Gagal Kawin Lari

Gagal Kawin Lari
11. Menikmati Sunset


__ADS_3

Dari pagi Nuke sudah sibuk dengan semua perlengkapan dan


makanan. Cemilan sampai nasi, buah dan sayuran. Cooling box dan selimut juga


bantal. Baju ganti handuk semua terlah siap.


"Ayo bangun tuan Aldi. Kita mandi dulu. Hari ini kita


akan pergi ke suatu tempat. Ayo kita jalan-jalan... rada jauh tapi pasti


seru," seru Nuke sambil menyiapkan baju santai Aldi.


"Kemanaaa? Aku gak mau.. gak mau..! Kau mau memamerkan


kecacatan aku? Kau mau mempermalukan aku?" tuduh Aldi serius


"Harus mau.. Tuan Aldi ini tak gaul banget... ayoo!


Tidak ada yang berpikir seperti itu. Dan aku tak pernah berpikir seperti itu.


Semua hanya dalam pikiran tuan Aldi saja."


"Kau mulai seenaknya padaku..! Aku bossmu!"


"Lalu kau mau apa? Aku sebentar lagi pergi dari sisimu


kok... tinggal 1.5 bulan lagi aku menyiksamu..! Heheheh!"


“Apa kau bilang menyiksa! Awas ya!!” Gaya meninju udara


karena gemes dengan Nuke. Tapi semenit kemudian Aldi terdiam dan menuruti semua


perkataan Nuke.


Nuke mengajak Aldi ke pantai.. dengan dibantu pengawal, Nuke


menggali pasir dan menimbun kaki Aldi sebatas dengkul di sana hingga posisinya


berdiri.


"Ah.ah.. Aku takut jatuh.. nanti ada ombak... Ninaaa.


jangan tinggal aku... Aaahh.. kau di mana??!"


"Aku selalu di depanmu Tuan Aldi..." seketika ada


ombak datang dan Aldi doyong ke depan, tertahan oleh badan Nuke dan Aldi


memeluknya.


"Aaahh.. aku takuut...! Bagaimana jika terbawa arus laut?”


Aldi bernada panik


"Kan ada aku... Dulu kau sudah tahu kan seperti apa


pantai itu, dan ini aman." jawab Nuke "Berusaha untuk tetap berdiri


ya tuan Aldi. Agar otot-otot kaki terlatih."


Untuk pertama kali Aldi tertawa gembira ketika ombak


mendorongnya... dan membiarkan Nuke memeluknya.


Ketika air laut membasahi wajahnya dengan sigap Nuke


mengelapnya. Agar tak masuk ke dalam mata.


“Airnya hangat, asin. Apa warnanya biru? Apa bersih? Apa ada


sampah?”


“Ya warnanya biru, bersih banget dan tak ada sampah.”


“Apa yang aku pegang ini adalah kerang – kerang kecil?”


“Iyaa..”


“Apa ada orang lain sekitar kita?”


"Tak banyak. Karena sekarang  bukan week end. Dan pantai yang aku pilih


memang sepi."


"Mau modus ya cari pantai yang sepi huh?"


"Mau modus kok di tempat umum. Di rumah kan bisa."


"Jadi benarkan kamu suka modusin aku di rumah? Jiwa jomlo


mu keluar?"

__ADS_1


"Engga tuan Aldi, kan tugas saya sebagai perawat. Okey


kita ganti baju dulu yuk dan bilas... lengket..."


"Aku masih mau main air... Aku masih belum mau pulang.


Apakah kita bisa menginap di sini. Besok pagi aku masih mau bermain air di


laut." rengek Aldi yang membuat Nuke gemas.


"Iya nanti kita coba mencari vila. Hari sudah mau


gelap... nanti kita teruskan dengan menunggu sunset di pinggir pantai... Ayo


big baby!" Nuke mengangkat badan Aldi untuk duduk di kursi roda. Dan


membilasnya di pancuran air di pinggir pantai.


Nuke tersenyum ketika Aldi tak marah dibilang big baby.


Biasanya langsung mengamuk.


Sore itu Nuke bersama Aldi menyaksikan sunset di sebuah cafe


kecil.


"Duduk di sini kita tunggu sunset... sambil minum


coklat panas...!"


"Bagaimana aku melihatnyaaa... kau meledek aku? Aku


buta lupa?" ujar Aldi kesal.


"Tuan Aldi... bisa kau rasakan hangatnya matahari di


wajahmu?" bisik Nuke ditelinga Aldi


"I..iy..iya.. hangat..." jawab Aldi gugup. Jantungnya


berdegup kencang ketika Nuke berbisik padanya


"Seluruh wajah Tuan bersinar seperti emas. Ini namanya


golden hour. Warnanya sangat hangat menyentuh kulit. Cahaya matahari paling


indah. Tapi tak lama ia akan pergi setelah memberikan perasaan hangat.”


