
Kepulangan Rossa dan Willy dari Singapura ke Jakarta,tak diketahui Adam dan Andre.Hal itu sengaja dilakukan untuk membuat kejutan pada Adam dan Andre.Dini dan lainnya sudah tahu kedatangan sang majikan namun bungkam.
Jadwal penerbangan sempat Delay,selama dua jam.Dikarenakan faktor cuaca yang buruk sehingga operasional pesawat terganggu.Seharusnya menaiki pesawat jam 18:30,diundur menjadi ke penerbangan terakhir,yakni 20:30 waktu setempat.
Meski begitu,pada akhirnya sampailah juga di bandara internasional tanah air,Soekarno-Hatta.Rossa dan Willy dijemput sopir pribadi,dan datang lebih awal ke rumah,dibandingkan Adam dan Andre.Akibat kelelahan dan mengantuk,tiba di rumah keduanya langsung tumbang di tempat tidur.Sampai matahari terbit,masih belum bangun.
Dikamar,Adam sudah bangun sejak tadi.Seperti biasa rutinitas Adam setiap pagi sebelum pergi ke kantor,bersiap memakai setelan jas lengkap selesai mandi.Sebelum siap,Adam takkan keluar dari kamar nya.
Sedangkan Andre jangan ditanya lagi.Tuan muda yang satu ini masih bergelut di dunia mimpi,diatas peraduan.Memeluk guling dan meringkuk dibalik selimut.Sebelum matahari condong,jangan harap Andre akan keluar dari kamar.
Tsurayya,nama yang tersemat dibalik nama belakangnya ini memiliki sepenggal do'a dari ibunya yang berharap Aura bisa bersinar terang seperti bintang.Memiliki masa depan yang cerah,dan menjadi gadis mandiri yang sukses,nantinya.
Namun takdir berkata lain.Aura sekarang hanyalah seorang asisten pribadi dari dua pria yang memiliki sifat berbeda.Putra seorang konglomerat dan calon pewaris tahta.Kendati demikian,Aura tak pernah menyerah dalam menjalani hidup yang penuh tekanan.
Setiap pagi,Dini mengumpulkan anak buahnya untuk briefing,sebelum memulai pekerjaan di area dapur.Aura si asisten pribadi,Risma si pelayan,Yetti si juru masak dan illa si bagian Laundry,bertatap mata dengan Dini.
"Selamat pagi?.".
"Selamat pagi,Bu.".
"Kalian tau bukan?,jika Tuan dan Nyonya sudah pulang?.".Bak seorang komando pasukan perang,Dini berdiri menghadap keempat anak buahnya.
Ini awal Aura mengikuti briefing pagi,sebagai anggota baru dari para pegawai dirumah itu.Selain kelima wanita itu,ada tiga laki-laki yang berperan sebagai sopir pribadi, tukang kebun dan petugas keamanan.Adanya peraturan yang berlaku di rumah itu,pegawai laki-laki tidak diperbolehkan masuk ke dalam rumah.Jika ada sesuatu,mereka bisa berkomunikasi lewat intercom.
"Sudah.".Keempat anak buah Dini,dari berbeda genre,mengangguk mengiyakan.
Berdiri tegak lurus dan sejajar,dengan pandangan menatap lurus kedepan.Ke tiganya tak berani berkomentar,sebelum Dini selesai bicara.Terkecuali Aura,si anak baru.Otak sok ingin tahu nya selalu muncul di waktu yang tidak tepat.
"Tuan,Nyonya.Maksud nya?...Haaa.Jangan katakan jika itu Pak Willy dan Ibu Rossa?.".Antusiasnya Aura menanyai Risma dengan berbisik pelan.
Rasa penasaran pada sosok sang majikan yang tidak pernah dilihatnya secara langsung,menyergap masuk ke relung hati nya.Bisa berjumpa dengan sang majikan adalah suatu kebanggaan tersendiri baginya.
Sebagai senior yang lebih dulu bekerja,dan sudah lama bekerja dirumah itu,Risma merenung sejenak.Haruskah memberi tahu Aura atau tidak?,yang terlihat sangat penasaran.
