
Karena masih penasaran, jarinya lalu berselancar ke menu riwayat panggilan. Dan tertera jelas pada layar itu. Panggilan terakhir yang Visha tuju adalah nomor Ibunya.
"Aaaissh.. Vishaaa.. dia menipuku.. Astagaa.. Apakah dia mengetahui isi hatiku? dan --- Apakah dia juga mencintaiku. Ya ampuun Vishaaa. Kamu benar-benar nakal." Serunya gemas sambil tersenyum bahagia.
Ia pun langsung bergegas lari menuju kamar untuk menemui sang istri tercinta.
"Vishaaaa." Teriak Gavin dari bawah tangga.
"Gavin, apa yang terjadi dengan Visha? Apa yang kamu lakukan padanya? Mengapa menantuku menangis? Apa kau telah menyakitinya,hah?
Dasar anak tidak berguna! Beraninya kau membuat menantuku menangis! Kemari kau, biar ku goreng kau Gavin! Anak kurang ajar!" cecar Mamah Mertuaku kesal dan terus mengejar Gavin yang berusaha untuk mejauhinya.
"Maah, ini hanya salah paham. Aku akan segera meminta maaf pada menantu mamah dan memperbaiki semuanya." Ucap Gavin cukup keras yang memberikan pengertian pada mamahnya.
Dari dalam kamar, aku mendengar jelas teriakan mamah yang sedang memaki suamiku. Mamah memang seperti itu padanya, namun aku sangat tahu, mamah sebenarnya sangat menyayangi suamiku itu.
"Maah, ada apa sih teriak-teriak? Ya ampuuun, apa yang kalian lakukan?" tanya papah Mertuaku penasaran saat melihat istri dan anaknya kejar-kejaran.
"Pah, anak itu sangat nakal. Beraninya dia membuat menantu kita menangis. Mamah harus memberinya pelajaran pah." Sahut mamah mertuaku yang menghampiri suaminya.
"Pah, ini hanya kesalah pahaman saja. Aku benar-benar akan memperbaikinya. Namun mamah langsung menyerangku dan tak memberi kesempatan padaku untuk menemui Visha." Timpal suamiku.
"Hemmmm, papah kira karena apa? Sudahlah mah, lepaskan Gavin, biarkan dia menemui Visha. Bagaimana kalau papah temani mamah shoping dan ke salon? Ayolah sayaaang. Mereka sudah besar, mereka bisa menyelesaikannya. Ayo mah!" ucap papah mertuaku merayu istrinya.
"Heuh. Awas ya kamu! Mamah akan kembali kesini sebelum pulang. Bila saat itu Visha masih menangis, semua sahammu dalam perusahaan akan menjadi milik menantuku." Ucap mamah mertuaku dengan pandangan yang nyalang.
"Ya ampun, mamah sampe segitunya karena aku. Sebenarnya, siapa yang anak dan siapa yang menantu?" seruku dalam hati saat mendengar teriakan mamah mertuaku.
Suamiku pun, langsung membeku saat mendengar ucapan mamahnya itu. Sedangkan papah mertuaku hanya menggelengkan kepalanya saat menyaksikan tingkah sang istri.
"Fuhhfft. Mengapa aku seperti seorang menantu yang tak dianggap oleh ibu mertuanya?" keluh suamiku lemas. Ia lalu bergegas menghampiri pintu kamar untuk menemuiku.
__ADS_1
Ia mencoba membuka pintu, namun pintu itu dikunci olehku dari dalam. "Tok tok tok. Vishaaa. Buka pintunya. Kita harus bicara. Vishaaa. Jangan memaksaku untuk merusak pintu ini Visha. Cepat bukalah pintunya!"
"Hem, apa dia mau memarahiku lagi? Ah tapi sangat disayangkan bila pintunya sampai rusak." Seruku dalam hati. Aku pun mengklik kunci yang tergantung pada pintu itu dan membuka pintunya.
Seketika Gavin langsung berlari memasuki kamar untuk menemuiku. Dan tak lupa sambil menutup pintu kamar itu.
"Vishaa. Maafkan aku, sebelumnya aku benar-benar kesal karena ucapanmu tentang perceraian kita. Visha aku tahu, kau hanya menipuku tadi. Visha, kedepannya, jangan pernah untuk mempermainkan hatiku lagi, karena aku mencintaimu Visha." Ucapnya lembut dihadapanku dengan posisi jongkok berlutut.
Dan memegang kedua tanganku sambil terus menatap wajahku dengan pandangannya yang penuh dengan cinta. Ia lalu mengeluarkan sebuah kotak yang berisi kalung berliontin kupu-kupu yang sangat cantik. Dan menyodorkan kotak kalung itu kepadaku.
Aku senang dan bahagia mendengar ucapannya. Namun ekspresiku biasa saja saat ini. "Apa kau menyuapku dengan kalung ini, agar aku membalas cintamu?"
