Gadisku Sayang

Gadisku Sayang
BAB 12_Pernikahan Sahabat Gavin


__ADS_3


( Mobil Gavin )


Namun Gavin menghalanginya. Ia sembunyikan kemejaku dibawah pahanya. Membuatku semakin geram. Dan tak jadi mengambil kemeja itu. Aku lalu berbalik membelakanginya. Dengan raut wajah yang sangat kesal.


"Iiiiih sangat memalukaan. Awas ya lo Gavin. Gue bales lo." Seruku kesal dalam hatiku.


"Gadis ini benar-benar manis. Mengapa dia sangat spesial di hatiku?" Suara hati Gavin.


...****************...


"Cepat pakai, kita akan ke suatu tempat." Ucap Gavin menyodorkan sebuah pakaian padaku.


Aku terpaksa menerima pakaian itu dengan ekspresi wajah yang sangat kesal. Saat itu aku tidak tahu, bahwa pakaian yang aku terima adalah sebuah gaun pesta.


"Menyebalkan." Seruku dalam hati. Lalu membentangkan gaun itu di depan wajahku.


"Gaun? Kenapa ini gaun? Kenapa lo nggak nyuruh Ryan buat nyari atasan? Kenapa harus gaun?" teriakku kasar padanya.


"Nyonya Gavin. Kita akan pergi ke acara pernikahan teman sekolahku. Ini sangat jarang terjadi. Karena aku tidak mudah untuk datang ke suatu acara. Dan karena dia sahabatku, maka aku harus datang. Cepat ganti saja pakaianmu itu. Apa kau ingin aku yang memakaikannya, hmm?" ucap Gavin dengan gaya sensual yang sengaja ia buat.


Aku sangat kesal mendengar ucapan Gavin itu, "Cih. Dasar es kutub si@lan."


Aku pun dengan kesal memakai gaun itu. Dengan perasaan malu, harus berpakaian di samping seorang pria. Walaupun pria itu suamiku. Namun tetap saja, hal itu berhasil membuat pipi ku bersemu merah seperti tomat.


Susah payah ku pakai gaun itu, karena gaun itu cukup panjang. Aku terpaksa harus melepas celanaku, karena bentuk gaun itu yang sangat pas dengan tubuhku. Membuat gaun itu susah ku tarik kebawah.


Ku pejamkan mataku. Ku tahan rasa kesalku saat aku melepas celanaku. Sedangkan Gavin, ia sangat terhibur dengan aksiku itu. Beberapa kali ia menahan tawanya saat mencuri pandang untuk memperhatikanku.


Kegiatan itu membuat bagian kakiku terlihat jelas oleh Gavin. Membuat lelaki itu menelan salivanya saat melihat kearah pahaku.


"Jangan lihat!" ucapku galak saat ia melirik kearahku.


Namun karena perkataanku itu, ia justru semakin berani menatapku. Bahkan ia sengaja membelai salah satu pahaku, saat aku sedang sibuk dengan celanaku itu.


"Biar ku bantu kamu memakai gaun ini." Ucapnya parau sambil mengusap lembut bagian kakiku dan bagian kecil gaun itu. Ia pun dengan cepat mengecup dan menjil@t di beberapa tempat pada bagian kakiku itu.


"Gaviiiiiiiiiiiiin." Teriakku kesal pada kelakuannya yang semakin lama semakin berani padaku.


...****************...


"Ingatlah surat pernyataan yang kamu buat itu Nyonya Gavin. Atau kau ingin menerima hukuman saja, hmm?" ucap Gavin yang selalu saja suka menggodaku.

__ADS_1


"Cih. Bahkan aku terpaksa menandatangani surat pernyataan itu. Kau sendirilah yang membuat surat pernyataan itu. Dasar es kutub si@lan." Sahutku padanya dengan sangat kesal. Aku lalu melempar celanaku padanya. Namun dengan sigap, ia menangkap celana itu. Dan dengan santai, ia pun membuang celanaku itu ke tengah jalan.


"Gaviiiiin. Lo gil@ ya. Itu celana gue bukan sampaaaaaah. Iiiiiiiihhh." Teriakku yang lagi-lagi kesal karena ulahnya.


"Aku pikir kau sudah tak menginginkan celanamu itu Nyonya Gavin." Sahutnya dengan sangat santai.


Aku hanya terdiam kesal mendengar ucapannya. Lalu ku palingkan wajahku kearah lain, agar aku tak melihatnya lagi.


Mobil pun berhenti tepat di sebuah salon yang cukup terkenal. Tempat itu milik sahabat mamah Gavin.


Aku pun mengekori Gavin menuju salon itu, setelah Gavin membukakan pintu mobilnya untukku. Kedua tanganku pun merangkul mesra tangan kanan Gavin.


"Siang tante Zia." Sapa Gavin sopan pada seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.


"Loh Gaviiin. Apa kabar sayaaang? Kok baru mampir sih. Mana mamahmu?" sahut wanita itu yang langsung berdiri dari duduknya saat melihat kedatangan Gavin. Mereka pun saling menempelkan pipi kanan dan pipi kiri mereka (Cipika-cipiki).


"Aku nggak bareng mamah Tan, aku bareng istriku." Ucap Gavin pada tantenya itu. "Sayang kemari, kenalin, ini sahabat mamahku, tante Zia, beliau pemilik salon ini." Ucap Gavin lembut padaku, memperkenalkan wanita itu.


"Halo tan, aku Tavisha." Ucapku sopan dengan mengulurkan tangan kananku padanya.


