Gadisku Sayang

Gadisku Sayang
BAB 1_ℙertemuan Yang Unik


__ADS_3


( Kamar Gavin )


Seorang pengantin wanita yang masih memakai gaun putihnya yang indah. Dengan wajah yang masih tertutup veil yang berhiaskan bordiran bunga dibagian pinggirnya dan tidak terlalu transparan. Duduk diatas sebuah ranjang pengantin yang begitu megah. Semerbak wangi ruangan itu. Dipenuhi dengan begitu banyak kelopak bunga mawar mewar. Dengan jari jemari lentik gadis itu yang diposisikan sedemikian rupa pada dagunya membuat kesan sexy bagi seorang pria yang melihatnya.


"Sayaaang." Ucap manja mempelai wanita itu dengan suara yang cukup menggoda.


Gavin lalu menghampiri pengantinnya. Ia duduk tepat didepan tubuh sang gadis. Ia sentuh tangan lembut gadis itu dengan kedua tangannya. Ia belai mesra tangan mulus itu. Dengan senyuman tampan yang sangat menggoda, ia pun mengecup punggung tangan sang gadis. Ia lalu letakkan salah satu tangannya pada pipi gadis itu. Membelai mesra wajah sang gadis. Sang gadis pun merangkul manja dileher suaminya. Mendekatkan wajahnya pada sang suami. Seakan memberi isyarat bahwa ia siap untuk dinikmati. Sang pria pun menempelkan dahinya dengan dahi sang istri. Dengan senyuman manja yang terukir indah di bibir sensualnya itu. Ia mengarahkan tubuh sang gadis untuk luruh ke ranjang. Dengan dahi yang masih saling berdampingan. Perlahan sang pria menuntun tubuh istrinya agar luruh ke ranjang. Pria itu kembali mengukir senyuman bahagianya. Lalu ia dekatkan wajahnya pada wajah sang istri. Semakin dekat. Ia kecup singkat bibir sang istri. Perlahan ia mengangkat tangannya untuk membuka penghalang yang menutupi wajah istrinya.


"Astaga, siapa kamu?" ucap Gavin panik saat melihat wajah yang ada dibalik veil itu.


"Ohh sayaaang, aku istrimu. Mengapa kau lupa? Ayahmu yang telah menikahkan kita pagi tadi. Apa sekarang kau ingat?" ucap sang istri dengan tatapan menggoda.


Gavin terus menggelengkan kepalanya, seakan menolak bahwa gadis yang beberapa menit lalu ia kecup bibirnya itu adalah istrinya. Reflek ia pun memegang pelan bibirnya. Dan kembali mengingat beberapa kejadian sebelumnya. Ia kembali menggelengkan kepalanya.


"Tidaaaaaaaaaaaaaaaaak." Teriak Gavin yang tak terima menikah dengan seseorang yang wajahnya bisa dibilang setengah pria.


"Hosh.. Hosh.. Hosh...." Deru suara nafas Gavin saat terbangun dari tidurnya.


Ia menyapu kasar wajahnya dengan salah satu tangannya. Lalu memeriksa sekelilingnya dan melirik jam weker yang ada diatas laci samping tempat tidurnya menunjukkan pukul 07:03 WIB.


"Alhamdulillah cuma mimpi. Heeuufftt. Gila ni Ryan, gara-gara omongannya. Aku sampe mimpi buruk kaya gitu. Amit-amit. Iiihhh." Ucap Gavin merasa jijik saat mengingat wajah gadis dalam mimpinya.


Deru telepon terdengar nyaring dalam ruangan itu. Gavin bergegas mengambil ponselnya. " Heuh.. masih pagiiiii." Keluh Gavin yang terpaksa mengangkat tombol hijau dilayar ponselnya itu.


"Halo pah?" ucap Gavin.


"Halo Boy. Selamat pagi. Gimana, kapan kamu bawa dia kerumah?" tanya papahnya dari seberang sana.


"Secepatnya pah." Jawab Gavin malas.


Sang mamah yang berada disamping suaminya pun ikut nimbrung dalam obrolan telepon dengan me-loudspeaker ponsel sang suami.


"Viiiin, kamu jangan sering-sering PHP-in kita dong. Kalo bikin janji itu yang jelas. Biar mamah sama papah tuh nggak nungguin terus, gimana si kamu." Celoteh mamah Gavin.


Gavin menepuk jidatnya dengan salah satu tangannya. "Siapa juga yang nyuruh nungguin aku. Astaga." Keluh Gavin dalam hatinya.


"Iya iya mah, pah, aku ngerti. Mamah sama papah tenang aja. Nanti kalo udah waktunya, aku pasti bawa dia kerumah kok." Ucap Gavin menahan kesal.


