
Sudah 7 hari dari operasi. Hari yang ditentukan membuka
perban telah tiba. Nuke sedikit gugup. Hari ini hari terakhir ia bersama Aldi.
Sedih campur senang. Sedih karena harus berpisah dengan Aldi dan berhenti
melayaninya. Senang karena tahu Aldi akan melihat lagi. Dan akan hidup lebih
baik lagi.
“Nina apakah hari ini perban mataku dibuka?” tanya Aldi gak sabaran
“Iya tuan Aldi, dari tadi sudah tanya 5 kali loh. Gak sabaran yaa?””
“Hihihi.. iya. Aku tak sabar tapi juga sekaligus takut,” raut muka Aldi sedih.
“Jangan takut aku pastikan semua berjalan sebagai mana
mestinya.”
“Nina kau di sampingku kan?”
“Iy...iyaa..pasti.” Nuke gugup
“Maaf Aldi aku gak bisa ada disisimu. Pasti kau marah dan
benci aku bohongi. Maaf.. nanti aku akan menghilang darimu,” batin Nuke.
“Tuan Aldi sudah siap? Kita buka perban yaa. Prediksi saya
semua akan berjalan dengan baik. Tapi semua Tuhan yang menentukan. Operasi
kemarin berjalan dengan baik tanpa hambatan. Kita harapkan hasilnya juga akan
baik. Saya akan mulai ya. Minta gunting suster.”
Nuke berjalan mundur menuju balik tirai kamar tanpa banyak
yang tahu. Ia menyingkir perlahan untuk menunggu hasilnya.
Nuke bersembunyi dibalik tirai sementara Nina sudah ada di
sebelah Aldi.
Dokter menggunting plester dan membuka perlahan perban di
mata Aldi.
“Tuan Aldi jangan langsung membuka mata yaa, biar
dibersihkan dulu. Lampu akan kami redupkan biar mata terbiasa dengan sinar.”
Proses dilakukan dengan hati-hati dan perlahan. Mata Aldi di
bersihkan dari sisa obat dan kotoran.
“Coba Tuan Aldi buka matanya, mungkin sedikit pusing dan
buram. Tapi sudah bisa menerima cahaya. Perlahan saja.” Dokter memberi perintah
dengan lembut.
Aldi sudah membuka matanya penuh dan mengedip kedipkannya.
“Tuan Aldi bisa melihat cahaya ini?” Dokter menyinari mata Aldi
dengan senter kecil. Bergerak gerak ke kiri dan ke kanan.
“Belum.”
"Tapi pupil anda merespon baik. Mengapa bisa begitu ya?
Coba sekali lagi yaa. Saya sinar dengan senter lagi ya. Apa anda melihat cahaya
sekarang?"
__ADS_1
“Ya saya lihat cahaya. Tapi hanya cahaya, tidak terllihat
apa pun.”
“Oh.. sebentar yaa... mungkin belum terbiasa. Kita tunggu
beberapa saat. Beri minum dulu suster.”
20 menit berlalu dan sudah hampir 45 menit tak membuahkan
hasil.
“Maaf tuan Aldi, kita akan evaluasi lagi kegagalan hari ini.
Aku sangat yakin ini berhasil. Mungkin hanya butuh waktu. Pernah ada kondisi
seperti ini. Dan teratasi setelah 2 x 24 jam.”
“Jadi saya belum bisa melihat dok?”
‘Untuk sementara saya katakan belum. Nanti saya akan
melakukan serangkaian pemeriksaan. Sabar ya Tuan Aldi. Lebih baik sekarang
istirahat dulu ya. Biar otot matanya tidak tegang.”
“Terima kasih dok sudah berusaha. Saya maklum kalau operasi
ini gagal. Saya tak menyalahkan siapa pun. Mungkin sudah takdir saya.”
“Tuan Aldi yang sabar, kita berusaha dan berdoa. Besok pagi
saya akan adakan serangkaian pemeriksaan lagi ya. Istirahat saja. Saya permisi
dulu.”
“Ninaa... Ninaaa... Kenapa jauh sekali?” Aldi panik
Nuke langsung berlari dari balik tirai dan menarik Nina
Sebaiknya ia tetap menjadi Nina.
“Kenapa tak ada disisiku!?”
“Ya Tuan Aldi.. saya selalu disisi tuan,” Nuke segera keluar dari persembunyiannya setelah mendengar operasi Aldi gagal. Artinya ia masih bisa berada di sisi Aldi. Masih ada waktu untuk terus bersamanya. Disudut bibir Nuke tersungging senyum yang berdosa.
