Gagal Kawin Lari

Gagal Kawin Lari
Ciuman Pertama


__ADS_3

"Maafin aku Aldi aku gak becus bekerja hampir saja


bikin Aldi celaka... huwaaa.. uhuukk. Aku tadi masih ganti celana ketika aku


dengar Aldi ke cebur di kolam. Aku sedikit ragu apa Aldi terjatuh atau tidak,


lalu aku putuskan untuk melihat Aldi. Taunyaa.... taunyaaa.. uhuuk..


uhuuk..." Nuke masih tak bisa menahan tangisnya jika ia mengingat kejadian


itu.


"Kok nangis lagi sih... udah dong.. kok nyambung lagi


nangisnya. Kirain udah selesai.” Aldi mulai panik.


“Masih terngiang di pikiran aku, kalau saja aku terlambat.. uhuuukk.”


“Aku gak papa tadi hanya kaget. Aku sama sekali gak


menyalahkanmu, aku ceroboh hingga jatuh.. maaf yaaa... Kalau saja aku latihan


jalan yang keras mungkin aku akan lebih kuat dan gak jatuh, Dan bisa menolong


diriku sendiri didalam kolam. Sudah jangan sedih lagi gak akan terulang


deh," hibur Aldi.


"Maaf.. akuu.. aaaku... kasih napas buatan pada Aldi.


Maaf Aldi aku panik... jadi aku. .aku.."


“Cari kesempatan ya buat mengecupku? Ngaku ajah,” gak tahan


juga untuk menggoda Nuke


“Enggaak.. bener enggak.. Aku beneran spontan. Karena begitu


yang aku pelajari di kuliahan. Maaf kalua Aldi keberatan. Aku salah gak izin


dulu,” Aldi meraba keberadaan kepala Nuke. Dan...


"Nafas buatan seperti ini?" Aldi menarik Nuke dan


mengecup lembut bibir Nuke, Nuke tersentak dan tak membalas... beberapa detik


kemudian Nuke ikut ******* halus bibir Aldi dan mereka berguling di atas kasur.


"Hup..uuh hhuuuh.... aku gak bisa napas."


"Emm..maaf... aku mengecupmu.. maaf aku harap kau gak


marah.." bisik Aldi


"Kenapa Aldi mencium aku?" Nuke tersipu


"Karenaaa.... aku suka sama kamu." jawab Aldi


"Suu..su.. sukaa?" makin gugup. Dan panik..


bagaimana kalau Aldi mengetahui kalau ia Nuke?


"Iya.. apakah aku bertepuk sebelah tangan?" tanya Aldi


lagi


"Mmmm..mmm.. bagaimana yaa...? Aku juga suka sama Aldi..


tapi aku takut."


"Takut apa? Katakan saja apa apa bertepuk sebelah


tangan?" Aldi gemes


"Enggaak.." bisik Nuke yang mengundang Aldi untuk


******* bibirnya lagi.


"Mmmmpppffhh.. timeeemmmp out mmofh... aahh..


Whoaaah... aku gak bisa napas. Kita makan malam dulu." Nuke langsung


melompat dari kasur mencari topik untuk mengalihkan perhatian.


“Jangan mengalihkan perhatian seperti itu. Mengapa malu?


Akukan tak melihat wajahmu. Merah merona atau tidak. Tersenyum atau cemberut.” Aldi


berbohong ia tahu banget Nuke merona seperti tomat.


“Aku tidak mengalihkan perhatian. Memang saatnya makan


malam. Nanti keburu dingin.”


"Hahaha... Katakan saja kalau Am i bad kisser?. Aku


sudah lama tak pacaran."

__ADS_1


"No Aldi... aku suka cara Aldi mengecupku aku.. suka


sekali.. Tapi kita ditunggu makan malam.. ayo.." Nuke merona dan grogi ia


gak tau harus bagaimana.


“Apa itu yang pertama? Atau itu bukan yang pertama?”


“I.. it... eeh.. Aldi mengambil sesuatu yang pertama,” bisik


Nuke yang langsung terdengar oleh Aldi.


Oh yaaa... wah aku bangga sekali. Aku bahagia sekali. Pantas


rasanya manis.”


“Aldi jangan terus menggodaku, nanti aku jatuh terlalu


tinggi. Ayo kita makan saja.”


"Baiklaaah..." Aldi melihat pipi Nuke merona


karena malu.


"Salahkah aku kalau berharap Aldi tetap saja buta agar


tidak melihatku sebagai Nuke yang sudah menipunya?" tanya Nuke dalam hati.


"Aku akan berlaga buta selama apapun agar kau tetap


bersamaku Nuke!" Aldi juga berdialog dalam hatinya.


***


"Aldi diam saja... selama di villa Aldi ga boleh


melakukan apapun... Aku akan melayani Aldi menebus rasa bersalahku..!"


titah Nuke


"Gak usah begitu..kamu kan gak salah.. Malu ah aku kan


bisa sendiri..."


