Gadis Culun Untuk Seorang Ceo

Gadis Culun Untuk Seorang Ceo
adira•


__ADS_3

Adira sebenarnya sudah tau dimana adiknya, tapi mendengar bahwa reyen sama sekali tidak mencari adiknya, dan malah menyuruh asistennya saja membuat Adira ingin membunuh reyen


andai membunuh bukanlah tindakan kriminal dan perbuatan dosa, tentu adira sudah menancapkan pisau yang tajam di dada bidang milik suami dari adik perempuannya


kini Adira duduk di kursinya, dan mulai membaca berkasnya, baru saja ingin memanjakan berkas berkasnya terlihat pintunya terbuka yang membuat adira langsung mengalihkan pandangannya melihat ke sosok siapa yang berani membuka pintu


ternyata adiknya yang membuka pintunya sambil menggandeng suaminya, jangan lupakan perut buncit seorang ainayya yang membuat wajah nayya semakin bersinar


"dek, kakak udah publish kamu" ucap Adira


"untuk apa sih kak??" tanya nayya lesu sembari mendudukkan dirinya di sofa panjang milik ruangan kakaknya


"biar mereka tau kalo kamu itu adik aku lah," jawab adira enteng, sembari melihat gerak gerik adiknya


"kelihatannya udah balik tuh sama suaminya," sindir adira yang sudah berdiri, dan berjalan menuju rak belakang mejanya


"iyaaa, tapi ada satu syarat kak" ucap reyen


"iyalah, enak aja adek gw maafin Lo semudah itu, kata terimakasih aja mahal dari adik gw, masa kata maaf segitu murahnya sama lo, tapi wajar sih, Lo kan cowok murahan" cerca adira, reyen hanya bisa diam


biasanya dia yang akan melemparkan kata kata pedas kepada orang yang membuat masalah, ini malah sebaliknya, malah dialah yang harus di lemparkan kata kata yang begitu menyakitkan hati


"udahlah kak, oh ya kakak lagi sibuk?" lerai nayya sembari bertanya kepada kakaknya, yang sudah kembali duduk dengan berkas di tangannya


"sedikit sibuk sih, tapi kalo jam makan siang keknya kakak ada waktu deh" jawab adira sembari memberitahu jadwalnya


"bagus deh, bentar lagi kan jam makan siang, pas makan siang kami balik lagi jemput kakak ya, kami mau ke dokter kandungan dulu kak" pamit nayya


"iya hati hati" ucap adira,segera nayya dan reyen meninggalkan ruangan tersebut


"kakakmu lebih kaya dari aku sepertinya nay" ucap reyen, hening. nayya tak menjawab nayya hanya melangkahkan kakinya sungguh sebenernya dirinya masih sangat kesal karena karina memberikan pesan di Instagram milik suaminya

__ADS_1


reyen pun hanya bisa mengikuti istrinya hingga di lift, barulah reyen mempunyai keberanian yang tinggi


"aku ada salah?" tanya reyen


"pikir sendiri " jawab nayya ketus


rasanya jika harus mengungkit kesalahan reyen sungguh bukan saat yang tepat, lagi pula itu bukan kesukaan nayya untuk mengungkit masalah orang


"mending diam aja kalo gak tau salahnya apa" ucap nayya yang sudah tau jika reyen akan kembali bersuara untuk menerka apa salahnya


sedangkan adira, masih sibuk dengan pekerjaannya, hingga lagi lagi dia terganggu karena ponselnya berdering


adira pun segera mengangkat panggilan dari seseorang yang menurutnya penting


"iya tante" ucap adira lembut ketika panggilan itu tersambung


"datang ke rumah Tante nanti malam" ucap Tante Tante di sebrang sana, dan segera mematikan panggilan terbaru


tak ingin memikirkannya terlalu lama, adira pun segera menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat


hingga matahari yang terus menyinari dunia, kini beristirahat, di gantikan dengan bulan yang menerangi malam tanpa cahaya yang gelap


di saat semua orang beristirahat di balik selimut mereka untuk menumpahkan air mata karena sudah menahannya seharian kini harus di tumpahkan, tapi berbanding terbalik dengan Adira


yang harus rela duduk di depan kedua orang tua reyen, ainun dan alex yang memanggilnya


