
Selamat membaca...🥰
_________
Di gedung bertingkat,kantor WiRo Grup perusahaan yang bergerak di bidang kuliner,seorang pria tampan berjas hitam lengkap dengan dasi,berjalan dengan gagahnya dan berkarisma ditemani sang sekertaris.
"Pak Cavin,selesai menghadiri rapat,kegiatan anda sekarang meninjau proyek cabang restoran baru.".Sekertaris Susan mengikuti langkah kaki atasan nya yang masuk ke dalam lift.
Dua orang yang berbeda jabatan tetapi satu visi dan misi itu,usai menghadiri rapat bersama para petinggi perusahaan.
Susan Gustiana,sekertaris wakil CEO yang sudah bekerja cukup lama di WlRO Corp.Susan berusia 31 tahun,sudah menikah dan sekarang sedang hamil tua anak pertama.
Beberapa hari lagi Susan akan cuti untuk melahirkan.Kini Susan dan sang atasan tengah mencari pengganti nya untuk sementara waktu.
"Siapkan mobil!.Aku pergi sekarang!.Kau tidak harus ikut,diam dikantor saja.".Pria yang menjabat wakil CEO itu keluar dari lift diikuti Susan menuju kantor wakil CEO.
"Baik." Susan segera menelpon sopir pribadi sang atasan untuk bersiap diri untuk mengantar kepergian sang atasan."Bersiaplah!.Pak Cavin akan turun sebentar lagi.".
Cavin Adam Willy,memasuki ruangan nya dan mengambil barang di meja kerja nya,berkas dan laptop.Berlalu pergi menuju pelataran parkir yang terletak di depan gedung kantor WiRo Group melalui lift.
Wakil CEO itu berusia 29 tahun yang sangat gila kerja,disiplin dan penuh tanggung jawab.Cavin putra pertama dan calon pewaris tahta dari pemilik Restoran terkemuka.Putra dari pasangan Willy Candra Rukmana,dan Rossa Sekar Arum.
La Rossa Restaurant adalah restoran besar yang memiliki lebih dari 10 cabang dan tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia.Sekarang cabang ke 11 sedang dalam proses pembangunan.
Pria berparas tampan,bertubuh tinggi dan berotak cerdas ini,cenderung tertutup dan dingin,serta sangat menyukai kebersihan dan kerapihan.Pria yang disapa 'Adam' ini oleh keluarganya,sangat selektif dalam memilih teman,baik laki-laki maupun perempuan.Namun di usianya yang sudah matang dan mapan ini,belum berniat melepaskan masa lajang.Waktunya dihabiskan di meja kerjanya sebagai wakil CEO.
Hitungan menit,Adam tiba diparking lot.Sopir pribadi standby di depan mobil Adam dan membuka pintu mobil saat Adam datang.
"Terima kasih.".Adam masuk dan duduk tenang dikursi belakang sedan Corolla keluaran terbarunya yang berwarna hitam.
Sopir segera membawa Adam ke tempat yang di konfirmasikan Susan.
Di La Rossa Restaurant.
Aura berjibaku lagi ditempatnya bekerja.Aura mencuci peralatan makan bekas makan pengunjung restoran sejak pulang dari istirahat.
"Aura,pastikan semuanya bersih.Selesaikan lebih cepat lagi.".Salah seorang pegawai wanita menyodorkan peralatan makan yang kotor.
Belum selesai mencuci peralatan makan sebelumnya,sudah datang cucian kotor baru.Satu tugas belum diselesaikan Aura,sudah datang tugas baru.Terkadang semua itu lama-lama membuat Aura jemu dan eneg.
"Sampai kapan ini berakhir?.". Peralatan makan diatas meja yang bertumpuk dipandang nya lekat.
Sudah berjam-jam lamanya tetapi belum tandas juga.Namun Aura berhutang budi dan sangat berterima kasih pada benda-benda itu.Berkat benda itu,Aura bisa diterima bekerja di restoran,dan bisa bertahan hidup sampai sekarang.Pendidikan akhirnya hanya sampai tingkat atas,Aura tak melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah.
_________
Langit sore bertabur cahaya jingga kemerahan.Aura berniat mengunjungi ayahnya dikediamannya setelah pulang kerja yang dikabarkan sakit.Sebelum pulang,Aura berganti seragam kerjanya dengan pakaian sehari-hari yang disimpan di loker diruang ganti pegawai.Kemudian menemui sang Manager Restauran yang memanggilnya ke kantor.
