
( Kamar Gavin )
"Cih. Dasar sombong. Bukannya bersyukur. Enteng banget kalo ngomong. Dia nggak mikirin hati orang yang udah ngasih hadiah-hadiah itu apa? Santai banget bilang mau dikasih ke orang lain. Belum tau aja lo, gimana rasanya kalo nggak punya uang. Iiiiih gara-gara surat pernyataan itu, gue jadi nggak bisa bales tuh cowok Kutub." Seru Visha kesal dalam hatinya.
Visha pun terpaksa membuka beberapa hadiah itu tanpa bantuan Gavin. Visha terkejut saat melihat hadiah pemberian mamah Gavin.
"Ya ampun mamaaah. Kenapa harus sampe kayak gini? Heemmmm." Ucap Visha lemas.
...****************...
(Gang dekat Rumah Visha)
Saat tengah berjalan di gang dekat rumahnya. Tiba-tiba Visha terkejut dengan beberapa pria di depannya yang sedang berkumpul di pinggiran gang. Mereka sedang berpesta miras rupanya.
"Mereka lagi! Ckck. Hmm." Kesah Visha muak.
Beberapa pria itu lalu mengalihkan pandangannya pada Visha, saat gadis itu semakin mendekati mereka.
"Oooh lihat bro. Tavisha My Queen datang. Dia pasti kangen nih sama gue. Hehe" ucap pria A.
Ada dua orang pria yang tidak mabuk, langsung kabur saat melihat Visha datang. Namun beberapa pria lain yang mabuk tetap pada posisi mereka.
Visha sangat muak berdebat dengan mereka, "Kangen kepala lo, hah. Kalian ini budeg ya. Masih berani pada minum disini! Bubar cepet!"
"Jangan galak dong sayang. Mending sini temenin abang. Hahaha." Ucap pria A.
"Ckckckck. Visha yang cantik tapi bawel. Hehe" ucap pria B.
"Lo mentang-mentang cantik, jadi belagu, jangan ganggu kita nona. Pergi sana." Ucap pria C.
Visha lalu mengambil ember yang berisi air milik tetangganya. Kebetulan sumur tetangganya itu berada di luar rumah.
"Byuuurrrr" Visha langsung mengguyur semua air dalam ember itu pada pria-pria itu.
Beberapa dari mereka ada yang tersulut emosi. Dan memandang kesal pada Visha. Rupanya mereka bukan warga desa itu. Mereka warga desa lain yang kebetulan ikut berkumpul dengan beberapa pria tetangga Visha.
Namun tak sedikit dari mereka yang bangun hanya untuk pindah tempat ke sebelahnya yang lebih kering. Karena tempat yang mereka duduki sebelumnya basah terkena air yang Visha guyur.
Mereka masih tetap berada disana karena badan mereka yang sudah terlalu lemas untuk bangun. Merekalah tetangga Visha yang tahu siapa Visha. Jadi mereka tak tertarik untuk ribut dengan Visha.
"Lo ngeyel banget ya jadi cewe. Udah gue bilang pergi. Jangan ganggu kita. Lo mau cari mati. Apa lo mau gue makan. Hahaha." Pria C.
Gavin yang sedari tadi memperhatikan Visha dari kejauhan nampak bimbang dan cemas melihat kejadian itu. Ia hendak langsung menghampiri Visha untuk membantunya.
Namun ia menghentikan langkahnya karena dikejutkan dengan aksi Visha yang justru tak takut sama sekali dengan pria-pria mabuk itu.
"Buuggh" tendangan kaki Visha pada perut pria C yang berani memancing emosinya.
Membuat pria C terjungkal ke belakang. "Cewe sialan. Lo benar-benar cari mati sama gue. Kurang ajar." Pria itu maju hendak menangkap Visha.
Namun dia kalah cepat dari Visha. Visha dengan gesit menghindar dan langsung menghajar punggung pria itu dengan sikutnya. Sangat keras.
Mungkin Visha menggunakan tenaga dalamnya. Karena setelahnya sang pria langsung luruh ke lantai tak sadarkan diri.
Gavin yang sedari tadi mengikuti sang istri pun sempat tak percaya saat melihat aksi yang Visha lakukan.
Visha kembali melihat kearah pria-pria itu. Ia berjalan menghampiri mereka. Beberapa dari mereka yang sedikit sadar langsung berlari menjauhi tempat itu.
Namun masih tersisa 3 orang disana, yang hanya diam memperhatikan aksi Visha.
__ADS_1
"Lo mau jadi jagoan. Mentang-mentang udah numbangin dia. Ckckck sayang banget lo cuma mimpi. Padahal lo sangat cantik. Harusnya lo jadi pacar gue aja. Hahaha." Ucap pria D.
