
Sesekali Rabbita menoleh kesekeliling. Dia tidak melihat Snow.
"Di mana Snow? Pembelajaran kedua akan segera bermula." ucap Rabbita kepada adiknya yang leka membaca buku.
"Mana kutahu?" ucap Treelia selamba.
Rabbita menggembungkan pipi tanda protes pada tingkah adiknya.
Treelia menutup bukunya.
"Hei, Lin Ya!" teriak Treelia kecil kepada gadis berambut ungu itu.
"Err...ya?" Lin Ya menjawab pelan sambil berjalan ke arah mereka berdua.
"Hei, mana Snow?" Rabbita memotong kata-kata adiknya.
"Er... barusan warna air tumpah ke pakaiannya. Jadi dia ke toilet untuk membereskannya."
"Oh,begitu, terima kasih."
_____________________________________________
Splash...splash...splash...
Bunyi air bermain di telinga Fina dan Snow. Snow meneruskan agendanya di toilet itu dengan penuh riang.
"Kok orang itu selalu nyuekin aku?" ucap Fina kesal menatap Snow.
Snow menoleh menatap Fina. Akhirnya dia merespon.
"Siapa? Kapan? Orang itu jahat padamu ya?" tanya Snow tidak mengerti percakapan Fina.
Kata-kata Snow seolah panah yang datang satu-persatu mengenai Fina. Kesalnya malah menjadi-jadi.
"Jangan sok polos bisa gak!?" teriak Fina sambil mendorong sedikit Snow ke belakang.
__ADS_1
"Mengapa kau mendorongku? " tanya Snow sambil coba untuk bangun.
"Karena kau menyebalkan!"
Fina terus - menerus mendorong Snow sehingga dia kehilangan keseimbangan. Snow jatuh sekali lagi.
"Siapa yang mencuekin kau?" Snow masih bertanya.
' Orang ini idiot atau apa!? Jelas-jelas aku berkata itu padanya!!' getus Fina kesal. Tidak pernah dia bertemu orang sesebal itu.
"Hei, kau tahu? Seharian ini sangat aneh." ucap Snow mau memulakan berngobrol.
"Mengapa kau mau memberitahuku?" Fina mengepal tangannya. Serasa mau menarik-narik rambut biru Snow.
Snow tidak menjawab malahan tersenyum meneruskan mencuci warna air di pakaiannya.
"Seseorang hampir terjatuh tangga, mejaku berantakan, warna air ini,"
Snow spontan menghabiskan ayatnya. Dia tidak patut memberitahu hal sebegitu kepada orang lain.
"Maaf aku tak patut berkata begitu."
"Ah! Aku ingat ! Aku mau..."
"Hei."
Snow tidak dapat menghabiskan perkataannya, kerna di potong oleh Fina.
"Kau perlukan air?!"
Splash!!
Snow jatuh terduduk. Tubuhnya basah kuyup.
Snow menggetak bibir. Dia leka. Tidak sangka di bawah sink punya bekas berisi air.
__ADS_1
Krekk...
Pintu toilet dibuka oleh Fina. Dia mahu meninggalkan saja Snow dalam keadaan begitu. Sebalnya kepada Snow semakin besar.
"Dan kelinci sudah masuk jaringan." getus Snow tersenyum.
_____________________________________________
Rasa khawatir menghantui Rabbita dan Treelia. Pembelajaran kedua hampir tamat, dan Snow langsung tidak pulang dari toilet.
Rabbita dan Treelia pula yang merasa sebal kepada Snow. Dia langsung tidak ada toilet!
Entah mau menyalahkan siapa, antara Lin Ya ataupun Snow.
"Menyebalkan sih!" kesal Rabbita ketika perjalanan pulang ke kelas.
"Hei,kalian berdua!"
Rabbita dan Treelia melirik kesekeliling. Siapa yang memanggil mereka? Rupanya mereka berdua di panggil oleh Guru Athanasia, guru kesehatan.
"Ada apa bu?" tanya mereka berdua mendekati guru itu.
"Kalian kelas apa?"
"Kelas 6 - D bu. Ada apa?"
Guru muda tersenyum lebar. Kebetulan sekali terjumpa mereka berdua.
"Guru mau bilang, seorang teman kelas kamu namanya Mizukawa Snow di ruang kesehatan sekarang. Bisa ambilkan tasnya?"
Rabbita dan Treelia sontak diam. Snow di ruang kesehatan?
"Ada apa dengannya bu?" tanya mereka berdua penasaran.
"Yah ibu lagi sibuk nih, tolong ambilkan tasnya ya?" Bu Athanasia coba mengelak daripada menjawab soalan.
__ADS_1
Seseorang bersembunyi mendengar perbualan mereka bertiga itu.
"Gadis rambut biru itu...mengapa tubuhnya memiliki aura pembunuh?" ucapnya pelan lalu pergi.