Gadis Penepat Janji.

Gadis Penepat Janji.
14.Tidak serupa tetapi hampir sama.


__ADS_3

Adam POV.


Lima menit berlalu.Waktu yang ku janjikan lima menit,ku ingkari.Demi apa?,demi mengulas kembali kisah cinta ku pertama ku dengan gadis bernama Marsha Aulia.


Aku membolak-balik halaman buku harian ku beberapa tahun silam,yang terus terkunci di laci nakas ku selama 3 tahun ini.Disitu tertulis,kapan dan dimana awal aku dan Marsha berjumpa.Di halaman pertama,terpampang foto Marsha sedang tersenyum manis.Hari itu adalah hari terindah ku,dan hari bersejarah ku.


Mungkin ini terdengar aneh dan konyol,bukan?.


Seorang pria dewasa mencurahkan isi hatinya dengan goresan pena.Menuangkan keluh kesahnya dengan mencorat-coret kertas menggunakan tinta hitam.Di era modern dan canggih seperti ini,hal itu tentu sudah jarang dilakukan.Apalagi jika dilakukan seorang pria sejati.Sangat Absurd dan menggelikan.


05 Januari 2017.


Tepat sepekan setelah Restoran cabang baru milik Papa di buka.Aku memperhatikan gadis cantik yang berlari tanpa alas kaki sambil menenteng heels nya dan berseragam pramugari,didepan pelataran Restoran.Ketika itu aku baru memarkirkan mobil ku dan keluar dari mobil.Saat itu aku diutus Papa untuk mengawasi situasi dan kondisi di restoran yang selalu ramai dikunjungi 'Customer' setiap waktu.


Dia berlari ke arah ku tanpa memperhatikan keadaan sekitar sambil melihat ke belakang.Tak sadar jika Aku ada didepannya tengah mengamati nya.Dalam hitungan detik,tak ku duga Dia menubruk ku dengan keras,sampai membuat ku terkejut.Saat Dia hampir terpental jatuh,Aku menangkap nya,refleks Dia berpegangan pada tubuhku.


Terlihat layaknya dua insan yang saling mencintai sedang berpelukan.


Waktu seakan berhenti berputar untuk sesaat,kala Aku dan Dia saling beradu pandang.Namun jantung ku tidak berhenti berdebar,bahkan darahku terus berdesir.


Inikah rasanya cinta pada pandangan pertama?.Benarkah cinta bisa datang saat saling menatap satu sama lain?.Apakah Dia merasakan hal yang sama seperti ku?.


Pertanyaan itu terus berkutat di pikiran ku,dan tertanam di benak ku.


Pemandangan yang indah dan menarik.Bola matanya yang bulat dan indah,menatap ku dengan tatapan yang tidak bisa ku artikan.Bibir seksi nya memancarkan sinyal sensualitas.Seakan menggoda ku untuk mengecupnya.


Kecantikan gadis itu bak Dewi-Dewi yang mengklaim dirinya sebagai wanita tercantik di dunia,pada jaman mitologi Yunani kuno.Pahatan yang luar biasa indah,dan maha karya Tuhan yang sempurna.Siapa saja yang melihatnya,mengundang hasrat nya untuk memiliki nya,dan ingin menjadikan nya sebagai permaisuri.


Seketika aku berimajinasi.Kupikir gadis itu bisa dijadikan partner ranjang yang baik dan memuaskan.Karena memiliki tubuh yang sintal bak biola tidak berdawai,dan kulit mulus yang selembut sutra.


Astaga...Ini tidak benar.


Tidak seharusnya aku berpikiran mesum,pada gadis yang tidak ku kenal.Tetapi siapa sangka jika kami ditakdirkan bersama.Insiden kecil ini tidak merugikan ku,namun menguntungkan ku.


Momen romantis ini tidak berlangsung lama.Aku dan Dia saling melepaskan diri.Kecanggungan menghiasi wajahku dan Dia.


