
Aura POV.
Sejatinya,tidak ada yang kekal dan abadi di dunia ini.Begitu pula dengan manusia.Tuhan menciptakan manusia dari setetes air hina,menjadikannya segumpal darah kemudian daging,dan disempurnakan dengan meniupkan Ruh.
Saat masih di dalam rahim,takdir manusia sudah ditetapkan,begitu pula dengan takdir ku.Pada waktunya akan dilahirkan ke dunia dan di uji,lalu dikembalikan ke tempat asalnya oleh Sang pemilik Ruh.
Skenario Tuhan,tidak ada yang tahu dan penuh misteri.Kapan akan tertawa bahagia,menangis sedih dan menghembuskan nafas terakhir.Kapan akan dihidupkan,dimatikan dan dibangkitkan kembali.Itu rahasia lllahi dan teka-teki kehidupan.
Seperti halnya Matahari tidak mungkin bisa mengejar Bulan,dan malam tidak bisa mendahului siang.Matahari dan Bulan beredar di garis edar nya sendiri.Seperti itulah aku.Tidak mungkin berani berharap akan menjadi Putri untuk Pangeran di istana.Sungguh,aku tidak berani bermimpi untuk menjadi seorang Putri.Aku adalah Dayang istana yang miskin dan memiliki banyak keterbatasan.Dayang tetaplah Dayang.
Waktu pun terus berputar detik demi detik nya,dan roda berputar searah jarum jam.Seperti itulah nasib ku sekarang.Terkadang ada di atas dan terkadang ada dibawah.Tak bisa ku terawang.
Seperti yang ku alami saat ini.Entah mengapa aku harus berada di rumah megah ini?.Menjadi asisten tuan muda dan akan melayani tuan muda di meja makan.lni bagian dari skenario Tuhan.
Fisik dan mental ku siapkan untuk melakukan tugas ku dengan berdiri di dekat meja makan.Mata ku teralihkan saat mendengar derap langkah kaki tuan Adam.Ketika melihatnya,sejujurnya tuan Adam selalu membuat ku ternganga.Jantungku seakan berhenti berdetak dalam sepersekian detik dan berpacu dengan cepat.Rasa apa ini?.Sungguh,aku tidak mengerti.
Tuan Adam mendekat,dan aku menarik kursi untuk nya.Inilah posisi ku sesungguhnya,menjadi Dayang untuk Pangeran.
"Terima kasih.".Tuan Adam mengulas senyum tipis.
Sungguh aku tidak mengerti.Hanya dengan melihat senyum tipisnya saja,hati ku seperti bunga yang bermekaran.
"Silahkan tuan.Selamat menikmati.".Selesai menyajikan sepiring makanan dan menuangkan air minum untuk tuan Adam,kembali ke posisi semula ku.
Tuan Adam sangat tenang menikmati sarapannya,sementara aku hanya berdiri mematung dan memandangi tuan Adam dibelakangnya.Beginilah seharusnya.Aku sadar posisi ku dirumah ini.
"Haiii Son?.Kau merindukan ku?.".Aku dan tuan Adam dikejutkan oleh suara seorang wanita paruh baya.
Itulah Nyonya rumah ini.Ku tilik dari penampilannya yang elegan,tidak diragukan lagi jika itu Nyonya Rossa yang Fotonya terpasang di setiap dinding ruangan di rumah ini.Meski usia nya terlihat sudah tua namun kecantikan nya tidak terkikis oleh waktu.
"Mama?!.".Begitu senang nya tuan Adam melihat sang ibu sampai terperanjat berdiri dan mendekati Nyonya Rossa yang sudah merentangkan tangan.
"Surpriiise.".Nyonya Rossa menyambut tuan Adam dengan wajah berbinar bahagia.
Aku terharu menyimak kedua orang yang memiliki ikatan batin yang kuat itu saling berpelukan.Huhhh,seandainya ibu ada didekat ku sekarang,mungkin aku akan melakukan hal yang sama.
End.
***
Author POV.
