
Dari pagi Nuke sudah sibuk dengan semua perlengkapan dan
makanan. Cemilan sampai nasi, buah dan sayuran. Cooling box dan selimut juga
bantal. Baju ganti handuk semua terlah siap.
"Ayo bangun tuan Aldi. Kita mandi dulu. Hari ini kita
akan pergi ke suatu tempat. Ayo kita jalan-jalan... rada jauh tapi pasti
seru," seru Nuke sambil menyiapkan baju santai Aldi.
"Kemanaaa? Aku gak mau.. gak mau..! Kau mau memamerkan
kecacatan aku? Kau mau mempermalukan aku?" tuduh Aldi serius
"Harus mau.. Tuan Aldi ini tak gaul banget... ayoo!
Tidak ada yang berpikir seperti itu. Dan aku tak pernah berpikir seperti itu.
Semua hanya dalam pikiran tuan Aldi saja."
"Kau mulai seenaknya padaku..! Aku bossmu!"
"Lalu kau mau apa? Aku sebentar lagi pergi dari sisimu
kok... tinggal 1.5 bulan lagi aku menyiksamu..! Heheheh!"
“Apa kau bilang menyiksa! Awas ya!!” Gaya meninju udara
karena gemes dengan Nuke. Tapi semenit kemudian Aldi terdiam dan menuruti semua
perkataan Nuke.
Nuke mengajak Aldi ke pantai.. dengan dibantu pengawal, Nuke
menggali pasir dan menimbun kaki Aldi sebatas dengkul di sana hingga posisinya
berdiri.
"Ah.ah.. Aku takut jatuh.. nanti ada ombak... Ninaaa.
jangan tinggal aku... Aaahh.. kau di mana??!"
"Aku selalu di depanmu Tuan Aldi..." seketika ada
ombak datang dan Aldi doyong ke depan, tertahan oleh badan Nuke dan Aldi
memeluknya.
"Aaahh.. aku takuut...! Bagaimana jika terbawa arus laut?”
Aldi bernada panik
"Kan ada aku... Dulu kau sudah tahu kan seperti apa
pantai itu, dan ini aman." jawab Nuke "Berusaha untuk tetap berdiri
ya tuan Aldi. Agar otot-otot kaki terlatih."
Untuk pertama kali Aldi tertawa gembira ketika ombak
mendorongnya... dan membiarkan Nuke memeluknya.
Ketika air laut membasahi wajahnya dengan sigap Nuke
mengelapnya. Agar tak masuk ke dalam mata.
“Airnya hangat, asin. Apa warnanya biru? Apa bersih? Apa ada
sampah?”
“Ya warnanya biru, bersih banget dan tak ada sampah.”
“Apa yang aku pegang ini adalah kerang – kerang kecil?”
“Iyaa..”
“Apa ada orang lain sekitar kita?”
"Tak banyak. Karena sekarang bukan week end. Dan pantai yang aku pilih
memang sepi."
"Mau modus ya cari pantai yang sepi huh?"
"Mau modus kok di tempat umum. Di rumah kan bisa."
"Jadi benarkan kamu suka modusin aku di rumah? Jiwa jomlo
mu keluar?"
__ADS_1
"Engga tuan Aldi, kan tugas saya sebagai perawat. Okey
kita ganti baju dulu yuk dan bilas... lengket..."
"Aku masih mau main air... Aku masih belum mau pulang.
Apakah kita bisa menginap di sini. Besok pagi aku masih mau bermain air di
laut." rengek Aldi yang membuat Nuke gemas.
"Iya nanti kita coba mencari vila. Hari sudah mau
gelap... nanti kita teruskan dengan menunggu sunset di pinggir pantai... Ayo
big baby!" Nuke mengangkat badan Aldi untuk duduk di kursi roda. Dan
membilasnya di pancuran air di pinggir pantai.
Nuke tersenyum ketika Aldi tak marah dibilang big baby.
Biasanya langsung mengamuk.
Sore itu Nuke bersama Aldi menyaksikan sunset di sebuah cafe
kecil.
"Duduk di sini kita tunggu sunset... sambil minum
coklat panas...!"
"Bagaimana aku melihatnyaaa... kau meledek aku? Aku
buta lupa?" ujar Aldi kesal.
"Tuan Aldi... bisa kau rasakan hangatnya matahari di
wajahmu?" bisik Nuke ditelinga Aldi
"I..iy..iya.. hangat..." jawab Aldi gugup. Jantungnya
berdegup kencang ketika Nuke berbisik padanya
"Seluruh wajah Tuan bersinar seperti emas. Ini namanya
golden hour. Warnanya sangat hangat menyentuh kulit. Cahaya matahari paling
indah. Tapi tak lama ia akan pergi setelah memberikan perasaan hangat.”
“Seperti perasaanku sekarang Aldi. Cuma bisa sebentar
merasakan berada di dekatmu. Sebelum kau menyadari aku sudah pergi dari sisimu,
tenang saja. Aku tak akan mengganggumu.” Nuke berdialog dalam hatinya sambil
menatap Aldi.