Gavin tersenyum kecut mendengar ucapanku. Ia lalu kembali memberikan senyuman manisnya padaku dan berkata dengan pandangan yang memelas, "Sayaang, aku benar-benar sangat mencintaimu. Aku bahkan telah terpikat olehmu sejak pertama kali kita bertemu.
Bukankah kau telah menjadi istriku? Apakah kau akan menyia-nyiakan suami yang tampan seperti aku ini?"
"Dia seperti ini, manis sekali." Seruku dalam hati.
"Aku nggak bisa." Jawabku dengan memalingkan wajahku ke kanan.
"Memangnya alasan seperti apa yang harus aku berikan? Aku memang nggak bisa Vin. Tolong jangan paksa aku. Aku nggak bisa untuk tidak mencintaimu."
"Tapi Sha kau --- kau --- Kau tidak bisa untuk tidak mencintaiku? Cih. Dasar istri nakal. Kau selalu saja membuat hatiku cemas." Ucapnya cukup sedih dengan segera memeluk tubuhku.
Aku pun membalas pelukannya erat. Ia lalu berkata lagi, "Terimakasih Visha. I love you Sayang." Ucapannya itu dilengkapi dengan kecupan singkatnya pada leherku.
Membuat tubuhku bergetar. Karena ini pertama kalinya, seorang pria mengecup leherku.
Kami pun mengurai pelukan itu. Dan ia lalu berucap lembut padaku, "Sayang, biar ku pakaikan kalung ini!?"
Aku hanya tersenyum dan mengangguk padanya. Aku sangat bahagia saat Gavin memakaikan kalung itu padaku. Ia lalu kembali berucap, "Lihatlah kupu-kupu ini! Dia cantik sepertimu sayang. Kamu seperti kupu-kupu cantik ini, bisa terbang bebas kemanapun yang kamu mau.
Padahal awalnya, kamu itu seperti ulat, mengerikan dan tidak ada yang mau menyentuhmu, karena kamu galak dan seperti tidak punya perasaan. Hehe".
__ADS_1
"Mengapa kamu tidak sekalian menyamakan aku dengan kepompong juga?" ucapku datar.
"Bukankah kamu memang pernah menjadi kepompong Sayang? Apa kamu lupa? Kamu ingat kan, saat kamu bersembunyi diatas ranjang dengan selimut itu. Saat itu kamu benar-benar sangat mirip dengan kepompong. Hehe." Sahutnya meledekku.
"Cih. Mengapa kau kembali mengingat tentang kejadian itu? itu sangat memalukan." Sahutku kesal dengan menutup wajahku karena malu.
"Hei, apa yang kamu lakukan? Bukankah saat ini, kita sudah sama-sama saling cinta? Jangankan hanya untuk mengintipku, bila kau ingin memandangi seluruh tubuhku setiap hari. Aku sangat rela, bila harus tidur bertelajang setiap hari asalkan bersamamu Sayang." Ucapnya menggodaku.
"Iiiiiih, dasar mesum. Pergi sana, siapa yang ingin melihatmu telanjang?" sahutku kesal menahan malu.
"Setelah mengungkapkan cintanya, mengapa dia jadi seperti ini? Apakah seperti ini sifat aslinya? Ah aku benar-benar tidak siap melakukannya. Ada apa ini, bukankah aku sangat mencintainya juga?" seruku dalam hati.
Aku pun berlari menuju ruang ganti dan meninggalkannya sendiri di ranjang. Namun tanpa aku sadari, Gavin telah mengikuti dan sudah ada di belakangku dengan posisi bersandar dibalik pintu.
Aku sedikit kesusahan untuk menarik resleting gaun pengantin itu. "Aah sial, susah banget sih, apa mamah sengaja memilih gaun yang susah dibuka sendiri seperti ini?"
Lalu tiba-tiba Gavin menghampiriku dan menarik kebawah resleting itu sambil berucap, "Itu artinya harus akulah yang membuka gaunmu ini sayang."
Aku terkejut mendengar ucapannya. "Gavin? Ngapain kamu ngikutin aku? Mau ngintip ya?"
"Kalau iya, memangnya kenapa? Bukankah sekarang aku bisa bebas mengintipmu? Lihatlah, aku disini membantumu sayang." Sahutnya lembut dengan perlahan ia menarik gaun itu dari tubuhku sampai terhempas ke lantai. Membuatku tegang sampai bergetar.
"A -- Aku bisa sendiri Vin." Sahutku gagap karena semakin tegang saat ia hendak membantuku untuk melucuti pakaianku yang lain.
"Sayaaang. Apakah kau tidak senang aku membantumu?" ucapnya lagi dengan wajah sedih.
"Ah a--a--aku ----- " ucapan ku tak selesai karena Gavin yang langsung menyerang bibirku dengan rakus.
"Gaviiiiiiiiin."
Bersambung...
__ADS_1