
Selamat membaca semuanya...💕
_________
"Andre...".Willy ke kamar Andre mencari putra kesayangannya itu.
Sejak pulang dari bandara,belum sempat bertemu Andre namun untungnya sudah bertemu Adam.Timingnya tak tepat hingga menyurutkan intensitas bertemu putranya.Berpacu dengan waktu dan kesibukan masing-masing.Didalam rumah seperti main kucing-kucingan dan bermain petak umpet dengan Andre yang liar dan suka berpetualang di luar.
"Dia tidak ada disini.Dimana dia?.".Nihil,kamar Andre kosong saat Willy membuka pintu.
Willy bingung saat tak menemukan Andre dikamarnya.Entah pergi kemana?,sementara mobil sport Andre sudah terparkir dihalaman.Tertegun di kamar Andre,dimana putranya sekarang?.
Ya,mungkin Dini tau dimana Andre...Batinnya.Secepatnya menghubungi Dini diruangan cctv melalui intercom yang menempel di dinding kamar Andre.
"Dini,dimana Andre?.".
Tuan muda Andre ada di ruang gym,tuan besar.
Oh,rupanya Andre diruang Gym yang menyatu dengan tempat latihan beladiri Adam.Bergegas Willy menuju kesana.Saat membuka pintu,Andre melaju diatas Treadmil.Bibirnya tersenyum dan mendekati Andre.Menelisik tetes demi tetes air keringat yang bercucuran di pelipis Andre.
Kaki Andre tak berhenti mendominasi laju kencang Treadmil.Tak perduli peluh membasahi tubuh dan sang ayah berdiri disampingnya.Andre terasa berjalan di atas awan dan pikirannya mengambang bebas.
Dadanya terasa penuh dan ingin meledak.Menahan gejolak cinta dan meletup-letup dihatinya pada Aura.
Lamunan Andre baru buyar saat pundaknya ditepuk seseorang."Papa...".Andre terbelalak,melihat Papa nya sudah ada disampingnya."Kapan Papa datang?.".Perasaan,Andre tak mendengar suara pintu diketuk dan dibuka.
Putra nya terlihat kaget,Willy hanya tertawa.Bisa- bisanya Andre tak menyadari kehadirannya."Ternyata putra kesayangan Papa bersembunyi di sini,rupanya.".
Andre langsung loncat dari Treadmill yang masih melaju,dan menangkap tubuh Papanya."Papa,aku rindu Papa.".Betapa bahagianya bisa bertemu dan memeluk Papa kebanggaannya,dan motivator terbaik nya lagi.
Meluapkan rasa rindunya yang sama membukit,Willy menghujani kening penyemangat hidup nya dengan kecupan.Tak peduli aroma kecut tubuh Andre yang menusuk penciuman nya dan membuat nya pening.
"Kau sudah dewasa dan tinggi mu melebihi Papa,nak.Papa pangling melihat mu.".Willy memeluk putranya lagi yang lama tak dijumpai.
Willy mengerutkan kening melihat bibir Andre yang tersenyum.Namun matanya tampak mendung dan berkabut.Terlihat menyimpan kesedihan."Ada apa,nak?.Jangan menyimpan kesedihan mu sendiri.Ayo!,ceritakan pada Papa?.".
Andre mengajak Papanya duduk di bangku panjang berlapis busa,dan menatap Papa nya sejenak lalu berpaling muka."Papa tau saja,jika aku sedih.".
Willy merangkul pundak Andre disampingnya."Aku Papa mu,dan kamu anak ku.Hati Papa bisa meraba sesuatu yang mengganjal hati mu,Nak.".
Andre menyandarkan kepalanya di bahu Papanya."Pa,aku menyukai seorang gadis.Tapi Mama...".
"Menentang mu,dan tidak suka gadis itu?.".Willy tau yang akan Andre katakan,walau belum tau siapa gadis yang disukai Andre.
Namun Willy menduga jika gadis itu Aura.Dari cctv yang pernah dilihatnya,cara Andre memperlakukan Aura begitu istimewa.
