Gadisku Sayang

Gadisku Sayang
BAB 3_Menikah


__ADS_3


"Itukan Gavin? Kok dia sama cewek ya, siapa ya cewek itu? Sialan, gue yang selama ini deketin dia tapi nggak pernah sekalipun diajak ke rumahnya.


Tapi cewek itu. Iiiiiih. Menyebalkan. Awas ya kamu. Beraninya merebut perhatian Gavin dari aku." Ucap wanita itu kesal.


Wanita itu langsung menarik tangan Visha, saat Gavin dan keluarganya telah pergi meninggalkan rumah Visha.


"Iiih apa-apaan sih? Siapa sih lo? Kurang kerjaan banget nyari masalah sama gue!" ucap Visha kesal.


"Heh, harusnya gue yang tanya kayak gitu ke lo! siapa sih lo hah? Berani ya lo deketin Gavin. Gavin itu punya gue, jadi segera jauhin Gavin. Kalau nggak ----"


"Kalau nggak apa? Hahh? Berani lo ngancem gue hah?" ucap Visha yang memotong ucapan wanita itu.


Mereka pun semakin ganas beradu mulut, sampai seorang satpam dan Ibu Visha keluar untuk menghampiri mereka. Dan dengan susah payah menghentikan aksi mereka itu.


...****************...


***Flashback On


( Rumah Sakit )


Ryan memberikan isyarat pada orang-orang jasa make up untuk keluar dari ruangan itu. Mereka pun berbaris keluar meninggalkan ruangan itu.


"Aku hanya ingin kita menikah. Maka semua permasalahanmu akan selesai. Bagaimana?" ucap Gavin langsung pada intinya.


"Apa? Nikah?" sahut Visha.


"Yan." Seru Gavin kemudian pergi meninggalkan ruangan itu diikuti beberapa bodyguard lainnya kecuali Ryan.


"Baik Tuan." Sahut Ryan lalu menunjukkan sebuah video pada Visha.


***


"Maafkan aku Nyonya, selama ini aku dan anak buahku telah banyak berbuat salah padamu. Aku dan anak buahku bersedia untuk melakukan apapun asalkan kau mau memaafkanku Nyonya." Ucap ketua preman yang sekaligus rentenir.


"Ampuni kami Nyonya." Ucap anggotanya.


"Ya Nyonya ampunilah kami." Ucap anggota lainnya.


Mereka lalu bersujud didepan Ibu Aynie, Afifah.


"Apa yang kalian lakukan? Tak perlu seperti ini. Bangunlah. Ayo bangun. Ya ya aku sudah memaafkan kalian semua. Bangunlah, jangan seperti ini." Ucap Ibu Afifah.


Para preman itu, lalu segera bangkit dan berebut menciumi tangan Ibu Afifah.


"Terimakasih Nyonya." Ucap ketiga preman itu kompak.


Tanpa menunggu Ibu Afifah menjawab, ketiga preman itu langsung berlarian berebut sapu lidi untuk menyapu halaman luar rumah.


Namun sapu lidi itu berhasil dikuasai oleh sang ketua preman. Lalu kedua preman yang lain beralih berebut sapu ijuk untuk menyapu lantai.


Mereka saling tarik menarik untuk mendapatkan sapu itu, sehingga membuat sapu ijuk itu terputus memisahkan antara ijuk dan gagangnya.


Salah satu preman yang mendapat ijuk langsung mengambil gagang ijuk pada temannya dan langsung menyambung sapu itu kembali.


Preman satunya hanya membuang nafasnya kasar. Kemudian berlari kedalam rumah untuk mengambil lap pel.


Ibu Afifah yang sedari tadi memperhatikan kelakuan ketiga preman itu hanya diam, bingung dan hampir tak percaya dengan apa yang ia lihat itu.


...----------------...


"Hah? Ada apa dengan mereka? Bagaimana mungkin mereka melakukan semua itu. Ini aneh. Video ini pasti palsu. Apa maksud semua ini om?" tanya Visha kesal.


"Om? Apakah aku setua itu? Bahkan aku belum menikah. Ckckckck. Gadis ini." Suara hati Ryan.


