
kini keempat orang itu sudah berada dalam satu restoran yang adira sukai, mereka pun memesan makanannya
rava selalu melihat adira lewat ekor matanya dan menjadi salah tingkah ketika adira tersenyum, rava layaknya anak abg jika seperti ini
perbincangan mereka pun terhenti kala makanan yang mereka pesan datang, mereka pun segera melahap makanannya
"makanan saya manis banget" ucap rava tiba tiba
"kenapa??" tanya adira karena memang makanan di restoran ini tak begitu manis dan bisa di katakan enak
"karena lihat senyumanmu" jawab rava yang merekahkan senyumnya dan melajukan makannya
sedangkan adira hanya bisa mematung karena salah tingkah terhadap perkataan rava barusan yang membuat nayya tertawa karena melihat tingkah kakaknya
"kenapa tertawa?" tanya Adira yang sedikit ngegas pada adiknya ini
"Lo lucu banget asu!" ucap nayya yang kembali terkekeh
-sore hari
kini nayya dan reyen sudah berpisah dengan adira juga rava
adira pun mendekati rava yang masih berada di meja kerjanya membereskan berkas berkas penting
"kamu rava yang pernah aku temui dulu kan??" tanya adira ketika sudah berada di samping rava
"iya" jawab rava singkat masih dengan aktivisnya
"hm, bagaimana keadaan mu sekarang??" tanya adira yang takut takut jika dia salah bertanya
"ya begitulah" jawab rava apa adanya
"begitu apanya??" tanya adira kembali
"ya begitu aku baik baik saja" jawab rava yang sudah menyelesaikan aktivitasnya
"hm yasudah, aku melihat ada cincin yang melingkar di jarimu" ucap adira yang baru sadar adanya cincin di jari manis rava
rava pun segera menyembunyikan tangannya, adira pun tersenyum dan pergi, ada rasa sesak yang harus ia hilangkan, Adira pun keluar dari perusahaan tersebut dengan menahan buliran air
__ADS_1
yang akan membasahi pipinya, Adira pun mempercepat langkahnya dan menghentikan langkah kakinya di sebuah taman
adira pun segera duduk di bangku yang tepat berada di taman tersebut dan memainkan ponselnya lalu mengambil gambar pemandangan tersebut
kini Adira menikmati setiap angin sore yang akan berganti menjadi malam, menghirup dalam dalam lalu mengeluarkannya
tanpa ia sadari bahwa ada lelaki yang menatapnya penuh rindu ketika melihat adira
laki laki itu pun segera mempercepat langkahnya menuju adira, siapa lagi kalo bukan rava
"aku menunggumu terlalu lama adira saputri salvina!! selama satu bulan kau kemana saja?!" tanya rava dengan suara yang sedikit ia tinggikan
"aku di bayar untuk ini rava...." jawab Adira yang sudah berdiri menatap rava
"siapa?? siapa orang itu?? siapa orang itu yang sudah membuatku harus merasakan rindu yang dalam?! hingga aku hanya bisa berdoa untuk menghapus rindu itu?" tanya rava dengan nafas memburu
"aku di bayar oleh orang tuanya reyen! mereka menyukai nayya saat nayya pernah melayani nayya di cafe tempat dia bekerja dulu, jadi mereka mencariku untuk melakukan yang mereka minta!, dan jaminannya aku akan di biayayi sekolah di luar negeri!! aku terima karena mengingat bahwa keluarga ku tak mungkin menyetujui aku masuk kuliah economy!!"
