Gadis Penepat Janji.

Gadis Penepat Janji.
8.Dedikasi Asisten Pribadi.


__ADS_3

WiRo Grup.


Andre membawa Aura ke gedung kantor perusahaan milik Ayahnya.Dimana Adam berada di dalamnya,sebagai wakil CEO perusahaan besar yang didirikan sang ayah.


Tiba diparkiran,Andre memarkirkan mobil,dan mematikan mesin mobil.


"Buka seat beltnya,dan perbaiki riasan mu.Kau tampak seperti gadis yang baru ku putuskan cinta.".Mata Aura yang sembab,dan riasan tipisnya berantakan,Andre pun mengingatkan.


Namun kecantikan Aura tak berkurang meski agak kusut.Andre hanya risih melihat riasan Aura berantakan.Orang lain bisa beranggapan Andre menyakiti hati Aura,atau memutuskan cinta,dan yang membuat Aura menangis.Kentara sekali Aura kelihatan usai menangis.


Aura melakukan perintah Andre,dengan tersipu-sipu.Pria satu ini,matanya begitu jeli dan teliti memperhatikan penampilan nya.Namun sialnya,Aura tak membawa apa pun,selain ponsel.Aura pun seadanya saja merapikan riasan wajah nya menggunakan tisu dengan bercermin di kaca spion mobil.


Andre senyum-senyum melihat Aura yang cueknya mengibaskan rambutnya yang panjang dan ikal bergelombang.Ya ampun,membuat jantung Andre deg-deg Serrr saja.Demi apa pun,sungguh Andre terpesona oleh kecantikan Aura dan ingin memiliki Aura.Namun Andre bisa apa?,jika Aura tak memiliki perasaan yang sama dengan nya.


Bersamaan Andre,Aura keluar dari mobil.Aura terkejut saat melihat nama gedung yang menjulang tinggi dihadapannya.Apalagi jika bukan gedung kantor WiRo Grup.Tempat dimana orang-orang berotak cerdas berjibaku didepan layar komputer.


"WiRo Grup.Kenapa kita kemari?.Tuan muda berniat mengusir ku ke gedung ini?,karena menolak cinta mu?.".Aura mengernyit heran,berprasangka buruk jadinya.


Aura takut itu terjadi,pasalnya tak memiliki ilmu yang mumpuni untuk bekerja di kantoran.Aura malas berpikir keras,karena bisa membuat kepalanya pusing saja.Kerja otot lebih baik daripada harus kerja otak,menurut pemikiran Aura.


Andre mendesis kesal.Asisten baru nya ini selalu bicara tanpa dipikir dulu,belum juga tahu niatnya kesana.


"Hisssh,aku bukan pria tak berotak,seperti kata mu.".


"Maaf!.".Aura tersipu malu sendiri,ternyata Andre ingat itu.


Ingatan tuan muda nya ini memang cukup bagus.Kedepannya Aura harus lebih berhati-hati lagi dalam bicara.


Andre memandangi bangunan yang didirikan sang ayahanda tercinta,yang kini menetap di Singapore bersama sang ibu.Rasa bangga bermukim di hati Andre terhadap sang ayah.Merintis usaha rumah makan kecil dari nol dengan bermodalkan uang yang tidak banyak.Sekarang bereinkarnasi menjadi restoran berbintang lima dan memiliki cabang di mana-mana.


"Kamu tau Aura,ini pertama kali aku datang kemari.Kakak ku pasti terkejut melihat ku ada disini.".Andre tersenyum bangga,akhirnya bisa menginjakkan kaki nya di lantai gedung kantor perusahaan milik ayahnya.


Tak segan lagi Andre memberi tahu Aura sesuatu yang tidak orang lain tahu,tentang dirinya.Sebetulnya Andre malu,mengakui itu pada Aura.Namun hatinya merasa lega,sudah jujur.


"Benarkah?.Lalu kerja mu,apa?.".Aura terperangah tak percaya.


Dimana-mana orang berbondong-bondong pergi bekerja,namun aneh pria satu ini,yang ada disampingnya itu.Aura jadi penasaran kerjaan Andre sehari-hari.