"Silahkan Nona." Ryan memberikan sebuah map pada Visha.


Visha sangat terkejut saat membuka isi map itu. Ia hampir tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia merasa senang namun sekaligus bingung.


"Ini? Ini semua aset almarhum ayah? Bagaimana bisa?" ucap Visha shock lalu memeluk map itu sambil menangis. "Hiks hiks hiks.. ayaah. Semuanya kembali. Hiks hiks hiks."


Visha lalu menyadari sesuatu dan menatap sekretaris Gavin itu. "Sejak kapan kalian melakukannya? Bukankah aku belum sehari tinggal disini?"


"Sejak pagi tadi Nona. Tepatnya pukul 07:15." Jawab Ryan sopan.


Visha reflek melihat jam dinding yang ada dalam ruangan itu. Pukul 10:03.

__ADS_1


"Kalian melakukannya dalam waktu kurang dari 3 jam?" tanya Visha tak percaya.


"Benar Nona. Semua yang Nona lihat tadi bisa langsung berubah dalam hitungan detik saja. Semua itu tergantung pada jawaban Nona.


Saya hanya perlu memberi perintah pada mereka. Maka detik itu juga semuanya akan kembali seperti semula." Sahut Ryan sopan.


"Hah? Seajaib itukah dia? Astaga." Suara hati Visha dan ia menangkup pipinya dengan kedua tangannya sambil menunduk. Sesaat kemudian ia kembali duduk tegak. "Oke aku akan menikah dengannya."


"Anda membuat pilihan yang tepat Nona. Silahkan Nona." Kembali Ryan memberikan sebuah kertas pada Visha.


"Surat pernyataan. Dengan ini, saya Tavisha Anastasya sebagai mempelai wanita dari seorang pria yang bernama Gavindra Alvaro Andhra.


Menyatakan bahwa, selama saya masih menjadi istri sah dari suami saya, maka saya akan mematuhi segala perintah yang suami saya berikan.


Dan saya akan memaafkan dengan ikhlas semua kesalahan suami saya, karena bagi saya semua tindakan suami saya selalu benar dan tidak pernah salah.


Jika suatu saat saya berani mengkritiknya maka saat itu juga saya siap untuk menerima hukuman apapun dari suami saya.


Demikian surat pernyataan yang saya buat dengan keadaan sadar tanpa paksaan dari pihak manapun.


Cirebon, 29 Januari 2023. Tanda tangan bermaterai 10000 (masih kosong) (nama jelas)Tavisha Anastasya. Hah? Apa harus seperti ini om?" tanya Visha terkejut dan agak kesal.


"Anda tidak mempunyai hak untuk memprotes Nona. Jika anda setuju untuk menikah, maka tanda tangani saja. Tapi bila anda--."


"Aku akan tanda tangan." Perkataan Visha langsung memotong ucapan Ryan.


Visha langsung memberikan map berisi surat pernyataan itu pada Ryan, saat ia selesai menandatangani surat itu.


"Terimakasih Nyonya Gavin. Silahkan anda bersiap diri. Tuan Muda Gavin akan kembali setelah anda siap. Saya permisi." Ucap Ryan yang mendadak penuh hormat pada Visha.


Ryan pun pergi meninggalkan ruangan pasien itu. Meninggalkan Nyonya Muda barunya sendirian. Kemudian beberapa perias make up artist profesional masuk kembali kedalam ruangan itu.


"Hah? Ada apa dengan pria itu? Benar-benar ajaib. Lama-lama gue bisa kena serangan jantung kalau kayak gini terus. Mengapa mereka selalu membuatku kaget? ckckckck. Orang kaya. Benar-benar." Suara hati Visha yang terkagum dengan kehebatan Gavin.


...****************...


Saat ini Visha sedang sibuk di vermak oleh beberapa orang make up artist profesional.


"Drrrrt..drrrrrt.." Getaran HP Visha yang diirigi dengan alunan lagu Bring Me To Life dari Evanescence.


Terdapat nama "Ibu Tersayang" dalam layar ponsel itu. Visha lalu menggeser tombol hijau pada ponselnya itu.


