.


"Saya mohon,jangan sakiti saya",kata gadis itu,yang masih belum mau melihat ke arah mereka dan masih menangis sesenggukan.


"Dengarlah,,,,kami akan menolongmu",kata Daniel di dekat telinga gadis itu."Coba kamu lihat siapa kami".


"Lihatlah kami,saya mohon,jangan menangis",kata Reno meyakinkan gadis itu.


"Apa kalian akan menyakiti saya?",tanya gadis itu dengan suara yang terdengar masih ketakutan dalam tangisnya,tanpa melihat wajah Daniel,Reno dan Sale.


"Tidak,kami tidak akan menyakiti kamu,kami hanya ingin membantu kamu".kata Sale dengan sabar.


Mendengar gadis itu berbicara dalam tangisannya membuat Aliando semakin merasa terluka dan benar-benar merasa ada sesuatu yang menyakitkan di hatinya,tapi dia juga tidak tahu apa yang dia rasakan saat ini.Mungkin Aliando hanya kasihan melihat nasib gadis ini.


"Lihatlah kami,saya mohon",kata Sale lagi karena sebenarnya Sale ingin tahu siapa gadis itu.


Gadis itu mulai kelihatan tenang karena tangisnya sudah mulai tidak terdengar."Kalian tidak akan menyakiti saya?",tanya gadis itu lagi kali ini dengan menatap mata Sale yang memang berada tepat di hadapan gadis itu.


Sale terkejut setelah melihat wajah gadis itu."Kamu anak dari Ibu yang meninggal itu kan?",tanya Sale spontan.


"Iya,,,Kalian siapa?"tanya gadis itu yang sudah tenang.Karena memang gadis itu tidak tahu wajah-wajah orang yang menolong neneknya membawanya ke Rumah Sakit,yang dia tahu hanyalah wajah Amang Zul.


Sedang Sale hanya menebak siapa gadis itu,karena saat mereka membawanya ke Rumah Sakit Sale sempat melihat wajah Ibu itu dan anak gadisnya.dan sempat Sale juga mendengar dalam tangis gadis itu bahwa dirinya sudah tidak memiliki siapapun selain ibunya itu.


Sontak semua terkejut dengan pertanyaan Sale kepada gadis itu.Apalagi Aliando yang lebih terkejut dari pada semua teman-temannya itu,kini matanya menangkap kain yang di bentuk menggulung,yang biasa di taruh di kepala untuk menahan beban saat dia membawa sesuatu,yang dia bawa di atas kepalanya,kain itu sama persis dengan gambar yang telah dia abadikan di kameranya.


Di samping gadis itu duduk,juga ada setumpuk ranting yang sudah kering tertata rapi.


Aliando menunduk lesu,namun dia mulai bisa menguasai emosinya"Apakah gadis yang ada di kameranya dan gadis yang telah di tinggalkan ibunya itu adalah gadis yang sama",begitulah kira-kira pertanyaan dalam benak Aliando saat ini."Lalu ada apa dirinya dengan gadis Desa ini???".


"Siapa nama kamu?",tanya Sale dengan lembut kepada gadis itu.


"Nayla kak",jawab gadis itu sambil tangannya berusaha menutupi bagian dadanya yang terkoyak.


Melihat itu Aliando membuka jaketnya,memberikannya kepada Sale agar gadis itu memakainya.Dan memang secara kebetulan hanya Aliando yang mengenakan jaket di pagi itu.


"Sale kita bawa pria ini langsung ke kantor polisi atau bagaimana?"tanya Aliando setelah mengikat kedua tangan pria ini.


"Iya Sale,ini kejadiannya di hutan,tidak ada yang mengetahui selain kita",tanya Amar.


"Apa ada hukum adat?",tanya Reno.


"Laki-laki ini belum sadar",kata Amar lagi.


"Apa sebaiknya kita bawa ke Desa kamu Sale?",usul Daniel.

__ADS_1


"Iya,,,yang pasti kita pulang dulu,kita ceritakan pada Abah",jawab Sale pasti.


"Ayo kita pulang,lebih cepat lebih baik".kata Amar.


__ADS_2