"Tidak bekerja pun aku bisa menghasilkan uang.".Andre berbicara dengan rasa bangga.


Sebagai putra konglomerat,tentu Andre tak memusingkan uang.Meski duduk dan tidur terus,uang tetap mengalir ke rekening nya.Andre mendapat jatah uang saku bulanan yang bisa membuat Aura ternganga lebar,jika Andre mengungkapkan nominalnya.


"Cihhh.Konyol.".Aura mendelik tajam menatap Andre.


Bagaimana bisa Andre menghasilkan uang tanpa bekerja.Dirinya saja tak kenal waktu untuk mencari uang.


"Ingat!.Aku salah satu putra crazy rich,di kota ini.".Andre mengingatkan Aura dengan bangganya.


Aura sadar dan menggaruk pelipisnya."Ahhh,mengapa aku melupakan hal itu.".Aura merasa payah,hal semudah itu tak bisa diingatnya.


"Lalu,untuk apa tuan muda kemari?.".Penasaran sekali Aura dengan datangnya Andre ke kantor WiRo Grup.


"Memulai hidup baru.".Andre tersenyum penuh arti,yang tak terbaca Aura dan melengos pergi menuju gedung milik ayahnya.


"Memulai hidup baru?.".Kening Aura berkerut heran,namun mengerti maksudnya.


Bergegas Aura menyusul Andre."Tuan muda,jangan katakan jika alasan tuan muda kemari,karena aku memengaruhi mu?!.".Aura ingat akan ucapannya di mobil selama di perjalanan.


Andre tak memberi jawaban dan hanya menggedikkan bahunya,dengan kaki terus melangkah masuk kedalam gedung.


"Jika hanya dengan menggedikkan bahu,cukup dimengerti.Semua orang tidak harus susah payah mencari ilmu,dan tidak akan jauh-jauh menuntut ilmu hingga ke luar negeri.".Aura menggerutu disamping Andre,kesal karena Andre tak memberikan jawaban yang jelas.


Andre dan Aura berjalan dengan berbincang hingga tak terasa sudah ada di depan lift.Dilobby,semua orang memandangi Andre dan Aura saat berjalan melewati mereka,bahkan saling berbisik-bisik.Namun yang paling menarik perhatian adalah Andre,sang putra kedua CEO tempat mereka bekerja.Ini pertama kali mereka melihat Andre secara langsung.Mereka hanya melihat Andre dibingkai foto yang tergantung didinding kantor CEO dan wakil CEO,saat berfoto bersama keluarga.


Andre menekan tombol angka 7,menuju tempat dimana kantor sang kakak berada.


"Apa kau selalu se cerewet ini,Aura?.".Tanya Andre acuh,dingin dan datar dengan tangan berselip di saku celana.


Aura berdiri disamping Andre memasang raut wajah penasaran.Cerewet atau tidak itu haknya.Meski bicara terus menerus,yang lelah dirinya sendiri bukannya Andre.


"Memangnya kenapa?.Apa aku mengganggu ketenangan mu,tuan muda?.".Aura menatap Andre dengan tatapan menyelidik.


"Pertahankan sifat mu,di depan pria lain,terutama kakak ku.Kau terlalu manis,jika diam.".


Andre berlalu keluar dari lift,usai mengatakan sesuatu yang membuat Aura speechless dan mengedip-ngedipkan matanya.Dengan langkah panjang Aura mengikuti Andre hingga ke ruangan bertuliskan 'Ruang Wakil CEO'.


Terlebih dahulu Andre menyapa Susan yang duduk dikursi di balik meja sekertaris nya,yang berada tepat didepan ruang wakil CEO dan saling berseberangan.


Susan berdiri menyambut kedatangan Andre dan Aura saat menghampiri meja nya.


"Selamat siang,kak Susan?!.".


"Mas Andre,anda disini?.".Susan terkejut bukan main melihat adik majikannya ada dihadapannya saat ini.


Andre dan Susan sudah saling mengenal sejak lama,sejak Susan bekerja sebagai Sekertaris Adam.Susan pernah bertemu Andre beberapa kali di pesta yang mengumpulkan para pengusaha beserta keluarganya,dan para pegawai yang terlibat didalamnya.


