Gadis Magik Dari Dewi

Gadis Magik Dari Dewi
Mimpi aneh


__ADS_3

Ruang kesehatan :


"Snow!" teriak Rabbita kesal.


Snow membuka mata perlahan. Baru siuman udah lihat dua orang di hadapannya dengan muka kesal. Snow merinding.


Tamat sudah...


Bakk!


Tubuh kecil Snow lepeng tertindih tas yang dilempar oleh Rabbita. Sadis sungguh.


"Woy...sakit." ucap Snow perlahan. Terlebih kuat nanti amarah Rabbita semakin menjadi pula.


"Makanya jangan bolos kelas! Rasain. Apa kau buat di sini?" marah Rabbita sambil mencubit pipi Snow.


"Anak-anak....wuoh,tenang." bu Athanasia meragut tangan Rabbita.


"Eh...sekolah udah habis?" ucap Snow sambil mengelus pipinya yang merah saking cubitan kuat Rabbita.


"Sekarang jam istirahat." Treelia yang dari tadi diam kini bersuara.


'Apa pula akan jadi?' getus Snow dalam hati. Muka Treelia juga tidak kalah kesal daripada Rabbita. Snow berkeringat dingin di buatnya.


Pak!


Treelia menepuk kuat jidat Snow.


"Tak panas pun." ucap Treelia selamba. Cepat saja mukanya berubah.


"Itu cek suhu atau hukuman!?" keluh Snow tidak tahan. Benar-banar menguji kesabaran. Haih...sama saja kakak-adik.


Bu Athanasia berjalan mendekati Snow.


"Cepat bilang wasiatmu pada ibu." ucap ibu Athanasia bercanda.

__ADS_1


"Bu Athanasia...T^T" lirik Snow lemah.


Snow menggembungkan pipi kerna tidak tahan sementara tiga orang dihadapannya mentertawakannya.


"Pergilah - pulang - kelas." ucap Snow dengan nada kesal.


Snow merebahkan semula tubuhnya di atas kasur. Malas meladeni teman-temannya. Dia menutup mata dengan rapat. Tidak mahu mendengarkan obrolan orang-orang disekitarnya.


Dia mengharapkan mimpinya kembali. Mimpi yang hilang kerna di ganggu oleh Rabbita.


_____________________________________________


"Uhh.....kepala ku sakit..." ucap Snow sendirian.


Dia menyadari sesuatu. Warna rambutnya berubah ke warna merah! Di sekelilingnya juga berwarna putih kosong.


"Aku kembali ke mimpi itu?" tanyanya kepada diri sendiri.


Dia berdiri dengan perlahan. Mulai menoleh ke kiri dan kanan. Cuma berwarna putih. Tiada apa selain itu.


"Ada sesiapa tidak?!"


"Yosh...mimpi ini sangat aneh." ngomongnya sendiri.


"Apa akan ada hantu muncul? Monster? Roh genayangan? Zombie? Mumi? Vampir?" pikirannya mulai aneh-aneh. Pasti penyakit dari kembar itu.


Bagaimana kalo curhat di situ? Yaelah,gak ada siapapun di situ. Mending ngomong aneh-aneh pun gak ada orang akan marah.


"Api......"


Snow sontak kaget. Melirik ke sekeliling mencari pemilik suara tersebut. Dia terus berlari menuju suara tersebut.


Di hadapannya terdapat seorang perempuan berambut biru. Gadis tersebut diborgol pada kedua kaki dan tangannya membuatnya tidak bisa bergerak.


"Hei...lepaskan aku." ucap gadis tersebut perlahan dengan nada sombong.

__ADS_1


Snow berjalan mendekatinya. Rantai besi itu ditariknya dengan kuat. Tidak bergerak langsung.


Gadis tersebut cuma memerhati tingkah laku Snow. Dia tidak berbicara sedikit pun. Pandangan matanya juga agak dingin.


"Hei...mengapa kau jadi begini? " tanya Snow terbata-bata.


"Es." jawabnya selamba masih dengan mata yang dingin.


"Siapa es?"


"Namaku."


"Nama kau Es? Nama yang aneh." ucapnya sedikit menunduk. Monster pun pasti akan lari kalo di tatap dingin begitu.


"Api." panggil gadis itu.


"Siapa api?" tanya Snow pening.


"Kaulah."


Otak Snow pusing. Gadis dihadapannya benar-benar tidak bisa bawa kerjasama.


"Wei,gadis berambut hitam tu..."


"Siapa, Fina?" tanya Snow heran.


"Ya....dia mengganggumu, bukan?" ucapnya sedikit tersenyum.


Snow kaget. Bagaimana gadis itu tahu tentang Fina?


"Aku tidak pasti. Bagaimana kau tahu?"


Senyuman tidak hilang dari muka gadis itu. Snow merinding. Terasa seram.


"Jika aku terlepas nanti...."

__ADS_1


"Hah?"


"Bisa aku membunuhnya?"


__ADS_2