
Phone Call
“Bagaimana Nuke? Kemajuan pasien yang kamu tangani. Apa
sudah membaik atau ada kemajuan. Ini sudah 2 bulan berjalan dari rencana 3
bulan. Kamu harus memberi laporan setiap minggunya.”
“Iya dok sudah saya kirimkan email laporan setiap minggunya.
Tapi pasien memang ada kemajuan tapi belum bisa berjalan.”
“Kalau dari data awal seharusnya pasien sudah banyak
kemajuan. Karena kerusakannya bisa di atasi dengan kemauan dan terapi. Apa kamu
sudah melakukan semuanya?”
“Sudah dok, bahkan ada video lengkap ketika saya melakukan
terapi, saya lampirkan di emai saya. Tapi bukankah hasil terkadang tidak
tergantung prediksi dok?”
“Memang tapi bisa saja ini kesalahanmu atau ke tidak becusanmu kan? Bagaimana saya tahu kamu melakukan dengan baik atau asal-asalan?”
“Tapi saya berani sumpah dok saya sudah melakukan yang terbaik. Saya pun menguasai fisioterapi untuk pasien lumpuh sementara.”
“Ya sudah kalau belum ada kemajuan masa pengabdian masyarakat kamu bisa diperpanjang sebanyak 2x saja. Setelah itu kamu harus mengulang dan menunda kelulusan kamu.”
“Baik dok. Saya mengerti.”
“Bagus kalo mengerti. Kamu di sana tidak cuma-cuma tapi dibayar. Jadi lakukan dengan baik sekali! Demi masa depan kamu!”
Nuke kebingungan karena ia sudah melakukan semuanya tapi Aldi tetap tak bisa jalan. Bahkan sulit mengangkat kaki saja.
Sampai di rumah Nuke termenung sedih.
"Seharusnya Tuan sudah bisa menggerakkan kaki... karena dari tes syaraf dan kekuatan tulang otot dan semuanya Tuan sudah pulih." Nuke dengan wajah bingung.
“Ya bagaimana... aku sudah coba tapi gak bisaaa.”
“Iya sih.. kita coba lagi yaa?”
“Aku cape sudah setengah jam dari tadi!”
Kalau saja ia tahu Aldi bisa melihat semua expresi Nuke
pasti akan kesel banget.
"Tuan Aldi... cobalah untuk semangat... Sepertinya ini satu-satunya yang menghambat Tuan pulih. Ada dipikiran." sahut Nuke melas.
"Untuk apa aku semangat? Gak ada yang aku tuju! Bahkan kekasih pun aku gak punya!" sekalian curcol maksudnya
“Ya tuan kan harus memimpin perusahaan.”
__ADS_1
"Dengan apa? Mata gagal melihat! Untuk apa aku berjalan... untuk jatuh?"
"Bukan begitu... berjalan untuk mempermudah berpindah tempat saja tuan.. Jadi aku gak usah susah payah gendong Tuan."
"Kau keluhkan aku berat.. kau sudah gak mau kerja bersama ku lagi? Katakan saja aku menyusahkan? Aku beban buatmu?" Aldi sedikit tersinggung
"Bukan begitu.. tidak.. Tuan tidak menyusahkan... Dan aku bekerja di sini juga ikhlas. Tapi aku tau pasti Tuan merasa kesal karena tidak bisa kemana mana kan?" Nuke panik Aldi marah
"Ada kau dan Bara yang bisa membantuku!" Bara ajudan Aldi
"Tapi aku gak selamanya bisa di sisi Tuan!"
"Mengapa.. kontrakmu sudah ku perpanjang!"
"Bukan itu aku masih sekolah perawat... Huh... kontrakku? Tuan gak bilang dulu sama aku?"
"Untuk apa ku bilang? Kau senang ya pergi dari sini? Meninggalkan pekerjaan yang belum selesai?"
"Bukan begituuu... .aku sangat senang di sini melayani Tuan."
“Lalu apa lagi sih? Hidupmu ribet banget.”
"Kalau kontrakku diperpanjang artinya kontrak Nina di sana yang diperpanjang...karena aku bertukar pekerjaan!" Nuke berpikir dalam hati... ia panik.
"Saya harus menyelesaikan studi saya sebagai perawat secepat mungkin. Karena semakin lama selesainya saya harus terus membayar uang kuliah yang tidak sedikit.”
“Sudah kuduga akhirnya uang juga kan? Tidak cukup gaji 10x lipat yang aku berikan?”
