Gadisku Sayang

Gadisku Sayang
BAB 11_Hukuman


__ADS_3

( Kamar Gavin )


Ricky sedikit heran saat tidak menemukan sedikit luka pun pada kepalaku yang mengeluarkan cairan merah. Ia pun hendak memegang cairan merah itu.


"Eh stop stop stop. Jangan disentuh!" cegat Gavin saat melihat Ricky hendak menyentuh kepalaku.


"Kenapa sih Vin? Kalau nggak aku sentuh, gimana caranya aku ngobatin dia?" ucap Ricky kesal.


"Ya kamu kan bisa liatin lukanya. Pokoknya jangan sentuh dia!" sahut Gavin ngotot.


"Yang dokter tuh aku apa kamu si Vin? Kesel aku lama-lama!" Keluh Ricky.


"Kamu mau dipecat? Hah?" ancam Gavin dengan bangga.


"Astaga. Oke okeeee. Hamba tidak akan menyentuh permaisurimu sedikitpun Yang Mulia." Ucap Ricky menahan emosi.


"Sudah ku duga, pasti nggak akan berjalan lancar kalau aku bertugas di bawah pengawasannya. Hiks hiks." Seru Ricky dalam hatinya.


"Dia nggak apa-apa kok Vin? Nggak luka sama sekali. Tapi cairan itu--- " terpotong karena dicegat ucapan Gavin.


"Nggak luka gimana? Kamu liat nggak keningnya berdarah gitu?! Ya ampun Ricky, kamu kesini aku bayar tau nggak? Profesional lah Ky. Jangan macem-macem sama aku." Ucap Gavin geram.


"Astaga. Lelaki ini benar-benar. Heufffft." Seru Ricky dalam hatinya.


Aku tak tahan lagi menahan tawa mendengar kebodohan Gavin. "Pffftt. Hahahahahahaa. Dasar cowok bego. Rasain lo, emang enak gue kerjain. Hahahaha."


Kedua pria dalam ruangan itu, kompak melirik kearahku yang sedang tertawa renyah.


"Vishaa. Kamu berani ya sekarang. Sini kamu. Dasar istri nakal. Awas ya kamu kalo kena. Aku gantung kamu di lemari. Berhenti Vishaaa." Teriak Gavin sangat geram.


Ricky tercengang melihat aksiku itu. Aku dengan jelas berani menantang seorang Gavin. Tanpa rasa takut sedikitpun. "Waaah benar-benar wonder woman. Dia adalah penyelamatku. Kedepannya aku harus sangat baik padanya. Hehehe."


...****************...


( Halaman Toko Bunga tempat Visha kerja )

__ADS_1


"Ckiiit" dua buah mobil mewah berwarna merah dan hitam berhenti tepat di depan Visha dan Jennie.


"Ngapain si mobil-mobil ini? Nggak bisa nyetir kali ya? Woi ngapain lo menghalangi jalan kita?" teriak Jennie kesal.


Sedangkan aku, sudah mempunyai firasat buruk dalam hatiku. Aku sudah menebak mobil siapa itu. Namun aku tetap berusaha tenang.


Tiba-tiba dua orang bodyguard keluar dari mobil yang berada di belakang. Mereka menarik tanganku. Bahkan salah satu bodyguard itu menggendong tubuhku. Memaksaku untuk memasuki mobil yang berada di depannya.


"Hei. Mau apa kalian. Lepaskan sahabatku." Teriak Jennie panik.


"Anda tak perlu khawatir Nona. Sahabat anda aman bersama kami. Saya sudah meminta ijin pada manager toko untuk membawa sahabat anda pergi hari ini. Permisi Nona." Ucap Ryan lembut lalu meninggalkan tempat itu, menuju mobil Gavin.


( Di dalam Mobil Gavin )


"Cih. Ternyata lo. Mau apa lagi si? Gue mau kerja sekarang. Cepet turunin gue." Ucapku kesal.


Gavin tak menjawab ucapanku. Ia justru langsung menyemprotkan hand sanitizer ke beberapa bagian tubuhku.


"Gavin. Hentikan. Lo kira gue virus apa? Gavin berhenti b%dooh." Teriakku sambil memejamkan mataku karena risih dengan kelakuan Gavin.