Aura berdiri didepan meja sang Manager dan terus menyunggingkan senyuman karena hari yang dinantikan telah tiba.Hari ini Aura akan menerima gaji.
"Ini upahmu bulan lalu.Kau gadis pekerja keras,Aura.".Sang Manager memberikan amplop coklat berisi uang gaji Aura.
"Terima kasih Pak!.Pujian anda sangat ku hargai.Apa gaji ku dipotong,bulan ini?.".Aura dengan teliti memeriksa isi amplopnya.
Aura cukup dekat dengan Sang Manager.Perilaku Aura yang baik dan pekerja keras,mendapat simpati dari sang Manager.Aura sudah dianggap seperti adiknya sendiri,namun kedekatan mereka sering di salah artikan orang lain.Pembawaan Aura yang ceria dan periang serta pintar beradaptasi,tak ayal membuat siapa pun cepat dekat dengan Aura.Namun tergantung situasi dan lawan bicaranya.
"Gaji mu utuh.Aku tidak tega melakukan itu.".Dewa menunjukkan rasa simpati nya dengan tak memotong gaji Aura.
3 bulan lalu Aura terpaksa meminjam uang yang cukup besar untuk biaya pengobatan ayahnya yang sakit terkena stroke.Sang Manager memangkas sedikit gaji Aura setiap bulan untuk cicilan hutang nya.Baru 2 kali Aura membayar cicilannya,dan bulan ini sang Manager tak memotong gaji Aura.Dikarenakan Aura ijin selama 5 hari untuk menemani sang ayah di rumah sakit.
"Anak tertua seperti ku harus menanggung biaya ayah ku yang sakit.Belum lagi biaya sekolah adik ku.".Aura pasrah menerima keadaannya sekarang.
Menjadi anak sulung memang bukan sebuah kutukan atau beban,namun bukan juga suatu kebanggaan,tetapi tidak ada pilihan lain.Ayah Aura sakit sehingga tidak bisa bekerja dan tak bisa menafkahi keluarga.Secara otomatis,Aura menjadi tulang punggung keluarga,dan harus bekerja ekstra keras mencari penghasilan tambahan.
Ibu tiri melimpahkan beban tanggung jawab sang Ayah untuk mencari nafkah pada Aura.Terpaksa Aura harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan nya dan kebutuhan keluarganya.
"Kau memiliki adik?.".Dewa tak pernah tau jika Aura memiliki adik.Aura tak pernah bercerita dan Dewa pun tak pernah bertanya.
"Adik satu ayah,beda ibu.".Terpaksa Aura membuka rahasia yang sengaja disembunyikan dan di tutupi nya selama ini.
Suatu aib tersendiri bagi Aura jika orang lain mengetahui seluk beluk keluarga nya.Namun pengecualian untuk pria yang duduk di kursi kebesarannya.Aura tak segan lagi menceritakan sedikit latar belakang keluarga nya pada Dewa.
"Ahhh,aku mengerti.".Dewa paham meski Aura tak menjelaskan secara gamblang.
__ADS_1
Malu karena harus mengakui itu,Aura mengulum senyum."Tapi jangan katakan pada siapa pun jika aku memiliki ibu tiri.Itu bukan sesuatu yang harus di banggakan.Tolong,rahasiakan ini Pak!?.Ku mohon dengan sangat!.".Aura menangkupkan kedua tangannya pada sang Manager.
"Apa aku terlihat seperti pria yang suka bergosip?.".Dewa memicingkan mata,Aura seakan tak mempercayai nya.
Aura segera menutupi rasa bersalahnya dengan tertawa-tawa."Aha,ha,ha,ha...Tentu tidak,aku percaya bapak.Hanya mengingatkan saja.".
"Baik.Ini rahasia kita berdua.".Dewa menunjukkan jari kelingking,berjanji untuk menutup mulut dan merahasiakan latar belakang Aura.
Uang gaji sudah ditangan,Aura tak ingin berlama-lama di kantor manager."Baiklah.Aku harus pergi,terima kasih Pak!.".Dengan penuh rasa hormat,Aura membungkuk lalu pergi dari ruangan Manager.
Derap langkah Aura begitu tergesa-gesa meninggalkan restoran menuju bahu jalan.Menghentikan angkutan umum dengan jurusan ke rumah yang ditinggali ayah,ibu tiri dan adik nya.Tiba ditujuan,Aura turun dari angkutan umum.Usai membayar,Aura berjalan menyusuri trotoar.
