
"Cih. Wanita ini, bukankah dia wanita yang menabrakku saat itu. Nggak nyangka bakal ketemu dia disini. Lihat aja, gue bales lo ya.
Dia pasti suka sama Gavin. Oke, gue panasin aja kali ya. Hehehe. Kangen banget gue, udah lama nggak ngisengin orang. Pffft." Seruku dalam hati.
Namun Cleo yang memperhatikanku, sadar akan ekspresi wajahku itu. Ia pikir aku sedang menertawakannya. Ia pun tak segan lagi membalas tatapan tidak sukanya padaku dengan jelas, tanpa sepengetahuan Gavin tentunya
"Cih. Apa yang dia tertawakan? Bahkan aku lebih cantik darinya. Lagian kenapa Gavin lebih milih dia sih? Aku nggak rela." Seru Cleo dalam hatinya.
Sengaja ku lingkarkan kedua tanganku di salah satu lengan suamiku. Lalu ku senderkan kepalaku di salah satu pundaknya. Dengan ekspresi manja yang hampir tidak pernah ku lakukan.
"Ada apa ini? Mengapa dia begitu manis dan menggemaskan?" seru Gavin dalam hatinya saat menyadari perubahan sikapku.
"Cih. Apa dia sengaja? Benar-benar menyebalkan." Seru Cleo dalam hatinya.
"Sayaaang, disini sangat panas, aku kegerahan, ayo kita cari tempat yang lebih sejuk. Aku tidak mau sampai mati kepanasan." Ucapku manja pada Gavin saat melihat ekspresi tak suka dari Cleo.
Rupanya Gavin menyadari bahwa aku dan Cleo sedang saling memperhatikan. Ia tersenyum tipis melihat tingkahku itu.
"Istri yang nakal. Jadi dia sengaja melakukannya di hadapan Cleo? tapi bagus juga, itu bisa membuat Cleo agar tidak selalu mendekatiku, wanita itu benar-benar membuatku risih." Seru Gavin dalam hatinya saat mengingat sedikit kenangannya tentang Cleo yang dulu selalu menempel padanya.
Gavin pun membelai lembut rambutku. Dan ia mengecup mesra puncak kepalaku. Lalu tangannya ia letakan diatas pundakku, ia merangkulku mesra.
"Kamu mau pindah kesebelah mana sayang?" tanya Gavin padaku dengan memperhatikan wajahku dari samping.
"Dari jarak yang sedekat ini, Visha benar-benar terlihat semakin cantik. Ingin sekali ku sentuh bibir itu." Seru Gavin dalam hatinya sambil tersenyum manis memperhatikan bibir mungilku.
"Cih. Mereka pikir ini dimana? Seenaknya saja bermesraan di depanku. Benar-benar menyebalkan." Seru hati Cleo lagi.
"Hahaha. Dia terlihat semakin kesal. Aku sangat senang melihatnya. Pffft." Seruku lagi dalam hati saat memperhatikan ekspresi kesal Cleo.
Aku langsung mengecup sekilas pipi kanan Gavin dengan kedua tanganku yang memeluk tubuhnya. Senyum manis dari bibirku, ku berikan pada suami bayaranku itu. Dan ia pun dengan cepat membalas senyumanku, dengan senyuman yang tak kalah manisnya.
"Istriku ini benar-benar sangat menggemaskan. Wajahnya sangat cantik. Senyumnya benar-benar sangat indah." Seru Gavin lagi dalam hatinya.
Dengan kedua tangan yang masih memeluk Gavin. Aku pun kembali berkata manja padanya. "Sayaang, ayo cepat kita pindah ke balkon itu saja (menunjuk kearah balkon), aku merasakan aura yang semakin panas disini. Aku takut hatiku pun akan terbakar."
__ADS_1
"Pffftt. Yang dia maksud pasti aura kecemburuan dari Cleo. Gadis ini benar-benar sangat berani dan menggemaskan. Aku suka itu." Seru Gavin dalam hatinya sembari memperhatikan wajahku dengan senyumannya.
"Baiklah sayang, ayo kita kesana." Sahut Gavin lembut padaku.
"Cleo kami kesana dulu ya." Ucap Gavin pada Cleo.
"Ah iya Vin, silahkan." Sahut Cleo pada Gavin.
"Permisi Nona Cleo." Ucapku sengaja dengan nada yang sesopan mungkin pada wanita itu.
Kami pun berlalu meninggalkan Cleo tanpa ku lepas sedikit pun tanganku dari tubuh Gavin.
"Nikmatilah rasa panas itu Nona. Pfffft. Menyenangkan sekali." Seruku dalam hati.