Seorang pria meletakkan sekuntum bunga Lily diatas pusara seorang gadis yang sudah lama meninggal dunia.Pria itu menatap nanar batu nisan yang terukir nama Marsha Aulia.Gadis yang di cintai nya telah pergi meninggalkan nya tuk selamanya,tanpa kata perpisahan.
Gillar Arfarizky.Pria berperawakan tinggi kurus,usia 27 tahun.Merupakan putra dari seorang pemilik Supermarket di jakarta.Sedangkan 'Arfa' sapaan akrab Gillar,memulai bisnis nya dengan membuka toko tekstil besar.
"Sha,maafkan aku.Aku baru datang sekarang.".Tetes demi tetes,air mata jatuh dari pelupuk matanya.
2 tahun lamanya pergi mengasingkan diri ke luar negeri hingga menanggalkan pekerjaan nya sebagai 'Staff Air Traffic Controller' di salah satu bandar udara di Jakarta.Hari terakhirnya menginjakkan kaki di tempat itu,saat mendengar berita tewasnya Marsha dalam kecelakaan,dan hari dimana Marsha dimakamkan.
Setelah hari itu,Arfa tak pernah kembali.Terlalu banyak kenangan indah yang dilalui bersama Marsha.Pria itu memilih pergi ke luar negeri.Selain untuk mencari ilmu,pria itu tak ingin terus meratapi kepergian dan kematian Marsha.Rasa cinta dan rindu yang tak pernah tersampaikan terus mendera batinnya,hingga sekarang.
Inilah hari pertama nya kembali ke tanah air.Berziarah ke makam Marsha dan menginjak lagi tanah pemakaman yang tandus dan kering,seakan lama tak diguyur hujan.
"Kau tau?.Aku tidak pernah menyangka akan mencintai sahabat ku sendiri.Tapi,sebelum aku menyatakan perasaan ku,kau sudah pergi.".
Kedekatan yang terjalin antara dirinya dan mendiang sang sahabat,lambat laun berubah menjadi benih-benih cinta.Namun,Marsha tak pernah tahu hal itu.Marsha lebih dulu melabuhkan cintanya pada Adam,dan saling jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Aku menyesal,tidak menyatakan cinta ku lebih awal.Jika Adam tidak merebut mu dari ku,aku tidak akan menjaga jarak dari mu.".Hatinya bagaikan disayat sembilu,mengingat hal itu,berbaur dengan rasa hawa panas didada.
Arfa menaburkan kelopak bunga dari berbagai macam jenis bunga dan bermacam warna,diatas persemayaman terakhir gadis tercinta,diiringi tetesan air mata penyesalan,kecewa dan patah hati,yang masih bermukim di hati nya.Masih belum bisa merelakan kepergian sang sahabat yang dicintai nya.
Dalam keheningan,Arfa memanjatkan do'a dihatinya,sambil membasuh batu nisan dan tanah makam yang mengering.Kilas balik momen manis dan sekaligus pahit bersama Marsha,terus terlintas dipikiran Arfa.
Bahkan sesi dimana pertama kali Marsha dan Adam bertemu.Itu menjadi hari yang paling sial dalam hidup Arfa.Di hari itulah Adam menjadi penyekat antara Marsha dan dirinya.Perlahan-lahan,Marsha melupakannya,seiring menjalin cinta dengan Adam.Tak ingin menjadi benalu,Arfa menjaga jarak dan menjauhi Marsha.
Flashback on.
Arfa POV.
Jakarta,05 Januari 2017
Mata ku tak lepas dari 'Run away',landasan pacu pesawat,di bandara tempat ku bekerja.Selepas kerja,aku tertegun di luar Menara.Memandangi Pesawat yang baru Landing disana,sambil menikmati secangkir kopi.Didalamnya ada seorang gadis cantik,yang menguasai cawan hati ku.Entah sejak kapan aku mulai mencintai nya,aku tidak tau.
__ADS_1
Untung besar,aku ditugaskan di Menara ini.Hiruk pikuk di bandara jelas ku lihat.Perhatianku teralihkan pada pesawat yang akan Take off.'Marshaller' memberi isyarat visual pada personil landasan pacu dan juga di bandara.
