
( Rumah Sahabat Gavin )
"Sayang. Sayaaaang. Vishaaa. Sadarlah." Teriak Gavin yang menepuk-nepuk pipiku pelan karena semakin panik melihatku pingsan. Ia pun segera menggendong tubuhku dan bergegas keluar dari rumah mewah itu menuju mobilnya, untuk segera membawaku ke rumah sakit.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Aku sangat tahu bagaimana Visha. Dia tidak mungkin dengan mudah terluka hanya karena seorang Cleo. Bahkan aku melihatnya dengan mataku sendiri saat dirinya melawan tiga pria itu dengan gagah dan tanpa memakai senjata apapun." Seru Gavin dalam hatinya.
( UGD Rumah Sakit )
Saat ini Gavin sedang duduk disebuah kursi yang ada di samping Visha.
"Sha, kenapa lo belum sadar juga, aku khawatir Sha!" ucap Gavin sedih yang melihatku masih terpejam. Padahal sejak tadi aku memang tidak pingsan.
Ponsel Gavin pun berdering, mengeluarkan alunan nada lagu. Ia sejenak melihat ke nama pada layar ponsel itu lalu segera menggeser tombol hijau pada layar ponselnya itu.
"Iya halo Ed." Ucap Gavin mengangkat telfon dari sahabatnya itu.
"Gimana istri lo Bray? Sorry banget ya ini semua terjadi di luar pengawasan tim keamanan aku. Oh ya, aku udah nyuruh anak buah aku buat bawa Cleo ke kantor polisi Vin. Aku nggak nyangka, Cleo bakal sekejam itu. Padahal dia terlihat pendiam." Ucap Edward sahabat Gavin.
"Dia masih belum sadar Ed. Masalah Cleo, aku udah nggak mau tahu lagi tentang dia, aku nggak peduli lagi. Dan buat kedepannya, aku bakal batalin semua kontrak kerja yang berhubungan sama dia." Ucap Gavin tenang pada sahabatnya.
Beberapa saat kemudian, panggilan telfon pun ditutup.
Gavin kembali menatapku. Ia lalu bangkit dari duduknya dan pindah duduk di sampingku. Ia membelai anak rambutku lembut. Ia belai juga pipiku. Dan ibu jarinya mengusap-usap lembut bibirku.
Dalam sadarku namun dengan mata yang masih terpejam, aku terkejut. Hampir saja aku membuka mata.
Namun karena aku penasaran dengan apa yang akan dilakukan Gavin selanjutnya, akupun lanjutkan aksi dramaku itu.
"Gadis ini benar-benar sangat cantik. Sejak awal aku tak salah memilihnya. Dia sangat sempurna untuk menjadi istriku. Sedangkan aku, terlalu kejam untuk memilikinya. Tapi kamu tenang aja Sha, seiring berjalannya waktu. Aku pasti bisa mengambil hatimu." Ucap Gavin padaku lalu mengecup lembut keningku.
"Ya ampun, ternyata sejak awal dia sudah tertarik sama gue. Gue nggak pernah menyangka, seorang Gavin, aktris terkenal bisa suka sama gue, gadis biasa yang mempunyai warisan hutang banyak dari ayah." Seruku dalam hati dengan mata yang masih terpejam.
__ADS_1
Gavin lalu memperhatikan luka di pundakku itu. "Lukanya tak terlalu dalam, namun cukup panjang. Banyak darah yang keluar saat itu. Pasti itu sangat sakit. Tapi entah mengapa, aku masih ragu karena Visha dengan mudah terluka seperti ini."
"Apa dia khawatir sama gue?" seruku dalam hati.
Gavin kembali memperhatikanku, ia semakin cemas karena aku belum juga sadar. "Kenapa Visha masih belum sadar ya? Ini sudah hampir satu jam. Apa aku perlu tanya dokter lagi?"
Gavin semakin bingung. Lalu ia genggam salah satu tanganku. Sambil mengusap-usap punggung tanganku. Ia berkata, "Sha kenapa kamu masih belum sadar juga? Dokter bilang lukamu nggak terlalu parah, tapi aku khawatir Sha. Bangun Sha, sadarlah. Aku berjanji akan mengabulkan apapun yang kamu mau Sha, selain hal-hal yang melukai hatiku, asalkan kamu bisa segera sadar." Ucap Gavin lembut padaku dengan suara sedih yang hampir menangis. Ia pun mengecup mesra punggung tanganku dengan mata terpejam.
"Beneran janji lo itu Vin?" tanyaku tiba-tiba pada Gavin yang berhasil membuatnya terkejut.
