
"Kau tampak sedang berkelahi dengan diri sendiri,kan?"
"Apa maksudmu?"
"Kau sendiri tahu apa maksudku."
Kata-kata Snow kemarin masih melekat di kepala Windra. Dia masih buntu mencari maksud ucapannya.
"Snow itu....aku tidak bisa tidur memikirkannya!"
Windra berteriak dengan kuat. Ucapan Snow itu menghantuinya.
Sekarang sudah pukul 3 pagi. Jika dia tidak tidur pasti capek mau ke sekolah.
Windra coba menutup matanya. Tapi dia masih tidak bisa tidur.
Ring...ring...
Ponsel Windra berbunyi bertanda dia menerima sebuah panggilan.
"Udah lewat segini,siapa aja yang menelepon?"
Windra mengambil ponselnya di ujung kasur. Dia terus menjawab panggilan itu tanpa basa-basi.
"Haloo....tau ngak ini udah jam berapa?"
"Maaf...aku mau menanyakan sesuatu padamu."
Windra diam sejenak. Suara lembut dingin ini...
"Fina."
"Tak kusangka kau bisa mengenali suaraku walau separuh sadar. Mengejutkan..."
"Tidaklah. Aku tidak bisa tidur."
"Hahahahahaha!"
__ADS_1
Windra menjauhkan sedikit ponsel dari telinganya. Bisa-bisanya dia ketawa pada masalah orang yang tidak bisa tidur.
"Karena gadis sialan itukah?"
"Ya." Windra menjawab ringkas. Walau sepatutnya perkataan 'sialan' itu tidak perlu di masukkan.
"Apa yang kau mahu?" Windra tanpa segan-silu straight to the point.
"Kau akan membuatnya,bukan?"
Windra terdiam. Dia sudah lama tidak mahu membuatnya tapi malahan disuruh berterusan.
"Tidak bisakah kau meminta orang lain membuatnya?"
"Tidak mau. Aku mau kau juga."
Windra mengetap bibir. Dia menggenggam bajunya dengan erat.
"Baiklah...."
"Gitu dong! Selamat malam."
Panggilan sudah dihentikan. Windra melempar ponselnya ke ujung kasur.
"Aku sudah faham maksud Snow."
_____________________________________________
Snow menatap mejanya. Penuh dengan contengan. Penuh dengan sampah. Penuh dengan kata-kata ejekan.
Rabbita dan Treelia yang baru datang berasa kaget melihat keadaan meja Snow. Mereka melihat ke sekeliling. Tiada siapa pun yang sudah datang kecuali mereka bertiga.
"Snow..." Rabbita dan Treelia merasa kasihan kepada Snow. Itu pasti kerjaan Fina.
Itulah sebab murid-murid kelas itu sering menjauhi dua kembar itu. Jika sesiapa berteman dengan mereka berdua,pasti di bully oleh Fina.
Snow yang barusan kaku mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Itu pulpen! Apa yang mau dilakukannya?
__ADS_1
Snow bukannya membereskan cotengan di mejanya,malah dia menambah sesuatu di atas mejanya.
"Snow kamu lagi ngapain dengan meja itu?"
Rabbita dan Treelia menjadi bingung dengan reaksi spontan Snow.
"Aku lagi nambah perkataan 'i' di tulisan ini. Yang menulis ini lagi lupa."
Yah...yang di tulis itu adalah:
"Pergi sana gadis salan!"
Perkataan 'i' di 'salan' itu tak dimaksudkan jadi Snow yang malah menambahkannya.
Nah...udah jadi:
"Pergi sana gadis sialan!"
"Nah...baru yang benar!" Snow tampak gembira kerna usahanya.
Rabbita dan Treelia pula semakin bingung. Snow bikin sesuatu yang pasif ke positif. Emang lain dari orang yang di bully pada umumnya.
Rabbita dan Treelia membantu Snow membereskan mejanya manakala Snow ingin ke kantor guru kerna hal rahsia.
"Dadah!"
"Dia ini...ada-ada saja. Pokoknya kasih tahu kerna dia pergi." Rabbita dan Treelia menepuk jidat masing-masing.
"Apa ya yang mau dikerjakannya?"
_____________________________________________
Snow baru saja mengerjakan hal rahsianya. Dia menuruni tangga dengan hati-hati.
"Mohon ketepi!!!"
Snow mendengar suara teriakan itu mendekatinya membuatnya kaget.Seorang gadis 11 tahun yang bersamaan di tangga itu tidak sempat berhenti.
__ADS_1
Ahhh!