"Benar.Kau pasti belum pernah bertemu Tuan dan Nyonya besar,kan?.".Risma bicara sampai tak sadar jika sepasang mata mengawasi gerak-gerik nya dan Aura."Pasti kau akan terkejut melihat me...".
"Aura,jika ada yang mau kau tanyakan.Bicaralah?!.Jika tidak ada yang di mengerti,tanyakan padaku?!.".Belum selesai Risma bicara,Dini sudah memotongnya.
Dini risih melihat keduanya berbisik-bisik,disaat topik pembicaraan belum selesai dibahas.Dini tidak suka diabaikan saat berbicara.Tata Krama dirumah itu harus diperhatikan,dan harus disiplin pada peraturan yang ditetapkan.Tanpa pengecualian.
"Maaf!.".Menyesal sudah bersikap lancang,Aura menekuk kepala,mengindari tatapan Dini yang begitu menusuk ulu hatinya.
Hisssh,mengapa aku ceroboh sekali**?...
Apa yang kita tanam,itu yang kita tuai.Inilah akibat dari kecerobohannya,Aura menggigiti bibir menahan malu.
"Risma,fokuskan perhatian mu pada ku!.Tidakkah kau ingat,saat tatap muka dengan ku?.".Agar adil,Dini tak hanya menegur Aura,Risma juga kena batunya.
Sebagai senior,seharusnya Risma memperingati Aura,bukan malah terpengaruh oleh Aura.Ya ampun,anak gadis memang susah diatur,membuat kepala Dini pusing saja.
"Risma,ku berikan SP pasal 3!.".Ultimatum Dini membuat Risma ternganga.
"Baik.".Mendapat surat peringatan,Risma menyesal.
Jika bukan karena Aura,tak mungkin kena tegur juga.Bahkan lebih dari itu.Payah,bodoh.Tak melihat situasi dan kondisi sekarang.Aura oh Aura,jika briefing berakhir,Risma siap menguliti mu.Baru dua hari sudah membawa petaka.Sekarang Risma hanya bisa menghela nafas pasrah dan menatap tajam Aura,tak bisa berbuat banyak.
"Kalian tau peraturan di rumah ini?.Apapun yang terjadi,jangan berani bergunjing.Tutup mata dan telinga kalian,seolah tidak tau apa-apa.Seperti halnya yang terjadi tadi malam.Mengerti?!.".Menetralkan suasana yang tegang,Dini memecah keheningan.
Sekilas Dini melirik Aura,yang terlibat dalam perdebatan antara Adam dan Andre.
"Ekhm.".
Mengerti maksud Dini,Risma pura-pura berdehem.Tahu akan hal itu,Yetti dan illa mengulum senyum.Kejadian tadi malam bukan rahasia lagi bagi mereka.Kedekatan jarak antara kamar khusus pelayan.Tak ayal peristiwa yang terjadi tadi malam di kamar Aura,tak lolos dari pendengaran Dini,Risma,Yetti dan illa.Untungnya ketiga pegawai laki-laki tidak tahu menahu soal itu,karena ditempatkan di Paviliun samping rumah.
"Mengerti.".
Apa yang terjadi tadi malam?.Kenapa Bu ketua menatap ku seperti itu?...
Mendapat tatapan aneh dari Dini,Aura mengalihkan pandangan.Benar-benar tak mengerti yang dimaksud Dini.Sudah penasaran semakin penasaran.Rasa ini sungguh begitu menyiksa hati nya.Otaknya bekerja keras untuk mengingat peristiwa tadi malam.Tetapi nihil,tak satu pun yang diingatnya.Kecuali tidur didalam mobil dan sudah ada dikamar,dalam keadaan terbaring ditempat tidur.
__ADS_1
Oh Tuhan,ingin sekali briefing ini cepat selesai,dan berlalu.Biar bisa menanyakan sesuatu yang membuat hatinya berkecamuk tak karuan pada Risma.Namun selain diam dan sabar menunggu,tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Tuan Adam,tuan Andre dan Aura...Apa mereka terlibat cinta segitiga?.Skandal antara majikan dan asisten...Wahhh,ini rekor baru sepanjang aku bekerja di rumah ini...