"Maaf!.".Dia membuka obrolan dan tersipu malu.


"Tidak perlu.Aku suka itu.".Gumam ku,tidak dipikir dulu.


"Apa?.".Untung saja Dia tidak mengerti maksud ku.


"Mmaksud ku,tidak apa-apa.".Karena gugup,aku jadi kikuk.


"Tuan,anda pasti datang kemari untuk makan?.Bagaimana jika ku traktir makan di restoran ini,sebagai pengganti kecerobohan ku?.".Senyum Dia yang tulus dan manis,memicu keluarnya zat Endorfin di dalam tubuh ku.


Aku terkejut tetapi senang.Tawaran Dia tidak mungkin ku tolak,tetapi ego menahan ku.


"Aku tidak biasa makan bersama orang asing.".Aku berlagak acuh,meski sebenarnya takut Dia marah,niat baiknya ku tolak lalu pergi.


Trik murahan yang biasa ku lakukan untuk mempertahankan harga diriku agar tidak menimbulkan kesan pria gampangan,dan melempar umpan,agar Dia memperkenalkan diri.


"Baiklah.Haiii,aku Marsha.".Dia mengulurkan tangan sambil memamerkan senyum manisnya.


Tidak membuang kesempatan yang ada,aku menyambut baik,membalas uluran tangan Dia dan tersenyum juga.


"Cantik.".Aku terpesona kecantikan gadis itu,sampai tidak sadar bergumam sendiri.


"Apa?.".Entah Dia tidak mendengar,tidak mengerti,atau pura-pura semata.


"Maksud ku nama yang cantik.Oya,aku Adam.".Menetralkan kecanggungan antara aku dan Dia.


"Baiklah tuan Adam.Bagaimana?.".Dia menanti jawaban ku.


"Aku ber...".


"Sha,siapa pria ini?.Tidak seharusnya kamu bicara dengan pria asing.".Ucapan ku tertahan oleh kedatangan seorang pria arogan yang menatap ku tajam.


"Maaf.Atas kelancangannya.Pria bodoh ini sahabat ku.".Marsha membungkuk sopan pada ku,meminta maaf atas ketidaksopanan pria yang diperkenalkan sebagai sahabat.


"Heiii Sha.Kau ini tidak punya hati.Awas kau...".Pria itu marah dan memprotes Marsha.


"Itu tidak masalah.Lupakanlah!.".Aku tidak suka cara bicara pria itu yang kasar dan lancang pada Marsha.


Aku mencoba berdamai dengan amarah,meski tidak nyaman.Namun apapun itu,yang terpenting pria itu bukan penghalang bagi ku untuk mendekati Marsha.Itu kabar baik,aku lega.Pria itu melainkan sahabat Marsha,bukan kekasih.Tidak ada alasan untuk ku takut dan ragu mendekati Marsha.


Marsha menertawai sahabat nya yang bermuram durja.Melihat Marsha seperti itu saja,aku cukup senang.


"Baiklah.Ayo!.".Ajak Marsha pada ku dan pria yang tidak disebutkan namanya.


Tiba di depan pintu masuk restoran,aku membukakan pintu.


"Silahkan!.Ladies first.".Aku memintanya masuk duluan.


Marsha membalas ku dengan senyuman menawan.


"Terima kasih.".Sahabat Marsha menerobos ke dalam,mendahului ku masuk dan membuatku geleng-geleng kepala.


Aku mengikuti kedua sahabat itu yang mencari tempat duduk kosong.Suasana restoran kebetulan ramai dan pelayan restoran tampak sibuk saat ini.Namun untung saja masih ada kursi yang kosong untuk kita,maksudku kami.

__ADS_1


Astaga,aku melupakan satu hal jika aku pengurus tempat ini.Salah satu pegawai ku datang mendekat,dan terkejut melihat ku duduk disini.


"Pak Cav...".