"Tante mau kamu menerima hutang Budi kami nak" ucap ainun mencairkan suasana


"hutang budi?, maksudnya hutang budi apa ya tan?" tanya adira heran, karena ia tak merasa melakukan sesuatu yang baik


"hutang Budi orang tuamu nak" jawab alex

__ADS_1


"emang papa mama ngapain ya tan?" tanya adira kembali


"kami mau berhutang budi karena sudah memberikan kami izin menjaga putrinya, dan ingin membayar itu" jawab ainun


"jika tentang uang, saya gak mau nerima Tan" tolak adira sebelum di berikan hadiah yang berbentuk nominal


"kami tak memberikan uang, tapi kami mau membayar janji kami kepada orang tuamu untuk membesarkan kalian dan menjodohkan kalian ketika kedua orang tuamu meninggal, dan inilah saatnya, kau sudah berumur dua puluh delapan tahun, orang tuamu memberikan kami janji untuk menjodohkanmu di umur segini" ucap alex panjang kali lebar


"saya akan menerimanya, jika itu memang menyangkut orang tua saya" ucap adira tak menolak, karena adira ingin meminta maaf sekaligus berbakti, dikarenakan kepergiannya tanpa kabar dan memutuskan contact pada kedua orang tuanya


ainun dan alex pun tersenyum, tidak susah mereka menepati janjinya, lagi pula kedua orang tua adira dan ainayya sudah sangat membantu mereka


dari awal mencari pekerjaan hingga dapat mengembangkan bisnis makanan ringan dan minuman, bukankah tahap dan modal yang murah, begitu banyak pengorbanan kedua orang tua adira dan nayya disana


walau memang aneshia dan cakra kedua orang tua Adira dan ainayya itu adalah dari keluarga yang benar benar sosok orang yang di kenal sebagai orang kaya sungguh tapi dalam keadaan apapaun aneshia dan cakra selalu siap membantu ainun dan alex


perjuangan yang tak mudah dan bukan tahap yang mudah bagi ainun dan alex di masa pernikahan mereka yang memang mereka tak di lahirkan sebagai orang kaya, tak seperti aneshia dan cakra


keluarga berada yang mampu mencukupi mereka sampai sekolah di luar negeri, aneshia sendiri lulusan sekolah terbaik di amerika dan cakra lulusan terbaik di negara Arab sana


dengan aneshia yang pernah menjadi artist hingga usia pernikahannya yang ke dua puluh satu, dan sudah mendapatkan sosok adira, yang berumur sebelas tahun, barulah aneshia berhenti menjadi artist


dan alex menjadi ceo di perusahan keluarganya yang sekarang ini sudah di ambil alih oleh adira sebagai pewaris yang pantas, di karena kedua orang tuanya yang sudah tiada


susah payah adira merebut itu dari adik adik cakra yang sangat serakah karena hutang, begitupula dengan keluarga aneshia datang ketika membutuhkan dan pergi ketika kesenangan


sungguh bukan keluarga yang pantas di panggil sebagai keluarga, meninggalkan aneshia dan cakra ketika mereka di masa terpuruk dan mendekat ketika aneshia maupun cakra memiliki duit yang cukup untuk membiayai sekolah anak anak mereka


sungguh miris, apa lagi nayya yang harus menjadi korban perbincangan keluarga, karena tak mirip dengan ayahnya melainkan mirip dengan ibunya


bahkan nayya di katakan anak haram karena kulitnya yang begitu putih, dan wajahnya Yang terlalu mirip dengan ibunya

__ADS_1


__ADS_2