
Happy reading...🥰
*****
Aula WiRo Grup bergaya estetik dipenuhi para Staff restoran La Rossa dan Staff kantor WiRo Grup dipesta kecil penyambutan Willy dan Rossa.
"Terima kasih untuk kehadiran kalian.Silahkan nikmati pestanya,dan cicipi makanan nya.".Senyuman terus menghiasi wajah Willy saat turun dari podium selesai beramah-tamah menyapa para pegawai diatas podium tadi.
Bergegas menghampiri Rossa yang sudah mengantri didepan stan makanan disudut Aula.Hidangan yang disajikan dan terlihat sangat menggiurkan yang dibuat sendiri oleh para chef di La Rossa diserbu para tamu tak terkecuali Willy dan Rossa.Piringnya yang kosong kini terisi penuh makanan.
Pramusaji berdiri di stan masing-masing yakni para pelayan yang diambil disetiap cabang La Rossa dan ditunjuk Adam langsung,dengan ramahnya melayani semua tamu yang hadir dipesta itu,termasuk sang CEO dan istrinya.
Disatu meja yang melingkar Willy dan Rossa begitu menikmati hidangan utama.Diakhiri memakan desert puding coklat bertabur vanilla fla dan irisan buah-buahan hingga tandas
Usai menghabiskan makanan,Rossa menyeka bibirnya dengan serbet putih."Sayang sekali,Adam tidak disini.Putra kita memilih berkencan dengan pekerjaannya.Suasana pesta jadi terasa hambar tanpanya.".Wajah lesunya ditopang tangan kanannya diatas meja.
Rossa kecewa pesta kurang meriah dan tak menyenangkan dengan ketidak hadiran Adam disana.lde brilian dan spontanitas Adam biasanya mampu menyihir keheningan menjadi kehebohan.Permainan unik,menarik dan lucu demi menghibur orang-orang pasti akan dilakukan Adam.
Sekilas Willy melirik istrinya yang tak bersemangat dan cemberut."Benar.Tapi akan berbeda jika Marsha masih hidup.Dia pasti meluangkan waktu untuk menghadiri pesta selama Marsha bersamanya.".
Sudah mati-matian Rossa menyingkirkan gadis yang berani mencintai Adam dan menjadi kekasihnya.Sudah menutup mulut antek-antek nya pula yang terlibat dalam melancarkan misinya yang terselubung.Dan dengan susah payah pula melupakan tragedi naas akibat perbuatannya.Sehingga sampai detik ini tak terkuak,dan menguap ditelan waktu.Namun kini dibahas suami,Rossa kaget bukan main.
"Papa,jangan membahas orang yang sudah mati.Aku tidak suka itu.".Rossa berpaling muka dari Willy.Tak suka soal Marsha diungkit lagi.
Rasa penyesalannya terus menghantui.Saat berusaha mencelakai Marsha hingga berujung fatal.Marsha tewas ditempat dan tak bisa diselamatkan.Rahasia besarnya yang terkubur jauh di lubuk hati nya,tak boleh terungkap.Akan tamat riwayatnya jika sampai Willy,Adam dan seluruh dunia tau.
Tanpa merasa curiga Willy menganggukkan kepala."Baiklah.".Memang tidak baik membicarakan seseorang yang sudah meninggal dunia."Lantas,bagaimana dengan Aura?.".Menatap Rossa dengan sejuta rasa penasaran tertanam dibenaknya.
Ya,mungkin saja Rossa akan berubah pikiran setelah bertemu Aura secara langsung di rumah.Willy berharap besar Rossa mendukungnya untuk menjodohkan Aura dengan Adam atau Andre.
Siapa pun yang berhasil mencuri perhatian dan meluluhkan hati Aura,Willy tak perduli.Berarti dialah pemenangnya.Perjodohan yang dilakukan diam-diam,tak turun tangan langsung dan mengalir alami seperti air,Willy yakin akan membuahkan hasil yang baik.
Nama Aura disebutkan Willy,Rossa begitu muak.Melipat tangan dan menatap tajam Willy."Astaga,Papa.Papa masih berniat menjodohkan gadis miskin itu dengan putra kita?.Coba Papa perhatikan penampilan gadis itu.Pantaskah dia disandingkan dengan Adam atau Andre?.Tidak sama sekali dan jauh dari sempurna.".Rossa geleng-geleng kepala.Tak habis pikir dengan cara pandang suaminya terhadap Aura yang salah.