Saat akan masuk gang,Aura dikagetkan melihat seorang bocah perempuan yang dikenal nya tengah berjalan,bersama lima bocah laki-laki.
"Ya ampun,anak itu,huuuhhh.".Aura geram memergoki sang adik masih berkeliaran di jalanan sepulang dari sekolah tadi siang,bukannya pulang ke rumah.Masih berpakaian seragam lengkap dan membawa tas pula,serta bola ditangannya.
"Skor terakhir,3-1.Amira mencetak gol terbanyak.Hebat kamu Amira.".Teman Amira memberi pujian dan menepuk-nepuk pundak Amira.
"Aku memang jagonya bermain sepakbola.Kalian laki-laki tapi payah.Ha,ha,ha...".Amira Zahra,bocah perempuan yang berusia 10 tahun itu,santai saja berjalan sambil berbicara dan tertawa-tawa.
Tak sadar jika sepasang mata tengah mengawasi dan menatapnya tajam.Berdiri didepan gang dan berkacak pinggang.
Teman Amira terkejut oleh kehadiran Aura disana,sontak menyenggol lengan Amira."Amira,lihat itu kakak mu!.".
Temannya pasti ingin menggoda nya,Amira menggeleng tak percaya."Kak Aura tidak mungkin ada disini.Ibu bilang,kak Aura seperti mesin pencetak uang,dan penggila kerja.Jadi,dari pagi sampai malam,kerja dan kerja terus.".Cueknya Amira berkata seperti itu dengan keras pula.
Temannya menepuk keningnya sendiri.Sudah baik dikasih tau,tetapi Amira tak percaya."Tengok ke arah jam 1.Kak Aura disana.".Sambil menunjuk dimana Aura berada.
Langkah Amira terhenti seketika dan menoleh kan kepalanya ke arah Aura.Mendapati kakaknya seperti sudah siap menelannya bulat-bulat,Amira menelan salivanya dan perlahan mundur kebelakang.
"Lariii...".Amira berlari sekencang mungkin untuk menghindari kakaknya.
Teman-teman Aura hanya berdiri mematung dan terbengong melihat Amira lari terbirit-birit.
"Heiii kau,berhenti di situ!.".Melihat Amira melarikan diri,secepatnya Aura mengejar Amira."Awas jika kamu berhasil ku tangkap.".Aura terus mengejar Amira yang berlari sangat cepat hingga memasuki sebuah kawasan elit perumahan.
Adik yang merepotkan.Susah diatur dan semaunya sendiri.Tomboy dan agak abstrak.Hobinya main bola,sering bermain dan menghabiskan waktu dengan anak laki-laki.
"Heiii,tolong kejar dan tangkap anak itu untuk ku!.".Aura berteriak pada pria yang berlari kearahnya.
Bukannya mengejar Amira,pria itu berhenti tepat dihadapan Aura.Menghentikan aksi pengejaran Aura pada Amira,dan membiarkan Amira menyelamatkan diri.Refleks Aura pun berhenti.
"Apa kau penculik anak dibawah umur?.Kau salah satu dari mereka?.Kau terlibat dalam perdagangan anak-anak?.".Pria berparas menawan itu menatap Aura penuh curiga.
Maraknya kasus penculikan anak dibawah umur,pria itu berasumsi jika Aura salah satu dari sindikat penculikan anak itu.
"Aku?.".Mata Aura terbelalak dan menunjuk wajahnya sendiri."Apa tampang ku seperti seorang penculik?.".
Pria itu menelisik wajah dan penampilan Aura yang cantik dan sederhana.Cukup menggoda dan menarik namun tak menutup kemungkinan jika Aura seorang penculik.
"Tidak.Tapi banyak orang jahat berkedok seperti orang baik.Bahkan tak sedikit orang yang menyembunyikan kejahatannya dibalik wajah cantiknya.".Mengabsen setiap inci wajah Aura yang memikat,pria itu terpesona melihat kecantikan Aura namun tetap jaga lmage.
Intensnya Aura memandangi pria itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.Parasnya yang tampan berbanding terbalik dengan isi pikirannya dan sudah berani menghalangi langkahnya.
'Pria yang tampan,memukau dan menawan tapi agak sengklek'...Asumsinya dalam hati.