“Seperti perasaanku sekarang Aldi. Cuma bisa sebentar


merasakan berada di dekatmu. Sebelum kau menyadari aku sudah pergi dari sisimu,


tenang saja. Aku tak akan mengganggumu.” Nuke berdialog dalam hatinya sambil


menatap Aldi.


“Nina.. kenapa diam sedang apa?”


“Ehh.. uh.. tidak.. Rasakan saja lama lama akan menghilang


hangatnya... tandanya matahari pun tenggelam dan hari mulai gelap.”


Aldi jadi bisa mengingat seperti apa sunset. Ia menikmati


cahaya hangat matahari menghilang dari wajahnya.


"Terima kasih Nina. Apa Tuhan mengirimu? Hariku yang


gelap kini sedikit lebih terang karena kehadiranmu," batin Aldi


"Kita pulang saja ya Tuan Aldi, karena besok ada jadwal


ke rumah sakit. Kapan-kapan kita ke sini lagi."


Akhirnya mereka pulang, karena tampak Aldi sudah sangat


lelah.


Aldi kelelahan hingga dibopong oleh bodyguard ke kasur. Nuke


mengelap seluruh wajah dan badan Aldi dan memakaikan baju tidurnya.


"Ughh... aku di mana?" Aldi terbangun ketika lap


basah mengenai kakinya.


"Sudah di kamar... waktunya tidur, sebelumnya aku akan


sedikit pelenturan, tadi sepertinya tuan Aldi terlalu lelah. Aku pijat ringan


yaaa..." Nuke memijat kaki dan paha Aldi juga area pinggang.

__ADS_1


“Aku bisa merasakan sentuhanmu di pahaku Nina.”


“Oh yaa.. artinya syaraf-syaraf di sana sudah mulai merespon


apa yang kita lakukan selama ini.


“Sudah selesai.... silakan kembali tidur..”


Terlihat Aldi mencari sesuatu di bawah bantalnya.


"Oh..oh.. ke mana.. pasti diletakan di laci oleh bibi


Jah!" seru Aldi kesal. Lalu ia menggapai laci di sebelah kasur. Mencari


sesuatu.


"Boleh aku bantu? Apa yang tuan cari?" tanya Nuke


"Sebuah kalung bandul hati... aku selalu


menggenggamnya sebelum tidur. Di laci, pasti di letakan di sana oleh bibi."


Nuke tersentak. Apa yang Aldi cari itu kalung yang ia


berikan? Aldi masih menyimpannya? Nuke mencari ke dalam laci dan menemukannya.


Kalung itu benar pemberian darinya. Nuke meletakkan pada genggaman Aldi.


"Ini kalungnya tuan. Kalung yang unik.”


“Ini buatan tangan. Di kelas seni. Ia membuat hanya untukku.


Kalung ini tak ada duanya.”


“Ya saya bisa lihat itu, buatan tangan. Dan pasti dibuat


dengan sepenu hati  oleh pembuatnya.


Mengapa ini menjadi sesuatu yang spesial?" tanya Nuke penasaran


"Ini dari seseorang yang tulus padaku, aku gugup


membalas pandangannya setiap ia melihatku. Yang aku tahu aku tak pernah


diajarkan mencintai apalagi menyayangi. Lebih sering ayahku memaki dan


merendahkan aku sebagai anaknya. Juga ia pada ibuku. Jadi aku bersikap seperti


itu padanya, sebagai tanda perhatianku. Saat itu aku bodoh sekali. Malah sering


membuatnya tersiksa dan menangis. Aku menyesal sekali. Ini hadiah untuk ulang


tahunku yang  ke 18."


"Ke mana dia sekarang? Minta saja maaf padanya. Belum


terlambat."


Sepertinya Nuke sekalian kasih kode. Tapi sepertinya gagal.


"Entahlah, ia menghilang setelah lulus SMA, mungkin ia


sengaja menjauh dariku agar aman. Baguslah kalau tidak aku tetap akan


mengganggunya tanpa bisa berkata aku menyukainya. Hahahha... Gadis itu manis


dan lucu. Selalu spontan dalam bertindak. Kenapa aku senang sekali


mengganggunya." Aldi tertawa tapi raut wajahnya sedih, ia tak bisa bohong.


"Jika bertemu lagi dengannya apa yang akan kau


lakukan?"


"Kesalahanku padanya sungguh banyak dan berat. Tak akan


termaafkan. Aku tau ia suka padaku tapi itu membuatku marah. Itu seharusnya aku


yang seperti itu, tugas laki-laki. Tapi dia terlalu bodoh untuk tau itu.


Sudahlah.. aku gak mau berharap. Aku ngantuk aku tidur dulu.. Aku sering


bermimpi tentangnya." Aldi menggenggam kalung itu.


“Bodoh.. gundulmu bodoh! Aku takut padamu!” gerutu Nuke.


Malam ini perasaan Nuke sungguh berbunga ternyata Aldi


menyukainya, tapi ia tak tahu caranya. Apa ia mengaku saja kalau ia Nuke?


Apakah Aldi akan menerimanya?

__ADS_1


__ADS_2