Gadisku Sayang

Gadisku Sayang
BAB 18_Rencana Visha


__ADS_3


Ia lalu berucap, "Ckckck, katakan, ini dirimu yang asli atau hanya ekting? Kau pikir aku tidak tahu isi otakmu itu, hm? Kau mulai berani menggodaku ya sekarang. Lihatlah akibat dari ucapanmu itu Nyonya Muda Gavin. Hehe."


Seketika Gavin pun langsung menyerang leherku, ia membuat beberapa stempel disana.


Lalu perlahan pindah ke dadaku. Dengan tidak membuka pakaianku. Ia rakus memainkan pegununganku itu.


"Aaaaaaaahhhhhhkk Gaviiiin hentikaaaan."


...****************...


"Tok.. Tok.. Tok.. Sayang apa kalian sudah bangun? Tim prewed sudah ada di bawah Nak. Tok.. Tok.. Tok.. Gaviiin.. Vishaaa..!" ucap Ibu Mertuaku.


"Sebentar lagi Maaah. Ini sangat nanggung. Mamah jangan ganggu kami." Sahut Gavin bahagia dan menahan tawa.


Saat ini mulutku sedang ditutup oleh salah satu tangannya. Saat aku hendak menjawab panggilan ibu mertuaku.


"Cih. Dasar mesum. Apa yang kamu katakan tadi hah? Menyebalkan. Mamah pasti mikir yang bukan-bukan tentang kita." Ucapku resah.


"Memangnya kenapa? Bukankah tadi kau yang bersemangat untuk merayuku? Lagipula, sekarang, kita ini suami istri sayang, jadi tidak masalah bila kita melakukannya sekarang bukan?" ucapnya yang semakin mendekati wajahku untuk kembali menyerangku.


Saat beberapa senti lagi kedua bibir itu melekat, aku pun berucap padanya dengan senyuman yang paling manis dan sengaja tanganku merangkul pada lehernya, "Ternyata kau memang benar mencintaiku ya? Kau benar-benar tergila-gila padaku? Hahaha. Seorang Gavin mencintaiku. Ini luar biasa.


Seorang Gavin mencintai Tavisha, ketua preman. Haha. Lucu sekali. Lihatlah dirimu saat ini, hanya dengan rayuan seperti itu, kau langsung bersemangat untuk memakanku. Hahaha.


Aku sangat penasaran, seberapa besarkah cintamu untukku suamiku? Apakah sebesar angkasa? Ataukah seluas samudra? Ah apa jangan-jangan sebanyak air hujan yang membasahi bumi?


Oooh. Manis sekaliiii. Bahkan kedua mantanku tak memberikan cinta yang seperti itu untukku. Tapi sayang sekali, aku tak mencintaimu sama sekali suamiku."


"Dia tidak mencintaiku? Benarkah? Jadi, tadi dia hanya berpura-pura menggodaku untuk mempermalukanku? Benar-benar gadis yang nakal.


Heuh, padahal aku kira dia telah jatuh hati padaku. Ternyata aku hanya berharap. Cintaku hanya bertepuk sebelah tangan. Astaga, ini cukup menyakitkan.


Aku tidak bisa melakukannya. Ini sungguh tak nyaman, walaupun dia istri sah ku, tapi dia hanya istri bayaran. Aku tidak bisa menikmatinya, bila ia tak mencintaiku. Ya Tuhaaan, dia benar-benar menyiksaku." Serunya resah dalam hati.


"Hei, kenapa diam saja? Bukankah kau ingin menyerangku lagi, hm? Apakah kau kecewa karena aku tak mencintaimu?" ucapku lagi.


Seketika Gavin pun langsung bangkit berdiri. "Cih. Bagaimana mungkin aku menyukai gadis urakan seperti kamu? Heuh. Aku hanya sengaja menggodamu saja.


Syukurlah bila kau benar-benar tidak mencintaiku, jika tidak, mungkin kau akan sakit hati, karena cintamu yang bertepuk sebelah tangan. Sudahlah aku akan turun untuk bersiap, kau cepatlah rapihkan pakaianmu dan segeralah menyusulku."


Gavin pun berlalu pergi meninggalkan aku sendiri. "Cih. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu? Dia pikir aku tidak tahu tentang hatinya. Oke, saatnya menjalankan rencana bombastis. Hehehe."


...****************...


Saat ini aku sedang berdiri di depan cermin rias. Beberapa orang tampak sedang merapihkan gaun pengantinku, sebelum acara pemotretan di mulai.


Aku memakai gaun pengantin berwarna cream yang berhiaskan taburan bunga yang mengkilap. Sedangkan Gavin memakai setelan jas yang senada dengan gaun yang ku pakai.