Sudah hampir lupa akan peristiwa tadi malam,Risma teringat kembali gara-gara Dini membahasnya.Otak liar Risma traveling kemana-mana.
"Dinding dirumah ini memiliki mata dan telinga seperti kalian.Apapun yang kalian bicarakan,bisa ku ketahui.Paham?.".Satu-persatu Dini mengamati wajah-wajah anak buah nya.
Disetiap sudut ruangan rumah itu,dipasangi cctv.Gerak-gerik para pegawai diawasi kamera tersembunyi,sehingga tak luput dari pengawasan dan pantauan Dini.
"Paham.".Tak satu pun dari mereka yang berani berkata tidak,jika Dini sudah memberikan ultimatum.
"Lakukan tugas kalian dengan baik!.Aku tidak suka kalian membuat kesalahan!.".Dini menegaskan dan memastikan anak buah nya melakukan pekerjaannya masing-masing dengan baik dan benar.
"Baik.".Semua paham dan mengerti.
"Mari berdo'a sebelum melakukan pekerjaan!.".Mengikuti arahan Dini semua tertunduk,dan dalam hati masing-masing berdo'a dengan khusu.
"Selesai!.Silahkan mulai!.".
Selesai briefing,semua berpencar.Dini kembali ke posisi semula.Tempat dimana monitor cctv terbentang luas di ruang operator atau ruang pengawas pegawai.Itulah tugas nya setiap hari,hanya duduk manis dengan mata fokus pada layar sembari menyesap secangkir teh pahit yang hangat.Selain memberikan perintah,larangan dan wejangan.
Para gadis dan para wanita paruh baya menempati posisi nya masing-masing.Risma siap dengan peralatan kebersihan rumah,Yetti ke dapur dan illa ke area Laundry.Sedangkan Aura sudah pasti pada tuan muda nya.
Aura tergopoh-gopoh berjalan di lorong rumah menuju kamar Adam untuk membangunkan sang pangeran.Tak sabar ingin melihat wajah pria berparas tampan nan sempurna,ditunjang tubuh atletis dan perawakan tinggi nya.
Ber Iris mata yang dingin namun meneduhkan dan menenangkan hati.Bersikap acuh tak acuh namun menghanyutkan.Semua yang dimiliki Adam seakan takkan pernah lekang ditelan waktu.Tidak akan pernah bosan meski lama memandang nya.Bagi Aura,Adam tidak ada matinya,dan tidak ada cacatnya secuil pun.
Apakah ini rasa suka?.Ya,siapa yang tidak suka terhadap Adam.Namun Aura tak berani berharap lebih.Setiap rasa suka hadir di benaknya,rasa trauma datang menghantui,diwaktu yang sama.
Tok,tok,tok.
"Tuan Adam.Anda sudah bangun?.".Aura berdiri didepan pintu kamar Adam,untuk memastikan jika Adam sudah bangun tidur.
"Tuan,anda bisa mendengar ku?.".Tak ada sahutan dari dalam,Aura menguping di pintu kamar Adam disisi kanan yang terdiri dari dua bagian.
Sunyi senyap,tak terdengar pergerakan Adam sedikit pun.Dasar Aura payah.Tidak tahu jika kamar Adam itu kedap suara.Ya,Aura memang belum tahu itu.Selain tugas nya,tak ada yang lebih penting dan tak menarik perhatiannya di rumah itu.Uang adalah motivasi terbesar Aura,agar semangat bekerja.
Karena penasaran,sekali lagi Aura mencoba mengetuk pintu lagi dibagian sisi kiri.Telinga masih menempel di daun pintu sisi kanan.Masih tak ada respon dari empunya kamar.Akhirnya...
Dorrr,dorrr,dorrr.
"Yuhuuu...Tuan,bangunlah dan keluar!.".Sudah tak bisa sabar lagi,Aura berteriak sekeras mungkin,sambil terus usil menggedor-gedor pintu.
"Astaga...Gadis itu.".
Pagi-pagi sudah diganggu oleh suara ketukan pintu berkali-kali dan teriakan seorang gadis.Aktivitas Adam terhenti saat memoleskan Foam di rambutnya menghadap ke cermin.Menghampiri pintu dan...
