
"Ya ampuuun. pingsan lagi. Ck." Dengus Gavin bingung melihat gadis yang ia tabrak tak sadarkan diri.
"Ya ampun dia pingsan mas. Ayo mas cepet bawa dia kerumah sakit." Ucap salah seorang bapak.
"Yaudah tolong bantu pak, cepet-cepet bawa dia masuk ke mobil." Sahut Gavin agak panik.
Mereka lalu mengangkat tubuh gadis itu kedalam mobil.
"Makasih Pak." Ucap Gavin yang kembali menaiki mobilnya saat gadis yang ia tabrak itu sudah berada di kursi belakang. Ia pun segera membawa gadis itu ke rumah sakit terdekat.
...****************...
(UGD Rumah Sakit)
Hari sudah pagi. Setelah kecelakaan semalam itu, Gavin terpaksa tidur dirumah sakit untuk menemani korban yang ia tabrak.
Saat ini Gavin sedang duduk disebuah kursi yang berada disamping gadis yang ia tabrak itu. Gadis itu masih terbaring lemah diatas brankar rumah sakit.
Ia mengusap wajahnya kasar mengingat semua kejadian yang telah ia alami. Sebuah alunan musik terdengar nyaring dari balik kantong jaket Gavin.
Memecah keheningan dalam ruangan itu. Ia pun merogoh kedalam kantong itu. Mengambil ponselnya yang masih mengeluarkan alunan lagu.
Ia membuang nafasnya kasar saat melihat nama yang tertera dalam layar ponselnya itu.
"Ck..Ada apa lagiiii ni papah. Heeummfft." Ucap Gavin frustasi sebelum ia mengangkat tombol hijau dilayar ponselnya.
"Iya halo pah!?" ucap Gavin lesu.
"Gimana Vin? Jam berapa kalian datang? Papah sudah pesan WO dan Mahar untuk calon istri kamu." Ucap papah Gavin tanpa basa basi.
"Papah terlalu buru-buru? Bukankah akhir bulan masih 2 hari lagi? Sekarang baru tanggal 28 pah." Sahut Gavin.
"*Hahahaa. Papah hanya ingin memberitahumu Gavin. Nanti malam bawalah dia kerumah. Mamahmu sudah menyiapkan pesta penyambutan untuk calon menantunya.
Ia sendiri yang memasak menu makanannya. Kau tahu, mamahmu sangat senang, dia memasak begitu banyak makanan untuk kalian.
Datanglah selepas isya Vin. Kami menunggu kalian." Ucap papah Gavin lalu mematikan sambungan teleponnya*.
Gavin membuka chat masuk dari papahnya. Dua buah foto dikirim oleh papahnya. Satu buah foto berisi gambar sepasang baju pengantin berwarna putih.
Satu foto lagi berisi gambar satu set perhiasan emas putih dan sejumlah uang dollar yang sudah diberi frame.
"Heeeemmmfft. Mereka ini benar-benar. Semuanya sudah siap. Heuh. Sebenarnya aku atau mereka sih yang mau nikah. Ck. Hmmm. Aku telepon Ryan aja deh." Kesah Gavin.
Saat sedang menghubungi Ryan. Tanpa sengaja Gavin melirik kearah gadis yang ia tabrak. Ternyata ia baru sadar bahwa gadis itu sangat cantik dan manis.
"*Cewe ini cantik juga. Beruntung banget pria yang jadi pacarnya. Hemm." Ucap Gavin pelan sambil tersenyum. "Hah? Pacar? Ya, benar pacar.
Gadis ini bisa menjadi pacar kontrakku. Mengapa tak terpikirkan sejak tadi olehku? Heuhh." Sambil menggelengkan kepala ia menyuarakan hatinya*.
"Halo Tuan Muda! Halo! Tuan Muda!" seru Ryan saat mengangkat panggilan telepon dari bosnya.
Ia merasa heran karena sang bos tak menyaut sapaannya. Sedangkan Gavin yang sibuk dengan pikirannya tak menyadari bahwa seseorang yang ia panggil telah mengangkat teleponnya.
"*Ada apa dengan Tuan Muda?" suara hati Ryan yang merasa aneh dengan tingkah bosnya.