Begitulah Papanya,bisa memahami semua.Andre bangga bisa memiliki Papa seperti Willy."Lalu bagaimana,Pa?.".
Entahlah,Willy pun bingung cara meluluhkan hati Rena untuk memperjuangkan Aura."Siapa gadis itu?,jika boleh Papa tau?.".
Andre menegakkan kepalanya,dan menatap Willy."Dia,gadis yang Papa kirim kemari.Aura.".
Sudah,Willy duga.Ia pun tersenyum samar."Sudah menyatakan perasaan mu?.".
"Hemh.Tapi dia menolak ku,Pa.Cinta ku tidak disambut baik.Kurasa dia menyukai orang lain,Pa.".Kejadian tadi pagi saat Aura dan Adam berpelukan dan bertatapan dihalaman,Andre bisa melihat percikan cinta dimatanya.
Hal itu mengganggu pikiran Andre.Cintanya tak berbalas karena Aura terlihat menyukai kakaknya.Ya,walaupun belum tentu benar dan gamang.
Hati Willy terasa terkoyak melihat Andre bersedih,patah hati dan kecewa.Namun la bisa apa?.Cinta tak bisa dipaksakan dan tak bisa menyalahkan Aura atau pria yang disukainya.Cinta tau dimana harus berlabuh.
Andre bangkit dan melangkah pergi,Willy mengikutinya.Andre berbaring diatas alat Gym dan mengangkat besi,Willy berdiri disampingnya.
Willy teringat cerita Adam dikantor tadi."My prince,kata Adam esok kamu akan mulai bekerja?.".Sengaja menyita perhatian Andre yang melamun.Raganya ada disini namun pikirannya terlihat seolah pergi entah kemana.
Besi yang diangkatnya diletakkan Andre di tempatnya.Duduk dan menatap sang ayah."Iya Pa.Apa Papa setuju?.".
Willy mengangguk setuju."Tentu saja.Itu bagus dan Papa akan mendukung mu.".Tak mungkin Willy melarang Andre.
"Terima kasih,Pa.".Andre mau memeluk ayahnya lagi,namun Willy menjauhkan diri darinya.
Karena tubuh Andre bau,refleks Willy menutup hidungnya."Tubuh mu bau kecut.Mandi sana!.".Mengibaskan tangan menyuruh Andre pergi.
"Ha,ha,ha...".Sambil tertawa-tawa,Andre melengos pergi menuju kamarnya.
Willy menuju ruang kerja pribadinya dan duduk merenung disofa.Merenungi siapa pria yang disukai Aura.Adamkah itu?,dan memikirkan perasaan Andre.Mampukah bangkit dari keterpurukannya?.
_________
Adzan berkumandang,Dini,Aura,Risma dan lainnya tergesa-gesa bangun.Bersamaan keluar dari kamar dan bergegas menuju kamar mandi yang terdiri dari dua ruang.
__ADS_1
Pagi ini Andre bangun tidur lebih awal dari biasanya.Bangun tidur Andre bersiap diri dengan mandi dan berpakaian.Andre memakai setelan jas warna Abu dikamar.Mulai hari ini Andre menyibukkan diri dikantor dan membenamkan pikiran dengan pekerjaan.Sesuai ucapannya pada Adam kemarin pagi,akan bekerja mulai dari sekarang.Demi melupakan sesuatu dan seseorang.
Hatinya terasa sakit saat dipaksa harus menghempas perasaannya pada Aura oleh sang ibu.Darahnya pun terasa mendidih saat mengingat ucapan sang ibu yang memintanya menjaga jarak dengan Aura.
Melupakan Aura?,tak mungkin karena tak semudah membalikkan telapak tangan.Menghindari Aura?,tak mungkin jika Aura masih berkeliaran di sekitar rumah.Bahkan bayangan Aura saja tampak ada dimana-mana saat ini,olehnya.Dicermin
,disofa dan ditempat tidur.Sosoknya tak didekatnya,namun terasa ada dan nyata.