Secangkir kopi ku tidak terasa sudah habis,niatku untuk menemui gadisku ku wujudkan.Aku keluar dari Menara,dan menuju ke dalam gedung bandara.Sebelum masuk,aku menunjukan ID card ku pada Aviaton Security.
"Haiii,Gill'.".
"Haiii bro.".Aku bertegur sapa dengan Sakhie.
Sakhie si pria 'Air Craft Maintenance Engineer'.Tugas rutinnya merawat mesin pesawat di bandara.
"Kenapa kau selalu sulit ku hubungi?.Kau sengaja menghindari ku?.".Sakhie protes,setiap kali menelpon ku,tidak ku jawab.
Hampir setiap hari,Sakhie mengajak ku ke 'N*ne Ball' untuk bermain bilyard,dan sering ku tolak.
"Sorry bung.Ada sesuatu yang harus ku lakukan.".Aku pergi tanpa menjawabnya,itu sengaja kulakukan,untuk menghindar.
Ku lanjutkan lagi perjalanan ku.Aku sudah tidak sabar untuk menemui gadisku.Wajahnya yang selalu bersinar seperti rembulan,mengusikku setiap malam,disaat tidur lelapku.
"Gill,kerja mu bagus hari ini.".Aku berpapasan dengan kapten Azzam dan Fattar,Kapten pilot dan co-pilot salah satu maskapai penerbangan di bandara ini.
"Terima kasih.Sampai jumpa,Kapten.".Aku membungkuk hormat.
"Semoga hari mu menyenangkan.".Dua jempol,ku dapatkan dari mereka.
Aku bangga untuk itu.Komunikasi kami tidak pernah terputus.Baik dari jarak jauh atau pun dekat.Jam terbang mereka sudah lebih dari 1000 jam dalam setahun,dan batas waktu terbang nya 30 jam dalam seminggu.Itu standar waktu yang sudah ditetapkan di bandara ini.
Interaksi antara Air Traficc Controller Staff dengan Kapten pilot dan co-pilot,harus terjalin dengan baik.Saat pesawat akan mulai lepas landas dan mendarat.
Sampailah aku di tujuan.Ku tatap seraut wajah gadis cantik bermata sayu,Marsha Aulia.Gadis yang ku anggap lebih dari sekedar sahabat itu,duduk dikursi khusus 'Staff Canteen',atau area karyawan kargo,yang ada di area kargo bandara.Itu tempat favorit Marsha selepas bertugas,dan karyawan lainnya.
Marsha bersenda gurau dan tertawa bahagia bersama teman sejawatnya,Vinna,Zahra dan Daviq.Senyum manis terus terukir di bibir Marsha,dan mungkin bisa membuat gula ku naik jika terlalu lama melihatnya.
Marsha,Vinna dan Zahra adalah 'Flight Attendan'/awak kabin pesawat atau pramugari.Mereka baru pulang selepas Flight dari Incheon airport Seoul-Korea.Dengan waktu tempuh memakan waktu kurang lebih sekitar 7 jam.
Sedangkan Daviq,'Boarding Gate Staff'.Pekerjaan nya mengecek kondisi penumpang,apakah benar-benar sudah masuk kedalam pesawat atau belum.
Daviq ditugaskan diarea 'Boarding Lounge'.Tempat yang digunakan penumpang biasa duduk menunggu jadwal penerbangan,dan menunggu panggilan 'Boarding' naik ke pesawat.
"Sha.Ayo ikut aku!.".Aku menarik tangan Marsha secara paksa keluar dari kantin.
"Haiii Girls?.".Aku menyapa dua gadis manis,dan melambaikan tangan.
"Haiii juga.".
"Riasan mu bagus.Kalian cantik sekali.".Karena ulah mulut usilku dan 'Kiss Bye' ku pada para gadis,Marsha menjambak rambutku.
"Awww...Sakit Sha.".
"Menyebalkan!.".Marsha sangat marah,sepertinya dia cemburu tapi aku senang.