Dilihat dari sudut manapun,penampilan Aura sudah jelas tak ada menariknya.Menurut kacamata Rossa.Sudah susah payah la menggertak Andre dan Adam untuk menjauhi Aura.Bahkan tak lupa sudah mengingatkan Aura posisi nya di rumah sebagai pelayan.Namun Willy masih bersikukuh dengan niatnya itu.
"Mama selalu menilai seseorang dari fisik,penampilan dan latar belakang nya.Buka mata hati mu untuk Aura.Mama akan melihat kebaikan,kejujuran dan ketulusan dimatanya.".Baru satu kali berjumpa Aura namun Willy bisa merasakan aura positif dari Aura.
Bara api yang membakar hati Rossa semakin membara.Sudah jelas Rossa tak menyukai Aura,namun Willy tetap membela nya."Persetan dengan gadis itu.Terkecuali di muka bumi ini hanya gadis itu yang tersisa,baru aku akan menyerah dan menyetujui nya.".
Sesaat Willy membuang nafas panjang.Istrinya tak mudah diluluhkan.Benteng keegoisan nya berdiri kokoh.Semangatnya nyaris surut,namun Willy tak mau menyerah.
Tangan Rossa digenggam Willy erat dan bicara dari hati ke hati dengan Rossa."Mama,ubah cara pandang dan pola pikir mu.Kekayaan tidak selamanya menjadi jaminan untuk hidup bahagia.".Cara lembut dilakukan Willy,karena ketegasannya tak mempan lagi.
Sekalipun Rossa tak pernah menyangka,Willy begitu gigih menentang keinginannya."Pa,kumohon jangan merusak suasana hati ku lebih buruk lagi.Kumohon diamlah.".Rossa menarik tangan nya dari genggaman Willy dan membelakanginya.
Mengeluarkan bedak dan lipstik dari tas branded nya.Berkaca dicermin dan memperbarui make up nya sambil mendumel."Aura lagi,Aura lagi.Menjijikkan."Selesai dengan alat-alat itu,Rossa mengeluarkan Ponsel Android dan memeriksa chat'.
Tak banyak bicara lagi,Willy pun diam.Membiarkan Rossa bergumul dengan kemarahan dan ponsel.Mengabsen setiap tamu yang hadir dipesta itu dan wajah-wajah yang berseri,Willy cukup terhibur.Melebarkan senyuman saat melihat seorang pria berjalan kearahnya.
Dewa,manager termuda di salah satu cabang restoran La Rossa belum sempat bertegur sapa dengan sang majikan.Dewa pun memberanikan diri mendekati dua majikannya yang duduk saling membelakangi.
"Selamat siang Pak,Bu?.Boleh aku bergabung disini?.".Dewa harus menanyakan sesuatu tentang Aura,dan Willy pasti tau jawabannya.Secara Willy yang merekrut Aura.
"Siang juga Pak Dewa.Tentu saja boleh.Silahkan duduk!.".Willy menepuk kursi kosong disampingnya.
Sementara sang istri sedang sibuk bergelut dengan pikirannya.Ponsel ditangannya tak menarik perhatiannya lagi.Matanya berkelana menyimak penghibur penyanyi pria dan wanita dipodium,melantunkan lagu Bruno mars,diiringi Keyboard.
"Terima kasih Pak.".Dengan senang hati Dewa pun duduk disamping Willy.
"Pak Dewa sudah makan?.".Dari tadi Willy fokus menikmati suasana pesta hingga tak memperhatikan Dewa.
Perhatian Willy membuat Dewa terenyuh.CEO perusahaan dimana la bekerja dibawah naungan Adam begitu ramah dan baik.Rendah hati dan tak pernah menjaga jarak dengan para pegawai.
"Sudah Pak,sejak tadi.".Dewa tersenyum ingat kekonyolannya tadi.Semua menu makanan dipiringnya,dilahap dengan kalap hingga tandas."Bahkan semua menu sudah ku cicipi.".Cengiran malu tersungging di bibir nya.Makanan yang disajikan begitu terlihat lezat,maka tidak mungkin dilewatkannya.
Willy tertawa kecil menanggapi perkataan Dewa.Sementara Rossa acuh saja.Pura-pura tak mendengarkan.Hatinya masih diliputi amarah.
