Gadisku Sayang

Gadisku Sayang
BAB 16_Rumah Sakit


__ADS_3

Gavin pun langsung berbalik setelah menutup pintu kamar mandi. Ia langsung bergegas menuju pintu keluar. Dengan senyuman canggung yang terlukis di bibir seksinya itu. Ia pun berlalu keluar lalu kembali menutup pintu.


"Hahahaha. Dasar es kutub. Dia itu salting karena gue peluk tadi ya? Hahaha. Menggemaskan sekali. Ternyata suamiku sangat lucu. Hahaha." Ucapku bahagia mengingat tingkah Gavin itu.


"Ya ampun. Apa yang terjadi padaku? Benar-benar memalukan. Aaakkkh." Ucap Gavin kesal sambil mengacak kasar rambutnya.


"Sakit juga luka gue. Emmmmm, tapi nggak apa-apa. Luka ini nggak seberapa dibandingkan dengan latihan gue dulu.


Yang penting tuh cewe dapet pelajaran, hehe. Malu banget pasti dia, tiba-tiba masuk penjara aja. Hahaha. Biar tahu rasa, siapa suruh berani macam-macam sama gue." Seruku sangat bangga.


Beberapa saat kemudian Gavin pun masuk dengan membawa beberapa kantong makanan dan minuman.


"Aku nggak tau kamu suka apa, jadi aku beli semua makanan itu. Makanlah Sha. Biar kamu cepat pulih." Ucapnya padaku.


"Sebanyak ini Vin? Lo kira gue kelaperan?" ucapku agak kesal.


"Kamu mau makan nggak? Kalo nggak ya udah nggak usah di makan, ribet amet si." Ucapnya kesal.


"Cih. Dasar nggak gentle. Bukannya tadi dia bilang suka sama gue, tapi malah jutek. Bukannya cari perhatian gue gitu. Ah gue tau, dia pasti malu ya kalau gue tau dia suka sama gue, dia pasti ngira gue nggak suka sama dia. Emmm, gue kerjain lo." Seruku dalam hati.


"Oh ya, aku belum ngabarin mamah sama papah. Kalau ibu kamu, udah aku kabarin, bentar lagi dia mungkin sampai." Ucapnya padaku.


"Kenapa lo nggak ngabarin mamah papah juga?" sahutku.


"Ini mau aku kabarin Sha." Sahutnya.


Beberapa saat kemudian, ibu pun datang. Gavin menyambut senang ibuku. Ia menuntun ibuku dari pintu sampai ke ranjang nakas.


"Sayaang, gimana keadaan kamu? Kenapa bisa seperti ini nak? Apa yang artis itu katakan? Ibu sangat tahu keahlian bela diri kamu Visha, bagaimana bisa kamu terluka hanya karena gadis seperti Cleo?" cecar ibu padaku.


Aku melirik Gavin sebelum menjawab pertanyaan ibu. Aku pun berucap, "Ini nggak terlalu sakit kok bu, ibu tenang aja. Hehehe. Soal wanita itu --- Visha nggak tau bu. Dia tiba-tiba mengancam Visha untuk menjauhi Gavin dan menusuk Visha dengan pisau begitu saja."


"Jangan bohong Visha! Katakan apa yang terjadi?" ucap ibuku lagi yang agak membentak.


"Hehehe. Ibu memang paling tahu Visha." Sahutku cengengesan sambil memutar sebuah rekaman suara.

__ADS_1


Rekaman itu berisi percakapanku dengan Cleo saat kami berada dalam toilet itu. Aku sangat tahu bagaimana ibu, dia pasti tidak percaya dengan ucapanku begitu saja tanpa adanya sebuah bukti yang mendukung.


"Astaga Cleo. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu. Sayaaang, kamu tenang saja ya. Aku sudah memutuskan semua kontrak kerja yang berhubungan sama dia.


Mulai sekarang, aku nggak akan berhubungan atau bertemu dengannya lagi. Lagipula aku mencintaimu dengan tulus sayang. Aku tak pernah sekalipun memandang statusmu sayang." Ucap Gavin lembut sambil memelukku dan mengecup puncak kepalaku. Sepertinya ia sangat tulus mengucapkan isi hatinya itu.


"Aku nggak akan bisa tenang, dan diam saja saat mengetahui gadis seperti dia yang. Aku nggak akan rela gadis manapun mengharapkanmu seperti itu. Gadis seperti Cleo itu harus diberi pelajaran." Sahutku meyakinkannya.


"Tapi nggak harus melukai dirimu sendiri seperti ini yang. Dengar, untuk kedepannya, biar aku saja yang mengurus Cleo. Aku pastikan dia nggak akan berani untuk membuatmu seperti ini lagi. Oke?" ucapnya padaku.


"Gadis ini benar-benar nekat. Aku tak menyangka dia akan melakukan hal itu. Tapi -- aku suka itu." Seru Gavin dalam hatinya.


Aku tersenyum bahagia mendengarkan ucapannya, entah karena ada Ibu saat ini, atau karena memang hatiku yang senang mendengar ucapannya itu.