"Yang benar saja.".Bisa-bisa pria itu mengatakan Aura sebagai sindikat penculikan anak-anak,tangan Aura mengepal dan menghela kesal."Bisakah tarik kembali kata-kata mu?!.".Tatapannya yang dingin,lsyarat Aura akan ketidaksukaannya pada pria itu."Aku bukan gadis yang seperti kamu tuduhkan.".
Pria itu tersenyum smirk,gadis muda yang tidak dikenalnya itu begitu berani.Pria itu yakin,Aura bukan penghuni rumah dikawasan elit itu.Sudah lama tinggal disana maka la pun mengenal para tetangganya.
'Gadis ini pasti sengaja masuk ke area ini untuk mengejar anak kecil tadi'...Pria itu berspekulasi sendiri dalam hati.
"Mungkinkah sebaiknya aku menelpon polisi?.Itu lebih baik lagi.".Spontan pria itu mengambil ponselnya yang disimpan di saku celananya.Meletakkan benda pipih nya ditelinga dan siap menelpon polisi.
Takut dan panik,Aura menggigiti kuku jari sendiri.Berdalih pun percuma,pria itu tak juga percaya.Aura bingung harus bagaimana?.Jika pria itu menggelandang nya ke pos satpam atau kantor polisi,tamatlah riwayatnya.
"Kakaaak.Apa yang kakak lakukan di sini?.".Dari belakang pria itu Amira muncul di waktu yang tepat.
Nyawanya terselamatkan dan tak terancam pria itu lagi.Leganya hati Aura,saat genting dan putus asa,Amira datang dan memanggilnya kakak.Amarah Aura mulai mereda,namun mendadak kesal lagi saat ingat kelakuan adiknya.
"Amira,kamu merepotkan ku saja.".Gemasnya Aura menjewer telinga Amira.
"Maaf kak!.".Amira merengut sedih dan tertunduk lesu.
__ADS_1
Panggilan pada ponselnya yang masih tersambung ditutup pria itu dengan cepat."Kakak,benarkah dia kakakmu?.".Bergantian memandangi Aura dan Amira yang berbeda jauh usia dan lekuk wajahnya.Tak seperti adik kakak.
"Benar Om.Dia kakak ku.".Amira menganggukkan kepala,mengiyakan jika Aura kakaknya,dan terheran melihat pria itu."Om siapa?.".
Bak kepiting rebus,pria itu cengar-cengir menahan malu dan memasukkan ponsel nya kembali ke saku celana.
"Maaf!.Aku tidak tau.".Tuduhannya pada Aura tak benar,dengan tampang konyol,pria itu memasang senyum tolol.
Mengingat ucapan pria dihadapannya itu tadi sudah membuat nya kesal dan panik,Aura tak bisa memaafkannya begitu saja."Pantaskah ku maafkan?.".Bertolak pinggang dan menatap tajam pria arogan itu.
"Jika aku tau,tidak mungkin aku menduga-duga dan berpikir buruk tentang mu.".
Hati nya terlanjur sakit dan marah pula,Aura tak terima apapun alasan pria itu."Sebaiknya aku melapor balik.".Aura mengambil ponselnya di dalam tas punggung dan gantian menelpon polisi.
"Heiii,ayolah!.Jangan ditanggapi serius ucapan ku tadi.Baiklah,aku tarik kembali kata-kata ku.Puas?.".Pria itu mencoba mencegah Aura agar tak melaporkan nya pada polisi dengan merebut ponsel Aura.
"Heiii...".Aura terkejut dibuatnya dan melototi pria itu."Kembalikan ponsel ku!.".
Aura berjinjit dan memegangi pundak pria bertubuh jangkung itu demi bisa meraih benda miliknya.Sayangnya,pria itu tak berniat mengembalikan dan malah mengerjai Aura.Mengangkat tangan kanannya yang menggenggam ponsel Aura.
Semakin tinggi dan jauh,Aura tak mampu menjangkau ponselnya dari tangan pria itu.Aura kewalahan,tubuhnya yang pendek dan hanya sebatas bahu pria didepannya,menggagalkan usaha nya.
"Aku benar-benar minta maaf!.Mari kita berdamai?!.Ini bukan masalah serius kan?.".Pria itu berharap Aura memaafkan dan melupakan persolan mereka.
"Tidak akan pernah.Berikan ponsel ku!.".Demi ponselnya,Aura melompat dan mengalungkan tangan kirinya dileher pria itu.
