Gadisku Sayang

Gadisku Sayang
BAB 4_Berkunjung Kerumah Mertua


__ADS_3

( Rumah Gavin )


Kata sah serentak terdengar dari semua orang yang hadir dalam acara itu, saat Gavin selesai mengucapkan kalimat ijab qobul dalam sekali pengucapan dengan suara yang lantang dan sangat jelas.


Gavin memberikan mahar pada Visha berupa satu set perhiasan emas putih yang seberat 20 gram. Dan uang tunai sebesar 4 juta KWD. Atau setara dengan IDR 200 Milyar lebih.


...***************...


Gavin membawa tubuh Visha masuk kedalam mobilnya.


"Kita mau kemana?" tanya Visha penasaran.


"Kita akan berkunjung kerumah mamah. Dengar, saat kita sedang bersama mereka. Maka kamu harus berakting dengan sangat baik. Kita harus membuat orang tuaku percaya bahwa kau benar-benar mencintaiku. " Ucap Gavin kembali mengingatkanku.


Visha hanya mendengarkan ucapan Gavin. Ia terus memandang keluar kearah jendela mobil. Memikirkan kisah hidupnya yang lalu, yang cukup menderita. Dan sekarang, karena keadaan itu ia terpaksa harus membuat kesepakatan dengan pria di sampingnya.


"Visha apa kau tak mendengarku?" tanya Gavin pada Visha yang jarak wajahnya sangat dekat dengan wajah Visha.


"Iya ya gue denger kok. Kita harus pura-pura jadi pasangan yang romantis kan di depan orang tua lo. Biar mereka percaya kalo kita itu pasangan serasi yang saling mencintai. Begitu kan suami sayang." Sahut Visha dengan ekspresi kesalnya.


"Oke. Biasakanlah seperti itu. Ingat. Jangan sampai membuat kesalahan sedikit pun." Ketus Gavin.


"Cih. Mengapa kau memilihku untuk menjadi istri bayaranmu Tuan Muda. Mengapa kau tak menikahi pacarmu saja?" Ucap Visha kesal.


"Aku tidak pernah punya pacar." Jawab Gavin singkat.


Visha sedikit terkejut dengan perkataan Gavin, "Hah? Benarkah? lo nggak pernah pacaran? Hahaa. Lucu sekali. Padahal di luar sana banyak banget gadis yang sangat menginginkanmu. Ckckckck."


"Apakah termasuk dirimu? Lalu apakah kau pernah pacaran sebelumnya? Bagaimana bila saat ini kita mulai hubungan ini dengan pacaran? Kau jadi pacarku sekarang." Ucap Gavin yang semakin mendekati wajah Visha dan hendak mencium bibir gadis itu.


Visha langsung memalingkan wajahnya. Dan kembali memandang jalanan di luar sana. Dag dig dug. Kedua jantung itu masing-masing berdegup sangat kencang.


"Apa dia penipu? Nggak pernah pacaran tapi mau nyium gue. Aaakhh kenapa tadi gue juga malah menghindar segala. Cih dasar. Kapan lagi kan di cium sama artis ganteng kayak dia. Hehehe." Visha tersenyum sendiri memikirkan Gavin.


Gavin merasa aneh melihat Visha yang tersenyum sendiri. "Seneng karena mikirin aku ya?"

__ADS_1


"Cih. Kepedean banget." Ucap Visha jutek.


"Keliatan jelas di jidat kamu Nona." Ucap Gavin ketus


"Hemm. Terserah lo." Balas Visha pura-pura kesal.


Gavin lalu mengeluarkan ponselnya. Ia menekan tombol kamera. Dan mengajak Visha untuk selfi bersamanya.


"Ayo kita latihan. Hasil foto yang bagus bakal gue bayar 10 juta." Ucap Gavin santai sambil mengarahkan ponselnya di depan wajah mereka.


Visha bingung dengan perkataan Gavin. Visha pun berseru dalam hati. "Hah? Latihan apa? 10 juta untuk 1 foto? Apa dia salah ngomong ya?"


"Aku bakal kirim foto kita yang paling bagus ke orang tuaku. Udah cepet sini, kita harus terbiasa agar nanti di depan orang tuaku kita bisa terlihat seperti pasangan sungguhan." Ucap Gavin yang masih mencari pose yang pas untuk selfi.


Mereka pun mengambil beberapa jepretan.


Ryan hanya menggelengkan kepala memperhatikan tingkah kedua orang di belakangnya.


...****************...


Kedua orang tua Gavin sudah berada di bawah teras untuk menyambut kedatangan mereka. Ibu Gavin sudah heboh sendiri saat menerima kabar dari Gavin, bahwa mereka akan berkunjung.


"Selamat datang sayang. Ayo masuk nak. Mamah udah lama lo nungguin kamu. Apa kamu belum makan? Ayo kita makan bersama, mamah udah masak banyak makanan buat kamu. Ayo sayang." Ucap mamah Gavin bersemangat dan sangat bahagia.