__ADS_1
Ia sampai melirik layar ponselnya dan membaca ulang nama dalam panggilan itu. "Benar nomer Tuan Muda. Tapi kenapa dia hanya diam?" suara hati Ryan lagi*.
"Halo.. HALO TUAN MUDA. APA YANG TERJADI?" ucap Ryan mengeraskan suaranya karena kesal dengan Tuan Mudanya itu.
Gavin yang mendengar suara yang hampir seperti teriakan itu terkejut dan langsung menyadari bahwa sejak tadi ia telah mengabaikan Ryan."Iya Iya Halo Yan. Sorry. Ah..Aku..aku butuh bantuanmu Yan." Ucap Gavin yang mendadak bingung.
"Apa yang bisa saya lakukan Tuan Muda?" sahut Ryan yang bingung dengan sikap bosnya.
"Yan tolong carikan gaun dan semua perlengkapannya untuk seorang gadis. Saya akan kirim fotonya padamu. Cari sekarang Yan." Ucap Gavin memberi perintah.
"Hah? Gadis? Ah baik Tuan Muda. Apakah hari ini anda tidak akan masuk kantor Tuan?" Sahut Ryan dengan cepat.
"Nggak Yan. Semalam aku nggak sengaja nabrak seorang gadis. Dan sekarang aku sedang bersama gadis itu di rumah sakit. Sudah cepat selesaikan tugasmu." Seru Gavin lalu memutuskan panggilan telepon.
"Ting" sebuah notifikasi masuk ke ponsel Ryan. Berisi foto gadis yang sedang tertidur di atas brankar rumah sakit.
"Hah? Apa ini? Tuan akan berkencan dengan gadis yang ia tabrak ini? Bagaimana dia mengatakan tujuannya pada gadis itu? Hahahha. Momen yang sungguh ingin aku tahu." Ucap Ryan sedikit terkejut sekaligus penasaran dengan rencana bosnya itu.
...****************...
Tavisha membuka matanya saat hari beranjak siang. Saat itu Gavin masih duduk dikantin setelah memakan sarapannya. Ia pun perlahan bangun dan duduk di brankar itu.
"Aduh kepalaku. Issh kenapa nih? Ini dimana?Awww." Ucap Tavisha yang masih bingung dengan apa yang terjadi padanya. Ia pun mulai menyadari tempat itu.
"Hah? Rumah sakit? Oh iya, semalem kan aku tertabrak mobil seseorang." Ucap Visha yang mulai menyadari dengan apa yang ia alami sebelumnya.
"Ceklek kreeeeeettt." Suara pintu yang terbuka.
Mata Visha mengekori sosok pria yang telah memasuki kamar inapnya itu.
Tapi kata dokter kamu nggak papa kok. Cuma luka ringan. Lecet-lecet doang. Habis makan juga bisa langsung pulang kok.
Nih. habisin dulu ya sarapannya." Ucap Gavin lalu memberikan nampan berisi makanan dan air minum pada Visha.
"Heuh. Pulang ya?" Sahut Visha lesu.
Gavin heran melihat ekspresi wajah gadis itu yang tidak senang saat mendengar pesan dokter bahwa hari ini juga ia sudah bisa pulang.
"Hemm. Kenapa gue cuma luka ringan? Kenapa gue nggak sampe koma? Ya ampuun. Kalo gue pulang sekarang. Ribet banget nanti ketemu preman sialan itu. Heemmftt.. Harus kemana ya nanti gue pulang? Hmm." Suara hati Visha.
"Kamu kenapa? Nggak laper? Apa susah makannya? Tangan kamu masih sakit? Atau kamu nggak suka sama menu makanannya ya?" cecar Gavin.
"Heeuummmft." Hanya hembusan nafas kasar yang bisa ia berikan sebagai jawaban pertanyaan-pertanyaan itu.
Gavin lalu berjalan mendekati Visha. Ia duduk tepat didepan Visha yang juga sedang duduk bersila diatas brankar itu. Visha yang belum pernah diperhatikan oleh seorang pria dengan jarak sedekat itu pun langsung panik.
"Kenapa mas?" tanya Visha
"Harusnya aku yang nanya kamu kayak gitu. Kamu kenapa? Ditanya kok diem aja?" ucap Gavin.