"Mereka semua itu payah. Kenapa harus takut sama cewe kaya gini. Padahal dia hanya seorang diri. Melawan kita bertiga pun nggak bakal sanggup. Hahaha." Sambung pria E.
"Hehehe. Kemarilah nona. Temani saja kami. Hahaha" sahut pria F.
"Bruuugghh." Tubuh pria F terjungkal ke belakang akibat tendangan Visha.
"Mulut sampah kayak kalian emang susah ya di bilangin. Cih." Ucap Visha kesal.
Namun tanpa diketahui Visha, dari belakangnya nampak pria D yang hendak melemparkan sebuah botol bekas minuman pada Visha.
"Craaaangg" Botol itu pecah hancur ke tanah tak jadi melukai kepala Visha, karena tendangan cepat dari Gavin yang tepat mengenai lengan pria D.
Visha terkejut saat melihat Gavin, "Gavin? Lo kok ada disini?"
Namun Gavin tak menjawab pertanyaan Visha. Ia justru berbalik menatap pria-pria itu, "Ini terakhir kalinya kalian menyinggung istriku."
"Brraaaakk" tendangan keras Gavin pada sebuah kursi kayu, membuat kursi itu hancur seketika.
Ketiga pria itu terkejut saat melihat wajah pria di depannya. "Ga-ga-vin-dra. Tu-tuan Ga-vindra."
Ketiga pria itu panik saat kembali mengingat perkataan Gavin sebelumnya. Perkataan Gavin itu bagaikan sebuah petir yang menyambar kepala mereka. Bahkan mereka kesulitan untuk menelan salivanya.
"Ma-maafkan ka-kami Tuan. Ka-kami ti-tidak akan me-menyinggung i-i-istri anda lagi." Ucap pria D.
"Lalu?" sahut Gavin.
"Ka-kami tidak akan membuat ulah lagi Tuan." Ucap pria F.
"Minta maaf padanya!" sahut Gavin lagi.
"Maafkan kami Nyonya. Ampunilah kami!" ucap ketiga pria itu serentak.
Visha masih merasa bingung dengan apa yang terjadi pada ketiga pria itu, "Ya ya udah gue maafin. Udah bangun-bangun, lebay banget si"
Mereka pun segera bangun.
, "Terimakasih Nyonya." Dan dengan cepat bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Merasa lega karena urusannya dengan Gavin tak menjadi panjang lebar.
"Tunggu" ucap Gavin menghentikan langkah ketiga pria itu.
Membuat tubuh ketiga pria itu kaku dan bergetar. Mereka pun berbalik. Menatap Gavin dengan perasaan yang sangat cemas.
"Tidak ada lain kali." Ucap Gavin lagi pada mereka.
"Ba-baik Tuan." Dengan tubuh yang masih bergetar mereka langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Gavin kembali menghadap kearah Visha. "Biar ku antar."
Mereka pun berjalan bersama melewati gang kecil itu menuju rumah Visha.
"Vin, mereka itu kenapa, kok tiba-tiba pada takut saat liat lo? Apa lo seorang pembunuh bayaran?" tanya Visha yang penasaran.
"Heuh, apa itu penting?" Sahut Gavin singkat.
"Cih.. dasar es kutub." Suara hati Visha.
...****************...
__ADS_1
( Rumah Orang Tua Visha )
"Kenapa kalian nggak ngabarin Ibu dulu, kalau mau mampir kesini? Ibu kan nanti siapkan makanan untuk kalian. Kalau dadakan seperti ini, apa yang bisa Ibu sandingkan untuk kalian. Ini, malah kalian yang repot-repot bawa hadiah untuk Ibu." Ucap Ibu Afifah yang merasa tak enak pada anak dan menantunya.
"Nggak apa-apa Bu. Nggak perlu repot-repot. Kami tadi sedang jalan-jalan disekitar sini. Jadi kami putuskan untuk mampir saat hendak pulang tadi." Sahut Gavin ramah.
"Iya Bu, nggak perlu repot-repot. Kami sudah makan di luar kok Bu." Ucap Visha menimpali.
"Ya sudah kalau begitu, kalian nginep disini saja ya malam ini, biar besok pagi Ibu bisa masak buat kalian. Mau ya Nak Gavin? Hehehe." Tanya Ibu Afifah dengan raut wajah memohon.
"Buu, Gavin kan sibuk, akhir pekan aja kita nginepnya ya Bu. Besok pasti Gavin buru-buru pergi ke kantornya. Rumah Ibu kan cukup jauh dari kantornya Gavin." Sahut Visha memberi pengertian pada Ibunya.