Aku memang sengaja melakukan itu,untuk menguji reaksi Marsha saat aku menggoda gadis lain.Tetapi bagiku,Marsha tetap tidak tersaingi kecantikan nya.Hanya saja,aku malas dan pelit memujinya.
Ku terus berjalan melewati Zhilla dan Aksel,si petugas 'Cek in Ticketing' dan 'Ground Staff'.Pegawai yang bertanggung jawab melayani calon penumpang untuk cek in,menuju pintu Exit khusus karyawan bersama Marsha.Dia masih tetap tertinggal di belakang,tidak bisa mengimbangi langkah lebar ku.
Tibalah kami di Terminal.Elemen utama di bandara dan tempat pertama yang diinjak calon penumpang sebelum masuk ke dalam bandara.
"Heiii,kau mau membawa ku kemana?.".Marsha meneriaki ku,dibelakang yang masih berseragam rok batik dengan sedikit belahan di tengah dan kebaya.
Aku tidak lepas menggandeng Marsha.Telinga ku ini sudah kebal terhadap teriakannya.Bagiku amarah Marsha seperti 'Amunisi' dan senyuman Marsha 'Mood booster' ku.Kelemahan ku adalah ketika melihat Marsha merengek dan sedih.
"Arfa.Katakan!.".Sepertinya Marsha marah,sampai menendang pantat ku menggunakan 'Open Toe Heels nya,dan aku meringis.
"Jangan membuat ku marah-marah,dan berteriak seperti orang tidak waras.".
Aku menahan tawa mendengar kata-kata Marsha.Tapi aku pura-pura tidak mendengar.
"Kau pasti lapar.Ayo kita makan!.".Aku tau Marsha sudah makan,tetapi perut karetnya masih bisa menampung makanan.
Marsha tidak akan pernah menolak dan pikir panjang,jika urusan makanan.Tapi anehnya,bobot tubuhnya tetap stabil dan ideal.
"Dimana?.".Marsha terus mengikuti ku dibelakang.
Langkah kakinya terseret-seret dan kesusahan berjalan,karena Rok batik panjangnya.Aku mempercepat langkah ku,menuju 'Parking Lot'.Tidak perduli Marsha kerepotan berjalan.
__ADS_1
"La Rossa.Restoran baru.Dibuka pekan lalu.".Demi merayu Marsha,aku memberikan pilihan tempat yang terbaik dan bintang lima.
"Baiklah.".Usaha ku berhasil,Marsha tidak menolak.
Marsha berhenti,aku ikut berhenti.Marsha menarik tangan nya dari genggaman ku,dan tertegun.Entah apa yang dipikirkannya?,sampai tertegun seperti itu.
"Marsha,tunggu!.".Tidak ku duga dari belakang Marsha,Daviq datang membawa sebuah koper.
"Selamat siang,Pak Gillar.Sepertinya cuaca hari ini cerah.".Daviq menyapaku,dan berbasa-basi.
"Yahhh.Cuaca memang mempengaruhi operasional pesawat.".Aku menanggapi Daviq dan tersenyum tulus.
Aku seorang 'Staff di Air Traffic Controller'.Pemandu lalu lintas udara dan ditempatkan di Menara ATC,bangunan tertinggi di bandara.Aku bekerja di belakang layar Radar,di ruang kendali.Tanggung jawabku sangat besar.Pikiranku harus konsentrasi,dan fokus pada pekerjaan.
Tugas pemandu harus memberikan informasi pengaturan lalu lintas di udara,agar tidak terjadinya tabrakan antar pesawat,dan pelayanan saat dalam kondisi darurat.Semua itu cukup menguras isi kepala ku dan indera penglihatan ku.Terkadang iris mata ku terasa lelah,perih dan kering karena berhadapan terus dengan layar monitor.
"Marsha.Kau meninggalkan ini di kantin.".Daviq memberikan koper kecil pada Marsha.
Koper itu milik Marsha,berisi barang pribadi dan penting seorang pramugari.Seragam cadangan,sandal,dokumen,paspor dan Id card,jam tangan analog,over Coat dan Stocking.Barang itu wajib dibawa seorang pramugari setiap Flight.