“Tuan Aldi bisa sekali saja tidak mengukur apa pun dengan uang! Karena ini semua bukan karena uang semata. Saya punya date line untuk semua studi saya ini. Mungkin bagi anda ini murah tapi tidak dengan saya. Ibu
“Aku akan bayar semua uang kuliah kamu Nina. Tugasmu hanya
merawat aku sampai sembuh! Apa tak ada beals kasihannya kau melihat aku tetap buta!”
“Maaf.. maafkan saya. Tidak seharusnya saya membawa masalah
pribadi ke urusan pekerjaan. Maafkan saya Tuan Aldi.
“Hmmm... saya maafkan.”
"Ya sudah kita bicarakan nanti. Sekarang kita berlatih
jalan lagi yaaa." Nuke memendam emosinya pada pasiennya ini.
Aldi sudah hendak tertawa melihat Nuke mengepalkan tangannya
gemas menghadapi Aldi! Muka Nuke yang menahan marah sungguh lucu.
Dan ternyata kaki Aldi sebenarnya sudah kuat dan bisa berjalan lagi. Kalau dalam kamar mandi Aldi sering berlatih. Semua perawatan Nuke berefek baik pada kaki Aldi.
Hanya saja ia tak mau Nuke tahu ia sudah bisa berjalan walau dengan tertatih tatih.
Tapi Nuke curiga.. karena minggu ini Aldi banyak terjatuh dan memeluk dirinya sepertinya sengaja. Bahkan beberapa kali hampir saja berciuman tanpa sengaja.
Padahal ia bisa menjejakkan kakinya secara benar.
__ADS_1
"Hmmm... sepertinya Tuan Aldi pura-pura belum sembuh. Akan ku pancing..." Nuke bicara dalam hati
"Tuan aku keluar sebentar..." Nuke meletakan remot, hp, game dan minum di meja yang letaknya jauh. Apakah Aldi akan berjalan dan mengambilnya.
Nuke berjalan ke arah pintu, membuka pintunya dan menutup lagi. Nuke tetap di dalam kamar mengamati Aldi.
Yang Nuke tak duga Aldi bisa melihatnya berdiri di dekat pintu, mengamati pancingannya. Nuke belum curiga kalau Aldi juga sudah melihat.
"Ninaaa... remoot! Ninaaa.. hp kuuu.. mana anak ini... Ah..aaah..." Aldi menarik kakinya ke samping dan ke bawah... berusaha untuk berjalan mengambil remot lalu ia terjatuh... tentu saja ini acting!
Nuke membuka pintu dan menutupnya lagi.
"Tuan jatuuh? Tuan gak papa? Cari remot ya.. maaf di sana. Jangan paksakan kalau memang belum bisa. Panggil saja aku ya. Jangan atuh lagi. Nanti terbentur kepalanya atau dengkulnya. Jangan lagi ya Tuan
Aldi," Nuke khawatir mukanya sedih. Iya berpikiran salah. Tuannya memang belum sembuh.
Aldi juga merasa bersalah ketika melihat bulir air mata Nuke menetes. Dari mata bulat dan teduh yang ia sukai.
"Jangan khawatir aku gak papa."
"Hiks.." Nuke menghisap ingusnya
"Kau menangis? Jangan menangis lagi.. maaf. Maafin aku.
Aku memang gak becus. Bukan salah kamu Nina." Aldi mencari wajah Nuke dan
menghapus air matanya.
"Aku gagal merawat Tuan. Harusnya aku bisa bikin Tuan
berjalan lagi. Ini sudah 2 bulan berjalan, seharusnya sudah ada kemajuan karena
kerusakan kaki tuan sudah pulih dan hanya perlu terapi dan latihan berjalan.
Aku gagal. Sebaiknya tuan cari perawat yang lebih profesional dari pada
aku," Nuke semakin menangis
"No..no... Aku gak mau ganti lagi perawat. Nina kamu
gak boleh ngomong gitu lagi. Kamu tahu kan aku gak suka di sentuh sembarang
orang. Jangan pergi ya Nina? Berjanji padaku?”
“Iya. Aku janji. Tapi kalau sampai batas 2 kali perpanjangan
ini tak bisa juga aku terpaksa ditarik dari sini sama kepala suster yang
bertanggung jawab.”
“Okey..okey..mulai besok aku akan berusaha sangat keras!
Besok kita latihan lagi yaa.. yaa.. Jangan sedih lagi dan jangan menangis
lagi.. Aku akan berusaha..!"
__ADS_1
“Baiklah.. terima kasih Tuan Aldi mau begitu.”