"Chef La Rossa memang piawai mengolah masakan.Semua orang begitu menikmatinya,termasuk aku.".Willy tersenyum bangga memiliki chef yang bekerja di restoran miliknya sudah terlatih dan berpengalaman sehingga restoran La Rossa miliknya maju dengan pesat dan terkenal,bahkan bisa membuka cabang dimana-mana.
"Benar sekali,Pak.".Dewa sependapat,chef La Rossa memang koki terbaik dan bersertifikasi."Oiya Pak.Maaf!,jika tidak keberatan,ada yang mau ku tanyakan?.".
"Apa itu?.Silahkan!,to the poin saja.".Sebagai seorang CEO WiRo Grup sekaligus Owner Restoran yang bersahaja,Willy membuka diri untuk para pegawainya bertanya dan berkeluh kesah.
"Um..."Ragu-ragu untuk bertanya tetapi Dewa harus tau alasan Willy merekrut Aura."Iiini tentang Aura.Gadis yang direkrut dari restoran dibawah managemen ku,dan sekarang bekerja di rumah Bapak.".
Bergeming di sisi kiri Willy,otak Rossa langsung menangkap sinyal aneh dibalik ucapan Dewa.Masih terdengar klise tetapi Dewa begitu peduli terhadap Aura.Sebagai manager,terasa janggal menanyakan pegawai yang direkrut CEO.Itu bukan urusan manager lagi.Tak pantas Dewa bertanya hal itu pada suaminya.
Entah apapun itu,Rossa merasa senang.Bibirnya tersungging miring.
__ADS_1
Sejenak Willy menatap Dewa dalam-dalam.Mencoba menerka yang dipikirkan Dewa dan memahami maksudnya."Ohhh itu.Aku mengerti yang ingin kau tanyakan.Gadis itu sengaja ku pilih untuk menjadi asisten pribadi putra-putra ku.Apa Pak Dewa keberatan?.".
Cepat-cepat Dewa menggelengkan kepala."Oh tidak.Tentu tidak keberatan Pak.Ha,ha,ha...Hanya ingin tau keadaan Aura saja,Pak.".
Melihat mata Dewa tampak menyiratkan sesuatu,Willy tak percaya begitu saja."Begitu ya?.Kupikir kamu keberatan karena menyukai gadis itu.".Memicing tajam menatap Dewa.
Dewa merasa ditelanjangi.Sukar mendustai pria berwawasan luas seperti Willy."Ehhhh tidak.Bukan begitu maksudku,Pak...".
Bibir Dewa berkata tidak,tetapi mata berbicara lya.Willy tak mudah dibohongi.Dewa tampak terkejut dan rikuh,semakin kuat dugaan nya."Nak Dewa.Tidak ada salahnya menyukai seseorang yang menurut mu layak untuk mu.Tapi,bisakah selain Aura?.".
Kata-kata Willy begitu ambigu.Dewa tersenyum getir,mengerti arti dari ucapan Willy yang tak lain harus menjauhi Aura."Baiklah,permisi Pak,Bu.Selamat menikmati pestanya.Mari.".Bergegas pergi dengan tertunduk lesu keluar dari Aula.
Sakit?.Tentu sakit rasanya.Kecewa?.Sudah pasti kecewa.Sesuatu yang bermukim di dasar hatinya pada Aura harus dipendam,dikubur dan diabaikan.
*****
Pesta yang digelar atas gagasan Adam berlangsung santai tetapi cukup meriah.Namun,Sang penggagas acara sendiri tidak hadir dipesta itu.Adam lebih suka menghabiskan waktunya di kantor.
Berjam-jam lamanya Adam berinteraksi dengan berkas-berkas yang menggunung dan laptop,sampai langit menguning.
Rehat sejenak dari rutinitas nya,Adam menggeliat meregangkan otot-otot.Berkas lamaran diatas meja kerja cukup menarik perhatian nya.Adam meraih berkas itu dan memeriksa biodata pelamar dengan seksama.
"Vivian Nissa.".Berkas lamaran pekerjaan itu dihempaskan di meja."Gadis penguntit itu sengaja melamar disini karena tau aku disini,atau hanya kebetulan saja?.".
Vivian Nissa gadis yang pernah menaruh hati padanya saat masih sekolah dulu,dan sering menguntitnya,melamar pekerjaan sebagai sekertaris dan lulus tes juga.