"Kakak masih bekerja,dalam keadaan seperti ini?.".Andre mengamati Susan yang hamil besar.


"Mungkin,setelah mendapat pengganti ku.".Kilah Susan.


Personalia perusahaan kini tengah mengurus dan menyeleksi calon Sekertaris baru sebagai pengganti nya.


"Cepatlah!.Aku tidak tega melihat wanita hamil besar,mengais rejeki.".Andre merengut sedih,iba dan kasihan melihat Susan sekarang.


Bekerja dalam keadaan hamil besar pasti sangat merepotkan dan melelahkan fisik Susan.


"Benar mas,aku pun berpikir demikian.Namun Boss menahanku.Setelah merampungkan tugas ku,dan melatih Sekertaris baru,aku diijinkan meninggalkan meja ini.".Susan berargumen.


Andre geleng-geleng kepala dan berdecak tak percaya,Adam berani melakukan itu pada Sekertaris nya itu.

__ADS_1


"Wahhh,ck,ck,ck...Dia kejam sekali.Haruskah aku menghajar nya,untuk mu?.".Andre berlagak menjadi pahlawan untuk Susan.


"Ohhh...Tentu tidak.Pasti mas Andre yang akan kalah.".Seloroh Susan,sedikit berbisik.


"Itu benar.".Andre tak menepisnya,dan cengengesan.


"Ha,ha,ha...".Alhasil keduanya tertawa terbahak-bahak.


Andre akui jika kakaknya memang memiliki bakat terpendam,yakni ilmu bela dirinya.Tendangan memutar satu kaki Adam,akan membuat Andre terpental jauh dan ambruk dilantai.


Dibelakang Andre,Aura berdiri mematung dengan wajah lesu,seperti pajangan tak berharga.Diacuhkan dan diabaikan.


"Aku masuk dulu,mbak!.".Andre ijin pada Susan,ke ruangan Adam.


"Silahkan!.".Susan mempersilahkan.


Tok,tok.


Andre mengetuk pintu,namun tanpa seijin pemilik ruangan,Andre menyelonong masuk.


Baru juga Adam akan menjawab 'Masuk',Andre sudah muncul diruangan nya.


"Kau.".Jelas Adam pasti terkejut melihat wajah adiknya.


Tiada angin dan tiada hujan,dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu,Andre datang ke kantor nya.Ini sungguh suatu keajaiban yang luar biasa,selama Adam bekerja sebagai wakil CEO.


"Haiii,apa kabar kak?.".Andre melambaikan tangan pada Adam,berbasa-basi.


"Benar,kau datang kemari?.".Adam masih syok dan tak percaya,Andre ada diruangan nya sekarang.


"Apa kehadiran ku disini,tidak diharapkan?.".Andre merajuk kecewa.


Dikursi nya,Adam senyum-senyum sendiri.Usia Andre sudah seperempat abad,namun selalu bertingkah seperti anak kecil.


"Akhirnya,si kancil masuk ke penangkaran buaya.".Adam menyindir Andre.


Kantor ibarat tempat terlarang bagi Andre,dan zona berbahaya.Dunia seolah akan kiamat jika Andre memasukinya.Begitulah kira-kira pola pikir Andre.Andre tak tertarik menggeluti dunia bisnis dan perkantoran.Andre lebih suka berinvestasi di bursa saham.Tak mau membuang waktu dan tenaga.Tinggal menunggu uang masuk kedalam rekening nya.


Andre berdecak,sebal mendengar ucapan kakaknya."Aku tidak sendiri,dia bersama...".


Andre menengok ke samping,namun ternyata Aura tak ada disisi nya."Ishhh...Kemana gadis sombong itu?.".


Andre celingukan mencari Aura,dipikirnya Aura ikut bersamanya.Namun ternyata Aura bergeming didepan pintu ruangan Adam.Sedangkan Adam mengerutkan dahi,penasaran pada sosok yang dimaksud Andre.


"Aura,apa yang kau lakukan disana?.Kemarilah!.Kau digaji Papa ku,tidak untuk menjadi penjaga pintu.".Tangan Andre melambai-lambai menyuruh Aura masuk.