"Ah nggak papa kok mas." Sahut Visha lesu.
"Tok.. Tok.. Tok.. Tuan Muda. Semuanya sudah siap?" ucap Ryan dari luar kamar pasien.
"Bawa masuk saja" sahut Gavin.
Ryan pun dengan sigap menyelesaikan perintah bosnya. Tiba-tiba dalam beberapa detik saja, ruang kamar inap itu berubah menjadi sebuah butik.
__ADS_1
Visha pun hanya memperhatikan semua kegiatan orang-orang yang ada didalam kamar inapnya itu.
"Hah? Ada apa ini?" ucap Tavisha bingung.
Ryan memberikan sebuah Kartu Identitas pada Gavin. Kartu itu rupanya milik Tavisha.
"Tavisha Anastasya. Nama yang cantik tapi tidak seperti orangnya.Heuhh." Ucap Gavin ketus.
"Cih." dengus Visha kesal mendengar ucapan Gavin.
"Yan." Ucap Gavin memberikan perintah pada asistennya.
Ryan mengerti dengan maksud bosnya itu. Ia lalu memberikan beberapa file pada Visha.
"Silahkan Nona." Ucap Ryan sopan.
"Hah? Ini? Bagaimana bisa mereka tahu semua ini?" Suara hati Visha yang terkejut melihat isi file-file itu.
...****************...
( Rumah Orang Tua Gavin )
"Mah, pah, kenalin, ini Tavisha. Maaf aku baru sempet ngenalin Visha, soalnya dia biasanya sibuk mah. Hehehe. Iya kan sayang?" Ucap Gavin pada Visha.
Visha hanya tersenyum mendengar perkataan Gavin. Ia sedikit canggung dengan keluarga Gavin.
"Tunjukan bakat akting terbaikmu Nona. Kalo nggak, aku bakal kembalikan keadaan keluargamu jauh lebih menderita dari sebelumnya." Ucap Gavin pelan mengancam Visha.
"Cih. Sialan ni cowo. Untung dia tajir dan cakep. Kalo nggak, pasti udah gue tendang tuh mulutnya. Nyebelin banget." Seru Visha dalam hati.
Visha pun langsung tersenyum manis dan menyapa orang tua Gavin. "Halo Om, halo Tante. Saya Tavisha."
"Halo Nak Visha. Gavin sungguh beruntung memiliki calon istri seperti kamu. Kamu sangat cantik. Semoga kamu bisa mencairkan pabrik es ya Nak. Hehehee." Ucap Papah Gavin pada Visha.
"Iya Visha sayang. Selamat datang di rumah kami. Kamu memang gadis yang sangat cantik. Kedepannya, panggil aku mamah ya sayang.
Kamu nggak perlu sungkan ya, sekarang kan kamu calon istri Gavin. Besok pagi, mamah dan papah akan berkunjung ke rumah keluarga kamu.
Setelah itu, baru kita fitting baju pengantin. Ohh senangnyaaa, mamah nggak sabar nunggu besok. Ayo sayang kemari, mamah sudah masakin banyak makanan untuk menyambut kedatangan kamu.
Kamu harus cobain semua masakan mamah ya." Ucap Mamah Gavin sangat bahagia atas kedatangan calon menantunya.
Saking bahagianya, mamah Gavin bahkan sampai melupakan kedua pria tampan yang sedari tadi menyaksikan kehebohan yang dibuat Nyonya Rumah itu.
"Lihatlah ibumu Vin. Dia langsung melupakanku saat mendapat kesenangan baru." Keluh Papah Gavin sedih.
"Apa Papah juga tak melihat? mamah sama sekali tak melihatku. Sebenarnya siapa yang menjadi anaknya disini." Seru Gavin dalam hatinya.
...****************...
"Itukan Gavin? Kok dia sama cewek ya, siapa ya cewek itu? Sialan, gue yang selama ini deketin dia tapi nggak pernah sekalipun diajak ke rumahnya.
Tapi cewek itu. Iiiiiih. Menyebalkan. Awas ya kamu. Beraninya merebut perhatian Gavin dari aku." Ucap wanita itu kesal.
...๐๐ฎ๐ป๐ผ๐ช๐ถ๐ซ๐พ๐ท๐ฐ...........
__ADS_1