
Cahaya matahari sudah mulai kelihatan. Udara pada pagi itu sungguh sejuk dan nyaman. Semestinya terasa ngantuk dan nyaman jika mau nyambung tidur.
Seperti biasa, Snow,Treelia dan Rabbitalah selalunya paling awal datang ke sekolah. Awal pagi lagi emang bisa dengar mereka bertiga berngobrol di kelas mereka.
"Aku kan udah pesanin kalian? Tuh gak mau dengar." Snow menepuk jidatnya sendiri. Teman -temannya itu sungguh mengundang masalah.
"He...kakak lagi ngamuk kita berantakin kamarnya. Lalu di suruh ngantar surat nih...."
Treelia memegang sepucuk surat lalu memberikannya pada Snow.
"Terus kalian mau apa? Ngantar saja deh sana."
Rabbita dan Treelia masing-masing merangkul bahu Snow membuatnya kaget. "Ada apa ini!"
"Snow kan hebat...nolong kami ya..pliss.."
"Nolong pake apa?"
"Teleport aja deh....." ucap Rabbita dan Treelia mendorong sedikit tubuh Snow ke depan.
"Apa? Gak bisa! Kalian pikir ini dunia komik?"
'Lho ini juga kan novel?' pikir Rabbita dan Treelia.
"Nolong kami pliss..."
Snow memaling muka ke arah jendela kelas. Dia tampak seperti memikirkan sesuatu sambil melihat lapangan olahraga yang sepi.
"Oke."
"Ehhh!? Beneran?"
"Tidak."
Rabbita dan Treelia langsung bingung. Tadinya bilang oke sekarang tidak. Jadi mana jawapannya?
"Ngapain kalian gak mau ngantar?"
Rabbita dan Treelia melirik masing-masing dan seketika mereka menggaruk kepala.
"Yah...kami ngak tau alamatnya ini di mana."
Treelia menunduk pasrah sambil memberi Snow sehelai kertas yang tertulis sebuah alamat. Snow membelek-belek kertas itu. Dia juga tampak kebingungan.
"Aku tau sih ini di mana!"
Kertas tadi di rampas oleh seorang gadis. Suaranya juga sih agak familiar didengari.
Yah...itu Windra.
__ADS_1
"Windra? Kapan kau di sini?"
"Ini kelas 6 - D. Kau sesat?"
Windra memberi semula kertas tadi kepada Snow lalu melirik ke sekeliling.
"Aku sih lagi cari ketua kelas kalian. Tampaknya dia tidak datang lagi."
Masih awal pagi. Waktu begitu selalunya cuma mereka bertiga yang sudah datang ke kelas.
"Sekarang masih awal pagi. Waktu segini cuma kami bertiga yang sudah datang."
"Ouh...baiklah..." ucapnya tampak sedikit kecewa.
"Kau tau alamat ini, Windra?"
Windra menggangguk laju.
Snow cuma menatap reaksi mereka bertiga tanpa masuk campur.
"Kalian mau ke situ,yah?"
"Iya lagi ngantar surat ini." ucap Rabbita sambil menunjukkan surat yang kakaknya suruh untuk diantar.
"Yah pulang sekolah aku bawa kalian ke sana."
Windra memasang senyuman.
"Beneran? Makasih ya."
Lagi senang berngobrol, orang yang di cari Windra tadi sudah datang. Dia juga nampak kaget melihat Windra ke kelas itu.
"Windra dari kelas A? Ngapain kau di sini?"
"Yah orangnya udah datang! Ayo ketemu bu Rima."
Windra meluru kepada cowok itu lalu menariknya ke kantor guru.
"Jumpa lepas sekolah,ya!" ucapnya pada Snow, Rabbita dan Treelia sebelum menghilang.
_______________________________________________
"Oke,ayo jalan!"
Mereka berempat mulai melalui kawasan kejiranan. Mereka dapat menyapa para ibu-ibu dan kanak-kanak di sekitar itu.
"Kucing!" Treelia dan Rabbita mendongak ke atas pokok. Terdapat anak kucing di atas pokok dan tampaknya tidak bisa turun.
"Snow...." Rabbita menatap Snow dengan muka sedih. Snow yang memahaminya lantas menggangguk pelan.
__ADS_1
Snow mulai memanjat pokok itu tanpa segan-silu. Pokok memang tempat kegemarannya sejak kecil. Sekejap sahaja dia memanjatnya lalu turun dengan selamat bersama kucing itu.
"Jurus peringan tubuh? Namun dia langsung tidak berasa canggung." desis Windra pelan.
Dia sudah memahami kalau Snow bukanlah orang biasa.
Akhirnya mereka berempat sudah sampai ke sebuah rumah sesuai alamat yang di beri kakak Rabbita dan Treelia.
Ding! Dong!
"Iya..."
Seorang pria SMP membuka pintu menyambut kedatangan mereka berempat.
"Oh,adik-adik Lisa datang bawa aku surat ya? Ucapkan terima kasih pada kakak kalian."
Laki-laki itu terus masuk semula ke dalam rumah selepas mengambil surat itu. Rabbita dan Treelia pula berkedip bengong. Laki-laki itu mengenali kakak mereka....bermaksud....
"Itu surat cinta!!?"
Rabbita dan Treelia berteriak di tengah jalan pulang. Kakak merepotkan. Hantar mesej pake ponsel aja gak mau. Di suruh juga mereka yang malah ngantarnya.
"Haha...jadi laki-laki tadi itu pacarnya?" Windra bertanya penasaran.
"Gak tau...tapi... "
"Tapi?"
"Kami mau menanyakannya!!!!"
Sejurus mereka berdua berlari pulang ke rumah. Kesal pada kakak sudah sampai had.
"Haha..sampai jumpa esok!" Windra melambai tangannya pada Rabbita dan Treelia yang semakin menghilang dari pandangan.
"Sekarang cuma tinggal kita berdua."
Snow tidak merenspon langsung pada ucapan Windra dan cuma terus berjalan di hadapannya.
"Snow,kau selalu mendiamkan diri jika aku ada bersama kalian bertiga. Apa kau tidak senang aku berteman dengan kalian?"
Ayat itu membuat langkah Snow terhenti.
"Tidaklah. Aku senang berteman denganmu."
"Terus mengapa kau selalu mendiamkan diri?"
Snow memaling ke belakang. Dia berjalan mendekati Windra. Di mukanya terpasang sebuah senyuman.
"Aku sangat senang berteman denganmu. Tapi.."
__ADS_1
Tangan kanannya mengambil tangan kiri Windra lalu menggenggamnya dengan erat.
"Kau tampak sedang berkelahi dengan diri sendiri,kan?"