Dari mana aku bisa tau itu?,karena pernah melihat Marsha membongkar isi kopernya di dalam apartemennya,saat aku berkunjung ke unit apartemen nya.Aku dan Marsha tinggal di gedung apartemen yang sama.
Eitttss,jangan berpikir yang tidak-tidak!.Kami tinggal di unit yang berbeda,tidak tinggal bersama.
"Thanks,Dav.Kau mau ikut kami?.".Marsha bertanya pada
"Waktu nya tidak cukup.Aku harus kerja lagi.".Daviq pria pekerja keras dan dari sebagian besar teman pria yang ku kenal dekat,Daviq paling kalem.
"Baiklah.Tetap semangat.".Aku menepuk bahu nya,memberikan motivasi.
"Ok!.Sampai nanti!.".Daviq pamit pergi.
Tinggallah aku dengan Marsha.Gadis pencuri hati ku.Mungkin bukan hal yang aneh dalam persahabatan akan tumbuh benih-benih cinta.Namun,sepertinya hanya aku yang merasakan itu.
"Arfa.Siapa yang sampai belakangan,dia yang harus membayar.".Marsha mengajak ku lomba berlari,yang sering kami lakukan.
Konyol kan?,kami saling adu kecepatan demi sebuah traktiran.
"Kau pasti kalah.".Marsha meremehkan ku.
"Tidak mungkin.".Tentu tidak akan kubiarkan Marsha menang.
Bukkk.
"Ughhh...".Marsha menyikut perutku,dengan kekuatan penuh otot tangannya,sampai aku kesakitan dan memegangi perut ku.
"Bawakan ini untuk ku.".Koper kecil miliknya disodorkan pada ku,dan tanpa aba-aba Marsha berlari sambil membawa Open Toe Heels nya.
"Woyyy...Kau curang Sha.".Seketika aku emosi.
"Kejar aku!.".Teriak Marsha dari kejauhan.
"Heiii,tunggu aku!.".Aku panik melihat Marsha berlari lagi.
Jika tertinggal,pasti aku yang kalah.Aku berlari tunggang langgang menuju Restoran yang jaraknya tidak jauh dari bandara sambil membawa koper Marsha.
"Fyuhhh...Merepotkan.".
Meski aku bisa mengejar nya,tapi akan kubiarkan Marsha memenangkan pertandingan.
"Uhhh...".Aku terkejut melihat Marsha bertubrukan dengan seorang pria dan saling berpelukan di pelataran parkir Restoran.
Marsha dan pria itu saling menatap satu sama lain.Sedangkan aku hanya menyaksikan saja dari jauh dengan nafas terengah-engah.Aku mengatur degup jantungku yang berdegup cepat,selepas berlari.Iris mata ku tidak beralih pada Marsha dan pria asing itu.Sungguh pemandangan yang menyebalkan.Aku tidak suka sesi ini.
Arfa POV End.
Flashback off.
"Sampai jumpa,Sha.Aku akan kembali dan membawa bunga Lily kesukaan mu.Rasa cinta ku untuk mu,masih tersimpan baik di hati ku.".Arfa mengelus batu nisan mendiang sang sahabat.
"Mungkin aku tampak seperti pria tidak waras.Tapi,ini yang ku rasa kan sekarang,sejujurnya.Menggelikan bukan?.Aku masih mencintai wanita yang sudah tiada.".Arfa tersenyum getir.
"Sha,jangan salahkan aku jika aku balas dendam atas kematian mu.Aku tidak akan membiarkan Adam hidup bahagia.Dia harus merasakan penderitaan yang sama seperti ku.".Arfa memicingkan mata,memastikan hal itu akan terjadi.
__ADS_1
"Selamat tinggal Sha!.".Inilah saatnya Arfa merelakan kepergian Masha.
Sebuah kecupan mendarat di batu nisan Marsha.Arfa bangkit dan meninggalkan area pemakaman dengan dada bergemuruh,seolah akan meletuskan lahar panas di dalam hatinya.