Gagal Kawin Lari

Gagal Kawin Lari
9. Menjadi Perawat Aldi


__ADS_3


Perawat Aldi



Mulai hari itu Nuke gak pernah lagi bertemu dengan Aldi. Ia kubur kisah SMA yang penuh luka dan sekaligus cinta pertama gak kesampaian. Karena Aldi kisah jaman SMA Nuke juga penuh cerita. Sampai ia hilang kontak dengan Praya yang sekarang entah di mana.


Nuke memulai studinya di akademi perawat. Waktu yang ditempuh selama 3 tahun. Kini tugas akhirnya adalah pengabdian pada masyarakat langsung, sekaligus bekerja dan mendapatkan upah.


Diakhir perkulliahan pasti ada praktek langsung kepada pasien yang sudah ditentukan


"Nuke.. tukeran pasien dong... gw takut sama pasien yang itu galak banget!" rengek Nina


"Masa iya ada pasien galak. Ya hadapin lah. Itu resiko pekerjaan kita."


"Plis Nuuk... gw isiin pulsa deh selama 3 bulan. Gw gak akan bisa fokus, yang ada nilai gw jelek gw ga bisa lulus. Lo kan tau gw pengecut, gw gampang takut. Lo tega Nuuk?"


"Yang mana sih pasiennya? Segitunya amat lo takut. Diapain sih?"


"Itu masih muda kok seumuran kita paling, cowo, kaya, cakep lagi... hihiih... kali aja nyantol Nuk. Tadi dia bentak gw katanya gw ngomongnya pelan gak jelas. Bau ketek. Emang gw bau Nuk?""


"Dikit sih..hahah..enga kok. Kita kan harus selalu wangi. Alasan aja tuh orang! Ya kenapa gak lo aja lo kan cari jodoh kali nyantol sama lo!"


"Pliss Nukkk... gw mohon.. Cuma buat 3 bulan..." iba Nina


"Ya udah.. Nih pasien gw bapak jompo umur 77 tahun."


"Yah gak papa, Gw jantungan kalo sama yang muda."


"Nina, jangan lupa janji lo ya isi pulsa 3 bulan!"


"Ya udah gw tinggal ya, ini berkasnya tukeran dulu... Selamat bekerja temanku sayaaang."


"Dasar kalo ada maunya aja bilang sayang! Galak kaya apa sih?" Nuke berjalan mendekati calon pasiennya sambil membuka berkas.


"Halo selamat siang sayaa..." Nuke terpaku melihat pasien yang ada dihadapannya. "Aldi!" bathin Nuke.


"Saya perawat baru anda Tuan Aldi."


Seorang Aldi yang angkuh kini tampak tak berdaya dengan menggunakan kursi roda dan matanya buta. Ia mengalami kecelakaan pada saat mengendarai mobilnya. Kini ia menunggu donor mata dan melakukan terapi agar bisa berjalan kembali. Dan semua tugas Nuke.


"Siapa nama kamu?"


"Nama saya Nina, saya yang akan merawat tuan 3 bulan ke depan. Kalau ada keluhan sampaikan saja langsung." Nuke tak menggunakan nama aslinya, ia tak mau Aldi tahu

__ADS_1


"Bagus! Saya punya syarat yang harus kamu patuhi. Saya tak suka orang yang bau badan apalagi bau mulut. Jangan jorok, jangan main hape, jangan tukang tidur dan jangan tak sopan. Jangan cari kesempatan. Jangan sentuh saya kalau tak ada alasan! Jam kerjamu 24 jam. Dan selalu siap jika saya butuhkan."


"Baiklah... saya mohon pengarahan. Di mana mobil anda tuan Aldi. Ada yang menjemput?"


"Ambil hape ini cari yang namanya Koko, itu supir saya suruh segera menjemput. Mulai sekarang save nomer itu dan nomer saya!"


"Baiklah... saya telepon dulu ya tuan Aldi." Nuke menahan emosinya. Pantesan Nina minta tukeran.


Tak berapa lama sebuah mobil mewah keluaran terbaru berhenti di depan mereka. Ketika pintu di buka akses kursi roda keluar sendiri dan kursi roda dengan mesin ini masuk tanpa harus didorong dan terangkat sendiri ke dalam mobil. Mobil ini sudah dimodifikasi untuk pengguna kursi roda.


"Waaaaahh.. keren banget tuan... saya baru lihat.."


"Ya..ini dibuat khusus dan sangat mahal. Pasti perawat miskin seperti kalian tak pernah melihatnya."


