
"Aku akan membekukan kalian bersama sungai ini."
Air sungai yang sejuk betul-betul dirasai sehingga tulang. Snow memasang muka serius solah tidak bercanda.
'Apakah ajal kita sampai sini?' bisik Rabbita kepada adiknya. Padahal manusia tidak akan mati jika dibekukan sekalipun.
Pftt! Snow tidak tega melihat kedua-dua temannya menggigil ketakutan. Kemarahannya sudah menghilang.
"Kau benar-benar ahli dalam berakting." ucap Rabbita lagi dengan pelan.
"Tidaklah,aku tidak berakting."
"Ehh??"
Pantas saja Rabbita dan Treelia mengundur sedikit jauh dari Snow.
"Aku beneran marah. Namun ngak ada gunanya aku membekukan kalian. Cuma menghabiskan energiku saja."
"Lagipula aku pasti kesunyian tanpa kalian berdua." Snow memasang senyumannya sambil menatap mereka berdua.
______________________________________________
Sudah sore. Snow mengarahkan Rabbita dan Treelia pulang ke rumahnya untuk ganti pakaian manakala dia tetap di sungai itu untuk melakukan sesuatu.
"Snow kamu mau ngapain?"
"Aku mau tangkap ikan." katanya sambil mendorong Rabbita dan Treelia ke arah rumahnya.
"Ganti pakaian dan minta Xing membawakanku bekas ."
Rabbita dan Treelia cuma menurut dan mencari-cari sosok tikus kecil itu.
"Xing,Snow memintamu membawakannya sebuah bekas."
"Bekas untuk apa?"
"Katanya mau tangkap ikan."
Tikus kecil itu seolah sedang memikirkan sesuatu. Kemudian dia memahami maksud ayat itu dan berubah menjadi manusia dan ke dapur.Dia memegang sebuah bekas seperti vas yang sederhana gede lalu keluar ke arah Snow diikuti Rabbita dan Treelia.
"Tuan ini bekasnya." ucapnya lalu memberikan bekas itu kepada tuannya.
"Terima kasih." ucapnya sambil melirik ke arah Xing yang sudah kembali ke rumah.
"Snow mengapa bekas ikannya harus segede itu?"
Snow kaget lalu menoleh menatap Rabbita dan Treelia.
"Kalian ngapain tidak ganti pakaian? Nanti bisa sakit lho."
"Gak akan deh. Kami ahli olahraga. Jarang sakit. Kami kira tubuh sekecilmu yang akan sakit." kata Treelia sedikit mentertawakan tinggi Snow. Beza tinggi Snow dan kembar itu cuma sedikit membuat Snow memasang muka cemberut.
"Terserah kalian aja."
"Snow,mengapa bekasnya begitu gede? Jika aku tidak salah,kau dan Xing tidak makan ikan bukan?"
__ADS_1
"Aku makan lho,cuma jarang."
Xing tidak memakan ikan dan Angel pula tidak bisa makan. Snow,Treelia dan Rabbita saja tidak bisa menghabiskan ikan sebanyak itu.
"Jangan mikirin yang aneh,ikan ini bukan untuk kita."
"Terus?"
"Ikan ini buat raja di hutan ini."
"Apa?"
"Raja itu membenarkanku tinggal di sini dan dia tidak suka berisik. Suaraku untuk menghalau lebah barusan terlalu tinggi dan akan membuatnya kesal. Gantinya aku harus mengisi penuh bekas ini dan memberikan kepadanya atau dia akan melukai salah seorang dari kalian."
Rabbita dan Treelia terdiam. Pantas Snow selalu coba menghentikan mereka berdua dari berkelahi.
"Oke,kau mau tangkap ikan menggunakan apa?"
"Pastilah dengan tangan."
Tangan? Itu pasti akan memakan masa yang lama.
"Biarkan kami menolongmu."
"Beneran? Aku takut kalian menyesal."
"Tidak akan kok!"