Secepatnya aku memberi isyarat,menggelengkan kepala,agar dia bungkam dan pura-pura tidak mengenal ku.Marsha tidak boleh tau aku siapa?.Setidaknya untuk saat ini saja.Marsha akan canggung padaku,jika tau jati diri ku.


Aku dan kedua orang yang duduk saling berhadapan,membuka buku daftar menu makanan yang disodorkan pelayan.Tidak niat untuk makan,aku bingung harus memilih mana?,semua sudah ku coba.Maka aku hanya membuka-buka buku menu saja.


"Silahkan!,pesan yang anda sukai,tuan Adam.Tenang saja,temanku ini yang bayar.".Marsha memecah keheningan.


Sepertinya Marsha mengawasi gerak-gerik ku yang kebingungan.


"Heiii,aku tidak bilang akan mentraktir nya,Sha..".Pria itu mendelik tajam pada ku.


"Tidak apa-apa,jika kau keberatan.Aku yang traktir dia.".Marsha tersenyum miring pada pria itu.


Apa ini?.Marsha membela ku?.Astaga...Hati ku bersorak senang.


"Tuan,pilih saja yang anda suka.Anda tamu istimewa ku hari ini.". Lagi-lagi Marsha mengulum senyum.


Senyum manis Marsha memang tidak ada duanya,di mata ku.Jatuh cinta mampu membuat ku kehilangan akal sehat,semua yang dilihat ku tampak indah,dan Dunia terasa milik berdua.


"Terima kasih.".Aku mengangguk dan tersenyum.


"Jangan sungkan!.Sekarang kita berteman.".Marsha gadis yang tidak hanya jelita namun juga berhati baik,dan ramah.


"Baiklah.Lupakan formalitas!.".Kata ku.


"Aku setuju.".Marsha mengiyakan.


"Sha,tidak ada yang boleh menggantikan posisi ku.Heiii pria asing.Setelah ini selesai,enyahlah dari sini dan jangan harap bisa berjumpa dengan nya lagi!.Mengerti?.".Pria itu marah,mungkin iri dan cemburu melihat keakraban ku dan Marsha.


"Jangan dengarkan dia!.Fokus saja pada menu nya,tuan Adam.".Lagi-lagi,gadis berhati suci bak malaikat ini membela ku.


Tidak membuang waktu,kami bertiga memesan makanan dan minuman.Aku memesan menu yang sama dipilih Marsha.Pria itu memutar matanya jengah,tidak suka melihat ku memesan menu yang sama dengan Marsha.


Waktu menyajikan makanan memakan waktu belasan menit.Restoran La Rossa menyajikan hidangan Fresh from the Wajan,dan bahan masakan berkualitas tinggi.Setelah menunggu,akhirnya pesanan datang,kemudian kami makan dengan tenang.


Namun perhatianku tidak lepas dari Marsha.Aku mencuri pandang,disaat yang tepat Marsha kerepotan memotong Wagyu.Aku memotong beef milik ku,dan menukarnya dengan milik Marsha.


"Maaf,jika aku lancang.".Kata ku,dengan sopan.


"Tidak sama sekali.Terima kasih.".Marsha menyambut baik,niat baik ku.


"Cihhh...".Pria itu menunjukkan rasa ketidak sukaan nya padaku.


Tiga puluh menit berlalu,setelah minum dan mencicipi Dessert,usai sudah waktu makan bersama.


"Lumayan.".


"Ishhh.Reaksi anda hanya begitu saja?!.".Keluh Marsha.


"Maaf.Aku tidak pintar mendeskripsikan rasa.".Jawabku asal.


"Ahhh,begitu ya.Anda tau?,tempat ini baru sepekan dibuka.".Marsha berapi-api menjelaskan.


"Begitukah?.".Aku sok naif.


"Benar!.Aku juga kenal baik dengan pemilik nya.Dia...Tuan,tuan...?.".Marsha berusaha keras mengingat sebuah nama.