Gavin membuka matanya dan langsung menatap Visha. Dengan kedua tangannya yang masih mengecup punggung tanganku.
Seketika Gavin pun melepas genggaman tangannya dari tanganku. "Visha!? Apa tadi yang kamu katakan?"
"Hehehee. Kamu nggak denger apa pura-pura nggak denger? Aku mau kamu jadi pelayanku mulai sekarang. Emmmmm, selama satu bulan? Oke?!" ucapku pada Gavin dengan nada yang sangat bahagia. Kapan lagi kan bisa punya pelayan seorang artis terkenal.
"Jadi pelayan kamu selama satu bulan? Apa-apaan itu? Aku suami kamu Sha, kamu jangan lupa itu." Ucap Gavin agak kesal.
"Oooh jadi kamu denger semuanya. Sejak kapan kamu sadar dan berpura-pura masih pingsan, hmm?" ucap Gavin padaku dengan nada yang semakin kesal.
"Kamu mau tahu? Hahaha. Sejak kejadian di rumah sahabatmu itu. Hehe." Jawabku dengan sangat santai.
"Apa? Sejak dari sana? Visha kamu benar-benar semakin berani ya sama aku. Kamu nggak tahu kalau aku ----. Aaahhkk istri nakaal." Ucap Gavin padaku gemas. Lalu ia menggelitik tubuhku dengan cepat.
"Hahaha, hentikan Gavin. Geli. Hahaha. Sudah Vin. Hahaha." Ucapku pada Gavin dengan tawaan menahan geli.
"Rasakan ini hah! Aku nggak akan berhenti sampai kamu terkencing dicelana. Hahaha." Ucap Gavin yang semakin keras menggelitik beberapa bagian pinggangku.
"Aww aww sakit. Aduuuuh." Ucapku tiba-tiba yang berpura-pura merasa sakit, dan berhasil menghentikan aksinya itu.
"Ya ampun, maaf Sha. Aku nggak sengaja. Maaf ya Sha. Aku panggilkan dokter ya? Bentar Sha." Ucap Gavin yang cukup panik dengan kondisiku.
__ADS_1
"Nggak usah Vin. Aku cuma pura-pura sakit kok. Hehe." Ucapku santai pada Gavin dengan berhasil menarik salah satu tangannya saat hendak keluar dari ruangan itu.
"Apa? Kamu sengaja lagi? Ya ampun Vishaaa ---- kamu ini --- " Ucapan Gavin terpotong karena tanganku yang menarik tubuhnya dengan cukup kuat, sehingga tubuhnya berada di pelukanku.
"Maaf Vin, aku hanya ingin memelukmu sebentar." Ucapku lembut padanya. Namun Gavin hanya terdiam. Ia bahkan tak menyambut ataupun membalas pelukanku.
Ucapanku itu ternyata berhasil membuat Gavin salah tingkah dan membuat wajahnya memerah.
Perlahan ku lepaskan pelukanku dari tubuhnya. Namun saat melihatku, ia semakin salah tingkah saja.
"Ah a-aku aku keluar sebentar Sha. Mau cari minum." Ucapnya gugup tanpa mendengar jawaban dariku, ia justru langsung berjalan menuju kearah kamar mandi ruangan itu.
"Loh katanya mau ke keluar kok malah ke kamar mandi?" seruku dalam hati melihat tingkah Gavin yang aneh.
Gavin pun langsung membuka pintu kamar mandi itu. Ia terkejut saat melihat isi ruangan yang ia buka itu. "Astaga. Kenapa aku bisa salah pintu! Memalukan sekali." serunya dalam hati.
"Pffft. Kenapa dia? Rupanya salah pintu. Pffft." Seruku lagi dalam hati yang menahan tawa saat melihat tingkah lucu suami bayaranku itu.
Gavin pun langsung berbalik setelah menutup pintu kamar mandi. Ia langsung bergegas menuju pintu keluar. Dengan senyuman canggung yang terlukis di bibir seksinya itu. Ia pun berlalu keluar lalu kembali menutup pintu.
"Hahahaha. Dasar es kutub. Dia itu salting karena gue peluk tadi ya? Hahaha. Menggemaskan sekali. Ternyata suamiku sangat lucu. Hahaha." Ucapku bahagia mengingat tingkah Gavin itu.
"Ya ampun. Apa yang terjadi padaku? Benar-benar memalukan. Aaakkkh." Ucap Gavin kesal sambil mengacak kasar rambutnya.
๐๐ฎ๐ป๐ผ๐ช๐ถ๐ซ๐พ๐ท๐ฐ.....
__ADS_1