Bersandar dikursi kerjanya,Adam berpikir dan mengetuk-ngetuk meja.Harus menolak atau menerima lamaran pekerjaan gadis itu?,Adam bingung menentukan pilihan.
Jemari kedua tangan nya saling bertaut dan menopang dagunya dengan siku diatas meja.Penasaran dengan sikap gadis penguntit nya itu.Masih seperti yang dulukah atau sudah berubah?.
Disekolah dulu,Vivi adik kelasnya yang kerap memberinya makanan dan minuman setiap jam istirahat sekolah atau saat olahraga.Adam menerima nya dengan terpaksa karena menghargai Vivi dan tak ingin menyakiti perasaannya.Namun Adam tak pernah menyentuhnya.Adam membagikan pemberian Vivi pada teman-teman nya.
_________
Awan tebal dan hitam menghiasi cakrawala dan menutupi Sang Surya.Tetes demi tetes rintik-rintik air hujan mengguyur bumi.Petir menyambar dan menggelegar diiringi kilatan cahaya bak percikan listrik berjuta volt.
Arfa terduduk di tempat tidur kamar apartemennya sambil memandangi bingkai foto.Wajah Marsha yang memenuhi dinding kamarnya menjadi pemandangan indah dan menjadi obat penawar rasa rindunya pada mendiang sahabat tercinta.
Arfa hanyut disamudera rindu.Arus dendam bergelora dihatinya.Ponselnya berdering,Arfa tersadar dari lamunan.Mengambil ponselnya yang tergeletak disisinya dan menjawab panggilan.
"Bagaimana?.Sudah kamu lakukan?.".Tanya Arfa pada seseorang nun jauh disana dan tak tampak wujudnya.
"Baiklah.Terima kasih.".Menutup panggilan dari seseorang yang ditugaskan untuk membantu melancarkan balas dendam nya."Marsha,sebentar lagi dendam ku akan terbalaskan.Kuharap kamu tidak marah.".Matanya memerah terpantik amarah.
Perlahan Arfa bangkit dan menyambar jaketnya yang tergantung di Hanger, dan kunci mobil di nakas.Dengan langkah mantap Arfa pergi dari apartemen menuju basement menggunakan lift.
Hari ini Arfa sudah yakin akan menjalankan dendamnya yang sempat tertunda cukup lama.Kematian Marsha yang janggal tak bisa diterima akal sehatnya.
Polisi bisa berasumsi jika kematian Marsha karena kecelakaan tunggal yang disebabkan rem mobil yang dikendarai Marsha bermasalah sehingga menyebabkan nyawa Marsha melayang.Namun logika Arfa tak terima.Arfa yakin,ada sebuah konspirasi dibalik kematian Marsha.
Arfa harus mengungkap misteri yang belum terpecahkan dan sosok figur yang sudah terlibat dalam kecelakaan maut yang menewaskan Marsha.
Walaupun ponsel milik Marsha kini ada ditangannya dan sudah memeriksa isi chat'nya.Namun Chat' yang dikirim dari nomor kontak Adam pada Marsha masih tidak cukup dijadikan petunjuk.
Arfa harus kerja ekstra untuk mencari petunjuk lain yang bisa dijadikan barang bukti dalam menangkap pelaku misterius penghilang nyawa Marsha.
_________
Sebelum pulang,Adam menghampiri bilik para pegawai dilantai dua.Sebuah Map dibawa serta Adam.Ada sesuatu yang harus di bicarakan Adam dengan bagian HRD.Derap langkah Adam disadari tiga pegawai wanita dari divisi berbeda.
Tiga pegawai wanita pengagum berat Adam berlomba-lomba maju ke depan dengan berdesakan mencari perhatian Adam.Tak mau melewatkan momen emas dan langka dikunjungi wakil CEO tampan paripurna perusahaan.
Langkah Adam terhenti dengan terheran-heran didepan tiga wanita itu.Kalkulator,katalog dan penggaris turut serta dibawa ketiganya.Adam tak habis pikir,Vella,Aksel dan Zhilla sampai meninggalkan aktivitasnya dibilik masing-masing.