"Gak boleh.. .aku maksa... kalo Aldi gak mau aku pulang


sekarang juga!" Nuke ngambek.


"Kamu ngambek?"


"Pipinya kembung sambil lipet tangan?"


"No.. bibirnya maju sambil tolak pinggang!" jawab Nuke


gemesss


"Ngapain ngambek kalo aku gak bisa lihat? Percuma


dong...?"


"Eengg... iya juga yaaa.. Pokoknya aku bilang kalo aku


ngambek!"


"Okeeeyyyy... hahhaha...."


"Buka mulut nyaaa... Aaaa..." Nuke menyuapi Aldi.


"Enak banget kaya gini.. kaya sultan."


"Kalo Tuan Aldi sultan... aku apa? Jasmin?"


"Abu!" jawab Aldi asal


"Iiihh... jahat banget... Abu kan monyetnya


Aladin!"


"Hahhaha... Sudah ya makannya sudah kenyang... Aku mau


tunjukan sesuatu... Bara antarkan kita ke rooftop."


Dengan lift mereka mencapai rooftop. Di sana Aldi sudah


menyiapkan sebuah sofa besar berbentuk seperti sarang burung dengan busa yang


hangat.. empuk dan bantal-bantal kecil juga selimut.


Sekeliling ruangan di pasang rice lamp yang cantik menerangi


gelap malam.


Disana juga ada sebuah teleskop untuk mengamati bintang.


"Wooow ini keren banget Aldi, lampunya cantik."


"Bara tolong masukan kode koordinat itu dan tinggalkan

__ADS_1


kami."


Bara menghidupkan teleskop digital itu dan mengatur ke


koordinat yang diinginkan Aldi.


"Waaah.. dia bergerak sendiri..." jerit Nuke rada


norak.


"Sekarang lihatlah dari lobang itu.." perintah Aldi


"Hmmm...itu ada bintang... kecil tapi berkedip..."


"Itu bintang yang aku temukan.. Beberapa tahun yang


lalu.. dan namanya sudah aku claim sesuai keinginan ku.. Namanya Aldi Star”


"Apakah bisa begitu Aldi? Kau menamakan sebuah


bintang?" tanya Nuke polos


"Ya jika kita menemukan bintang atau benda langit..


atau binatang atau pun tumbuhan yang belom bernama bisa kita namakan sesuai


penemunya."


"Waahhhh.. hebat... Aldi hebat!!"


"Hari ini Aldi star.. aku berikan untukmu..." Aldi


melihat mata Nuke berkaca-kaca.


“Aldi.. ini sweet banget. Aku ini bukan siapa siapa kamu,,


tapi kamu begitu manis. Aku cuma perawat biasa.”


“Jadi kau mau menjadi siapa-siapa aku gitu? Mau banget ya


jadi pacar aku?”


“Aldi suka gitu deh aku jadi serba salah kalo ngomong sama Aldi.


Aku gak mau ngomong lagi!”


“Memang kamu gak boleh ngomong lagi.” Aldi menarik tangan Nuke


hingga Nuke terduduk dipangkuan Aldi yang sedang dikursi roda.


“Aldi, awas nanti kamu sakit.”


“Diamlah dulu. Aku mau kau menciumku sekarang.”


“A..aku mencium? Aku.. gak berani. Cewek gak boleh nyosor


duluan apalagi gak ada ikatan apa-apa diantara kita.”


“Oh.. cewek itu perlu banget ya status untuk sekedar


kissing. Baiklah. Bara!”


Lampu kecil-kecil menyala, memancarkan warna kuning kecil


seperti kunang-kunang. Lagu romantis mengumandang dan Aldi sudah berencana


untuk  menyatakan cintanya.


“Nina, maukan jadi pacar aku yang penuh kekurangan ini?


Jawablah sekarang. Aku tak ingin kehilanganmu.”


“Aldi bertanya apa mengancam sih?”


“Heheh.. cepat jawab karena ternyata kau berat sekali.”


“Enak saja! Aku gak berat. Ya Aldi aku mau. Dengan segala


kekuranganku maukah menerima aku apa adanya?”


“Pasti.”


Kemudian Aldi ******* lagi bibir Nuke dengan mesra. Dan Nuke


menyambutnya dengan bahagia.


“Maaf..maaf Aldi..maaf aku belum bisa jujur. Situasi ini


susah aku lewatkan maaf Aldi. Aku gak jujur,” berulang kali kata itu lewat


pikiran Nuke. Tapi ia juga susah membendung rasa ini. Nuka tahu ia salah karena


menerima Aldi dengan identitas palsunya.


Tapi cinta yang sejak lama Nuke pendam susah sekali ia bendung.


Rasa itu.. membuncah tak tentu arah. Tak kuasa Nuke tahan.

__ADS_1


__ADS_2