“Nina.. kenapa diam sedang apa?”
“Ehh.. uh.. tidak.. Rasakan saja lama lama akan menghilang
hangatnya... tandanya matahari pun tenggelam dan hari mulai gelap.”
Aldi jadi bisa mengingat seperti apa sunset. Ia menikmati
cahaya hangat matahari menghilang dari wajahnya.
"Terima kasih Nina. Apa Tuhan mengirimu? Hariku yang
gelap kini sedikit lebih terang karena kehadiranmu," batin Aldi
"Kita pulang saja ya Tuan Aldi, karena besok ada jadwal
ke rumah sakit. Kapan-kapan kita ke sini lagi."
Akhirnya mereka pulang, karena tampak Aldi sudah sangat
lelah.
Aldi kelelahan hingga dibopong oleh bodyguard ke kasur. Nuke
mengelap seluruh wajah dan badan Aldi dan memakaikan baju tidurnya.
"Ughh... aku di mana?" Aldi terbangun ketika lap
basah mengenai kakinya.
"Sudah di kamar... waktunya tidur, sebelumnya aku akan
sedikit pelenturan, tadi sepertinya tuan Aldi terlalu lelah. Aku pijat ringan
yaaa..." Nuke memijat kaki dan paha Aldi juga area pinggang.
__ADS_1
“Aku bisa merasakan sentuhanmu di pahaku Nina.”
“Oh yaa.. artinya syaraf-syaraf di sana sudah mulai merespon
apa yang kita lakukan selama ini.
“Sudah selesai.... silakan kembali tidur..”
Terlihat Aldi mencari sesuatu di bawah bantalnya.
"Oh..oh.. ke mana.. pasti diletakan di laci oleh bibi
Jah!" seru Aldi kesal. Lalu ia menggapai laci di sebelah kasur. Mencari
sesuatu.
"Boleh aku bantu? Apa yang tuan cari?" tanya Nuke
"Sebuah kalung bandul hati... aku selalu
menggenggamnya sebelum tidur. Di laci, pasti di letakan di sana oleh bibi."
Nuke tersentak. Apa yang Aldi cari itu kalung yang ia
berikan? Aldi masih menyimpannya? Nuke mencari ke dalam laci dan menemukannya.
Kalung itu benar pemberian darinya. Nuke meletakkan pada genggaman Aldi.
"Ini kalungnya tuan. Kalung yang unik.”
“Ini buatan tangan. Di kelas seni. Ia membuat hanya untukku.
Kalung ini tak ada duanya.”
“Ya saya bisa lihat itu, buatan tangan. Dan pasti dibuat
dengan sepenu hati oleh pembuatnya.
Mengapa ini menjadi sesuatu yang spesial?" tanya Nuke penasaran
"Ini dari seseorang yang tulus padaku, aku gugup
membalas pandangannya setiap ia melihatku. Yang aku tahu aku tak pernah
diajarkan mencintai apalagi menyayangi. Lebih sering ayahku memaki dan
merendahkan aku sebagai anaknya. Juga ia pada ibuku. Jadi aku bersikap seperti
itu padanya, sebagai tanda perhatianku. Saat itu aku bodoh sekali. Malah sering
membuatnya tersiksa dan menangis. Aku menyesal sekali. Ini hadiah untuk ulang
tahunku yang ke 18."
"Ke mana dia sekarang? Minta saja maaf padanya. Belum
terlambat."
Sepertinya Nuke sekalian kasih kode. Tapi sepertinya gagal.
"Entahlah, ia menghilang setelah lulus SMA, mungkin ia
sengaja menjauh dariku agar aman. Baguslah kalau tidak aku tetap akan
mengganggunya tanpa bisa berkata aku menyukainya. Hahahha... Gadis itu manis
dan lucu. Selalu spontan dalam bertindak. Kenapa aku senang sekali
mengganggunya." Aldi tertawa tapi raut wajahnya sedih, ia tak bisa bohong.
"Jika bertemu lagi dengannya apa yang akan kau
lakukan?"
"Kesalahanku padanya sungguh banyak dan berat. Tak akan
termaafkan. Aku tau ia suka padaku tapi itu membuatku marah. Itu seharusnya aku
yang seperti itu, tugas laki-laki. Tapi dia terlalu bodoh untuk tau itu.
Sudahlah.. aku gak mau berharap. Aku ngantuk aku tidur dulu.. Aku sering
bermimpi tentangnya." Aldi menggenggam kalung itu.
“Bodoh.. gundulmu bodoh! Aku takut padamu!” gerutu Nuke.
Malam ini perasaan Nuke sungguh berbunga ternyata Aldi
menyukainya, tapi ia tak tahu caranya. Apa ia mengaku saja kalau ia Nuke?
Apakah Aldi akan menerimanya?
__ADS_1