"Tubuhmu baru saja disentuh oleh mereka. Jadi aku harus menghilangkan jejak tangan mereka pada tubuhmu itu. Paham!" ucap Gavin ketus.


Ryan yang baru masuk dan duduk di kursi kemudi itu, tak kuat menahan tawanya. Karena mendengar ucapanku yang sangat berani itu.


"Pffft. Jarang sekali melihat pemandangan ini. Hahaha." Seru Ryan dalam hatinya. Ia sangat terhibur dengan aksiku itu.


Gavin rupanya mengetahui bahwa Ryan sedang menertawakannya. Ia pun langsung mengaktifkan sekat yang membatasi ruang kemudi dengan ruangan di belakangnya.


Sekat itu telah sempurna membatasi dua bagian mobil depan dan belakang itu, Sehingga menjadi kedap suara.


"Hari ini, kamu harus menerima hukuman karena sudah berani kabur dariku pagi tadi dan melawanku kemarin." Ucap Gavin ketus.


"Cih. Emang lo pikir gue anak sekolah. Pake acara dihukum segala. Awas gue mau kerja. Lo ganggu waktu gue tau nggak? Mana basah lagi kemeja gue. Iiiiiih nyebelin banget si." sahutku kesal.


Gavin tak menjawab perkataanku itu. Ia justru langsung menarikku kedalam pangkuannya. Ia lalu menyerangku dengan membabi buta.

__ADS_1


Ia rakus menciumi bibirku, merenggut ciuman pertamaku. Bahkan ia pun menggigit bibir bawahku.


Aku meronta, namun tenagaku kalah kuat darinya. Membuat pria itu semakin leluasa menikmati bibirku. Ia pun merobek kemeja yang ku pakai.


Hendak menerobos isi dalam baju itu. Sangat ganas. Membuat beberapa tanda merah di leher dan dadaku.


"Aaaaaaaahhhhk. Gaviiiiiiiiiiiiiin." Teriakku kesal.


( Beberapa saat kemudian )


Gavin menekan tombol panggilan otomatis pada Ryan yang berada dalam mobil mewahnya itu. "Bawakan atasan seukuran tubuh Nyonya sekarang. ---- Tunggu Yan. Kedepannya akan sering seperti ini. Jadi sediakanlah beberapa pakaian cadangan untuk Nyonya."


"Baik Tuan Muda." Jawab Ryan tegas.


Ryan tersenyum simpul mengingat masa kecil Gavin. "Waktu cepat sekali berlalu, anak itu sudah semakin dewasa."


"Cih. Sialan lo Gavin. Gue nggak akan melupakan hal ini. Ingat itu. Gue akan membalasnya." Ucapku geram.


"Lakukanlah dengan segera Nyonya Gavin. Maka aku akan kembali membalasnya beribu-ribu kali lipat lebih panas dari hari ini. Hahahaha." Sahut Gavin sangat bahagia.


Dengan kesal, aku langsung memalingkan wajahku kearah lain agar tidak melihat wajahnya.


"Beruntung aku tidak membobol gawangmu hari ini juga Nyonya. Hahaha." Goda Gavin lagi.


"Cih. Dasar kau es kutub mesum." Teriakku lalu reflek menimbuk wajahnya dengan kemejaku yang robek itu. Membuat pemandangan itu kembali terlihat.


"Apa kau sengaja menggodaku Nyonya Gavin?" ucap Gavin tersenyum nakal.


"Dia benar-benar selalu membuatku tertantang." Suara hati Gavin.


Aku terkejut dengan apa yang aku lakukan. Dengan sigap aku menutupi dadaku dengan salah satu tanganku. Sedangkan tangan satunya berusaha mengambil kembali kemejaku itu.


Namun Gavin menghalanginya. Ia sembunyikan kemejaku dibawah pahanya. Membuatku semakin geram. Dan tak jadi mengambil kemeja itu. Aku lalu berbalik membelakanginya. Dengan raut wajah yang sangat kesal.


"Iiiiih sangat memalukaan. Awas ya lo Gavin. Gue bales lo." Seruku kesal dalam hatiku.

__ADS_1


"Gadis ini benar-benar manis. Mengapa dia sangat spesial di hatiku?" Suara hati Gavin.


๐“‘๐“ฎ๐“ป๐“ผ๐“ช๐“ถ๐“ซ๐“พ๐“ท๐“ฐ.......


__ADS_2