Klekkk.
"Jika tuan tidak keluar,aku akan mas...".
Suara Alto Aura memekakkan telinga sampai berdenging.Reflek Adam menutup telinga.
"Tidak perlu teriak.Aku bisa mendengar mu.".
Saat membuka pintu,Adam tidak terkejut melihat seraut wajah gadis didepannya.Sebaliknya,Aura lah yang terkejut melihat Adam sudah berdiri dihadapannya.
"Maaf,tuan!.".Aura tertunduk malu dengan pipi bersemu kemerahan.
Ceroboh nya,sepagi ini sudah membuat kesalahan.Tahu begini takkan mengetuk pintu lagi.Mau ditaruh di mana muka nya sekarang?.Aura seperti kehilangan muka dihadapan Adam.Luntur seketika semangat dan kepercayaan dirinya.
"Sepagi ini sudah membuat ricuh,ada apa?.".Adam memecah kebisuan Aura.
"Sarapan pagi sudah siap,tuan.".Kepala masih ditekuk,Aura tak berani menatap netra Adam.
Lama dan dalam Adam memandangi Aura.Gadis ini perlahan tapi pasti,telah membobol benteng keacuhan dan kedinginan nya terhadap wanita,selama 2 tahun ini.
"Tunggu di ruang makan.Lima menit lagi aku turun.".Masih ada yang harus dilakukan Adam dikamar.
__ADS_1
"Baik,tuan.".Perlahan Aura melangkah pergi,membawa rasa malu di hatinya.
Lekat-lekat dipandang Adam punggung Aura yang berjalan pelan di lorong rumah.Seketika rasa penasaran terlintas di benak nya,pada yang dilakukan Andre dan Aura hari kemarin.Sampai pulang selarut itu.
"Tunggu Aura!.".
Sang majikan memanggil,Aura pun terhenti dan berbalik.
"Ya?.".
"Kemarin kau....".Lidah Adam terasa kaku dan kelu,tak bisa berkata-kata lagi.
Sesaat Adam menatap Aura yang tertegun di lorong,menantinya berucap kata.
"Tidak.Pergilah!.".Adam mencelos masuk kedalam kamar.
Hanya untuk menanyakan kemana saja Andre dan Aura pergi hari kemarin,rasanya teramat sangat sulit sekali.
"Ada apa dengan ku?.".Entah mengapa tiba-tiba dirinya tertarik urusan orang lain,Adam mengernyit heran.
Aneh bukan,ini tak seperti biasanya dirinya begitu.Adam tak terbiasa mencampuri urusan orang lain,kecuali urusan pekerjaan.Adam lebih suka bergelut di meja kerja,dibandingkan memikirkan yang dilakukan orang lain.
"Untuk apa memanggil ku?,merepotkan saja.Aneh.".Bersungut-sungut,Aura melanjutkan langkahnya.
Tuan muda nya itu sangat misterius dan membuat penasaran saja.Pagi ini dini dan Adam berhasil membuyarkan konsentrasi nya.Sampai tak bisa fokus berjalan dan tak melihat sebuah pilar berdiri tegak didepannya.Menjulang tinggi dan kokoh.
Dugggh...
Hidung Aura yang lancip,keningnya yang datar dan tak berperisai,membentur benda berbahan beton itu.
"Ya ampun...Haaa...Pikiran ku sangat kacau.".Ngilu dan nyeri,Aura mengusap hidungnya,akibat menabrak pilar sampai kemerahan,lalu melenggang pergi.
Diruang tengah,Risma sibuk membersihkan seluruh ruangan.Perhatian Risma teralihkan saat melihat Aura berjalan sendirian,menuju ke ruang makan.
"Aura...".Bergegas Risma menghampiri Aura,diiringi sejuta rasa penasaran tertanam di hatinya.
"Apa?.".Melihat ekspresi wajah Risma yang aneh,Aura berkerut heran.
Sebelum bicara Risma melihat sekeliling,memastikan jika diruangan itu hanya berdua saja dengan Aura.