Namun tidak muncul juga di kepala nya.Tak ayal Marsha menatap sahabat nya dan menaik turunkan alis nya,seolah meminta bantuan.


Sepertinya Marsha tidak tau,namun pura-pura tau saja.Lucu sekali.Aku tersenyum gemas akan perilaku nya.


"Willy Candra Rukmana.".Pria itu menjawab,entah tau dari mana.


"Nahhh,itu dia.Aku lupa nama nya,ha,ha,ha....".Marsha tertawa,menjaga gengsi di depan ku.


Akting ku pura-pura sebagai Customer berhasil ku perankan.Namun semua terkuak saat Andre datang mencari ku dan menghampiri ku,setelah diberi tau salah satu pelayan.


"Kakak.Apa yang kau lakukan disini?.Papa meminta ku menemani mu memantau situasi disini.Kau malah duduk enak sehabis makan bersama...".


"Diamlah.".Aku beranjak dan membekap mulut Andre yang asal bicara,lalu Andre menepis tangan ku.


"Apa sih kak?.".


"Maaf.Kau adik tuan Adam?.".Marsha menyelidik.


"Iya.Ini kartu nama ku.Kamu siapa?.".Si tengil Andre menyodorkan sebuah kartu nama pada Marsha,berlagak angkuh.


"Andreas Willy.Apa profesi mu?.Disini tidak tercantumkan?.".Marsha penasaran dengan sosok Andre.


"Hahhh...".Andre melongo sambil mengedipkan mata merasa dikuliti,dan aku terkekeh geli.


"Kau tidak tau siapa aku?.Aku putra pemilik restoran besar ini.".Jawab Andre,penuh percaya diri.


"Haaahhh...Kkkalian...".Seperti nya Marsha menyadari sesuatu,sampai tercengang menatap Andre,kemudian beralih menatap ku.


Begitu pula dengan pria yang tidak ku tau namanya.Dia tampak sangat terkejut setelah tau jati diri ku.Tidak lain putra pemilik restoran,yang dicemburui dan dibenci nya.

__ADS_1


Selepas itu,Aku bertukar nomor kontak dengan Marsha.Ralat,aku yang meminta nomor kontak Marsha,agar tidak putus kontak.Pria itu tidak bergeming,namun aku bisa merasakan hati nya mendidih.Rasa tidak suka dan benci terhadap ku,tersirat nyata di iris mata nya.


Disitulah kedekatan ku dengan Marsha berawal,dan kisah cinta ku di mulai beberapa hari kemudian.


To be continued.


Tidak terasa,waktu yang dihabiskan mengenang kembali momen indah di masa lalu ku lebih dari 15 menit.Aku keluar dari kamar dan bergegas turun melewati tangga,menuju ruang makan.


Konsentrasi ku teralihkan,kala melihat wajah gadis cantik bak bidadari surga yang jelita,dan mampu menggetarkan hati ku.Jujur,aku suka Aura.Hanya suka,tidak lebih.


Suka bukan berarti cinta kan?.


Aura...Dia laksana mutiara yang terpendam lama di dasar laut,semakin lama semakin indah dan berharga.Senyumnya manis bak sarang madu,yang bisa mengundang hasrat beruang madu untuk menghisap madu nya.Binar mata nya bak tetesan embun di pagi hari.Jernih,alami dan bercahaya bak diterpa sinar mentari.


Kecantikan Aura mengingatkan ku pada Marsha.Tidak serupa tetapi hampir sama.Namun setiap wanita memiliki kelebihan dan daya pikat nya sendiri,kan?.


Bibir mungil Marsha merah merekah,bak bunga mawar baru mekar yang mampu memikat kumbang jantan untuk menghisap serbuk sari nya.Bibir Aura bak Pink Beach,indah dan menggugah hasrat penyelam untuk menyelami nya.


"Oh astaga....".Aku mengerjap,Otak ku sudah mesum,sepagi ini.