Aura yang tertegun di depan pintu,sontak masuk dengan wajah merengut kesal,dan langkah sedikit dihentakkan.Mulut besar tuan mudanya itu sungguh menyebalkan.Namun saat melihat wajah yang membuat hatinya mabuk kepayang,Aura refleks mengukir senyuman.


"Selamat siang,tuan.".Aura tersenyum ramah dan membungkuk hormat menyapa Adam,tuan muda pertama nya.


Seksama dan cermat Adam menelisik penampilan Aura.Adam ingat-ingat lupa wajah Aura,namun melihat seragam yang dikenakan Aura sudah pasti tahu siapa Aura.


Usia Andre dan Aura yang dibawahnya,masih dianggap bocah oleh Adam.Maka Adam pun berpikir seperti itu.


"Aku datang tidak untuk bermain.Aku hanya ingin melihat-lihat,sekalian mengawasi kakak.Bagaimana cara wakil CEO bekerja di balik singgasana nya.".Andre berkilah dan menghampiri Adam.


Senangnya hati Adam.Ini merupakan momen langka Andre datang ke kantor nya.Adam ingin memanfaatkan kesempatan ini,mumpung Andre ada dikantor nya.Kapan lagi,Andre mau datang ke kantor secara sukarela.


"Kau mau mencoba duduk di kursi ku?.".Adam beranjak berdiri,mencoba menggoda Andre agar tertarik untuk duduk di kursi kebesarannya.


Andre berpikir,menimbang-nimbang tawaran Adam.Sebenarnya sama saja rasanya duduk dikursi.Namun yang satu ini sedikit berbeda,bukan seperti kursi yang biasa diduduki Andre.Memiliki makna tinggi.


"Suatu saat,kursi ini akan menjadi milik mu.".Adam tak gentar merayu Andre,saat melihatnya diam saja.


Alih-alih menjawab,Andre malah salah paham dengan ucapan Adam."Kakak akan pergi lagi ke Singapore?.".


Andre takut kakaknya menyusul orang tua nya dan menetap di Singapore.Maka jika begitu,Andre akan lebih kesepian lagi dirumah sebesar itu.Cukup orang tua nya saja yang meninggalkan nya berdua dengan kakaknya dirumah.Demi bisnis baru yang dirintisnya di negeri singa itu.


Adam menggelengkan kepala."Tidak!.".Tentunya tidak dibenarkan Adam."Aku akan menempati kantor CEO.".


Andre menyeringai,dugaannya salah."Oh,Gosh.Naik tahta?.".


"Papa sudah berkomitmen.".Jelas Adam,agar Andre tak salah paham.


"Kakak memang layak mendapatkan itu.Aku hanya akan menjadi bayangan mu saja.".Andre menunduk lesu,tak percaya diri.


Kakaknya ini memang lebih maju dari nya dan tak tertandingi oleh nya.Adam putra kebanggaan ayah dan ibunya.Selalu dipuja dan dipuji,namun selalu bersikap adil.Tak pilih kasih dan disama ratakan.Semua keinginan Andre selalu dikabulkan dan dituruti ayah dan ibunya.


"Lihat ini?!.Ini tumpukan kertas yang bisa menghasilkan ratusan juta,hanya dengan satu kali tanda tangan ku saja.".Adam menunjuk berkas-berkas yang bertumpuk di meja kerja nya.


Berkas pengajuan yang berasal dari berbagai macam sumber.


"Sungguh?.".Andre tak pernah sedikitpun.


"Kau tidak percaya?.Mari ku buktikan.".


Adam membubuhkan tanda tangan nya disalah satu proposal pengajuan penyewaan salah satu Restoran yang dikelola nya sekarang.Lalu memanggil Susan lewat intercom.Secepatnya Susan masuk ke ruangan Adam,dengan langkah keberatan,membawa bayi dalam perut nya.


"Ada yang anda perlukan,Pak Adam?.".


Adam menyerahkan berkas pada Susan,yang tadi sudah ditandatangani nya."Susan kirim proposal ini melalui email.Nama dan nomor email nya nya tertera di sana.".


"Baik.".Susan pergi untuk melaksanakan perintah majikan.


"Andre,duduklah disini.Sambil menunggu.".Adam menepuk kursinya,meminta Andre duduk.