"Masih aja sombong sih, jitak juga nih!" bathin Nuke lagi. "Kalo bukan karena tugas dan nilai, sudah nolak deh nanganin pasien kaya gini." Untung saja Aldi tak bisa mendengar suara hati Nuke.


Nuke membaca riwayat kesehatan Aldi lagi di dalam mobil. Sebenarnya kakinya masih bisa diusahakan dengan terapi yang rutin.


Benar saja rumah Aldi seperti istana. Rumah mewah dengan fasilitas yang lengkap. Halaman belakang dengan kolam renang besar juga taman bunga yang indah. Kolam ikan besar dengan angsa yang sedang berenang kesana-kemari. Bunga teratai menambah manis suasana kolam.


Dan Aldi hanya tinggal sendiri bersama beberapa pelayan dan ajudan. Ayahnya tinggal di Malaysia untuk menjajaki perusahaan di sana.


"Selamat siang Tuan Aldi."


"Baik tuan silahkan."


Sebuah lift dari ruang tengah membawa ke lantai 2 terbuka tepat di depan kamar Aldi.


"Ini kamar tuan Aldi."


"Saya mau langsung tidur saya lelah, siapkan cemilan dan buah Bi jah!"


"Baik tuan."


"Biar saya bantu untuk berganti baju dan membersihkan badan," tawar Nuke


"Tak perlu! Saya bisa sendiri! Jangan cari-cari kesempatan untuk melihat tubuh saya ya!"


"Eng..enggak tuan itu sudah menjadi tugas perawat. Kami sudah dilatih untuk itu."


"Gak perlu!" Aldi menekan tombol maju pada kursi rodanya dan kursi itu bergerak sendiri masuk ke dalam kamarnya."


"Saya antar dulu ke kamar dan memberitahu letak dapur dan ruang cuci."


"Baik Bi."

__ADS_1


"Di sebelah kamar tuan itu kamar kamu. Nama kamu siapa?"


"Saya Nina..."


"Baik Nina, rawat tuan Aldi dengan baik mulai dari ia bangun sampai tidur ya."


"Baik Bi Jah."


"Kalau makan, barengi saja waktu dan tempatnya dengan tuan Aldi agar praktis. Toh tuan Aldi tak melihatnya juga. Maaf nanti kalau tuan Aldi agak galak dan tak sopan. Dari dulu memang seperti itu."


"Iya Bi saya tau."


"Tau dari mana?"


"Eh maksudnya saya ngerti."


"Kalo tuan tidur, kamu bebas. Mau tidur juga gak papa. Atau mau ngapain ajah. Tuan gak suka sayur. Dan suka susu coklat. Tak suka di kasihani, tapi malas bergerak melatih kakinya."


"Baik saya akan ingat. Terima kasih Bi Jah."


"Tata barangmu dulu, bersih-bersih lalu ke kamar tuan Aldi."


"Baik Bi."


Karena kamar mereka harus berdekatan maka Nuke menempati kamar tamu yang bersebelahan dengan kamar Aldi. Ruangannya besar dengan kamar mandi di dalam juga teras.


"Wah..ini mewah sekali untuk perawat seperti aku." Nuke mengagumi kamarnya


***


Nuke memberanikan diri masuk kekamar Aldi. Ia sedang duduk di sofa sambil mendengarkan lagu.


"Selamat sore tuan Aldi... Saya mau memberikan jadwal. Terapi dan perawatan selama saya di sini. Saya harapkan setelah terapi selama 3 bulan bisa membuat tuan Aldi berjalan kembali seperti sediakala."


"Yaa sudah.. katakanlah!" Aldi menjawab dengan ketus. Padahal ini bagian dari terapi untuk penyembuhan kakinya.


"Setiap pagi kita akan fisioterapi selama 1 jam dan latihan jalan 1 jam. Siang hari kita sedikit berolah raga ringan untuk melatih lengan dan bahu.


Dan pada malam hari kita sedikit pelemasan dan sedikit akupressure di kamar saja."


"Aaahh... Sebegitu banyak setiap hari? Aku malas!"


"Jangan malas tuan Aldi. Ini agar tuan cepat bisa berjalan lagi." Nuke tersenyum melihat Aldi yang rapuh namun tetap galak. Sisi premannya musnah karena sekarang ia tak ada bedanya dengan balita yang merajuk.


"Aku tentukan nanti sesuai moodku!" jawab Aldi jutek.

__ADS_1


__ADS_2