
"Maafin aku Aldi aku gak becus bekerja hampir saja
bikin Aldi celaka... huwaaa.. uhuukk. Aku tadi masih ganti celana ketika aku
dengar Aldi ke cebur di kolam. Aku sedikit ragu apa Aldi terjatuh atau tidak,
lalu aku putuskan untuk melihat Aldi. Taunyaa.... taunyaaa.. uhuuk..
uhuuk..." Nuke masih tak bisa menahan tangisnya jika ia mengingat kejadian
itu.
"Kok nangis lagi sih... udah dong.. kok nyambung lagi
nangisnya. Kirain udah selesai.” Aldi mulai panik.
“Masih terngiang di pikiran aku, kalau saja aku terlambat.. uhuuukk.”
“Aku gak papa tadi hanya kaget. Aku sama sekali gak
menyalahkanmu, aku ceroboh hingga jatuh.. maaf yaaa... Kalau saja aku latihan
jalan yang keras mungkin aku akan lebih kuat dan gak jatuh, Dan bisa menolong
diriku sendiri didalam kolam. Sudah jangan sedih lagi gak akan terulang
deh," hibur Aldi.
"Maaf.. akuu.. aaaku... kasih napas buatan pada Aldi.
Maaf Aldi aku panik... jadi aku. .aku.."
“Cari kesempatan ya buat mengecupku? Ngaku ajah,” gak tahan
juga untuk menggoda Nuke
“Enggaak.. bener enggak.. Aku beneran spontan. Karena begitu
yang aku pelajari di kuliahan. Maaf kalua Aldi keberatan. Aku salah gak izin
dulu,” Aldi meraba keberadaan kepala Nuke. Dan...
"Nafas buatan seperti ini?" Aldi menarik Nuke dan
mengecup lembut bibir Nuke, Nuke tersentak dan tak membalas... beberapa detik
kemudian Nuke ikut ******* halus bibir Aldi dan mereka berguling di atas kasur.
"Hup..uuh hhuuuh.... aku gak bisa napas."
"Emm..maaf... aku mengecupmu.. maaf aku harap kau gak
marah.." bisik Aldi
"Kenapa Aldi mencium aku?" Nuke tersipu
"Karenaaa.... aku suka sama kamu." jawab Aldi
"Suu..su.. sukaa?" makin gugup. Dan panik..
bagaimana kalau Aldi mengetahui kalau ia Nuke?
"Iya.. apakah aku bertepuk sebelah tangan?" tanya Aldi
lagi
"Mmmm..mmm.. bagaimana yaa...? Aku juga suka sama Aldi..
tapi aku takut."
"Takut apa? Katakan saja apa apa bertepuk sebelah
tangan?" Aldi gemes
"Enggaak.." bisik Nuke yang mengundang Aldi untuk
******* bibirnya lagi.
"Mmmmpppffhh.. timeeemmmp out mmofh... aahh..
Whoaaah... aku gak bisa napas. Kita makan malam dulu." Nuke langsung
melompat dari kasur mencari topik untuk mengalihkan perhatian.
“Jangan mengalihkan perhatian seperti itu. Mengapa malu?
Akukan tak melihat wajahmu. Merah merona atau tidak. Tersenyum atau cemberut.” Aldi
berbohong ia tahu banget Nuke merona seperti tomat.
“Aku tidak mengalihkan perhatian. Memang saatnya makan
malam. Nanti keburu dingin.”
"Hahaha... Katakan saja kalau Am i bad kisser?. Aku
sudah lama tak pacaran."
__ADS_1
"No Aldi... aku suka cara Aldi mengecupku aku.. suka
sekali.. Tapi kita ditunggu makan malam.. ayo.." Nuke merona dan grogi ia
gak tau harus bagaimana.
“Apa itu yang pertama? Atau itu bukan yang pertama?”
“I.. it... eeh.. Aldi mengambil sesuatu yang pertama,” bisik
Nuke yang langsung terdengar oleh Aldi.
Oh yaaa... wah aku bangga sekali. Aku bahagia sekali. Pantas
rasanya manis.”
“Aldi jangan terus menggodaku, nanti aku jatuh terlalu
tinggi. Ayo kita makan saja.”
"Baiklaaah..." Aldi melihat pipi Nuke merona
karena malu.
"Salahkah aku kalau berharap Aldi tetap saja buta agar
tidak melihatku sebagai Nuke yang sudah menipunya?" tanya Nuke dalam hati.
"Aku akan berlaga buta selama apapun agar kau tetap
bersamaku Nuke!" Aldi juga berdialog dalam hatinya.
***
"Aldi diam saja... selama di villa Aldi ga boleh
melakukan apapun... Aku akan melayani Aldi menebus rasa bersalahku..!"
titah Nuke
"Gak usah begitu..kamu kan gak salah.. Malu ah aku kan
bisa sendiri..."
