Gadisku Sayang

Gadisku Sayang
BAB 10_Visha Terluka


__ADS_3

( Kamar Mandi Gavin )


Otakku semakin jernih. Logikaku benar-benar telah kembali pada posisi yang seharusnya. Aku pun membuka mataku lebar-lebar. Aku terkejut.


"Aaaaaaaaaaahhhhhk." Teriakku kaget melihat pemandangan toples yang sedang diguyur hujan shower.


Aku benar-benar melihat bagian samping toples itu dengan sangat jelas.


Gavin reflek melihat kearahku, saat aku mengeluarkan teriakan yang sangat kencang..


"Visha?" ucapnya kaget.


Ia pun reflek melihat bagian bawahnya.


"Aaaaaa. Vishaaaaaaa!"


...****************...


( Kamar Gavin )


Saat ini aku sedang berjongkok diatas kasur Gavin dibagian kepala ranjang. Aku menutupi seluruh bagian tubuhku dengan sebuah selimut. Sampai tidak ada sama sekali bagian tubuhku yang terlihat.


Gavin pun memasuki kamar itu setelah ia selesai berpakaian. Ia lalu memperhatikan tingkah konyolku.


"Ngapain kamu kayak gitu? Heh Visha!? Vishaaaaa. Ya ampun gadis ini benar-benar." Ucap Gavin gemas akan tingkahku.


Gavin pun bergegas menghampiriku, ia langsung menarik selimut yang menutup seluruh tubuhku itu.


"Heii Visha, apa yang kamu lakukan? Disini akulah yang menjadi korban. Mengapa kamu bersembunyi? Harusnya kamu senang karena sangat beruntung sudah melihatnya." Ucap Gavin yang sangat percaya diri.


Sebenarnya, Gavin pun malu dengan kejadian tadi, namun karena melihat tindakanku itu. Membuat Gavin berencana untuk semakin menggodaku.


Karena ia sangat senang melihat ekspresi tersiksa dari wajahku ini. Gavin pun membuka paksa selimut itu dari cengkramanku.


"Aaaahhkk Gaviiin hentikan. Jangan dibuka. Pergi sana. Aaaahhhhkk Gavin sialan. Pergiiii." Teriakku histeris mengira bahwa Gavin belum memakai pakaiannya.

__ADS_1


"Hah? Apa dia mengira aku tidak memakai apapun? Ckckckck. Gadis ini benar-benar menggemaskan." Suara hati Gavin yang semakin ingin menggoda Visha.


Seketika Gavin pun langsung menghambur memelukku. Dan berusaha menarik selimut yang masih dalam cengkramanku.


"Aaaaahhhkk Gavin sialan. Ku bunuh kau. Pergi dari sini. Lepaskaaan." Teriakku kembali histeris.


"Hahahaha. Dasar gadis mesum. Cepat buka selimutnya. Yang terjadi sebelumnya itu hanya keberuntunganmu saja. Kau pikir aku akan berbaik hati memperlihatkannya lagi dengan suka rela padamu. Cih. Benar-benar mimpi. Hahahaa." Ucap Gavin meledekku.


Seketika aku pun membuka selimut itu. Dan langsung menatap kearah Gavin yang sedang bahagia menertawakanku.


Aku semakin menundukkan kepalaku karena malu dengan ekspresi wajah yang sangat imut karena aku mengerucutkan bibir mungilku ini. Ekspresi yang sangat disukai Gavin.


Beberapa saat kemudian, aku pun bergegas turun menuju kamar mandi.


"Cih. Es kutub jahat. Sengaja banget ngerjain gue. Awas ya lo. Liat pembalasn gue. Tapi mataku ini telah ternodai olehnya. Hiks hiks." Keluhku sedih didalam kamar mandi.


Gavin sedikit cemas karena sejak tadi, aku belum juga keluar dari kamar mandi itu. Ia lalu menghampiri pintu kamar mandinya. Mencoba untuk mengecek keadaanku.


"Sha lo masih lama?" tanya Gavin cemas.


"Vishaa. Apa masih lama Sa? Tok tok tok. Sha! Visha! Sha, kamu nggak apa-apa Sha? Vishaaaa! Tok tok tok tok tok tok." Ucap Gavin yang semakin panik, dibarengi dengan semakin keras pula ia mengetuk pintu itu.


Namun aku masih tidak memberikan jawaban. Membuat Gavin semakin benar-benar panik. "Sha! Jawab Sha. Sha aku buka pintunya ya? Visha."


Aku masih belum menjawab, lalu Gavin pun segera membuka pintu kamar mandi itu. Ia langsung bergegas masuk dan mencari keberadaanku.


"Vishaaa." Gavin terkejut melihat tubuhku yang sudah tergeletak di lantai kamar mandi. "Kamu kenapa Sha? Ya ampun kamu berdarah Sha. Apa yang terjadi Sha?"


