Gadisku Sayang

Gadisku Sayang
BAB 9_Toples Berhujan Shower


__ADS_3

( Dalam Mobil Gavin )


"Tadi itu, lo serius mau nginjek kakinya?" tanyaku penasaran.


"Hahaa. Menurut kamu gimana? Dia udah berani nyentuh tangan kamu. Di dunia ini tidak ada seorang pun pria yang boleh menyentuh bagian tubuh manapun dari istri Gavindra." Ucap Gavin sangat percaya diri.


"Walau istri bayaran sekalipun?" tanyaku lagi.


"Ya. Istri bayaran sekalipun. Karena yang perlu mereka tahu adalah mereka tak berhak menyentuh sesuatu milik Gavindra." Ucap Gavin tegas.


"Ckckck. Jadi karena formalitas doang ya. Gue kira karena lo suka sama gue. Hahaha." Ucapku dengan tawa yang renyah.


"Tak." Ia menjitak keningku. "Jangan berharap lebih Nona."


"Cih. Nanti juga lo bucin sendiri kok sama gue. Hahaha." Ucapku percaya diri.


"Liat aja lo Vin, jangan panggil gue Visha kalo gue nggak bisa cairin hati es kutub lo itu." Seruku dalam hati.


"Ckckck. Mimpi." Sahut Gavin ketus.


"Benar-benar imut." Suara hati Gavin.


Terdengar alunan lagu dari ponselku. Aku pun segera meraih ponselku dari dalam tas. Lalu melirik nama pemanggil yang ada dalam ponsel itu. Dan langsung menekan tombol hijau pada ponselku itu.


"Halo Jen? Ada apa?" ucapku.

__ADS_1


"Iiiiiih Vishaaaaa. Lo kenapa nggak masuk kerja. Kemaren kan kita udah janjian ketemu di toko. Lo tau nggak si, tadi Gavindra tuh nggak jadi dateeeeeng. Hiks hiks. Sedih banget gue. Padahal gue udah ngabisin sebagian uang tabungan gue buat ke salon. Biar tampil cantik di depan dia. Gue juga udah bli kue buat dia Sha. Tapi dia malah nggak jadi ke toko. Hiks hiks." Celoteh Jennie.


"Huahahaha. Makan tuh Gavin. Makanya kalo ngefans tuh sewajarnya aja Jen. Nggak usah lebay. Pfffht." Sahutku puas mengejek sahabatku itu.


Gavin yang mendengar namanya dipanggil dalam percakapan Visha pun reflek memandang aneh kearah Visha dan menyuarakan hatinya. "Ngapain dia bawa-bawa nama gue? Ketawa-ketawa lagi"


Setelah sekian lama mengobrol panjang lebar dengan sahabatku itu, aku pun mengakhiri panggilan telfon itu.


"Ah dasar Jennill si drama queen." Ketusku ngasal.


"Kalian ngomongin gue ya?" ucap Gavin sangat percaya diri.


"Cih. Pede banget lo jadi orang. Emang Gavin di dunia ini cuma lo doang apa." Sahutku jutek.


"Ya kali aja. Aku kan sangat populer dikalangan wanita. Kamu juga sebenarnya naksir kan sama aku?" Ucap Gavin benar-benar percaya diri.


...****************...


( Halaman Pom Bensin )


"Sha aku ke toilet dulu ya. Kamu tunggu disini nggak apa-apa kan? Kebelet banget nih." Ucap Gavin tiba-tiba.


"Iya udah sana. Jangan lama-lama ya. Gue ngantuk banget nih." Sahutku sambil menggeliat.


Beberapa saat kemudian Gavin kembali masuk kedalam mobilnya. Ia melirikku sejenak saat hendak mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


"beneran ngantuk ya dia? udah tidur aja. Tidurmu sangat cantik Sha. Aku suka." Ucap Gavin tersenyum menatap wajahku.


Gavin lalu menyalakan mesin mobilnya. Membelah jalanan malam kota yang cukup ramai dengan puluhan kendaraan itu. Kami menuju rumah pribadi Gavin.


...****************...


( Kamar Gavin )


Aku terbangun dari tidurku karena merasa ingin buang air kecil. Dalam keadaan yang masih setengah sadar. Aku duduk ditepi ranjang dan melihat sekelilingku.


Aku langsung berdiri saat mataku berhasil melihat sebuah pintu. Aku pun langsung berdiri dan berjalan menuju pintu itu. Tanpa mengetok lagi, aku langsung menerobos masuk kedalam pintu kamar mandi itu.


Dengan mata yang terpejam dan sesekali terbuka, aku langsung berjalan kearah closet. Dengan santai, aku mengucek-ngucek mataku sambil duduk diatas closet.


Entah apa yang terjadi dengan pendengaranku, aku sama sekali tidak menyadari bahwa saat ini, aku sedang bersama seorang pria di dalam kamar mandi itu. Aku bahkan dengan santai membuang air kecil di atas closet kamar mandi tersebut.


Telingaku samar-samar mendengar senandung seorang pria. Mulutku pun reflek mengomentari pendengaranku itu, "Apa itu suara Gavin ya? Kenapa saat buang air pun Gavin selalu ada. Ckckck. Dasar es kutub."


Beberapa menit kemudian logikaku baru sampai ke otak. Aku mulai teringat bahwa terakhir kali, aku sedang duduk di kursi mobil bersama Gavin, dengan keadaan yang sangat mengantuk.


Otakku semakin jernih. Logikaku benar-benar telah kembali pada posisi yang seharusnya. Aku pun membuka mataku lebar-lebar. Aku terkejut.


"Aaaaaaaaaaahhhhhk." Teriakku kaget melihat pemandangan toples yang sedang diguyur hujan shower.


Aku benar-benar melihat bagian samping toples itu dengan sangat jelas.

__ADS_1


Gavin reflek melihat kearahku, saat aku mengeluarkan teriakan yang sangat kencang.


π”Ήπ•–π•£π•€π•’π•žπ•“π•¦π•Ÿπ•˜ ........


__ADS_2