"Waalaikumsalam. Nak tadi sopir pacar kamu udah ngabarin ibu. Katanya kamu mau pergi sama dia ya? Ibu mau nitip pesen sama dia nak." Ucap Ibunya Visha dari seberang telpon.


Visha sedikit bingung dengan ucapan Ibunya, "Maksudnya gimana si Bu? Siapa yang mau pergi? Terus nitip pesen buat siapa Bu?"


"Loh kamu ini. Udah nggak usah malu sama Ibu nak. Ya udah nanti kamu tolong sampein makasih sama pacar kamu ya nak.


Ibu dan Chika sangat senang dengan hadiahnya. Kalian hati-hati ya di luar. Ya udah ya Nak, Ibu mau lanjut pindahin kotak hadiah dulu. Assalamu'alaikum." Ucap Ibunya Visha lalu memutuskan panggilan telepon.


Visha masih terkejut dengan sikap calon suaminya itu, "Wa'alaikumussalam. Hah? Nitip pesan makasih? Hadiah? Ya ampun apalagi ini?"


Visha kembali membuka layar ponselnya saat sang Ibu mengirimkan beberapa gambar padanya. Ia pun membuka beberapa gambar itu.


"Allahu akbar." Reflek Visha kaget melihat beberapa foto barang elektronik dan beberapa furniture keluaran terbaru yang ada dalam rumah ibunya.


"Sudah selesai Nyonya. Kami permisi." Ucap tim meke up artist itu.


"Oh. Iya. Terimakasih." Jawab Visha sedikit gugup.


Tim make up artist itu lalu pergi meninggalkan Visha sendiri dengan membawa semua perlengkapan stylish Visha yang telah mereka bawa sebelumnya.


Seseorang lalu masuk kedalam ruangan itu. Seorang pria yang sangat tampan. Memakai pakaian lima digit dengan celana yang senada dengan pakaiannya. Senada pula dengan gaun indah yang sedang Visha pakai saat ini.


Mereka berdua saling menatap dan saling mengagumi keindahan nyata yang berada didepan mata mereka.


"Sial, gadis ini sungguh cantik sekarang. Mengapa jantungku berdebar seperti ini saat menatapnya?" suara hati Gavin.


*Suara hati Visha, "Masya allah, cowo ini ganteng banget. Jantung gue sampe dag dig dorr liatnya. Apa dia yang bakal jadi suami gue? Walaupun cuma suami bayaran. Tapi nggak apa-apa deh.


Ya ampun tiap hari gue bakal liat muka gantengnya ini dong. Aaaaaahhhhk Senengnya. Eh eh dia makin deketin gue nih. Uuuucch manisnya senyumanmu ganteng*."


Mode Khayalan Aktif,


"Pangeran tampan berjalan perlahan menghampiri sang putri yang cantik jelita.


Saat pangeran telah sampai di depan sang putri. Pangeran lalu mengulurkan tangannya pada sang putri dengan posisi jongkok berlutut.

__ADS_1


Sang putri dengan senang hati menyambut uluran tangan pangeran itu. Sang pangeran lalu bangkit dari posisi sebelumnya dan menuntun sang putri untuk mengikutinya ketengah ruangan dansa.


Pangeran menuntun kedua tangan sang putri agar meletakkannya di leher pangeran. Lalu pangeran meletakkan kedua tangannya pada pinggang sang putri.


Mereka pun berdansa bersama. Saling memeluk. Saling memandang penuh cinta. Sampai bibir pangeran mendarat lembut pada bibir sang putri."


Mode Khayalan Berakhir.


Gavin tepat berada di depan wajah Visha. Ia memandang Visha yang tersenyum aneh saat gadis itu memandang kosong kearah wajahnya.


"Ckckckck. Gadis idiot. Untung kamu cantik. Heuh." Gavin menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ekspresi wajah Visha.


"Aww aww awww. Aduuh sakit tau. Jail banget si jadi orang!" ketus Visha memegangi pipinya yang sakit karena cubitan Gavin.


Gavin membuang nafasnya kasar. "Makanya jangan suka halu Nona. Ayo."


"Hah? Apa dia tau kalo tadi gue lagi mikirin dia? Ya ampuuun. Malu-maluin banget si." Suara hati Visha, lalu ia angkat kedua tangannya untuk menutupi wajahnya.


