Gadis Magik Dari Dewi

Gadis Magik Dari Dewi
Perkelahian antar roh?


__ADS_3

"Apa katamu?" bentak Snow dengan nada tinggi. Tangannya berhenti menarik borgol di tangan gadis itu.


"Kamu ngapain?" tanyanya selamba seolah tidak mengerti nilai sebuah nyawa seseorang.


"Jika kau mau kulepaskan untuk membunuh orang, toh lagi bagus ku biarin kamu diborgol." sambung Snow lagi. Riak mukanya jelas kesal dan marah.


"Woi si serakah!" gadis tadi pulak berteriak marah.


"Siapa si serakah?"


"Kaulah, ****! Serakah nan pengecut!"


Snow dan gadis tersebut mula berdebat panjang. Jika salah satu menghina, yang satunya lagi turut menghina.


"Aku bukan serakah!" teriak Snow kesal.


"Terus aku harus bilang apa? Greedy?" ucap gadis itu dengan nada meledek.


"Woii! Udah jauh dari topik, brengsekk!" sambung gadis itu lagi.


"Emang dari awal kita punya topik?" tanya Snow pelan.


"Emang kau pikir gak punya?! Tujuh tahun kita di sini kau baru bisa melihatku. Terus kau mau pergi aja seolah gak pernah ketemu aku? Mending nolong lepasin aku udah cukup." ucap gadis tersebut .


"Tujuh tahun?"


Kepala Snow penuh dengan perkataan error. Satu apa pun gak bisa masuk otaknya sekarang apalagi dengan gadis sombong nan ganas di hadapannya.


"Namamu siapa tadi?" tanya Snow dengan nada tenang. Sekurang- kurangnya bisa elak gunung api meletus.


" Namaku Es."


"Terus barusan kau bilang namaku apa?"


" Nama kau Api."


Snow diam sejenak. Tidak ada perkataan 'Api' dalam kamus namanya membuatnya semakin bingung. Lagian apa ada orang bernama Api?


"Baiklah Es, mengapa kau di borgol?"

__ADS_1


"Kerna aku membunuh kakakku semasa hidup."


"Terus kau ini adalah roh?"


"Yup. Kurasa kita sama."


"Jadi kau diborgol kerna membunuh orang....hah? Apa kau bilang barusan?"


"Kau, Api, kurasa keadaan kita serupa."


Snow sontak kaku. Bisa-bisanya gadis itu bilang hal-hal berupa membunuh dengan muka selamba. Apa dia tidak punya keperimanusiaan?


"Apa kau bilang? Aku juga mem-bunuh?" tanya Snow terbata-bata. Dia mulai berkeringat dingin sementara gadis bernama 'Es' itu sempat tersenyim-senyum tidak jelas.


"Aku bunuh siapa?"


"Manaku tahu. Toh kau hilang ingatan sama seperti ku kan? Yang ku tahu nama kita dan siapa yang ku bunuh saja." ucap Es tersenyum jahil.


Snow berjalan mundur. Berharap dapat pergi meninggalkan sosok super ngak jelas di hadapannya. Kemana aja yang dia tidak perlu berurusan dengan Es.


"Woii, sini! Lu mau ninggalin aku?" ucap Es sambil meronta.


"Dasar roh serakah! Sini kau!"


Snow menarik rambutnya sendiri. Pantang benar mendengar orang memanggilnya serakah. Apa yang di tamakannya?


"Ku bilang aku bukan serakah!"


"Beneran? Tapi ku yakin kau bersifat serakah. Roh juga harus tau diri lho." ucap Es dengan nada meledek. Coba menjebak Snow.


"Tapi aku bukan roh! Aku masih hidup!" ucap Snow mempertahankan diri.


Hah?


"Jangan bilang kau bercanda. Apa sakit itu sungguh membuatmu sekarat ini?" ucap Es dengan kerut tidak percaya.


Snow terdiam.Tidak percaya gadis itu mengetahui keadaan dirinya.


"Bagaimana kau bisa tahu?"

__ADS_1


"Hmm? Bagaimana aku bisa tahu? Gampang aja deh..."


Snow menelan ludah. Menanti perkataan seterusnya yang akan disebutkan.


"Setiap kesakitan,penderitaan dan penyesalan yang kau alami, 60% darinya turut dirasai olehku."


"Apa?" tanya Snow tidak paham.


"Kurasai 60% aja udah sangat perih, pastinya kau sudah lama menderita, bukan?"


"Bentar,aku gak ngerti..."


"Lepaskanlah aku dan biar aku membalasnya untukmu. Akan ku pastikan mereka bersama si brengsek Fina itu mengalami sakit yang sama sepertimu."


"Apa? Hei! Tak mau! Jangan melakukannya!"


Es berhenti berbicara dan menatap Snow dengan tatapan tajam. Tatapan penuh dingin yang hanya dilakukan oleh pemangsa kepada mangsa.


" Apa? "


"Ku bilang jangan melakukannya!"


"Mengapa?"


"Dia itu temanku!" ucap Snow bersungguh-sungguh. Meski perkataan itu dibicara dengan berbelit saking takut pada tatapan tajam Es.


"Kurasa dia tidak pernah menganggapmu sebagai teman."


"Apa?"


"Jangan sok bacot! Dia membencimu, bahkan mau mencelakaimu, kau masih menganggapnya sebagai teman?"


"Pastilah ku menganggapnya sebagai teman..." ucap Snow perlahan. Matanya hanya memandang ke bawah. Mau saja dia menangis di situ.


"Toh udah ku bilang kau itu serakah." bahas Es lagi.


Mata Snow masih melihat ke bawah. Tidak sanggup melawan Es kali ini.


"Sadarlah Api, kita berdua adalah roh yang terperangkap dalam tubuh yang dikutuk ini."

__ADS_1


__ADS_2