"Sebenarnya siapa yang menjadi anaknya di sini? Ckckck. Hemm dasar mamah." Gavin menggelengkan kepala menyaksikan tingkah sang Ibu.


"Makluminlah Vin, mamah kamu kan sudah lama pengen punya anak gadis. Makanya kemaren-kemaren dia pengen banget kamu cepet-cepet nikah. Kalau sekarang sih kayaknya dia pengen kamu cepet-cepet ngasih cucu deh Vin. Hehehe." Ucap papah Gavin bahagia.


"Cih. Mau punya anak gadis, kenapa kalian nggak produksi lagi aja sih." Ucap Gavin jutek.


"Hahaha. Kamu ini Vin. Nggak liat papahmu ini sudah semakin tua. Harusnya kalian berdualah Vin, yang ngasih kami seorang gadis. Hehee." Sahut papah Gavin gembira.


Sepanjang waktu di meja makan. Suasana hanya heboh dengan tingkah mamah Gavin yang sangat bahagia dengan kehadiran Visha. Ia memindahkan sebagian dari semua makanan yang ada di meja itu pada piring makan Visha. Membuat Visha hanya terdiam bingung untuk menanggapi tingkah Ibu mertuanya itu.


"Sayang, apa makanannya enak?" tanya mamah Gavin di sela-sela makannya.

__ADS_1


Visha tak begitu menanggapi omongan mamah Gavin. Karena ia pikir beliau sedang berbicara pada suami atau anaknya.


"Loh kenapa kamu diam sayang? Apa kamu kurang suka dengan semua makanan ini?" tanya mamah Gavin sedih.


Gavin lalu menyenggol kaki Visha, ia memberikan isyarat bahwa mamahnya sedang bertanya pada Visha


"Ah maaf ya mah, Visha tadi nggak denger. Semua makanan ini enak kok mah. Visha suka. Makasih ya mah." Jawab Visha dibarengi senyum manisnya.


"Syukurlah kalau kamu suka. Mamah seneng dengernya. Oh ya, kalau kamu punya waktu senggang, yang sering mampir kesini ya, biar mamah punya teman kalau mau pergi ke salon. Hehe." Ucap mamah Gavin bahagia.


"Ah iya mah. Mamah tinggal kabarin Visha aja. Visha pasti usahain dateng." Ucap Visha dengan senyum manisnya.


"Kalau gitu, besok kamu nggak usah kerja ya sayang. Temenin mamah shoping. Sekalian nanti kita mampir ke butik temen mamah. Mamah mau kenalin kamu sama dia. Hehe. Bolehkan Pak Bos Gavin?" Ucap mamah Gavin penuh semangat.


"Kenapa mamah tanya sama aku? Toko bunga itu kan udah jadi milik Visha mah. Sekarang dia bosnya." Ucap Gavin.


"Waaah beneran Vin? Selamat ya Bu Bos. Hehehe." Ucap mamah Gavin yang ikut senang mendengar kabar dari Gavin.


...****************...


( Kamar Gavin )


Visha nampak kaget melihat beberapa tumpukan hadiah pernikahannya yang belum sempat mereka buka. Hadiah-hadiah itu cukup banyak dan hampir memenuhi seisi ruangan kamar mereka. Bahkan sebagian hadiah itu mereka simpan di dalam ruang ganti.


"Eh Es Kutub, bantuin gue buka kado nih. Banyak banget kayak gini. Semaleman juga nggak bakal kelar kalo gue sendiri yang bukain. Buruuaaan bantuin. Maen game mulu iihh." Ucap Visha yang sedikit kesal pada Gavin yang sedari tadi hanya main game.


"Ya udah si, nggak usah dibuka semua Sa. Buka yang pengen kamu buka aja. Yang lainnya tinggal kasih aja ke orang lain. Repot banget si." Sahut Gavin jutek.


"Cih. Dasar sombong. Bukannya bersyukur. Enteng banget kalo ngomong. Dia nggak mikirin hati orang yang udah ngasih hadiah-hadiah itu apa? Santai banget bilang mau dikasih ke orang lain. Belum tau aja lo, gimana rasanya kalo nggak punya uang. Iiiiih gara-gara surat pernyataan itu, gue jadi nggak bisa bales tuh cowok Kutub." Seru Visha kesal dalam hatinya.


Visha pun terpaksa membuka beberapa hadiah itu tanpa bantuan Gavin. Visha terkejut saat melihat hadiah pemberian mamah Gavin.


"Ya ampun mamaaah. Kenapa harus sampe kayak gini? Heemmmm." Ucap Visha lemas.


๐“‘๐“ฎ๐“ป๐“ผ๐“ช๐“ถ๐“ซ๐“พ๐“ท๐“ฐ..........

__ADS_1


__ADS_2