Setelah Marsha,memang Aura lah gadis yang mampu membuat ku terhipnotis dan berimajinasi liar.Aku pria kesepian,yang mendambakan perhatian dan kehangatan seorang wanita.Sekian lama ku lindungi hati ku dengan perisai keangkuhan,dan ku tutup pintu gerbang hati ku,untuk kaum Hawa.


Semakin mendekati nya,degup jantungku semakin berdebar tak beraturan setelah sekian lama nya.Ku harap,Aura tidak marah atas perilaku ku tadi malam,dan dia tidak tau akan hal itu.


Perilaku ku tadi malam seperti pria tidak berakal sehat.Tanpa aba-aba dan ba-bi-bu menggendong Aura seperti pengantin wanita ku,yang tertidur pulas.Memindahkannya dari mobil menuju kamar dan membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur.


Sungguh tidak habis pikir,aku melakukan semua itu.


Sekarang,Aura melayani ku seperti seorang istri pada suami.Darah ku berdesir hangat dan membangkitkan zat Endorfin di dalam tubuh ku,yang sudah lama membeku.Beda rasanya ketika dilayani Bibi Dini,pelayan lain dan Mama.


Oh Mama...Seketika aku ku teringat Mama.Kapan dia kembali ke rumah ini bersama Papa?.Aku rindu ocehan,suara melengking dan belaian kasih sayang Mama.Rindu main catur,berkuda dan berlatih taekwondo bersama Papa.Kegiatan yang sering kulakukan bersama nya,dikala senggang.


"Haiii,Son?.Kau merindukan ku?.".Suara itu sangat ku kenal betul,familiar dan ku rindukan selama dua tahun ini.


"Mama.".Wanita paruh baya yang baru saja ku bayangkan,sekarang ada di disini,di rumah ini dan berdiri tidak jauh dari ku.


Aku berhambur memeluk wanita cantik berusia lebih dari setengah abad ini.Lahar rindu ku seketika meledak dan memancarkan luapan kebahagiaan.Tidak ku sangka,Mama sudah kembali dari perantauannya.Satu tetes air bening,berhasil lolos dari sudut mata ku.


Adam POV End.


Author POV.


Ibu yang sangat disayangi dan dirindukan nya kini sudah ada didekatnya,Adam menangis haru karena bahagia.Akhirnya bisa bertatap muka secara langsung dengan sang ibu yang sudah menjadikan hati nya seperti ladang rindu.


Tatapan Adam tak lepas dari wanita tersayang.Adam terkejut tetapi bahagia.Percaya tak percaya,sekarang ibunya ada bersama nya dan menemani nya makan.Meski sering berkomunikasi lewat seluler,namun rasanya berbeda saat berinteraksi langsung.


"Kapan Mama dan Papa tiba?.Mengapa tidak memberi tau ku?.".Adam terheran-heran ibunya pulang tanpa memberi kabar dulu.


"Tadi malam,sebelum kalian pulang.Bukan Mama jika tidak memberikan kejutan.Kau tau kan?,tidak menyenangkan jika tidak ada kejutan.Hambar dan tawar hidup ini.".


"Aku lupa soal itu.".Adam mengulum senyum,lama tidak berjumpa,sudah melupakan satu hal tentang ibunya.


Rossa bukan sosok ibu yang baik dan sempurna bagi kedua anaknya.Tetapi semua kebutuhan Adam dan Andre selalu disiapkan,meski tak turun tangan secara langsung.Cukup hanya dengan memberikan perintah pada Art di rumah,semua pekerjaan akan terselesaikan,tanpa harus susah payah bergerak.


"Haaahhh....".Rossa mendesah panjang,seakan tak percaya ada dirumah yang selalu dirindukan nya,dan bersama putra kesayangannya sekarang.


Tak lagi harus terpisahkan oleh jarak dan waktu.Tak perlu lagi harus melintasi lautan,gunung dan angkasa,untuk pulang ke rumah dan berjumpa kedua putra tersayang.Runtuh sudah dinding pemisah antara mereka.