"Pak Cavin,naskah untuk postingan di majalah sudah siap.".Vella gadis berok pendek memilin-milin ujung rambutnya.Tatapannya begitu sayu,dan menggigiti bibirnya,mencoba menggoda Adam
Alih-alih tergoda,Adam menyunggingkan sudut bibirnya dan memandangi Vella dari ujung rambut hingga ujung kaki.Penampilan Vella begitu mencolok,seksi dan terekspos pangkal pahanya jika duduk.Mengundang hasrat laki-laki mata keranjang dan hidung belang.
"Vella,besok ubah cara berpakaian mu.Buang ke tempat sampah rok kurang bahan mu.".
Vella merasa dikuliti hidup-hidup,membulatkan mata dan menganga lebar mendengar teguran Adam.Sudah dandan cantik habis-habisan malah dicibir Adam.
Sedangkan Aksel dan Zhilla terkekeh geli melihat Vella ditegur Adam.Sudah sering diingatkan dan dinasehati tetapi tetap saja keras kepala dan ngeyel.
"Bbaik Pak.".Vella tertunduk malu,tak berani menatap Adam lagi.
Aksel maju selangkah kearah Adam,gilirannya mempresentasikan pekerjaan nya.Adam pun beralih menatap Aksel.
"Pak,revisi caption diblog sudah ku lakukan.Bapak bisa mengeceknya.".Aksel mengedipkan-ngedipkan mata memamerkan bulu mata anti ultra violet nya pada Adam.
__ADS_1
Riasan Aksel bak vlogger make-up dan terlalu menonjol,Adam geleng-geleng kepala dan menghela nafas panjang."Aksel,kantor bukan ajang kontes kecantikan.Kamu harus memperbaiki riasan mu.".
Bukan nya merengut,Aksel malah cengar-cengir diperingatkan Adam."Iiiya Pak.Maaf!,he,he,he...".
Kinerja tiga pegawai wanitanya cukup memuaskan Adam,namun dua diantara ketiganya dari divisi perencanaan dan pelaksanaan serta pemasaran sering bertingkah dan berbuat onar di kantor.
Kini giliran gadis berambut sebahu dan berponi,tak luput juga dari perhatian Adam."Zhilla,kamu memakai kontak lens?.".Kebiasaan Zhilla memakai kacamata tebal lantaran mata minusnya,me
"Iiiya Pak.Kaca mata ku jatuh dan terinjak.Jadi,terpaksa harus menggunakan soft lens.".Zhilla merengek sedih ingat kejadian kemarin lusa.
Zhilla terjatuh saat jalan tergesa-gesa menyebrangi zebra cross dilampu merah diseberang kantor sana,akibat heelsnya patah.Kacamatanya terlepas dari wajah nya dan terpental jauh.Dari arah berlawanan,tiba-tiba seseorang menginjak kacamata nya hingga retak.
Hati Adam terenyuh,namun Zhilla terlihat lebih baik tanpa kacamata tebalnya."Tapi kamu cantik,Zhilla.".
Bibir Zhilla yang cemberut,merekah bak bunga mawar baru mekar."Oiya?.Benarkah Pak?.".
Dibalas anggukan kepala oleh Adam dan tersenyum tipis.Dari ketiga nya,Zhilla paling disiplin dan tidak neko-neko.
"Terima kasih,Pak.".Zhilla menyelipkan rambutnya ke cuping telinga sambil senyam-senyum,merasa tersanjung dipuji oleh Adam.
Aksel dan Vella kompak dengan malas memutar bola matanya.Iri dan cemburu Zhilla jadi pusat perhatian Adam dan lolos dari teguran.Sudah mati-matian dan menghabiskan waktu bersolek didepan cermin,tak sedikitpun mendapat pujian Adam.
"Baiklah.Aku harus pergi.Selamat bekerja.".Adam ingat untuk menemui bagian HRD.
"Silahkan Pak.Dahhh.".
Cepat-cepat Adam berlalu pergi meninggalkan pegawai nya yang melambaikan tangan dan memandanginya intens.Adam membentengi diri dari kaum hawa yang agresif dan kerap mencari perhatian nya seperti para pegawainya tadi.
Ketiga gadis itu masih berdiri ditempat karena belum puas memandangi Adam sampai melupakan pekerjaannya yang menumpuk didalam bilik.
"Hati gue dibuat meleleh setiap kali liat Pak Cavin.Gue bakal terima,kalau Pak Cavin nyatakan cinta.".Aksel begitu berharap dengan antusias nya,bisa menjadi kekasih Adam.