__ADS_1


"Dia benar-benar cantik. Benarkah dia istriku? Terkadang aku merasa ini hanyalah mimpi. Untuk saat ini, aku tidak akan mempermasalahkan tentang isi hatimu padaku Visha.


Tapi acara resepsi pernikahan kita. Bila saat itu tiba, semua orang akan mengetahui bahwa kau adalah milikku. Maka tidak akan ada yang berani mengambilmu dari sisiku.


Selamanya kita akan selalu bersama. Aku akan selalu membuatmu bahagia. Visha aku mencintaimu." Serunya dalam hati.


Dari jauh, aku memperhatikan Gavin yang sejak tadi tak berkedip menatapku. Ia pun berjalan perlahan menghampiriku.


"Kau sangat cantik sayang. Aku semakin mencintaimu saja." Ucapnya lembut penuh senyuman sambil mengecup mesra keningku.


Aku hanya terdiam dan tersenyum manis mendengar ucapannya. Lalu Gavin pun merangkul pinggangku dan menempelkan kening kami.


Jarak sedekat ini. Benar-benar sangat manis dan romantis. Membuat semua wanita yang ada di ruangan itu, merasa iri padaku.


"Dia benar-benar sangat cantik mempesona." Serunya dalam hati.


"Matanya sangat teduh. Dia sangat tampan. Ingin sekali aku membelai pipinya itu. Akan lebih bahagia lagi bila kau mengakui perasaanmu itu Vin. Aku pasti menjadi satu-satunya wanita yang paling bahagia di dunia ini." Seruku dalam hati.


Ibu Mertuaku dan beberapa fotografer yang ada dalam ruangan itu pun tak menyia-nyiakan pemandangan yang kami buat.


Mereka dengan cepat mengambil beberapa jepretan gambarku dan Gavin.


Gavin pun membelai wajahku dengan salah satu tangannya. "Istriku benar-benar sangat cantik"


Ia terus tersenyum menatap wajah cantikku. Lalu ku lingkarkan tanganku pada lehernya. Aku pun mendekatkan wajahku pada wajahnya, dengan sedikit menengok keatas, karena ia yang lebih tinggi dariku.


"Cih. Jangan bangga Visha. Aku hanya berakting dihadapan semua orang saja. Belajarlah seribu tahun lagi untuk bisa memikat hatiku. Heuh. Dasar gadis bar-bar." Serunya sangat pelan.


"Cih, dasar pria bodoh. Sampai kapan dia akan menyangkalnya?" seruku dalam hati.


Sesi pemotretan pun dimulai. Kami sangat natural menjalani pemotretan itu. Karena memang, kami senang dengan keadaan itu.


Hanya saja, egolah yang masih menahan tindakan Gavin. Padahal selama ini, aku telah bersiap untuk menyambut cintanya.


Berbagai pose dan background pun telah berganti. Berhasil menciptakan puluhan gambar indahku dengan Gavin.


Aku lalu duduk di sebuah kursi taman, sambil menikmati cemilanku dan jus alpukat favoritku. Setelah acara pemotretan usai.


Beberapa saat kemudian, aku mengangkat ponselku untuk berselfi di tempat itu, dengan masih memakai gaun pengantinku.


Dari hasil jepretan kamera ponselku, terlihat jauh dibelakangku, Gavin yang sedang tersenyum menatapku.


Lalu akupun mulai menjalankan rencana dahsyatku. Jariku memencet masuk ke mode pengaturan nada panggilan telepon.


Lalu dengan sengaja aku mengeraskan volume ponselku. Dan ku tekan tombol pilihan musik, hingga terdengar keras suara nada dering ponselku.


Yang memberi kesan, bahwa saat ini seseorang sedang menelfonku. Aku pun berpura-pura mengangkat panggilan telfon itu dan sengaja aku berucap cukup keras agar Gavin mendengarnya, "Halo juga sayaang. Aku juga kangeeen.


Maaf ya, belakangan ini aku cukup sibuk, jadi nggak sempat buat ngabarin kamu. ------- ( aku tersenyum seolah-olah sedang mendengarkan seseorang berbicara)

__ADS_1


Ah sayang, kamu bisa aja. Kamu sabar ya, setelah aku berhasil membuat Gavin mencintaiku, aku pasti akan memiliki bayi dengannya. Dengan begitu rencanaku untuk menguasai seluruh hartanya pasti lebih mudah.


