Gadis Magik Dari Dewi

Gadis Magik Dari Dewi
Ribut lagi


__ADS_3

Tubuh Angel diguncang keras oleh Rabbita dan Treelia membuatkan dia merasa kesal.


"Kak hentikan kisahnya!"


"Ngapain kalian?!"


Angle kesal. Snow sendiri pun tidak pernah memperlakukannya sebegitu. Dua anak kecil itu sungguh tidak mengenali dirinya.


"Mengapa kalian?" guncangan mereka berdua terhenti.


"Ifuru juga bisa melihatmu?"


"Dia buta,kalian pekak ya semasa aku bercerita?"


Tau juga mau menutup mulut. Angle menatap mereka berdua dengan dingin.


"Jika dia tidak buta,dia juga akan melihatku."


Angle pasrah mengucapkan ayat itu. Kepala mereka berdua yang barusan memandangi tanah diangkat semula menatap Angel.


"Kak Angie dari dunia lain?"


Lho? Bukankah itu sepatutnya pertanyaan dari kisah yang pertama? Udah berapa episode baru kalian mau menanyakannya?


"Benar. Ini bukan duniaku. Kalian lambat banget sedarnya."


"Terus mengapa kami bisa melihatmu?"


Pertanyaan payah. Otak Angel harus berkerja keras untuk berpikir dalam suasana sejuk dan gelap itu. Tidak bisakah menanya esok pagi?


"Bukan kalian saja yang bisa melihatku."


"Ada orang lain lagi selain kami dan Ifuru?"


Angel menggangguk. Jika dia tidak salah,ramai juga yang bisa melihatnya.


"Siapa dia?"


Dia? Yang dapat melihat Angel lagi bukanlah seorang. Tapi mereka berdua ini....


"Kalian mau tau?"


"Ya?" Treelia dan Rabbita teragak-agak.


" Terus nanya ibu kalian. "


______________________________________________


"Hoammm......"


Hari sudah subuh. Snow mengucek matanya dan melihat sekeliling. Dia kaget melihat lingkaran hitam terdapat di bawah mata dua temannya.

__ADS_1


"Kalian mengapa? Apa kalian bergadang?"


"Tidaklah. Tidak perlu mengkhawatirkan kami."


Rabbita dan Treelia mengukir senyuman paksa. Mereka berdua terlalu mengantuk kerna berngobrol dengan Angel semalaman. Xing juga tampak seperti baru sedar.


"Selamat pagi tuann...." tikus kecil yang masih separuh sedar itu melompat naik ke atas bahu tuannya.


"Xing kau tidur di sisiku? Ku kira kau akan tidur di dalam rumah."


Rabbita dan Treelia berngomong dalam hati. Xing tidak mendengar kisah Snow langsung kerna dia tidur. Dan Snow yang tidur tidak sempat melihat pemandangan kunang-kunang semalam kerna mereka berdua. Apa dia akan marah?


"Snow tentang semalam..."


Mereka berdua terdiam saling bertatapan dengan Snow. Snow juga tampak bengong seperti tidak faham maksud mereka berdua. Akhirnya dia memilih untuk bertanya pada Xing.


"Xing maksud mereka apa?" Snow berbisik pada Xing yang berada di atas bahunya.


"Tuan,tentang kunang-kunang itu."


Kunang-kunang? Oh, ya!


"Haha! Tidak mengapalah. Lagian itu memang sebab aku menjemput kalian ke sini. Meski aku harus menunggu tahun hadapan..."


Ayat terakhir Snow berbunyi sedih dan cuba di pujuk oleh Xing.


"Tuan aku kukus mantou padamu ya?"


"Makasih Xing!"


"Snow kegemaranmu mantou ya?"


"Aku takkan bisa hidup tanpa mantou." Senyuman terukir dari bibir Snow. Kesedihannya barusan sudah dilempar jauh-jauh.


_______________________________________________


Selepas bersarapan mereka bertiga berjalan-jalan di dalam hutan. Mereka melihat pelbagai jenis burung dan haiwan di hadapan mata. Tidak perlulah ke taman haiwan lagi.


Kemudian mereka sampai ke tempat penuh bunga-bungaan dan melihat kupu-kupu dan serangga.


Mereka bertiga masih berjalan tapi Rabbita dan Treelia tampak seperti sedang berkelahi. Mereka mendorong antara satu sama lain tanpa Snow mengetahui punca mereka berkelahi.


"Kalian jangan berkelahi dong. Bukan kalian ini kembaran?"


Snow langsung tidak dipedulikan malah perkelahian mereka semakin bertambah parah. Treelia yang kesal melempar seketul batu ke arah kakaknya.


"Treelia!"


Rabbita sempat mengelak. Tapi malangnya batu tadi mengenai sarang lebah.


"Ahhhhh!!!!!"

__ADS_1


Lebah-lebah tadi mengejar Treelia dan Rabbita namun mereka langsung tidak mengganggu Snow di tepi.


"Gahhhh!!!Tolonggg!!!!"


"Kalian,tunggu!"


Ahli olahraga sememangnya berlari dengan pantas. Snow tidak dapat mengejar mereka berdua.


____________________________________________


Sudah sangat lama mereka berdua berlari. Snow sedikit kagum. Mereka berdua sudah berhenti berteriak tapi masih berlari kerna lebah-lebah masih mengejar mereka di belakang.


'Aneh,lebah-lebah itu langsung tidak mengejarku.'


Dan hakikatnya sekarang bagai Snow yang mengejar lebah-lebah itu. Bagaimana ahli olahraga bisa berlari sepantas dan selama itu? Pasti mereka berdua ahli yang hebat.


Oh tidak. Dihadapan sudah tiada jalan!


Rabbita dan Treelia berhenti. Lebah-lebah pula semakin mendekati mereka.


"Berhenti!!!"


Snow berteriak sekuatnya. Jurus transfer suara yang ditiru dari gurunya,tidak sangka dapat digunakan lagi.


Lebah-lebah sudah menghilang. Rabbita dan Treelia mendapatkan Snow dan memeluknya dengan keras.


"Wuaa...maafkan kami!"


"Kami tidak akan mengulanginya!"


Kaki mereka berdua pasti sangat sakit. Pelukan mereka berdua tersangatlah keras sampai hampir membuat dia tidak bisa bernapas.


"Oke...kalian lepaskan pelukannya! Lukaku bisa berdarah."


Rabbita dan Treelia melepaskan pelukan dan Snow membawa mereka pulang ke rumahnya.


Bila udah nampak rumah Snow, mereka berdua berlari lagi sekali. Kakinya udah tidak sakit ya?


Kali ini mereka berdua terjatuh pula di dalam sungai. Sungguh teman-temannya yang merepotkan. Mereka langsung tidak berteriak dan Snow tidak dapat melihat mereka dari kejauhan membuatnya risau.


"Kalian berdua tidak apa-apa?"


Snow ditarik masuk ke dalam sungai membuatnya kaget.


Splosshhhhh!!


Seluruh tubuhnya basah. Dia menatap kesal teman-temannya yang tidak henti mentertawakannya.


Snow semakin kesal. Di mukanya terukir senyuman seram.


"Aku akan membekukan kalian bersama sungai ini."

__ADS_1


__ADS_2