Andre menatap pantulannya dicermin dan memasang dasi.Wajahnya tampak dingin dan getir.Bibirnya pun terasa kaku untuk tersenyum.Hatinya tak baik-baik saja saat ini.Sesaat Andre menarik nafas dalam-dalam dan dihembuskan perlahan.Bergegas Andre keluar dari kamar dengan muka sedih.
*****
Sudah belasan menit,Adam menjelajahi kolam renang.Kepakan tangannya sangat cepat membelah air.Adam menyegarkan diri dengan air dingin itu,di pagi buta.Berenang demi mendinginkan pikirannya yang kacau dan hatinya yang tak karuan.
Bukan hanya untuk menjaga stamina saja.Berharap dengan berenang,suasana hati nya akan lebih baik.Ucapan ibunya kemarin masih terlintas dipikiran dan terngiang di telinga Adam.
Mama tidak akan membiarkan Andre jatuh hati pada pelayan itu.Termasuk kau...
Mengingat itu,Adam mempercepat gaya berenang nya.Hatinya terasa perih dan sakit.Belum mengungkapkan perasaannya pada Aura,namun ibunya sudah mematahkan semangat dan hatinya.Sementara rasa cintanya semakin tumbuh besar didalam dada.
Haruskah la menyerah akan cinta nya pada Aura sebelum berperang melawan keegoisan dan keangkuhan sang ibu?.Hal itu membuat Adam bingung.
*****
Di walk in closhet Rena mengeluarkan isi tasnya.kebingungan mencari-cari benda berharga yang bisa menyebabkan rahasianya terbongkar dan kejahatannya terungkap.
Terakhir kali Rossa menyimpan benda itu di dalam tas nya,namun tak ada.Ponsel duplikat yang berisi kartu bekas nomor kontak Adam dulu.Entah sengaja atau tidak dibuang Adam,namun la menemukan nya disaku kemeja Adam.
"Dimana ponsel ku.Kutaruh ditas ini kemarin,tapi tidak ada.".Rena beralih mengobrak-abrik isi tasnya yang lain dan isi lemari pakaian nya.
Tak juga ditemukan,Rena panik dan gusar.Ia duduk dikursi,menenangkan diri."Bagaimana ini?.Gawat jika hilang dan orang lain menemukannya.".Bingung dan gelisah,Rena jalan mondar-mandir sambil menggigiti kuku jari jempolnya.
*****
Diruang makan,Aura sibuk menata piring dan gelas,sendok dan garpu dimeja makan.Mengambil makanan yang sudah dimasak Yetti didapur dan diletakkan di atas meja.Aura menyiapkan sarapan pagi untuk seluruh tuan rumah.
Tugas nya sekarang tak harus mengurus keperluan Andre dan Adam.Itu pesan dari Rossa yang disampaikan Dini padanya.Selama tuan muda tak memanggilnya dan meminta bantuannya,Aura tak boleh mendekati kamar Andre atau Adam.Perintah tegas Rossa terus diingat dan membuatnya memutar haluan.
Begitu terkejutnya Aura melihat Andre sudah ada disampingnya seperti patung di tugu pahlawan.Dingin dan datar.
"Tuan muda,anda mau pergi?.".Aura menelisik penampilan Andre dari atas sampai bawah.
Andre tampak rapi begitu gagah dan tampan dengan jasnya.Aura terkesima,Andre terlihat memukau namun tak tergoda.Ada yang lebih memikat hati nya saat ini.Namun hanya sebatas mengagumi.Tak berani lebih.
"Aku makan duluan,panggilkan Bi Dini.".Andre hanya akan bicara dengan Aura seperlunya saja.
"Ijinkan aku yang melayani tuan.".Aura mengambil piring dan hendak mengambilkan makanan untuk Andre,namun ditahan Andre.