Tak disadari Aura,pria itu menatapnya dalam dan penuh arti.Wajah Aura begitu dekat,dan tubuhnya saling menempel.Dengan cepat,pria itu menelan ludah kasar.Aura begitu mempesona dan aroma tubuhnya wangi.Mampu menggetarkan hati nya,darahnya berdesir dan terpaku.
Pikiran nya mulai meracau dan mesum,pria itu mengusir imajinasinya yang liar dan nakal.Mengedipkan mata dan tersadar dari lamunan.
"Oke,baiklah.Aku akan memberikan ponselmu.Tapi maafkan aku dulu.".Pria itu tetap mempertahankan ponsel Aura,dan menjadikan ponsel itu sebagai jaminannya.
"Baiklah.".Siasat licik,Aura lancarkan dan tersenyum miring.Tangannya terulur mengambil ponselnya yang diberikan pria itu."Tapi bohong.Aku akan melaporkan kejadian ini pada keamanan disini.".
Usahanya melunakkan hati Aura gagal total,pria itu mengacak-acak rambutnya kesal."Astaga.Lalu apa yang harus ku lakukan?.".Menatap Aura dengan bingung dan heran.Sulit menjinakkan gadis dihadapannya itu dan tak tau apa mau nya.
"Pikirkan sendiri caranya.".Tantang Aura,dan menyunggingkan sudut bibirnya.
Perdebatan konyol antara kakaknya dan pria itu,membuat Amira terheran-heran menyimak nya dan menepuk keningnya sendiri.Tak ada habisnya dan tak kelar-kelar.Seperti Tom dan Jerry.Memusingkan kepalanya saja.
"Stoooppp!.Kalian kenapa?.Om siapa?.Apa kakak mengenalnya.".Amira menatap dua insan yang berdebat panjang itu menuntut penjelasan.
"Dia memfitnah kakak akan menculik mu.".Penjelasan Aura mengejutkan Amira.
Sedangkan pria itu menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.Berjongkok dihadapan Amira dan berbisik ditelinga Amira."Adik kecil yang manis.Bagaimana jika kamu bujuk kakak mu?!.".Satu-satunya harapannya yakni merayu Amira dulu.
Amira tertegun,menimbang-nimbang permintaan pria itu."Baiklah.Tapi Om janji akan mentraktir kami makan burger dan ice cream sepuasnya?!.".
"Amira...".Aura dibuat terkejut mendengar perkataan adiknya dan melototinya.
"Tentu saja.Itu tidak masalah.".Pria itu menyanggupi permintaan gadis berlesung pipi itu dan tersenyum manis.
"Kakak.Maafkan dan lupakan saja.Om tampan kan tidak sengaja.".Amira merengek manja merayu Aura dan memegangi lengan kakaknya.
Pria yang memelas dengan wajah tak berdosa nya dan cengengesan,ditatap Aura jengah."Baiklah.".
"Yeahhh,kakak ku baik kan Om...".Amira bingung dengan nama pria yang berjongkok dihadapan nya,dan bertatapan dengan kakaknya.
"Andre,aku Andre.".Pria itu menoleh ke arah Amira dan bersalaman lalu mengulurkan tangannya pada Aura namun tak dibalas Aura.
Pria bernama Andre pun tersenyum masam dan menarik tangan nya kembali.Urungkan niatnya menyalami Aura.
"Om Andre,nama yang keren.Sekeren orang nya.Iya kan kak?.".Amira menggoda Aura,agar bisa tersenyum dan melupakan kejadian tak terduga itu.
"Hemhhh.".Tak menjawab,Aura membuang mukanya,muak dengan pria tampan yang sudah membuatnya uring-uringan dan naik darah.
Mendapat respon baik dari Aura,sumringahnya wajah Andre."Ayo ikuti aku!.".Bergegas berdiri dan mengajak Amira serta Aura ke taman di mana banyak food car,stan makanan dan minuman yang menjajakan makanan cepat saji dan minuman unik kekinian,untuk menepati janjinya.
Andreas Willy,pria berusia 25 tahun ini putra kedua dari pemilik La Rossa Restoran,dan tak lain adalah adik Adam.Namun sifat Andre berbanding terbalik dengan kakaknya.Santai,cuek dan tak suka terpaku pada pekerjaan.Bahkan terkesan menginginkan kebebasan,suka petualangan dan bersenang-senang.Tetapi baik dan menyenangkan.
*****
Semoga suka dan mohon dukungannya,terima kasih 😊
__ADS_1