Tante Zia pun langsung menyambut uluran tanganku, "Halo sayaaaang. Kamu benar-benar sangat cantik. Gavin sangat beruntung menikahi kamu. Hehee. --- Oh iya, kapan kalian nikah Vin? Tante kok nggak tau?" ucap Tante Zia sambil tersenyum.


"Beberapa minggu yang lalu Tan, bulan depan acara resepsinya." Ucap Gavin sopan menjelaskan.


"Makasih Tan. Oh iya Tan, bantu istriku untuk menghias wajahnya ya Tan. Kita akan pergi ke acara pernikahan sahabatku." Pinta Gavin pada Tante Zia.


"Oke tenang aja Vin. Tante akan membuat istrimu ini menjadi sangat cantik." Sahut Tante Zia yang bersemangat untuk menghias wajahku.


Beberapa saat kemudian, riasan make-up yang Tante Zia usapkan pada wajahku selesai. Aku pun berjalan menghampiri Gavin.


"Sayang aku udah selesai." Ucapku lembut pada suami bayaranku itu.


Seketika Gavin pun menengok ke atas, karena ia sedang duduk di sebuah kursi. Ia menatap kagum pada wajahku yang terlihat semakin cantik. Dengan tatanan rambut yang pas dengan gaun yang ku pakai itu.


Dan Gavin pun, entah sejak kapan, telah memakai setelan jas yang berwarna senada dengan gaun yang ku pakai.


Beberapa saat Gavin terpesona dengan kecantikanku itu. Ia pun menyuarakan hatinya, "Apa dia benar istriku? Dia sungguh cantik dengan riasan seperti ini. Rasanya bibirku ingin sekali mengecup bibir manis itu."


"Sayaang, kau melamun?" ucapku sembari membelai salah satu pipi Gavin yang mungkin telah membuyarkan lamunannya.


"Ah sayaaaang. Kau benar-benar terlihat sangat cantik." Sanjung Gavin padaku sembari merangkul pinggangku dan mengecup lembut keningku.


Aku hanya pura-pura tersenyum bahagia mendengar perkataannya.

__ADS_1


...****************...


( Lokasi Acara Pernikahan Sahabat Gavin )


Ruangan pesta itu dalam sekejap menjadi sangat ramai, saat hadirnya Gavin yang mulai memasuki ruangan itu.


Tanganku setia, merangkul mesra salah satu tangan kekar suamiku itu. Membuat sebagian wanita single dalam acara itu, menangis darah karena iri melihatnya.


"Itu Gavindraaaaa. Aaaaaahhhk Gavindraaa." Ucap wanita A.


"Lihat-lihat ada Gaviiiin. Dia ganteng bangeeettt." Ucap wanita B.


"Gaviiiiin. Liat akuuuu." Ucap wanita C.


"Waaaaah cantiknya, itu istri Gavin kan? Nggak sia-sia deh aku relain Gavin buat dia. Hehe." Ucap wanita D.


"Itu Gaviiiiin. Ya ampuuun ganteng bangeett." Ucop wanita E.


"Lihat itu, Gavin bersama istrinya. Dia cantik banget ya? Mereka serasi bangeeeet." Ucap Wanita F.


Dan masih banyak lagi ucapan kekaguman beberapa wanita itu untuk suamiku, yang sebagiannya juga ada yang memuji kecantikanku.


"Gavin?" ucap salah satu wanita yang langsung berlari memeluk Gavin saat ia melihat kedatangan Gavin dari kejauhan.


"Cleo? Hai apa kabar? Kapan kamu balik? Bukannya lagi di Inggris ya?" cecar Gavin pada wanita itu, mereka pun melakukan ritual saat bertemu dengan sesama artis. Ya apalagi kalau bukan Cipika-cipiki.


"Baik Vin. Baru kemarin aku sampai Vin. Iiiih kamu makin ganteng aja Vin. Hehe." Sahut wanita itu dengan senyuman yang sangat manis dengan tangan yang masih memegang salah satu tangan Gavin.


Gavin pun segera menepis tangan wanita itu pelan dan sopan. Ia lalu merangkul punggungku dan menuntunku untuk mengikutinya agar jarakku dengan wanita itu menjadi semakin dekat.


"Cleo, perkenalkan ini istriku Tavisha." Ucap Gavin sopan pada wanita itu.


"Hah? Istri Gavin? Sial. Aku jauh-jauh kuliah di Inggris demi mendapatkannya. Tapi dia malah menikahi cewek ****** ini. Ini nggak benar. Cih. Dasar cewek murahan. Udah Aku peringatkan, bukannya jauhin Gavin, malah merebut Gavinku" Seru wanita itu dalam hatinya.


"Ah iya, aku Cleopatra, senang bertemu denganmu." Sahut Cleo yang pura-pura ramah padaku di depan Gavin. Aku bisa merasakan aura membunuh dalam raut wajah wanita itu.


"*Cih. Wanita ini, bukankah dia wanita yang menabrakku saat itu. Nggak nyangka bakal ketemu dia disini. Lihat aja, gue bales lo ya.


Dia pasti suka sama Gavin. Oke, gue panasin aja kali ya. Hehehe. Kangen banget gue, udah lama nggak ngisengin orang. Pffft." Seruku dalam hati*.


Namun Cleo yang memperhatikanku, sadar akan ekspresi wajahku itu. Ia pikir aku sedang menertawakannya. Ia pun tak segan lagi membalas tatapan tidak sukanya padaku dengan jelas, tanpa sepengetahuan Gavin tentunya.


๐“‘๐“ฎ๐“ป๐“ผ๐“ช๐“ถ๐“ซ๐“พ๐“ท๐“ฐ.....

__ADS_1



__ADS_2