"Cih. Menyebalkan. Dia sengaja sekali memamerkan kemesraannya itu. Keterlaluan. Awas ya kamu, kejadian ini pasti akan ku balas." Suara hati Cleo sambil memandangi kedua tubuh yang berlalu meninggalkannya.
Gavin dengan cepat menyeret tubuhku kedinding, saat kami sampai di balkon yang ada di samping taman rumah itu.
Tangan kirinya ia letakan pada dinding sebagai tumpuan. Sedangkan tangan kanannya membelai mesra wajahku, dari kening mata, hidung, pipi dan bibir.
Gavin langsung berbisik padaku saat melihat ekspresi tidak suka dariku karena aktivitas tangannya itu, "Ada Cleo yang sedang memperhatikan kita."
Gavin pun kembali membelai seluruh bagian wajahku, kali ini dengan sangat perlahan. Lalu jarinya berhenti dibibirku, ia belai mesra bibir mungilku.
Dengan senyuman manisnya, ia kembali mendekati wajahku. Membisikkan sebuah kalimat lagi padaku. "Sepertinya Cleo semakin kesal melihat kita. Ide apa yang ingin kau berikan sayang?"
Suara lembut itu seketika membuat tubuhku bergetar. Membuatku tak fokus untuk mencerna maksud dari perkataannya.
Gavin kembali tersenyum, memperhatikan wajahku yang seakan sedang terpesona olehnya.
"Gadis ini benar-benar selalu membuatku bergairah. Mengapa dia selalu manis dan menggemaskan?" seru Gavin kembali dalam hatinya.
Tangan Gavin kembali mengusap-usap bibirku. "Sayaang bagaimana selanjutnya? Cleo semakin putus asa memperhatikan kita."
"C-cleo? Apa wanita itu sangat mencintaimu? Lalu mengapa kau tidak menikahinya saja?" tanyaku pada Gavin ngasal.
"Dia berbeda denganmu sayang." Ucapnya sambil terus mengusap-usap bibirku.
__ADS_1
"Hah? Memang apa perbedaannya?" tanyaku lagi padanya.
"Karena kau lebih mengoda darinya sayang. Kau sangat menggemaskan." Sahut Gavin dengan suara lembutnya.
"Cih. Dasar es kutub modus." Ucapku dengan bibir yang mengerucut.
"Aku benar-benar tersiksa saat ini. Istriku sungguh sangat menggemaskan. Aku sangat ingin merasakan dia secepatnya." Seru Gavin dalam hatinya.
"Dia benar-benar tampan." Ucapku senang melihatnya.
Seketika Gavin pun langsung mengecup bibir mungilku. Membuat mataku terbelalak kaget.
"Apa ini? Dia nyium gue tadi? Astaga. Jadi seperti rasanya ciuman? Ah bukan-bukan ini hanya kecupan." Seruku dalam hati yang terkejut sekaligus senang dengan tindakan suamiku itu. Namun karena gengsi, aku pun tak berani mengakuinya.
Perlahan ia lepaskan bibirnya dari bibirku. "Jangan membantah, Cleo masih disana!"
Seketika aku pun manut padanya. Namun beberapa saat kemudian, aku menjadi penasaran dengan perkataannya.
"Disana? Mengapa yang kau maksud bukan disini atau di dekat kita?" tanyaku padanya.
"Karena Cleo sejak tadi memang di sana sayang. Dia di sana selalu memperhatikan kita. Apakah ucapanku salah?" ucap Gavin dengan senyum nakalnya.
Seketika aku pun menengok sekeliling. Dan ternyata Cleo tidak ada di dekat kami.
"Sialan. Dia menipuku. Ah tapi aku menyukai sikapnya tadi. Dia sangat manis. --- Nggak-nggak, dia nggak boleh berada diatas angin." Seruku lagi dalam hati.
"Dasar es kutub si@lan. Kamu ngerjain aku? Cih, mengambil kesempatan dalam kesempitan. Awas ya, aku pasti membalasnya." Ucapku padanya yang ku buat seakan sedang kesal.
"Aku? Kamu? Sejak kapan kau memanggil suamimu ini dengan begitu lembut? Biasanya lo gue lo gue. Hahaha, ternyata kau sangat menyayangiku." Ucapnya dengan percaya diri.
"Dia benar. Mengapa gue jadi begini ya? Ah nggak-nggak, dia nggak boleh kepedean." seruku lagi dalam hati.
"Cih. Jangan ge'er lo. Ini karena akting gue tadi yang terlalu bagus. Makanya sampe kebawa-bawa manggil lo dengan aku kamu." Bantahku tak mau mengalah.
"Benarkah yang dia katakan? Apa dia tak tertarik padaku?" ucap Gavin dalam hatinya.
๐๐ฎ๐ป๐ผ๐ช๐ถ๐ซ๐พ๐ท๐ฐ.....
__ADS_1