"Kapan waktunya vin? Dari dulu, Kata-kata itu terus yang selalu kamu janjiin. Papah dan mamah itu butuh kepastian Vin. Bukan janji. Udah pokoknya kalo sampe akhir bulan ini, kamu masih belum membawa gadis itu, tanggal 1 bulan depan papah bakal bawa calon istri kamu beserta keluarganya dan penghulu kerumah ini. Titik." Suara ancaman papah Gavin yang kemudian mematikan sambungan telepon.


Gavin sampai harus menjauhkan ponsel itu dari telinganya karena begitu kerasnya suara sang papah.


"Hahh? Sadis ni papah. Ngebet banget si pengen aku nikah. Gila. Akhir bulan? Itu kan satu minggu lagi. Dimana aku bisa dapetin calon istri dalam waktu secepat itu. Kalo aku harus nikah sama gadis pilihan papah, iiih nggak, nggak, nggak, itu nggak boleh terjadi. Nanti kalo kejadiannya kayak dalam mimpi tadi gimana. Iiiiiihh. Yang ada nanti malah jauh lebih ribet urusannya. Heemmft. Tapi dimana aku harus cari gadis yang cocok dalam waktu seminggu? Aaaaarrrrggghh. Sial." Ucap Gavin kesal yang lalu menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang dan membenamkan wajahnya pada bantal.


...****************...


( PT.Gold Star Gavindra - Kantor Gavin )


Saat sampai di Kantornya, Gavin hanya sibuk memikirkan ancaman orang tuanya di sepanjang jalan menuju ruang kerjanya,

__ADS_1


sehingga ia hanya melemparkan sebuah kunci mobil pada satpam yang menyapanya di depan kantor tanpa membalasnya, saat ia baru saja turun dari mobilnya.


( Ruangan CEO )


Gavin kembali memikirkan ancaman orang tuanya saat ia baru saja tiba diruangan kerjanya. Ia pun kembali teringat dengan kejadian mengerikan dalam mimpinya. Kedua hal itu selalu menggangu isi kepala Gavin sejak pagi tadi. Selalu membuat hatinya tak tenang dan gelisah. Karena kali ini orang tuanya seakan benar-benar serius untuk menikahkannya. Ia kembali dibuat frustrasi oleh tindakan orangtuanya itu.


"Hemmm. Apa aku pacarin salah satu karyawan Kantor aja ya, sesuai dengan saran Ryan itu. Ahh nggak-nggak itu kurang efektif. Dia malah jadi kepedean nanti, itu bahaya. Yang ada nanti dia semakin terang-terangan buat deketin aku. Dengan wajah ku ini, bukan hal yang susah buat aku dapetin pacar. Tapi diantara mereka yang ku kenal, nggak ada yang menarik sekalipun. Walaupun hanya pacar bayaran. Seenggaknya dia haruslah wanita yang cantik dan berpendidikan. Heemmmmftt. Lagian mamah sama papah kenapa si ngebet banget pengen aku nikah." Keluh Gavin tak bersemangat.


"Tok.. Tok.. Tok...." Seorang pria mengetuk pintu ruang kerja Gavin dari luar.


Gavin hanya melirik pintu itu.


"Saya Ryan Tuan." Ucap pria itu.


"Ya masuklah." Sahut Gavin terdengar dengan suara putus asa.


Suara pintu terbuka dan tertutup kembali setelah Asisten Ryan memasuki ruangan Gavin.


"Maaf Tuan Muda, saya datang terlambat." Ucap Ryan.


"Em." Jawab Gavin singkat dengan ekspresi yang sulit diartikan.


Gavin tahu asistennya terlambat karena ia baru saja selesai menjalankan perintah papahnya. Dan sang asisten pun tau, dengan apa yang ada dalam pikiran bosnya saat ini. Apalagi jika bukan tuntutan kedua orangtua bosnya itu. Sejak dulu mereka sangat ingin Gavin menikah dan mempunyai seorang anak. Namun bertahun-tahun Gavin bahkan seakan menutup diri dari hal-hal yang berbau wanita.


"Maaf, Tuan Muda apakah tidak sebaiknya anda mulai dekat dengan salah satu wanita. Tidak harus dengan wanita dari Kantor ini bila anda enggan.


Anda bisa memulainya dengan teman sekolah atau teman masa kecil anda. Ini bisa menjadi poin tersendiri bagi kedua orangtua anda Tuan.


"Hemmm. Ya baiklah. Kamu carikan beberapa kriterianya. Cari dari saran yang kamu beri tadi." Sahut Gavin lesu dan pasrah.