Rumah yang bagaikan surga dan menjadi sumber kebahagiaan nya,diamati Rossa setiap sudutnya.Semua kebahagiaan yang dirasakan Rossa ada di dalam rumah itu,terutama Adam dan Andre.


Wajah putra yang selalu dirindukan nya untuk memanggil 'Mama' secara langsung,lekat-lekat ditatap Rossa.


"Tidak ada yang berubah di rumah ini.Masih tetap sama,seperti saat ku tinggalkan dua tahun lalu.Kau juga terlihat baik-baik saja.Kau pintar menjaga diri,Son.".Dua tahun terpisah jauh oleh beribu-ribu mil jaraknya,cukup membuat Rossa kagum pada Adam.


Tetapi entah bagaimana dengan Andre.Rossa belum melihat dan bertemu putra bungsunya.Sebagai ibu tentu sudah tahu kebiasaan Andre,yakni bangun siang.


Rahang tegas yang dimiliki Adam,dielus Rossa penuh kasih sayang.Wajah putranya yang rupawan,disentuh setiap inci nya oleh jemari tangan lembutnya.Maha karya Sang Pencipta memang adil.Bibit benih Willy yang ditanam dirahim nya 30 tahun yang lalu,tumbuh baik dan sempurna,sesuai bibit benihnya.Tak bisa diciptakan oleh siapa pun dan tak tergantikan oleh apa pun.Perpaduan antara dirinya dan sang suami,terpahat sempurna diwajah Adam dan Andre.


Rossa terlahir dari keluarga besar yang kaya raya sejak jaman kakek dan nenek buyut nya.Tetapi tidak dengan Willy.Willy terlahir ditengah kesuksesan sang ayah,yang bertranformasi menjadi salah satu orang terkaya di ibu kota,berkat titelnya sebagai pengacara.Namun Willy tidak mengikuti jejak sang ayah.Willy memiliki impian dan cita-cita yang berbeda,yakni menjadi pengusaha sukses.


"Itu sebabnya Mama tega meninggalkan ku dan Andre.Karena sudah dewasa.".Adam tersenyum kecut.


Tidak mengindahkan sindiran Adam,Rossa memilih bersikap masa bodo.Media di depannya lebih menarik dari apapun.Termasuk Aura yang bergeming dibelakang Adam.Bak patung lilin di Madame Tussaude.


Sampai kapan aku harus disini?...


Aura memutar mata jengah.Keberadaannya disana tidak dianggap.


Lama berdiri membuat kaki Aura pegal juga.Aura ingin pergi tetapi tidak berani beranjak dari tempatnya sebelum mendapatkan perintah dari tuan rumah.Kini hanya bisa menyimak interaksi antara ibu dan anak itu,sampai kesemutan.


"Putraku semakin tampan saja.Aku hampir tidak percaya jika kau putra ku.Makan mu juga sepertinya tidak terlalu banyak,tapi bagaimana bisa kau bisa setinggi ini,Son?.".


Aneh,pertanyaan macam apa ini?.Adam terkekeh,menertawai ucapan ibunya.


"Ini.Mama membelinya untuk mu.Mama tidak mungkin pulang dengan tangan kosong kan?.".Rossa menyodorkan kotak kecil yang disimpan sejak tadi di saku bajunya.


Antusias nya Adam meraih kotak kecil warna putih itu dan membukanya.Sebuah gantungan kunci berbentuk patung M*rlion bersarang di dalamnya.Namun bukan itu hadiah intinya.Jam tangan dari brand terkenal,limited edition dan seharga 3 digit didalam kotak berwarna hitam,diberikan Rossa pada Adam.Sampai membuat Adam hampir tak bisa berkata-kata,saat melihat isinya.


***

__ADS_1


Terima kasih.Mohon dukungan nya selalu... Ditunggu kritik dan sarannya...


__ADS_2