"Tidak.Biar Bi Dini saja.Kamu urus yang lain.".Piring ditangan Aura direbutnya.Meminta Aura segera pergi dengan mengibaskan tangannya.
Aura hanya menghela pasrah dan menatap Andre sejenak."Baiklah.".Dengan acuh meninggalkan Andre.
Sikap Andre begitu dingin,namun Aura tak terkejut dan tak heran.Aura yakin,pasti karena intimidasi ibunya.Namun seiiring waktu perubahan sikap Andre akan membuatnya terbiasa.
'Masa bodo lah.Apalah dirinya dirumah itu.Hanya remahan rengginang dikaleng biskuit'...
Batinnya berkecamuk saat berjalan melewati menuju ruang cctv,untuk memanggil Dini.Namun secara tak sengaja,kakinya menginjak sesuatu.
Aura melihat benda yang diinjak nya dan mengambilnya."Ponsel siapa ini?.".Mengamati benda ditangannya yang entah milik siapa.
Menengok kanan dan kiri,tak melihat siapa pun disana.Inisiatif Aura menyimpan ponsel itu disaku roknya.Jika nanti ada yang merasa kehilangan ponsel,Aura akan memberikan nya.Berjalan santai,kembali melanjutkan langkahnya sampai melewati area kolam renang.
Tanpa menoleh kebawah,kekiri dan kekanan,kepala Aura lurus kedepan.Walau tau ada Adam dikolam yang asyik berenang.Namun lama-lama imannya goyah karena bisikan setan dan penasaran.
Aura melirik Adam dan mencuri pandang.Aura terperangah melihat Adam setengah telanjang saat naik ke permukaan dan berdiri di tengah kolam.Tubuh Adam tampak kekar,berotot dan perutnya bergaris-garis.Mulus dan begitu menggoda.
Salivanya terasa memenuhi kerongkongan,Aura menelannya air liurnya bulat-bulat.Bibirnya terasa berliur dan menetes keluar,Aura segera menyeka mulutnya dengan punggung tangan.
Melihat Aura melangkah pelan dipinggir kolam,Adam mengusap wajahnya dan menatap Aura disana.Rasa hangat menjalari hatinya dan desiran darahnya terasa ditubuhnya saat menatap Aura.
Getaran cinta berpadu debaran jantung.Rasa cinta tak mau hengkang dari hatinya walau sudah berusaha menepis Aura dari hatinya itu.Chemistry Aura begitu kuat dan pesonanya begitu dalam.
Tanpa sadar,bibirnya tersenyum dan melambaikan tangan pada Aura.Tak perduli Aura itu nyata atau tidak.Hanya bayangannya saja atau fatamorgana.
Entahlah,namun yang pasti Adam tak bisa mengacuhkannya.Bahkan kecaman ibunya pun tergerus dan pupus dari ingatan saat melihat wajah Aura yang memikat.
Begitu terpananya Aura melihat senyum Adam sampai tak sadar jika lantai di pinggir kolam renang licin dan basah.Alhasil sepatunya terpeleset dan terjatuh.Bokongnya mendarat di ubin dan tulang ekornya mencium benda keras itu.
"Awww...Sakiiit.".Aura mengusap pantatnya yang terasa linu dan panas.
__ADS_1
"Aura...".Dengan panik Adam bergegas naik dari kolam dan mendekati Aura yang terduduk di lantai.Tak perduli keadaan nya hanya berbalut celana pendek dan ketat."Kamu tidak apa-apa?.".Memeriksa kaki Aura untuk memastikan siapa tau kakinya terkilir.
Bukannya menjawab,Aura seperti kehabisan nafas dan kata-kata melihat Adam begitu dekat,dan tak mengenakan baju.Apalagi saat Adam menyentuh kulit kakinya.Terasa tersetrum listrik,waktu terasa berhenti berputar dan jantungnya terasa berhenti berdetak.
Konyol,Aura seperti orang kesambet.Terdiam dan terus menatapnya aneh.Membuat Adam terheran."Aura bicaralah!.".Mengguncang lengan Aura untuk menyadarkan nya.