Gavin terhenti dari jalannya saat menyadari Visha yang masih diam ditempatnya. "Ck. Gadis ini benar-benar." Ia lalu kembali menghampiri Visha dan langsung menggendong tubuh gadis itu ala bridal style.


"Deg deg deg" debaran jantung Visha yang terasa semakin kencang.


Ia tersenyum bahagia memandang wajah tampan itu. Lalu ia senderkan kepalanya pada dada bidang Gavin.


Tangannya yang entah sejak kapan telah melingkar pada leher pria itu. Sungguh sangat menambah kesan romantis pada mereka.


Semua dokter, perawat dan beberapa orang yang berkepentingan dalam rumah sakit itu menatap iri pada mereka.


Banyak wanita yang meneriakkan nama Gavin dengan sangat histeris. Sampai petugas keamanan rumah sakit kesulitan untuk mengamankan mereka.


Karena Gavin adalah sosok Pengusaha Muda Kaya, Tampan dan Terpopuler di kalangan wanita.


Entah itu anak-anak, remaja, wanita dewasa, ibu-ibu bahkan nenek-nenek sekalipun tak luput menjadi korban pesona Gavin.


Beberapa bodyguard Gavin berjejer rapih memberikan jalan dan selalu siap siaga memberikan keamanan untuk kedua orang yang menjadi pusat perhatian semua orang itu.


"Aaaaaaaahkkh itu Gavindra."


"Ya ampuuun so sweet banget mereka"


"Gavindraaaa I love Youuuu"


"Aaaahhhk aku juga mau di gendoooong"


"Cepet-cepet ambil gambar yang banyak, Gavin gendong cewe tuh. Dia pasti pacarnya. Liat mereka mesra banget."


"Uuuuuchhhh My Honey Gavin"


"Gavin aku padamuuuu"


"Seperti inikah dia? Gavindra?" suara hati Visha yang matanya kembali setia, menatap wajah pria tampan yang menggendongnya.


***Flashback Off


"*Aku nggak pernah nyangka bakal nikah secepat ini. Padahal aku sangat berharap bisa nikah sama kak Adnan.


Hemmm, gimana ya kabarnya? Dia patah hati nggak ya nanti, kalo tau gue udah nikah. Hiks hiks Kak Adnan.


Aaaahhhk, nggak nggak gue nggak boleh baper. Bentar lagi gue mau nikah. Masa gue mikirin cowo lain si.


Ah tapikan pernikahan ini cuma pura-pura. Ah nggak taulah. Yang penting keluarga gue bisa hidup aman dan bahagia." Seru Visha dalam hati*.


"Tok tok tok. Visha acaranya mau dimulai sayang. Ayo kita turun nak?" ucap Ibu Afifah dari balik pintu yang hendak menyusul putrinya.


Visha pun menuruni tangga yang dihiasi dengan ribuan bunga mawar merah itu. Ia tersenyum melihat keindahan bunga itu. Bunga yang menjadi favoritnya.


Puluhan mata yang memandang Visha saat ini, seakan tersihir oleh kecantikan Visha. Dengan balutan kebaya pengantin khas Sunda yang berwarna putih cream itu.


Visha nampak seperti seorang bidadari yang turun dari kayangan. Benar-benar membuat mata terpesona melihatnya.


Acara sakral pun berlangsung. Visha duduk tepat disamping Gavin. Jantung kedua mempelai itu seakan hendak loncat dari tempatnya. Mereka sangat grogi.


Kata sah serentak terdengar dari semua orang yang hadir dalam acara itu, saat Gavin selesai mengucapkan kalimat ijab qobul dalam sekali pengucapan dengan suara yang lantang dan sangat jelas.


Gavin memberikan mahar pada Visha berupa satu set perhiasan emas putih yang seberat 20 gram. Dan uang tunai sebesar 4 juta KWD. Atau setara dengan IDR 200 Milyar lebih.


๐“‘๐“ฎ๐“ป๐“ผ๐“ช๐“ถ๐“ซ๐“พ๐“ท๐“ฐ..........

__ADS_1



__ADS_2