"Gak boleh.. .aku maksa... kalo Aldi gak mau aku pulang
sekarang juga!" Nuke ngambek.
"Kamu ngambek?"
"Pipinya kembung sambil lipet tangan?"
"No.. bibirnya maju sambil tolak pinggang!" jawab Nuke
gemesss
"Ngapain ngambek kalo aku gak bisa lihat? Percuma
dong...?"
"Eengg... iya juga yaaa.. Pokoknya aku bilang kalo aku
ngambek!"
"Okeeeyyyy... hahhaha...."
"Buka mulut nyaaa... Aaaa..." Nuke menyuapi Aldi.
"Enak banget kaya gini.. kaya sultan."
"Kalo Tuan Aldi sultan... aku apa? Jasmin?"
"Abu!" jawab Aldi asal
"Iiihh... jahat banget... Abu kan monyetnya
Aladin!"
"Hahhaha... Sudah ya makannya sudah kenyang... Aku mau
tunjukan sesuatu... Bara antarkan kita ke rooftop."
Dengan lift mereka mencapai rooftop. Di sana Aldi sudah
menyiapkan sebuah sofa besar berbentuk seperti sarang burung dengan busa yang
hangat.. empuk dan bantal-bantal kecil juga selimut.
Sekeliling ruangan di pasang rice lamp yang cantik menerangi
gelap malam.
Disana juga ada sebuah teleskop untuk mengamati bintang.
"Wooow ini keren banget Aldi, lampunya cantik."
"Bara tolong masukan kode koordinat itu dan tinggalkan
__ADS_1
kami."
Bara menghidupkan teleskop digital itu dan mengatur ke
koordinat yang diinginkan Aldi.
"Waaah.. dia bergerak sendiri..." jerit Nuke rada
norak.
"Sekarang lihatlah dari lobang itu.." perintah Aldi
"Hmmm...itu ada bintang... kecil tapi berkedip..."
"Itu bintang yang aku temukan.. Beberapa tahun yang
lalu.. dan namanya sudah aku claim sesuai keinginan ku.. Namanya Aldi Star”
"Apakah bisa begitu Aldi? Kau menamakan sebuah
bintang?" tanya Nuke polos
"Ya jika kita menemukan bintang atau benda langit..
atau binatang atau pun tumbuhan yang belom bernama bisa kita namakan sesuai
penemunya."
"Waahhhh.. hebat... Aldi hebat!!"
"Hari ini Aldi star.. aku berikan untukmu..." Aldi
melihat mata Nuke berkaca-kaca.
“Aldi.. ini sweet banget. Aku ini bukan siapa siapa kamu,,
tapi kamu begitu manis. Aku cuma perawat biasa.”
“Jadi kau mau menjadi siapa-siapa aku gitu? Mau banget ya
jadi pacar aku?”
“Aldi suka gitu deh aku jadi serba salah kalo ngomong sama Aldi.
Aku gak mau ngomong lagi!”
“Memang kamu gak boleh ngomong lagi.” Aldi menarik tangan Nuke
hingga Nuke terduduk dipangkuan Aldi yang sedang dikursi roda.
“Aldi, awas nanti kamu sakit.”
“Diamlah dulu. Aku mau kau menciumku sekarang.”
“A..aku mencium? Aku.. gak berani. Cewek gak boleh nyosor
duluan apalagi gak ada ikatan apa-apa diantara kita.”
“Oh.. cewek itu perlu banget ya status untuk sekedar
kissing. Baiklah. Bara!”
Lampu kecil-kecil menyala, memancarkan warna kuning kecil
seperti kunang-kunang. Lagu romantis mengumandang dan Aldi sudah berencana
untuk menyatakan cintanya.
“Nina, maukan jadi pacar aku yang penuh kekurangan ini?
Jawablah sekarang. Aku tak ingin kehilanganmu.”
“Aldi bertanya apa mengancam sih?”
“Heheh.. cepat jawab karena ternyata kau berat sekali.”
“Enak saja! Aku gak berat. Ya Aldi aku mau. Dengan segala
kekuranganku maukah menerima aku apa adanya?”
“Pasti.”
Kemudian Aldi ******* lagi bibir Nuke dengan mesra. Dan Nuke
menyambutnya dengan bahagia.
“Maaf..maaf Aldi..maaf aku belum bisa jujur. Situasi ini
susah aku lewatkan maaf Aldi. Aku gak jujur,” berulang kali kata itu lewat
pikiran Nuke. Tapi ia juga susah membendung rasa ini. Nuka tahu ia salah karena
menerima Aldi dengan identitas palsunya.
Tapi cinta yang sejak lama Nuke pendam susah sekali ia bendung.
Rasa itu.. membuncah tak tentu arah. Tak kuasa Nuke tahan.
__ADS_1