Gavin memangku kepalaku diatas pahanya dengan sangat panik. Karena ia melihat sebagian kepalaku tampak mengeluarkan darah yang cukup banyak.


Ia lalu bergegas mengangkat tubuhku dan membawaku kearah ranjang kamarnya. Gavin pun meletakkan perlahan tubuhku diatasnya.


Ia langsung mengambil ponselnya yang ada diatas meja nakas sebelah kiri ranjangnya.


"Halo Ky. Lo ke rumah gue sekarang. Cepet jangan pake lama. 10 menit. Lewat sedikit aja gue pecat lo. Buruan!" Ucap Gavin jutek pada seseorang diseberang telfon.

__ADS_1


"Astaga. Pabrik es ini. Padahal gue belum jawab bisa atau nggaknya kesana. Ckckckck. Kenapa gue mau ya kerja sama dia? Ada apa lagi ini? Jangan bilang kalo kucingnya mau lahiran lagi. Hemmmft." Ucap dokter Ricky yang sekaligus menjadi sahabat Gavin sejak kecil.


Gavin kembali melihatku yang masih tak sadarkan diri. Ia semakin cemas kala melihat cairan merah yang ada di kepalaku itu.


"Sial. Kenapa gue nggak bisa jagain dia. Padahal kita berada diatap rumah yang sama. Kejadian ini nggak boleh terulang lagi. Apa gue pasang CCTV pribadi aja ya buat di kamer mandi gue?" suara hati Gavin.


"Tok tok tok. Ini gue bos." Dokter Ricky yang mengetuk pintu kamar Gavin sebelum memasuki kamar sahabatnya itu.


"Langsung masuk aja lah Ky." Ricky pun membuka pintu dan memasuki kamar Gavin. Sedangkan Gavin asyik protes kepada sahabatnya itu. "Gimana si lo. Harusnya lo tau lah, kalo gue kaya gini berarti keadaan lagi darurat. Pake nanya segala."


"Cih. Emang bener ya, uang adalah segalanya. Liat lo ini! Sama dokter yang sahabat sendiri pun nggak ada akhlak sama sekali. Kemaren lo sendiri kan yang nyuruh semua orang buat ngetuk pintu sebelum masuk ke kamer lo. Ckckck. Pantes aja semua dokter di rumah sakit pada takut sama lo. Dasar pabrik es! Apa yang darurat si kali ini?" sahut Ricky yang cukup kesal.


"Udah udah ustad dokter. Nanti lagi ceramahnya. Buruan lo cek gadis itu. Dia pasti kesakitan. Cepet cepeet." Ucap Gavin sambil menarik tubuh Ricky kearahku.


Ricky sangat terkejut melihat pemandangan itu. Bukan karena cairan merah yang ada disebagian kepala gadis itu. Tapi karena adanya seorang gadis yang berbaring diatas ranjang keramat milik Gavin. Selama ini Gavin sangat over protektif pada ranjangnya itu.


Bahkan orang tuanya sendiri, ia larang untuk tidur diatas ranjang itu. Para asisten rumah tangga yang ia bayar pun sama sekali tidak diijinkan untuk memasuki kamar itu, hanya sekedar untuk membersihkan ruangan pun.


Kamar Gavin merupakan kamar keramat yang sangat sulit untuk dimasuki oleh orang lain.


"Hah? Ada gadis diatas ranjang lo Vin? Ini serius? Siapa dia Vin? Calon istri lo?" cecar Ricky yang sangat penasaran.


"Dokter sialan nerima pasien bukannya cepet ditangani, malah ngoceh mulu. Buruan cek keadaannya." Ketus Gavin pada Ricky.


"Ini gue juga lagi sambil ngecek dia Pabrik Eeeesss. Ampun ya lo. Sama seorang dokter juga, nggak ada sopan-sopannya." Keluh Ricky.


"Cih." Gavin hanya mendengus kesal dan berjalan menuju dapur mininya.


Ia memang sengaja mendesain sebuah dapur mini disalah satu sudut kamarnya itu. Bahkan dilengkapi dengan beberapa alat pembuat kopi, oven, kulkas mini dan seperangkat furniture mini bar lengkap dengan hiasan gelas gantung diatasnya.


Ricky sedikit heran saat tidak menemukan sedikit luka pun pada kepalaku yang mengeluarkan cairan merah. Ia pun hendak memegang cairan merah itu.


"Eh stop stop stop. Jangan disentuh!" cegat Gavin saat melihat Ricky hendak menyentuh kepalaku.


๐“‘๐“ฎ๐“ป๐“ผ๐“ช๐“ถ๐“ซ๐“พ๐“ท๐“ฐ........

__ADS_1


__ADS_2