jelas adira panjang kali lebar tanpa ada yang di kurangi atau ditambahkan karena dirinya sendiri ingin melangkahkan kakinya keluar dari zona amannya dan memilih jalannya
sedangkan kedua orang tuannya berharap bahwa Adira menjadi dokter, tentu Adira menerima tawaran itu dengan tangan terbuka
bahkan saat di luar negri pun Adira belajar dengan serius, tak membuat kedua mertua adiknya ini kecewa walau duit mereka tidak akan habis
menghirup bau wanita yang sama dengan gadis cantik berkacamata tebal dan rambut yang di ikat dua serta rok selutut dan atasan sekolah yang mendekatinya dengan minuman kaleng
dan mendengarkan keluh kesahnya 4 bulan yang lalu, tapi gadisnya ini berbeda lebih sedikit dewasa saat melawan seseorang
adira yang rava kenal selalu menundukkan kepalanya ketika seseorang berbisik bisik membicarakan dirinya bahkan tentang adiknya
"gw rindu adira saputri salvina!! gw rindu!!" ucap rava dengan air mata yang sudah membasahi pipinya
"kakak jangan nangis" ucap adira, sama dengan gadis 4 bulan lalu yang mengatakan hal itu juga ketika melihat rava bercerita dengan air mata yang sudah mengalir deras
adira pun membalas pelukan yang rava ciptakan dengan mengelus punggung rava, setidaknya biarlah rava merasakan kasih sayang dalam pelukannya
walaupun kasih sayang itu tak seperti kasih sayang kedua orang tuanya setidaknya ada rasa nyaman atas pelukan itu
rasa damai hati yang sudah rava keluarkan dengan pelukan itu, melepaskan kerinduannya
__ADS_1
"kakak gak nangis" sangkal Rava yang masih mengalirkan air matanya
adira pun hanya tersenyum dan memejamkan matanya
"kalo gak nangis ini apa kak?? kelilipan seperti 4 bulan yang lalu??" tanya Adira dengan kekehan
"iya! ternyata kamu masih ingat!! kakak hanya kelilipan!! jangan pernah lupakan seorang muhammad ravasya adijjadya pewaris tunggal adijjadya tak pernah menangis!!" ucap rava dengan suara seraknya yang masih menangis
"iya iya kak rava gak nangis" ucap Adira yang lebih mengalah
hingga pelukan mereka terlepas, karena suara deringan ponsel milik rava yang menampilkan wanita cantik berwajah teduh
siapa lagi kalo bukan ibunya yang masih muda di usianya yang sudah tua
"di mana sih udh malam loh!!" ucap mamynya rava ketika panggilan sudah terhubung
"sama calon menantu mamy" ucap rava memberitahu posisinya bersama siapa
"heh jaga calon menantu mamy ya!! sampe lecet barang sedikitpun!! mamy pites kepala mu, Yo wes jangan lama alam pulangnya nanti maid pada tidur gak ada yang bukain pintu rumah buat kamu" wanti mamynya rava
ya itulah Keysa Latifa adijjadya wanita yang melahirkan rava
nyonya Keysa pun segera mematikan panggilannya dan menyimpan ponselnya menatap kepada suaminya
"kenapa my?" tanya tuan Muhammad Farhan Karzai adijjadya
"anak kita sama calon mantu py" ucap nyonya Keysa dengan senyuman dan segera memejamkan matanya menyelami dunia mimpi
yang segera di susul oleh suaminya, berbeda dengan anaknya rava pun segera di marahi oleh adira
"apaansih kak!!" ucap adira
"sekarang kamu milikku adira saputri salvina dan akan selamanya!! tidak ada penolakan!!" ucap rava yang tidak ingin di bantah kembali
Adira pun segera merekahkan senyumnya malu, begitu berani rava memperkenalkan dirinya kepada kedua orang tua rava
tanpa ada takut akan di tolak, kini tatapan mereka terkunci tatapan mereka bertabrakan
pemikiran adira pun sangat jauh dari Rava, yaitu rava memikirkan bagaimana agar Adira jatuh cinta kepadanya
__ADS_1
dengan begitu mereka bisa menulis cerita mereka dengan ending menuju ijab Kabul dan menulis satu buku kembali tentang pahit manisnya
perjalanan cinta mereka