"Baiklah.".Andre manut,dan duduk."Beginikah rasanya?.".


Andre bertingkah konyol dan pecicilan,berputar-putar sambil duduk di kursi Adam.Tak hirau meski Adam dan Aura menertawai nya.

__ADS_1


"Tuan muda,boleh aku duduk juga?.Kaki ku pegal sekali.".Berdiri terus menerus cukup lama,Aura tak kuat lagi menahan pegal.


"Silahkan.".Adam mempersilahkan,dengan tatapan misterius menatap Aura.


Anggunnya Aura duduk di sofa ruangan Adam,dan memandangi sekeliling nya.Aura senang bisa berada di kantor yang tak bisa sembarangan didatangi orang atau pegawai.Ruangan yang luas nan nyaman,dengan atmosfer yang menenangkan.Kantor CEO dan wakilnya,memang selalu berbeda dari yang lain.


Perhatian Adam terus tertuju pada Aura.Aneh,Adam merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya saat menatap bola mata Aura yang indah.Rasa apa itu,jelasnya Adam tak tahu.Penampilan Aura memang sederhana,bahkan tak menarik.Namun kecantikan wajah nya menutupi kesederhanaan nya,dan mampu menghipnotis pikiran Adam.


"Apa yang kupikirkan?.".Adam mengerjap,sadar dari lamunannya,dan mengalihkan perhatiannya pada benda tipis yang ada di atas meja kerjanya.


Adam meraih lembaran kertas berwarna putih,teringat untuk menyalinnya.


"Kakak mau kemana?.".Melihat kakaknya akan pergi dengan membawa berkas,Andre menahan Adam.


"Fotocopy.".Adam memperlihatkan kertas ditangannya untuk difotocopy.


"Tuan muda,ijinkan aku menyalinnya untuk anda.".Aura merebut benda yang dipegang Adam.


Bergegas Aura keluar mencari mesin fotocopy disekitar area kantor dengan bertanya pada Susan,lebih dulu.Setelah tahu letaknya di mana,Aura menyalin berkas itu.Secepatnya kembali dengan beberapa helai kertas ditangannya.


"Ini tuan muda,sudah selesai di fotokopi.".Aura menyerahkan pada Adam berkasnya.


"Terima kasih.".Adam mengulas senyum tipis pada Aura,namun sesaat kemudian terhenyak.


Adam sadar,barusan tersenyum pada Aura.Sesuatu yang jarang dilakukan nya.'Pangeran Muka Datar' adalah julukan yang pernah didengar dari salah satu pegawai nya secara tak disengaja.Namun Adam tak masalah dengan julukannya itu.Adam acuh dan abai,tak menghiraukan gunjingan pegawainya.Adam tak memungkiri jika sikapnya selama ini dingin dan jarang sekali tersenyum.


Memikirkan itu,lama-lama tenggorokan Adam terasa dahaga.Adam meletakkan berkas dan mengambil cangkir minum.Namun sial,kosong tak bersisa.


Aura masih bergeming di hadapan Adam.Melihat Adam memandangi cangkirnya yang kosong,Aura segera bertindak dan mengambil cangkir Adam.


"Tuan muda mau minum?.Akan segera kuambil kan.".


Aura bergegas pergi,namun baru sampai di pintu,Andre menahannya dengan berteriak.


"Heiii,Aura.Kau jual mahal pada ku,tapi agresif pada kakak ku.".Andre tak terima,Aura bersikap tak adil.


"Ini dedikasi ku,sebagai asisten,pada tuan muda pertama.".Kilah Aura,berbalik dan mencelos pergi ke Pantry kantor untuk membuat kopi.


Lagi-lagi Susan yang memberi tahu tempatnya.Susan tak enak hati,dari tadi Aura terus mengambil alih tugas nya sebagai sekertaris Adam.Aura ingin membantu Susan yang tengah hamil besar.Namun Aura berdalih jika dirinya asisten Adam,jadi sudah seharusnya melayani Adam.


"Dedikasi katanya.".Mulut Andre menganga,memandangi pintu yang ditutup Aura.