“Nina, operasinya gagal.” Nada suara Aldi kecewa.
“Mungkin butuh waktu Tuan Aldi, sabar yaa.”
“Sudahlah tak apa. Memang belum rezeki aku. Mungkin pesta sayurnya kurang. Ada beberapa gelas aku tuang ke pot bunga.. hihih.” Pengakuan
dosa
“Hmmmm... nakal yaaa... ketahuan sekarang!”
“Hihihih.. maafkan aku. Aku hampir muntah saat itu.”
“Baiklah pesta sayur kita perpanjang sampai mata Tuan Aldi
bisa sembuh!” usul Nuke
“Aaaahh.. noooo. Seperti memakan ulet bulu dan semut
rangrang bersamaan!”
“Tidak bisa sudah ketentuan seperti itu! Apalagi ada
pelanggaran ya! Aku harus super mengawasi!”
“Baiklah. Tapi kau tetap di sisi aku kan?”
“Iyaa... selama dibayar sama tuan Aldi. Hehehhe.”
“Dasar mata duitan kau. Bayaranmu sudah kulipat gandakan 10
__ADS_1
kali.”
“Huh? Benarkah? Banyak sekali? Kenapa begitu?”
“Kau pantas mendapatkannya. Apa kau tak pernah mengecek
ATM?”
“Hihihi.. gak sempat karena selama ini makan minum dan Wifi
saya kan nebeng di rumah tuan Aldi. Jadi jarang ambil uang.”
“Ya sudah tak perlu diambil, kalau butuh sesuatu katakan
saja nanti aku belikan.”
“Ja..jangan.. saya gak enak tuan Aldi. Nanti saya ambil di
ATM rumah sakit deh.”
“Terserah kamu ajah.”
“Tuan Aldi... gak papa operasinya belum berhasil? Maaf saya
sudah memberi harapan yang terlalu tinggi.”
“Enggak, aku biasa ajah. Di mana – mana resiko itu ada.
Berbisnis pun begitu. Kalo sekarang gagal, mungkin beruntung di hal lain? Siapa
yang tahu?”
“Waaah.. Tuan Aldi makin bijaksana. Kita tetap usaha yaa,
semoga ada kesempatan kedua! Fighting!”
"Aku sedikit sedih. Bisa peluk aku..?" Moduuuss, cari-cari kesempatan.. heheh.
"Baiklah... jangan sedih tuan Aldi. Aku selalu di sisimu." Nuke memeluk Aldi dengan lembut dan membelai punggungnya. Berada di posisi ini tuh nyaman banget Nuke mau menukar dengan gajinya sekali pun.
Aldi memeluk erat Nuke dan tersenyum. Ia hanya berpura-pura.
Ia sudah bisa melihat tapi ia tak mau Nuke pergi darinya. Maaf Nuke kini
giliran aku yang membohongimu. Kita impaskan.
***
Flash back
Di saat diruang persiapan,
Aldi belum terbius total. Karena kebiasaannya mengkonsumsi
alkohol maka kadar bius dalam dirinya lebih tinggi. Dan ia belum terbius total.
Jadi ia mendengar semua percakapan Nuke dan Nina yang bertukar peran.
“Jadi selama ini Nina adalah Nuke. Nukeku yang dulu. Pantas saja aku nyaman berada di sampingnya. Dan Nuke memperlakukan aku dengan lembut dan baik. Nuke, izinkan aku menebus kesalahanku dulu.”
Pada hari membuka perban Aldi sudah mempunyai rencana seperti ini. Ia akan menyangkal kesembuhannya, Nuke apa ini takdir kita untuk bersama setelah sekian tahun kita berpisah? Aku tak ingin kau pergi. Jika aku sembuh maka kau akan pergi dariku. Aku gak mau kamu pergi sayang. Biarlah aku akan tetap belaga buta. Biar selalu kau
temani. Rencana yang sempurna.”
***
“Aku mau tidur, tolong bantu.” Aldi mulai manja.
“Baiklah.. aku buatkan sarang yang hangat buat Tuan Aldi.”
Aldi suka dibuatkan sarang yang hangat di kasurnya, nanti Nuke memberi selimut
dan guling di sekitar Aldi nyaman dan hangat dari selimut bulu yang lembut.
Pertama kali Nuke melakukannya ketika Aldi mengigil karena
__ADS_1
demam. Semenjak itu Aldi suka dengan cara Nuke memanjakannya.