"Pak Cavin memang tampan paripurna.Tapi sayang,dingin dan pelit senyum.Gue sih ogah.".Vella mendelikan mata,karena merasa paling dirugikan Adam.
Zhilla geleng-geleng kepala tak setuju."No,no,no.Aku suka pria seperti Pak Cavin.Cool dan misterius.Buat aku penasaran.".
Vella balas menggelengkan kepala,menyangkal asumsi Zhilla."Apa hebatnya kalau susah didekati.Pak Cavin kayak Merpati.Keliatan jinak,tapi sukar ditangkap.".Mencelos membuang muka sambil cemberut.
Aksel dan Zhilla manggut-manggut saja.Pertahanan diri Adam memang begitu kuat.Meski ketiganya sudah berusaha keras mencari perhatian Adam,namun Adam terus bergeming.Hatinya sulit digapai dan tak terjangkau.
Dibelakang Vella,Aksel dan Zhilla seorang pria jalan mengendap-endap.Rekan kerja wanitanya asyik bergosip,pria itu menepuk pundak ketiganya.
"Woyyy...".
"Aaakhhh.".Karena terkejut,ketiga gadis itu balik badan kearah pria itu.
"Astaga...Evaaan.".Saking kaget dan gemasnya,ketiga gadis itu memukuli Evan menggunakan Map,kemoceng dan penggaris."Dasar sedeng,sengklek,sarap.Rasakan ini heuhhh.".
"Aduhhh,awww,ishhh...".Evan meringis sambil menutupi kepalanya dengan kedua tangannya.Kepala nya jadi bulan-bulanan rekan kerjanya."Stooop!.Sakit tau.".Pekik Evan karena malu jadi tontonan dan tertawaan teman sekantornya yang lain.
Ketiga gadis itu pun sontak berhenti memukuli Evan dan meredam amarah nya.
Vella Aksel dan Zhilla sudah memantik emosi nya,Evan berkacak pinggang sambil melotot."Kurang kerjaan.Lo pada kagak bosan mantengin Pak Cavin melulu?.Gue juga tampan dan gagah.Tapi Lo malah cari perhatian Pak Cavin terus.".
"Haaahhh...".Vella melongo tak percaya Evan memuji dirinya sendiri.
Sedangkan Aksel memutar bola matanya jengah."Mengganggu saja.Ayo!,bubar jalan!.".
"Playboy kampret.".Zhilla tak mau ketinggalan mengumpat Evan.
Ketiga gadis itu melenggang pergi ke bilik nya meninggalkan Evan sendirian.
Mulut Evan menganga lebar merasa tak dianggap oleh Vella,Aksel dan Zhilla."Cah ayu edan.Sing eling sopo kowe,heuhhh?.".Evan kesal melengos pergi ke biliknya dengan kesal.
Tiba di kantor HRD,tanpa mengetuk pintu dulu,Adam menerobos masuk kedalam dan berdiri di depan meja kerja bawahannya itu.Map yang dibawanya diletakkan di meja Dwi.
"Pak Dwi.Calon sekretaris ku tidak sesuai kriteria ku.Batalkan dan jangan hubungi dia.Tutup lowongan kerja selanjutnya.".Tegas Adam.
Dwi terheran-heran menatap Adam.Sudah menolak calon sekretaris terpilih."Bukankah gadis itu sudah lulus tes,Pak.Dia melalui tahap seleksi dan sesi wawancara,sesuai dengan prosedur perusahaan.Apa kekurangannya,Pak Cavin?.".
"Tidak ada.Hanya saja aku malas beradaptasi dengan sekertaris baru.".Adam mencari alasan dan berlalu pergi,tak menunggu tanggapan Dwi.
"Baik Pak.Sesuai perintah anda.".Dwi menatap Adam yang menghilang di balik pintu.Segala tindak tanduk Adam dan perintahnya tak bisa dibantah Dwi.
Padahal Vivian Nissa adalah keponakannya tersayang.Putri dari kakaknya yang memiliki usaha supermarket.Selain itu,Vivian Nissa lulusan terbaik di universitas terkemuka dan menyandang gelar sarjana.
*****
💖Semoga sehat selalu dan semoga suskes semuanya...Terima kasih...😘
__ADS_1