Mata Aura pun mengerjap dan menatap Adam."Iiiya tuan,ada apa?.".
Aura tak mendengar ucapannya dari tadi,Adam tertawa renyah.Ekspresi Aura saat ini begitu menggemaskan dan lucu.
Adam tertawa,Aura pun turut tertawa saja.Rasa ngilu di tulang ekornya tak dirasakan lagi begitu melihat Adam tertawa.Tak mengerti dengan situasi yang terjadi,Aura menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Dibalik tirai jendela dinding penyekat ruangan itu,Andre menyaksikan semua yang terjadi antara Adam dan Aura.Hatinya terasa panas dan terbakar bagaikan disiram air keras.
Andre menatap Aura yang menorehkan luka dihati akan penolakan cintanya.Beralih menatap kakaknya yang telah berani menyukai gadis dicintainya.
Haruskah la berperang melawan saudara sendiri?.
*****
"Maaf,Nissa.Lamaran mu ditolak Pak Adam.Kamu tidak bisa bekerja di kantor Om.".
Vivian Nissa melampiaskan amarahnya dengan membanting ponsel dan menyobek Photo Adam berseragam putih abu begitu menerima telepon dari pamannya,Dwi.
"Kamu jahat Adam.Kamu jahaaat.".Nissa berteriak sekencang mungkin hingga membahana dikamarnya dan menembus ruang keluarga.
Nafasnya begitu cepat dan tak terkontrol,Nissa menghirup udara dalam-dalam dan menghempaskan segala yang berjejal di dalam hatinya.
Adik nya yang tidak tinggal serumah dengan nya dan hanya terpaut satu tahun itu berteriak histeris,Arfa terbangun dari rebahan nya disofa dan setengah panik segera berlari ke kamar Nissa di lantai atas.
Nissa tinggal bersama orang tua nya dan Arfa memilih tinggal di apartemen.Ini akhir pekan maka Arfa datang berkunjung ke rumah dan berkumpul bersama keluarga tercinta.Namun saat ini dirumah hanya ada Nissa sendirian.Orang tuanya sibuk mengurus supermarket.
Begitu membuka pintu Arfa terkejut melihat wajah adiknya menangis dengan terduduk di lantai.Hatinya sangat sedih,dan dengan cepat berjongkok di depan Nissa."Nissa,apa yang terjadi dengan mu?.Kamu membuat kakak cemas.".
Masih terjebak dalam kungkungan emosi,Nissa menggelengkan kepala."Tidak ada.Hanya saja lamaran pekerjaan ku ditolak.".Pipinya yang basah diusapnya dengan telapak tangan.
Tahun ini Nissa baru menyelesaikan pendidikan nya dan baru lulus.Saat sang paman memberi taunya jika ada lowongan pekerjaan di WiRo Grup diposisi sekertaris wakil CEO,Nissa awalnya ragu dan menolak.
Namun saat melihat wajah Adam terpampang di internet,tengah mempromosikan menu makanan restoran La Rossa.Nissa mencari informasi tentang Adam dan ternyata wakil CEO WiRo Grup yang tengah membutuhkan sekertaris.
Tak pikir panjang,Nissa pun melamar pekerjaan di WiRo Grup.Namun sialnya,ditolak tanpa alasan yang jelas.Padahal seratus persen Nissa yakin akan diterima bekerja sebagai sekertaris Adam.
"Ya ampun,ku pikir putus cinta.".Arfa duduk melantai dan ikut bersandar bersama Nissa di sisi dipan,tempat tidur Marsha."Kamu gadis yang pintar.Akan mudah mencari pekerjaan,bukan?.Kenapa tidak ikut mengelola bisnis Papa dan Mama?.".
Bisnis supermarket yang dirintis orang tua nya cukup menguntungkan dan merambat dimana-mana.Namun Arfa heran,anehnya sama sekali Nissa tidak tertarik.