Dan saat semua hartanya telah menjadi milikku, aku akan pergi meninggalkannya, dan kembali bersamamu sayang. Aku benar-benar tak sabar menantikan saat-saat itu. ------- (tertawa palsu) Oke baiklah. Kau juga jangan lupa kesehatan ya sayang. Love you too darling. Emmmmuuuaaaaah."


Gavin sangat geram mendengar ucapanku yang seolah-olah sedang berbicara dengan lelaki lain itu. Ia lalu langsung menghampiriku dan berkata cukup keras, "Visha!"


"Yes, ikan hiu masuk perangkap. Pftt." Seruku dalam hati.


Aku pun mulai berakting dan menengok kearahnya, dan berpura-pura terkejut, "Gavin? Ada apa?"


Ia semakin geram saat menatap ponselku. Ia pun langsung merampas ponselku, lalu mengangkat daguku dengan kasar. Dan berucap cukup keras, yang seperti teriakan, "Beraninya kamu membodohiku? Siapa pria itu hah?


Kau berniat untuk menguasai semua hartaku demi pria itu? Sialan kalian berdua. Aku tidak akan membiarkan rencana kalian berjalan lancar. Ingat ya Visha, selama kau menjadi istriku, selama itu juga, aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk dekat dengan pria manapun. Mengerti kamu!?"


"Cih. Jadi kau telah menguping dan mendengar semuanya. Heuh, itu bagus. Maka aku tidak akan berpura-pura lagi. Kau pikir kamu siapa hah? Hanya karena uang, kau dengan sesuka hati mengaturku? Aku muak Vin, aku lelah, aku nggak peduli lagi dengan perjanjian kita.


Aku akan pergi dari rumah ini, sekarang kau bisa ceraikan aku dengan tenang, agar rencanaku itu tak akan pernah berhasil. Itukan yang kamu mau?


Lagipula kau tidak pernah mencintaiku sedikitpun bukan? dan banyak wanita diluar sana yang sangat ingin menjadi istrimu, kau dengan mudah bisa memiliki mereka dengan uangmu itu. Nggak harus aku!


Dengar! aku sudah tak peduli lagi dengan semua hutang-hutang ayahku. Kau tidak bisa mengancamku lagi. Aku tidak mau diatur-atur olehmu. Aku hanya ingin hidup bahagia dengan pria yang aku cintai dan dia pun mencintaiku. Jadi kau ---- plaakk." Ucapanku terpotong karena tamparannya. Membuat wajahku ikut terhuyung mengikuti arah tamparan itu.


Aku berpura-pura menatap geram pada wajahnya, dengan airmata yang mulai menetes di pipiku. Aku pun menangis dan pergi berlari meninggalkannya.


"Sialan Gavin. Apa dia benar-benar cemburu?tamparannya sakit sekali." Seruku dalam hati sambil berlari menangis menuju kamar.


Gavin lemas dan ambruk ke rerumputan. Ia menatap sendu pada tubuhku yang berlari menjauhinya.


Sepanjang perjalanan menuju kamar. Ibu Mertuaku memperhatikan aku yang sedang berlari sambil menangis. Ia pun bergegas mengejarku.


Namun aku langsung menutup pintu dengan keras saat Ibu Mertuaku itu hendak masuk. "Visha apa yang terjadi sayang? Nak, buka pintunya?"


Sengaja ku tak menyahut sama sekali. Demi kelancaran rencanaku ini. "Aaah, maafkan aku mah, semua ini karena anak mamah yang bodoh itu. Salahkan saja dia mah." Serumu dalam hati.


Gavin lemas menerima kenyataan ini. Nantinya hancur, sangat sakit. Ia pun menatap ponselku, karena penasaran, ia membuka ponselku itu.


Seketika Gavin terkejut saat melihat layar ponselku. Terlihat jelas pada layar itu, sebuah menu untuk pengaturan nada panggilan telepon.


Ia pun menekan nada itu. Bunyilah nada yang sama saat Visha berpura-pura menerima panggilan telfon palsu itu.


Karena masih penasaran, jarinya lalu berselancar ke menu riwayat panggilan. Dan tertera jelas pada layar itu. Panggilan terakhir yang Visha tuju adalah nomor Ibunya.


"Aaaissh.. Vishaaa.. dia menipuku.. Astagaa.. Apakah dia mengetahui isi hatiku? dan --- Apakah dia juga mencintaiku. Ya ampuun Vishaaa. Kamu benar-benar nakal." Serunya gemas sambil tersenyum bahagia.


Ia pun langsung bergegas lari menuju kamar untuk menemui sang istri tercinta.


๐“‘๐“ฎ๐“ป๐“ผ๐“ช๐“ถ๐“ซ๐“พ๐“ท๐“ฐ.....


__ADS_1


__ADS_2