Lesunya Andre bersandar di kursi Adam.Andre benar-benar kecewa pada Aura,karena membagi perhatian nya dengan kakaknya.Bahkan bertindak sendiri tanpa harus disuruh.


Adam bisa mengerti yang dirasakan Andre.Kemungkinan besar Andre iri dan cemburu.Namun aneh,Andre tampak akrab dan dekat dengan Aura.Padahal baru hari ini bekerja di rumah nya.


"Sepertinya kalian sudah saling mengenal baik.".Adam memperhatikan rona wajah Andre yang sedang menahan kesal.


"Sebelum nya kami pernah bertemu,dan aku menyukainya.".Aku Andre,sejujurnya.


"Tapi sepertinya sebaliknya.Dia tidak menyukai mu.Kurasa dia lebih menyukai ku.".Senang nya hati Adam,mengerjai Andre.


"Dia tidak mungkin menyukai mu.Kakak terlalu tua untuk nya.".Ketus Andre.


"Wanita biasanya lebih tertarik pada pria dewasa seperti ku.".Adam berdalih.


"Aku yakin,Aura pengecualian.".Tak gentar Andre melawan ke narsisan Adam,dan menanggapi serius perkataan Adam.


"Gadis itu yang kau ceritakan semalam,yang ingin kau nikahi?.".Adam masih ingat percakapan mereka tadi malam.


"Jika iya kenapa?.".Andre menatap Adam penasaran.


"Kau tidak sepadan dengan nya.Gadis itu tampak mandiri dan cerdas.Sementara kau...".Adam menggaruk pelipisnya,bingung mencari kata yang tepat untuk mendeskripsikan sosok Andre,saking banyak kekurangan nya."Bagaimana menjelaskan nya,ya?.".


"Astaga...Apa aku tampak buruk dimata mu,kak?.".Andre merengut sedih.


"Begitulah!.Kau seperti keledai.".Tandas Adam,dingin dan datar.


"Hisssh...".Andre langsung membenamkan wajahnya di meja.


Senyum dibibir Aura terus menghiasi wajahnya.Aura kembali ke ruangan Adam,dan membawa air putih dan secangkir kopi di atas nampan,lalu diletakkan di meja Adam.


"Tuan,ini untuk mu.".


"Kopi?.Aku tidak minta kopi.".Adam memandangi cangkirnya.


"Sekalian ku buatkan.Agar tuan tidak mengantuk.".Aura malu-malu mengatakan itu.


Hanya dua cangkir yang dibawa Aura,Andre meminta jatahnya."Aura,kau hanya membawa minum untuk kakak ku saja?.".


Ternyata benar,Aura sudah melupakan Andre."Maaf,aku lupa.".


"Huuuhhh...".Andre terus menghela kecewa.


Perlahan tapi pasti,Aura telah menyingkirkan nya.Kesekian kalinya Andre di acuhkan dan di abaikan Aura.


Susan datang ke ruangan Adam,untuk memberitahukan kabar baik yang ditunggu Adam dan Andre.


"Pak Cavin,uang sejumlah 21.500 USD dari Mr Leon dan Mrs Ashley,akan segera ditransfer ke rekening anda.Untuk Reservasi Restoran La Rossa cabang utama pekan depan,berikut menu makanan nya.Apa mau dirupiahkan?.".


"Sure.Terima kasih,Susan.".Sahut Adam senang.


"Dengan senang hati,Pak.".


Susan kembali ke tempatnya semula untuk mengabarkan perihal itu pada pihak bersangkutan.


Andre dan Aura berdecak kagum dan melongo tak percaya.Begitu mudahnya uang senilai ratusan juta masuk ke rekening Adam hanya untuk satu tanda tangan saja.Di surat pengajuan penyewaan Restoran,selama satu hari beserta menu makanan yang dipesan untuk tamu undangan pesta Anniversary pasangan asing.Keduanya teman Adam sewaktu kuliah di luar negeri dulu.Mereka sengaja berkunjung ke Indonesia untuk merayakan ulang tahun pernikahan,di restoran yang dikelola Adam.


***

__ADS_1


Terima kasih...Jangan lupa tinggalkan jejak, kritik dan saran untuk Author 😘


__ADS_2