"Nggak apa-apa kok sayang. Besok aku bisa ambil cuti. Kan ada Ryan, dia bisa handle semua kerjaan aku nanti. Lagian aku juga mau nyobain masakan Ibu kamu. Hehe." Jawab Gavin senang.
"Tuh kan, Nak Gavinnya aja nggak keberatan kok Sa. Hehe. Besok kamu mau makan apa Nak Gavin, nanti Ibu masakin?" ucap dan tanya Ibu Afifah bahagia.
Visha hanya terdiam dan tak menjawab ucapan sang Ibu. "Cih. Mengapa aku merasa Gavin sedang merebut hati dan perhatian Ibu ya. Apa dia mau bales rasa kesalnya ya, karena mamahnya sering nyuekin dia semenjak aku jadi istrinya? Cih. Pendendam sekali. Dasar es kutub." Seru Visha dalam hati.
"Aku akan membuat Ibumu lebih menyanyangiku Visha. Hehehe. Lihatlah ekspresi wajah tidak sukamu itu. Benar-benar menggemaskan." Suara hati Gavin.
...****************...
( Kamar Tavisha )
"Aneh, pria-pria itu kenapa takut ya liat Gavin?" ucap Visha bingung.
"Drrrt drrrrrt" getaran ponsel Visha yang diiringi sebuah alunan nada lagu.
Sesaat Visha melirik layar ponselnya dan langsung menekan tombol hijau pada layar itu, "Halo Jen, kenapa? Tumben banget malem-malem telfon?"
"Tumben apanya? Gue telfon lo daritadi kali Sa. Kemana aja si lo? Gue kira udah molor." Sahut Jennie agak kesal.
"Sorry. Gue nggak tau kalo tadi lo nelfon." Jawab Visha singkat karena ngantuk.
"Eh Sa! Lo tau nggak besok Gavindra mau survey ke toko loh." Ucap Jennie semangat.
"Mana gue tau Jen, gue kan bukan fansnya. Hoaaam." Sahut Visha sambil menutup matanya.
"Iiiih gimana si lo Sa. Katanya lo penasaran sama cowo itu. Ya cowo itu tuh Gavin Sa. Indra yang ngalahin beberapa mafia itu. Tapi walaupun dia itu dingin dan menyeramkan, gue tetep ngfans kok sama dia. Hehehe." Ucap Jennie bahagia.
"Oh ya udah Jen. Sampe ketemu besok di toko ya. Gue ngantuk banget ni. Bye." Ucap Visha yang langsung mematikan tombol merah pada layar ponselnya.
Ia pun kembali memejamkan matanya. Namun tiba-tiba ia teringat perkataan Jennie tentang Gavin yang ternyata Indra. Perkataan sahabatnya itu mampu menghilangkan rasa kantuk yang sebelumnya ia dera, "Hah? Indra ketua Black Sword itu Gavin?"
Visha lalu kembali mengingat video yang Ryan tunjukkan padanya dulu. "Pantes aja macan-macan itu langsung jadi kucing penurut. Ya ampun, suami gue ternyata Indra. Walaupun dia populer dan super ganteng, tapi ngeri juga sih kalo tau dia Indra. Ah bodoamat deh, mau Indra kek, mau Gavin kek, kalo dia berani nindas gue. Jangan harap gue berbelas kasih. Hm."
"Berbelas kasih sama siapa?" ucap Gavin tiba-tiba yang sudah berada di kamar Visha.
"Ngapain lo disini? Maen masuk aja lagi, bikin kaget aja." Sahut Visha jutek.
"Ya mau tidurlah, kamu kira aku mau bersih-bersih kamer ini. Hoooaaaam. Ngantuk banget nih." Sahut Gavin tak mau mengalah. Gavin pun langsung membaringkan tubuhnya keatas ranjang tepat disamping Visha.
"Ngapain lo tidur disini. Sana pindah ke sofa. Ini kan kamer gue. Waktu di kamer lo, gue juga tidur di sofa. Nggak epic banget si lo." Cerocos Visha kesal.
"Ingat kembali pernyataan yang kamu buat Nyonya Gavin. Semua yang aku lakukan selalu benar. Bahkan kamu sudah menandatangani surat pernyataan itu diatas materai. Ckckckck. Apa secepat itu kamu lupa Nyonya?" ucap Gavin yang sangat suka menggoda Visha.
"Cih, dasar es kutub. Siapa yang sebenarnya membuat surat pernyataan itu. Akupun sangat terpaksa menandatanganinya." Sahut Visha kesal dalam hati, lalu melempar guling kearah Gavin. Ia pun kembali tidur membelakangi Gavin.
Bersambung........
__ADS_1