
"Selamat sore. Namaku Mizukawa Snow."
Snow tersenyum menatap tante Miya. Sebentar wanita itu terdiam lalu membalas senyumannya.
"Selamat sore, Snow. Kedepannya panggil aja tante Miya."
"Baiklah,tante Miya."
Rabbita dan Treelia kaku diam. Cuma satu sahaja di pikiran mereka.Apa kak Angle membohongi mereka?
"Ayo masuk. Hari udah mau gelap lho."
____________________________________________
Kelihatan rumah yang sangat bersih dan rapih. Dindingnya di cat putih menampakkan sungguh elegan.
"Buat saja seperti rumah sendiri,ya?"
"Iya."
"Rabbita,Treelia,bawalah Snow ke lantai atas. Bersihin diri dan rehat sebentar.Ibu mau nyiapin makan malam,oke?"
Rabbita dan Treelia menggangguk lantas menarik tangan Snow ke tangga untuk ke lantai atas.
Klik!
Kamar yang cantik dan rapih terbentang di hadapan Snow. Membuatnya sungguh tertarik.
"Rapih banget kamar kalian."
"Ini bukan kamar kami."
"Eh?" kaget Snow.
"Ini kamar kakak kami."
Pantas saja sangat rapih. Kamar milik anak perempuan SMP.
Rabbita merangkul bahu Snow yang bengong. Lantas mengangkat tangan kirinya ke atas.
"Malam ini kita bikin kamar ini berantakan!"
__ADS_1
Rabbita berteriak kecil sementara Treelia mengiakan.
"Ehh? Apa kakak kalian tidak marah?" Snow bertanya bingung. Rekan-rekannya itu sungguh merepotkan.
"Gak kok! Dia lagi dramawisata sama temen sekolah. Lagian dia mengiakan aja kami mau pinjem kamarnya buat main."
Rabbita dan Treelia melompat-lompat di atas kasur kakak mereka. Snow menepuk jidatnya melihat reaksi temannya.
"Pinjem kamar cuma buat main?"
"Kakak kami itu galak lho! Kalo gak wisata,mimpi aja mau masukin kamarnya!"
'Aku rasa tau kenapa kakak kalian gak benarkan masukin kamarnya.' ucap Snow dalam hati.
______________________________________________
"Selamat makan!"
Snow tertawa kecil melihat teman-temanya makan dengan lahap. Seketika dia melirik pada kue strawberi yang baru di pegang tante Miya.
"Ibu,mengapa ada kue?" Rabbita yang menyadari hal sama seperti Snow lantas bertanya.
"Ini tadi sore Fina datang beri ini. " ucap wanita itu tersenyum sambil memotong kue yang sederhana kecil itu.
Wanita itu menggeleng. Dia benar-benar yakin yang mengantar kue itu adalah Fina.
"Yang di beri orang gak boleh di tolak lho! Jadi ibu terima aja."
Snow terdiam memikirkan sesuatu. Dia memasang sebuah senyuman. Sementara temannya memikirkan hal-hal aneh.
"Gimana kalo dia masukin obat julap?"
Treelia memasang muka cemberut.
"Gak usah mikirin ah. Dari mana anak 12 tahun mau dapat obat julap?" Snow tampak sedikit marah dan mengambil piring berisi kue yang di potong tadi lalu memakannya dengan tenang.
Memasukkan obat julap pada makanan sama seperti tidak menghargainya.
"Snow,jangan makan dulu deh!"
Snow menggeleng tanda gak mau dan tetap dengan pendiriannya. Tante Miya tertawa kecil melihat reaksi anak-anak di hadapannya.
__ADS_1
Mereka berempat makan ditemani ngobrolan yang tiada hentinya.
_____________________________________________
"Snow,tangkap ini!"
Treelia melontar sesuatu pada Snow.
"Ini...konsol game?"
"Iya! Ayo main game!"
Rabbita dan Treelia masing-masing memegang konsol game lalu mendorong Snow duduk di atas sofa.
Butang 'on' telah di tekan.
"Snow mau karakter apa?"
"Anu...aku gak tau main..."
"Gampang aja! Tinggal bikin karakter duluan."
Rabbita dan Treelia mengajari serba-sedikit tentang game itu kepada Snow meski dia lama banget baru ngerti cara main.
Snow semakin tertarik memainkannya. Dia lumayan bagus dalam main game selepas betul-betul menjagoinya.
______________________________________________
"Aku menang! Maaf ya kak."
Treelia sedikit sombong sementara Rabbita memasang wajah cemberut. Snow pula cuma tersenyum. Game seterusnya pula dimulakan.
"Kalian pikir mengapa Fina datang mengantar kue?"
Rabbita membahas semula tentang kue yang di hantar oleh Fina. Memikirkannya selalu membuli mereka membuatnya merasa heran. Sungguh aneh.
"Gak tau tapi kuenya seperti tidak di campur apa-apa." ucap Snow.
"Mungkin dia mau berteman dengan kita?" Treelia coba berpikiran positif.
"Ya. Esok kita harus bilang terima kasih padanya."
__ADS_1
ucap Snow tersenyum.