"Baiklah sayang." Sahutku padanya sambil tersenyum.


"Aah es kutub ini. Ternyata dia sangat manis." Seruku dalam hati.


"Mamah sangat senang dan bahagia mendengarnya nak. Terimakasih karena kamu sudah memberikan cinta yang begitu besar pada Visha. Dia satu-satunya putri Ibu Nak. Jaga dan selalu bahagiakan Visha ya Nak." Ucap ibuku pada Gavin.


"Cih. Benarkah itu? Mengorbankan nyawanya untukku? Mari suatu saat kita coba buktikan?" seruku dalam hati dengan tersenyum sinis.


Tiba-tiba pintu pun terbuka. Dan nampaklah kedua mertuaku yang memasuki ruangan.


Dengan suasana yang cukup dramatis, dari Ibu mertuaku tentunya. Ia cukup histeris melihatku terluka.


"Vishaaaaa. Ya ampun sayaaaang. Kenapa bisa seperti ini? Apakah itu sakit nak? Pah, menantu kita pah. Hiks hiks. Sayang, mengapa bisa seperti ini? Siapa yang berani Melukaimu seperti ini? Hiks hiks." Ucap ibu mertuaku sambil menangis.


"Visha nggak apa-apa mah. Ini sudah terasa lebih baik mah. Emmmm Visha ---- " ucapku terpotong karena ucapan Gavin.


"Cleo yang melukai Visha mah. Dan -- dia udah di kantor polisi sekarang. Tadi papahnya telfon aku, Om Oskar meminta maaf atas nama Cleo. Om juga berharap, supaya aku bisa mencabut kasus ini. Dan Om Oskar bersedia melakukan apapun sebagai syaratnya." Ucap Gavin pada kami semua.


"Menutup kasus ini dengan sebuah syarat? Enak saja, dia pikir dia siapa? Dia yang paling kaya di dunia ini? Cih, mamah nggak akan setuju. Titik." Ucap Ibu mertuaku kesal.


"Kasian juga ya dia. Padahal dia nggak nusuk gue. Emmm, biarin deh. Tunggu sampai beberapa minggu. Biar dia tahu siapa itu Visha. Siapa suruh cari masalah sama gue. Dia nggak tahu ya, preman tetangga gue aja, harus mikir dua kali buat nyinggung gue. Heuh. Kapan-kapan aku tengokin dia ahhh." Seruku dalam hati sambil tersenyum.

__ADS_1


"Apa yang gadis itu pikirkan? Ekspresinya benar-benar mencurigakan." Seru Gavin dalam hatinya saat melihat ekspresi wajahku.


...****************...


( Sel Tahanan )


"Sialan cewe itu. Beraninya dia membuatku seperti ini. Memalukan. Bagaimana aku harus menghadapi para netizen? Aaaaarrrggghhh. Dasar ****** kampungan." Ucap Cleo sangat kesal.


Cleo di tempatkan sendirian dalam sel itu. Jadi dia dengan bebas melakukan aktivitas apapun. Tanpa di ganggu oleh tahanan lainnya.


( Beberapa hari kemudian - Rumah Gavin )


"Sayang, ini perawat yang akan membantu kamu selama kamu sakit. Jadi kamu jangan memaksakan diri untuk melakukan apapun ya. Kalau ada apa-apa, kamu panggil saja perawat ini nak." Ucap Ibu Mertuaku.


"Ah mamah, nggak perlu sampai sewa perawat segala mah. Visha udah merasa lebih baik kok mah." Sahutku padanya.


"Sayaaaang, acara resepsi pernikahan kalian itu dua minggu lagi. Mamah ingin kamu segera pulih nak." Ucap Ibu Mertuaku lagi.


"Mah, kan ada aku. Selama Visha sakit, aku nggak akan pergi ke kantor. Biar Ryan nanti yang handle semua pekerjaan kantor mah." Ucap Gavin meyakinkan mamahnya.


"Hatchi, ahh tubuhku mulai terasa tak enak, kapan anak itu akan muncul di kantor. Setelah menikah, dia sepertinya sangat betah tinggal di rumah. Semoga besok Tuan Muda segera ke kantor." Seru Ryan di seberang sana.


Gavin pun langsung menghubungi Ryan.


"Wah, panjang umur nih bos kecil." Dengan semangat Ryan mengangkat panggilan telfon itu. "Ya Tuan Muda."


"Yan, aku akan cuti beberapa hari lagi. Nyonya sudah pulang ke rumah, tapi dia masih dalam proses pemulihan. Aku akan menemaninya sampai dia benar-benar pulih. Urusan kantor ku serahkan semuanya padamu ya Yan, Oke?! Jangan mengecewakanku Yan." Ucap Gavin pada asisten pribadinya itu.


"Astaga. Cepat sekali doaku di tolak. Hiks." Seru Ryan dalam hatinya.


๐“‘๐“ฎ๐“ป๐“ผ๐“ช๐“ถ๐“ซ๐“พ๐“ท๐“ฐ.....



__ADS_1


__ADS_2