"Baik Tuan Muda." Jawab Ryan dengan tegas lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


Gavin mencoba sedikit membuka hatinya untuk mendekati seorang gadis. Demi memenuhi tuntutan kedua orang tuanya itu. Ia mulai pasrah dengan keadaannya saat ini.


...****************...


Jam kantor sudah menunjukkan pukul 16:43. Memberikan tanda pada yang melihatnya, bahwa pada saat ini hari sudah hampir petang.


Beberapa karyawan kantor itu mungkin sudah bersiap untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.


Namun keadaan berbeda dengan CEO perusahaan itu. Ia tampak gelisah dan betah berlama-lama didalam ruangannya itu.


"Apa ada jadwal untuk nanti malam Yan?" tanya Gavin pada asistennya.


"Ya Tuan Muda. Ada pertemuan dengan Pak Lionel dari PT. Makmur Jaya Abadi pada jam 7 malam nanti." Sahut Ryan.


"Tunda saja pertemuan itu Yan." Ucap Gavin dengan wajah frustasinya.


"Baik Tuan Muda. Saya permisi keluar untuk menghubungi Pak Lionel." Jawab Ryan yang paham dengan isi kepala bosnya itu.


"Ya." Jawab Gavin singkat dengan kedua kaki yang ia letakkan bertumpukan diatas meja kerjanya, sedangkan tangan kirinya menutupi sebagian wajah tampannya itu.

__ADS_1


Ryan lalu berjalan keluar meniggalkan Gavin sendirian diruangan itu tanpa menutup penuh pintu ruang kerja bosnya. Beberapa menit kemudian ia masuk kembali ke dalam ruang kerja bosnya.


"Tuan apakah anda ingin bermalam di kantor hari ini?" tanya Ryan.


"Nggak. Sebentar lagi aku pulang. Kamu pulang lebih awal malam ini. Aku akan membawa mobil sendiri. Mana kuncinya?" sahut Gavin.


"Apa anda yakin Tuan Muda?" tanya Ryan sedikit cemas.


"Iya aku yakin. Cepat berikan kuncinya dan pulanglah." Sahut Gavin masih dengan nada gelisahnya.


"Baik Tuan Muda. Aku pamit. Berhati-hatilah berkendara nanti Tuan." Ucap Ryan sambil meletakkan kunci mobil Gavin yang ia ambil dari security pagi tadi diatas meja.


Gavin hanya menganggukkan kepalanya. Dan Ryan pun berlalu pergi meninggalkan ruangan kerja bosnya.


Beberapa saat kemudian Gavin terbangun. Ia berdiri lalu memakai jas yang ia letakkan di tiang penyimpanan itu.


Ia memungut kunci mobil yang ada diatas meja kerjanya. Dan berlalu pergi meninggalkan ruang kerjanya.


...****************...


( Jalan Raya )


Dengan cepat Gavin mengendarai mobilnya. Membelah jalanan malam yang terlihat masih cukup ramai. Sesekali pikirannya kembali teringat dengan ancaman papahnya dan mimpi buruknya itu. Membuatnya gelisah dan menjadikannya tak terlalu fokus membawa mobilnya.


"Duuuuaaarrr." Suara bagian depan mobil Gavin yang tiba-tiba menabrak tubuh seorang gadis.


Gadis itu sedikit terpental kesamping, jatuh disebuah tanah kosong yang dekat dengan sebuah pohon.


"Aawwww.. Kakiku.. Aduuuhh.." Rintihan gadis itu menahan sakit.


"Astaga. Apalagi ini. Haaahhh." Ucap Gavin mengacak rambutnya kasar dengan disertai hembusan kasar nafasnya.


Ia lalu mematikan mesin mobilnya. Melepas seat belt yang ia pakai. Dan segera keluar untuk mengecek keadaan korban yang ia tabrak.


"Ya ampuuun. pingsan lagi. Ck." Dengus Gavin bingung melihat gadis yang ia tabrak tak sadarkan diri.


"Ya ampun dia pingsan mas. Ayo mas cepet bawa dia kerumah sakit." Ucap salah seorang bapak.


"Yaudah tolong bantu pak, cepet-cepet bawa dia masuk ke mobil." Sahut Gavin agak panik.


Mereka lalu mengangkat tubuh gadis itu kedalam mobil.


"Makasih Pak." Ucap Gavin yang kembali menaiki mobilnya saat gadis yang ia tabrak itu sudah berada di kursi belakang. Ia pun segera membawa gadis itu ke rumah sakit terdekat.


Bersambung........


📝


Veil \= Kerudung Pengantin


Seat Belt \= Sabuk Pengaman

__ADS_1



__ADS_2