"Apa yang terjadi tadi malam?,sampai tuan Adam dan tuan Andre bertengkar?.".Jika rasa keingintahuan nya tidak menggunung,Risma tak ingin menginterogasi Aura seperti ini.
Perdebatan dikamar Aura,masih melekat di pikiran Risma.Sangat jelas sekali,dikamarnya Risma mendengar Adam dan Andre berdebat panjang tadi malam.Sampai terbangun dari tidurnya.Ternyata tak hanya dirinya,Dini dan yang lain pun ikut serta,dikamar masing-masing.Risma tahu itu dari cara bicara Dini menyinggung kejadian tadi malam,saat Yetti dan illa mengulum senyum.
"Bertengkar?.Tadi malam?.Dimana?.Kenapa aku tidak tau?.".Aura berusaha keras mengingatnya,namun tak satu pun yang bisa diingatnya.
Tentu Aura tidak ingat,semalam tidur pulas seperti kerbau,sehingga melewatkan adu argumen antara Adam dan Andre.
"Aishhh.Kau tidak memiliki kuping?.Kami semua tau,tetapi,sttt.Seolah tidak mendengar apa-apa.".Menirukan gaya Dini bicara di briefing tadi,Risma mengingatkan Aura.
"Benarkah?.Kenapa kau tidak memberi tau ku?.".Heran,Aura bisa tak tahu soal itu.
"Apapun yang terjadi di rumah ini,harus menutup mata dan telinga.Pura-pura tidak tau.Camkan itu!.".Risma kembali mengingatkan Aura.
Seketika,Aura ingat akibat kelalaiannya tadi."Sepertinya sistem jaringan otakku kacau,akibat terbentur tadi.".
"Apa?.".Risma terheran,Aura bergumam lirih tak jelas.
"Tidak.Lakukan saja tugas mu penuh semangat.Sudah ya,aku harus pergi.Dahhh.".Sambil berlalu pergi dan tersenyum,Aura melambaikan tangan.
Apa yang terjadi tadi malam,cukup menguras otak Aura.Ingin tahu penyebab Adam dan Andre berdebat.Namun apa mau dikata,Aura tak bisa mendesak Risma untuk menguak tabir.
Hingga hilang dari pandangan,Risma memandangi Aura.Baru satu hari Aura sudah menarik perhatian kedua tuan muda,putra sang majikan.Kecantikan Aura memang tak bisa disembunyikan diwajahnya.Pantas,jika pria-pria menyukai Aura.Namun kehadiran Aura dirumah itu,menyingkirkan rasa kesepian Risma.Setidaknya dengan adanya Aura disana,sekarang Risma dan lainnya bisa bersenda gurau bersama.
"Kau tau Aura?.Aku iri,iri pada mu.".Risma kembali fokus pada pekerjaannya.
Dikamar utama,Nyonya rumah terbangun dari tidur pulas nya.Sinar mentari menyergap masuk ke celah tirai jendela,menerpa wajahnya.Perlahan turun dari tempat tidur,menyibak tirai untuk mengintip sang Surya yang sudah bersinar terang.
Inilah yang selalu dirindukan Rossa,memandangi bunga-bunga cantik dan wangi di taman,yang terhampar tepat didepan jendela kamar.Sungguh,pemandangan indah yang memanjakan mata.Rossa menggeleng tak percaya,disinilah kini berada,dirumahnya sendiri.Perlahan Rossa membuka jendela dan menghirup udara yang segar dan sejuk,dipagi hari.
__ADS_1
Sang suami masih terbujur kaku diatas paribaan,Rossa mendekati Willy."Papa,wake up!.".Mencoba membangunkan dan mengguncang tubuh Willy yang tambun.
Namun Willy tetap tak mau bangun.Perjalanan panjang dari penthouse menuju bandara.Tertahan di dibandara,akibat Delay.Dari bandara Soekarno Hatta ke rumah,sangat melelahkan fisik Willy yang lebih tua dan terpaut 11 tahun dari Rossa.Meski Willy masih terlihat segar bugar,namun faktor usia tak bisa disangkal.Rambutnya sudah ditumbuhi uban dan fisiknya tak sekuat dulu lagi.