"Terserah kalian aja."
______________________________________________
"Hah...hah...akhirnya!"
Rabbita dan Treelia bersorak gembira melihat bekas segede itu sudah penuh.Apa yang akan disesali?
"Oke,ayo hantar bekas ini."
"Bisa kami nunggu di sini? Kami sangat capek..."
"Tidak bisa."
"Ehhh?? Mengapa?"
"Yang memenuhkan bekas ini haruslah pergi manghantarnya.Yang memenuhkan bekas ini adalah kita bertiga. Bukan aku sendirian. Jadi kalian harus ikut."
"Oke,oke...kami ikut..."
"Nanti hantarnya gak bisa bercakap loh! Gak boleh berkelahi. Atau rajanya bakalan marah."
Inilah penyesalan yang dimaksudkan oleh Snow. Harus berjalan tanpa bercakap apa pun bukanlah perkara yang mudah.
______________________________________________
Mereka bertiga berjalan pulang ke rumah Snow selepas menghantar bekas itu.
"Snow,adakah raja di tengah-tengah hutan begini?"
__ADS_1
"Bukan harimau raja di hutan?"
Snow membalas pertanyaan Treelia dengan sebuah pertanyaan dan senyuman. Pasti mereka berdua pikir raja itu adalah manusia.
"Jadi barusan kita menghantar makanan pada seekor harimau?!"
"Yup. Mungkin."
"Kau-kau..." terkadang terasa aneh memikirkan Snow sedang berurusan dengan seekor harimau tapi dia masih sempat tersenyum.
"Snow,ayo tinggal di kota."
Snow ketawa mendengar ajakan spontan dari Rabbita. Teman-temannya suka memikirkan hal aneh.
"Hahaha...gak usah deh. Harimau itu membenarkanku tinggal di sini dan melindungiku selagi aku di sini dan aku pula harus membawakannya makanan. Itu adalah perjanjian antara kami."
"Beneran?"
"Ya...tapi aku punya janji yang tak dapat kukotakan pada seseorang..."
Bak!
Angel melempar keras sebuah beg sandang tepat mengenai tubuh Snow dan membuatnya terjatuh.
"Jadi pergi mengotakannya!"
"Berseronoklah tuan!" Xing melambai-lambai tangan pada tuannya yang bingung lantas mengarah jarinya pada Rabbita dan Treelia.
Snow menatap Rabbita dan Treelia heran.
"Ada sesuatu yang kalian tidak memberitahuku?"
"Er...er..."Rabbita tergagap-gagap manakala Treelia sudah di belakang kakaknya.
"Emak kami mennjemputmu bermalam di rumah kami. Kami sudah memberitahu kak Angel tetapi terlupa memberitahumu. Maaf..." Rabbita berharap bisa lolos dari kamarahan Snow.
"Ohh....haihh...kalian mengagetkanku saja. Ayo. Hari akan segera malam."
Rabbita menghela napas lega. Sejenak dia berhenti membuat Treelia di belakang terhenti juga.
"Snow-snow,haruskah kita menaiki jurang seperti kelmarin?"
"Tidaklah,aku sengaja membawa kalian menuruni jurang. Sini ada jalan pintas."
_______________________________________________
Mereka bertiga melalui jalan itu dan berjalan sedikit ke kiri dan menjumpai rumah mereka berdua. Sungguh tidaklah terlalu jauh.
Rabbita dan Treelia mengetuk pintu rumah dan pintu itu dibuka oleh emak mereka.
"Anak ibu sudah pulang. Apa kalian berseronok?"
"Sudah tentu!"
"Di mana teman kalian itu?"
Rabbita dan Treelia sedikit ke sisi memberi ruang kepada ibu mereka untuk melihat Snow.
__ADS_1
Kak Angel mengatakan hal yang benar tentang janjinya. Suara wanita itu...rupa wanita itu...
Sama seperti yang dia temui 6 tahun lalu.