Nissa menoleh sekilas kakaknya dan menyandarkan kepala dibahu Arfa."Lalu kakak sendiri,kenapa dulu bekerja di bandara dan tidak meneruskan bisnis Papa dan Mama?.Baru sekarang kepikiran menjadi pengusaha.".Nissa pikir,sebagai anak tertua dan laki-laki,akan lebih baik jika Arfa mengelola bisnis keluarga.
"Itu bukan bidang ku.".Jawaban Arfa ringkas dan sederhana.
Nissa tau bukan itu alasannya.Arfa menyembunyikan sesuatu didasar hati nya."Bukan karena mencintai mendiang kak Marsha,kan?.
Arfa tersenyum getir.Tak bisa berkelit lagi karena dugaan adiknya memang benar."Dulu kakak memang memilih menjadi staff bandara karena Marsha.Tapi sekarang gadis yang ku cintai tidak ada.Tidak salah kan?,jika kakak merubah haluan?.".Arfa tak bisa bertahan lebih lama lagi di menara bandara tanpa ada sosok Marsha disekelilingnya.
Nissa merubah posisi duduknya dan menghadap Arfa."Tapi bagaimana dengan ku,kak?.Aku sangat menginginkan posisi sekertaris wakil CEO WiRo Grup.".
Pernyataan Nissa mengejutkan Arfa dan langsung menatap Nissa."Perusaahan yang mengelola restoran La Rossa di mana Om Dwi bekerja?.".
"Iya.".Nissa mengangguk mengiyakan."Kakak tau?.Wakil CEO itu kakak kelas ku semasa SMA.Cavin,pria yang ku sukai sejak dulu.".Dengan malu-malu dan tersipu-sipu,Nissa sedikit menceritakan rahasianya yang terpendam dan tak diketahui Arfa.
Arfa terperangah tak percaya melihat Nissa saat mendengar perkataan nya.Dunia begitu sempit dan saling berkesinambungan.Disaat la begitu membenci Adam karena Marsha,Nissa malah sebaliknya.Namun kening Arfa bertaut heran.
Bukankah namanya Adam**?...
Setau Arfa nama wakil CEO WiRo Grup adalah Adam.Arfa tak tau nama Adam sebenarnya dan tak berniat mencari tau.Rasa bencinya terhadap Adam telah menjalari tubuhnya hingga menusuk tulang belulangnya dan mengguncang batinnya.
Arfa terlihat bengong,Nissa menyadarkan Arfa dengan menggeplak pahanya."Hehhh... Kenapa,dude?.Aku yang galau,kakak yang murung.".Menatap aneh Arfa,entah apa yang dipikirkannya.
Arfa pun tersadarkan dari renungan dan menatap Nissa."Nissa maaf!,aku harus pergi.Tunggu kabar baik dari ku,ya?!.".
Nissa menanggapi Arfa dengan menganggukkan kepala.
"Baiklah.Sampai nanti.".Arfa bangkit lalu pergi meninggalkan kamar Nissa dan rumah,dengan mengendarai motor sport nya dan usai menggunakan helm.
Mungkin melalui Nissa,Arfa bisa memanfaatkan situasi dan mengorek sesuatu tentang Adam.Namun Arfa harus membuat Nissa diterima bekerja di WiRo Grup dulu,sehingga Nissa bisa mendekati Adam dan menjadi sumber informasi nya.
Bagaimanapun caranya,harus Arfa lakukan demi bisa melancarkan niatnya itu.Arfa bersyukur,Nissa tak mengenal kekasih Marsha saat masih hidup dulu,yakni Adam.
Kepergian Nissa keluar negeri saat melanjutkan pendidikan nya,cukup membawa berkah tersendiri baginya.Nissa pun tak begitu dekat dengan Marsha.Hanya sebatas saling mengenal dan bertegur sapa saja saat berjumpa.
__ADS_1
*****
Luv yu full kakak-kakak...Semoga terhibur dan sehat selalu.Semangat terus dan terima kasih atas dukungannya...😘🤗🥰