Gadis Magik Dari Dewi

Gadis Magik Dari Dewi
Bareng kamu aja,yah?


__ADS_3

"Sadarlah Api,kita berdua adalah roh yang terperangkap di dalam badan yang dikutuk ini."


Snow menatap Es tidak berkedip. Memproses perkataan di otaknya satu-satu. Es pula merasa puas. Hilang juga senyuman di muka bocah satu itu.


"Jadi intinya kita ini roh? Udah mati?" tanya Snow memastikan. Matanya masih tidak berkedip selepas Es mengiyakan perkataannya.


"Woah! Keren!" teriak Snow sambil mencubit pipinya ngak percaya.


"Apa! Keren apanya?!" marah Es meronta mau tabok Snow. Jengkel benar dia melihat Snow tersenyum.


"Inilah mimpi paling real aku pernah alami. Cubit pipi sendiri aja sakit." ucap Snow masih tersenyum-senyum gak jelas.


"Kalo udah sakit itu ini mah bukan mimpi!"


"Eh, bener juga." ucap Snow menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Terus kita ini beneran roh?"


"Aku gak tau udah berapa kali memberitahumu." ucap Es menggelengkan kepala. Semakin malas meladeni Snow.


"Aku tidak pernah melihatmu pun sebelum ini." ucap Snow heran.


"Soal itu nanya aja diri mu sendiri. Selama ini aku bisa aja melihatmu." jawab Es.


"Jangan-jangan kau ini stalker?" ucap Snow dengan nada meledek.


"Enak aja! Emang siapa mau terperangkap di sini bareng kamu? Udah gitu aku kayak tahanan di sel aja." kesal Es.


"Oke, kalem."


Snow mengalihkan pandangannya ke arah lain. Melihat kawasan sekitar yang putih kosong.


"Api," panggil Es kepada Snow.


Snow tidak merespon. Ralik benar dia melihat kawasan sekeliling. Padahal cuma kawasan putih tanpa penghujung.


"Apiii!" teriak Es kesal.

__ADS_1


Snow lantas kaget. Gimana mau respon kalau itu bukan namanya sendiri?


"Gak bisakah kau memanggilku Snow?" giliran Snow pula berteriak kesal.


"Gak bisa." jawab Es pendek.


"Mengapa?" tanya Snow marah sambil mengembungkan pipi.


"Kalo begitu kau juga harus memanggilku Snow." jawab Es cemberut.


"Hah? Bukan kau bilang nama kau Es?" tanya Snow keliru.


'Beri jawaban ngak jelas!', omelnya dalam hati.


"Intinya sih kita berdua adalah Snow. Kan gampang kalo sesama kita punya panggilan masing-masing." jelas Es.


Mereka berdua saling bertatapan. Tahap kesabaran Es sudah mencapai batas melihat sosok dihadapannya membuat muka lugu kerna tidak paham.


"Bisa jelasin semula tidak?" tanya Snow tersenyum-senyum polos.


"Pendek kata, sebaiknya kau ingat kalo aku akan memanggilmu Api," jelas Es semula sambil berharap Snow mengerti kata-katanya.


'Senyumannya itu di tempelkah?' ucap Es dalam hati jengkel melihat Snow masih tersenyum.


"Es, lo gak punya nama lain?"


"Lo punya masalah sama nama gw?" tanya Es semula dengan tatapan marah. Ya nama ya gak usah di bahas.


"Ngak kok, soalnya kan aneh. Lo juga memanggilku Api, aneh sih..."


Es menghela napas berat. Melototi Snow dengan reaksi yang gak jelas, gak tahu dia marah atau sedih.


"Gak usah dibahas, aku malas banget jelasin ke orang kayak kamu."


"Ehh? Jelasin dong!" ucap Snow cemberut.


"Bocah, kau dari awal gak ngerti apa yang kuucap kan?" tanya Es heran. Masa sih orang bisa tenang kek gitu.

__ADS_1


Dengan muka polos dan senyuman yang lebar, Snow menggeleng perlahan. Pepatah yang bisa di gunakan sekarang: menambah arang ke dalam api.


"Sini kau! Akan ku_______________________!!" teriak Es kesal. Snow juga gak ngerti apaan yang dibilang Es. Yah... gak penting untuk ditahu kok.


"Gak bisa toh, kau di borgol," ledek Snow dengan perlahan. Kalo borgolannya lepas tiba-tiba, habis sudah.


"Hei, lo barusan di uks bukan?" tanya Es tiba-tiba mengubah topik perbicaraan.


"Ruang kesehatan? Iya..memangnya kenapa?"


"Lembap! Sana sadar! Lo mau dibawa ke hospital hah?!"


"Ehh? Emangnya kenapa?" tanya Snow lagi.


"Tau gak kalo kelamaan ngobrol sama aku kondisimu lebih gawat? Makanya sana sadar!" marah Es melulu.


"Ehh? Sadar? Maksud mu bangun dari tidur?"


"Terus mau sadar dari apa lagi?!"


"Gak mau ah, lebih baik bareng kamu aja." tolak Snow mentah-mentah.


Es melotot Snow terus dengan muka jengkel. Nih bocah bisa egois juga!


"Oke~toh bukan aku yang akan batuk darah dan sesak napas kan? Lagian kalau kamu terus di sini nanti gak usah ke sekolah juga kan? Harus ucap selamat tinggal sama perpustakaan kan~?" ucap Es lebar memancing Snow agar sadar dari tidur pulasnya.


"Apa, gak mau! Aku mau sadar sekarang!" ucap Snow terpancing umpan Es.


"Yasudah, sana pergi."


"Gimana aku mau bertemu kamu lagi?" tanya Snow dengan ceria. Peluang berteman gak bisa dilepaskan bukan?


"Yah...gak usah deh tapi kalo mau cuma tinggal tutup mata sama niatan mau jumpa aku."


"Oke!"


"Dan lagi... aku berasa ngak enak sama kembar dan cewek rambut oren itu.(Windra)"

__ADS_1


"Ehh? Memangnya kenapa?"


"Gak tau ah...soalnya mereka...aneh,"


__ADS_2