Gagal Kawin Lari

Gagal Kawin Lari
Penculikan


__ADS_3

Baru 30 menit berlalu, tiba-tiba datang sebuah mobil van


hitam berhenti di jalan dekat Nuke dan 2 orang turun dan berusaha menarik Nuke


masuk ke dalam Van. Nuke melawan dengan berteriak dan meronta. Bara berlari


tapi mereka telah masuk mobil. Semua berlalu dengan cepat. Aldi hanya bisa


berdiri lalu berjalan masuk ke mobil untuk mengejarnya.


"Bara kembali ke mobil kita kejar! Pakai mobil itu aku


mobil ini! Cepat hidupkan mobil!" Aldi panik. Ia berencana menghadang dan


menutup jalan mobil itu dari arah berbeda.


Supir memegang kemudi dan Aldi duduk di depan. Mereka


mengejar mobil itu sampai di ujung jalan aspal. Mobil Bara menabrak mobil itu di sudut belakang hingga mobil berputar arah dan terhenti. Seketika mererka berhamburan untuk saling melukai.


Perkelahian tak bisa dihindari. Sebenarnya Aldi membawa


senjata tapi belum ia keluarkan. Dengan tangan kosong Aldi melawan 2 orang juga


Bara dan beberapa pengawal. Mereka dalam kedudukan yang sama dalam jumlah. Tapi keterampilan Bara dan Aldi dalam berkelahi lebih unggul. Hingga musuh kewalahan.


Nuke terikat di dalam mobil


hanya bisa menangis dan berteriak, mendengar suara perkelahian mereka.


Hingga perkelahian berhenti ,Aldi membuka pintu mobil melihat


Nuke yang histeris.


"Kemari baby... you are save with me," Aldi


menarik Nuke dan memeluknya. Lalu Aldi melepas ikatan Nuke dan membopongnya ke dalam


mobil.


Nuke terdiam dan heran. Mengapa Aldi mendadak bisa melihat


dan berjalan dengan baik. Sejak kapan Aldi sembuh? Apa selama ini Aldi bohong padanya?


Dalam beberapa menit Nuke bingung dan berpikir keras.


Tapi Nuke terlalu syok hingga ia pingsan, karena terkena


pukulan di wajah juga perutnya.


"Bara, ikat mereka dan kau tunggu di sini dengan Ji.


Aku ke villa duluan Nuke syok! Panggil polisi!"


"Baik tuan!"


Mendudukan Nuke di kursi depan lalu Aldi membawa pulang ke


villa.


"Bi bawakan kompres air hangat. Kotak obat dan


panggilkan dokter. Panggil tambahan pengawal!" Teriak Aldi sambil


mengangkat Nuke.


Aldi panik melihat Nuke pingsan. Ia tau ini ulah lawan


bisnisnya yang kalah dalam memperebutkan lahan. Atau ada yang lain?


"Sayang,  bangun.


Jangan bikin aku khawatir baby."


"Aldi..." Nuke membuka matanya.


"Hay baby. Sudah bangun. Ada yang sakit? Dokter


sebentar lagi datang. Aku panik kamu pingsan. Kasih tau apa yang sakit." Nuke


hanya diam


“Aku.. aah.. ujung bibir Nuke robek dan berdarah.”


“Jangan banyak bicara dulu. Tunjuk saja dimana bagian badanmu yang sakit sayang. Mana kompres air es!” teriak Aldi marah.

__ADS_1


“Ini tuan..”


“Nuke sayang kamu terpukul tadi. Kompres dengan air es ini ya. Biar aku yang lakukan.”


“Aww...!” Nuke berusaha duduk tapi ia meringis kesakitan


tadi perutnya sedikit terpukul cukup keras.


“Mana dokternyaaa, lama sekali sih!”


“Sedang dalam perjalanan Tuan Aldi,” jawab pengawal Aldi


ketakutan karena Aldi terlihat sangat marah.


“Perutmu terpukul juga? Biar aku lihat, ayo biar aku lihat


jangan malu!” Aldi setengah memaksa. Dan Nuke tak kuasa melarangnya. Aldi


membuka bagian perutnya dan melihat ada memar merah di sana.


“Ahh.. aaw..” sekali lagi Nuke meringis kesakitan.


“Kurang ajar! Dia harus mati ditanganku!” Aldi menelepon


Bara.


“Ya boss!”


“Batalkan polisi! Aku ingin membunuh orang itu dengan


tanganku sendiri! Dia melukai Nuke!”


“Baik boss. Belum lapor polisi. Saya juga berencana


menghilangkan jejak sendiri saja. Sebelum menyiksa mereka hingga mengatakan


siapa yang menyuruhnya.”


“Bagus, bawa ke gudang anggur! Dan tunggu aku disana. Jangan bunuh mereka dulu. Tunggu aku.”


“Aldi.. Aldi.. jangan.. jangan berbuat keterlaluan. Aku gak


apa-apa.”


“Gak apa-apa gimana? Perut kamu lebam, pasti sakit. Kasihan.


si brengsek itu! Aku kubuat sobek bibirnya juga!”


“Aldi, jangan.. aku gak mau kamu jadi gak punya hati gitu,


jadi kasar. Jangan ya. Aku gak hanya luka kecil. Aldi jangan lukai orang.”


“Kamu  terluka sayang. Kamu kan pacar aku. Kamu dilukai di depan aku!”


"Iya, gtapi jangan membunuh siapapun ya karena ini. Janji sama aku!"


"Yaa..yaaaa.."


“Aldi sejak kapan?” tanya Nuke memandang tajam mata Aldi  mencari jawab.


“A..apanya? Sejak kapan apanya?” Aldi gugup di depan Nuke,


padahal tadi bertarung dengan senjata tajam gak pake gugup


“Aldi, kamu tau apa yang aku maksud.”


“Itu nanti dulu ya sayang, nanti aku akan jelasin. Yang


penting kesehatan kamu dulu.  Dan


cecunguk itu enaknya aku apain!”


“Aldi, kamu janji gak bakal aneh-aneh. Dia hanya suruhan


bossnya, merek juga punya keluarga di rumah yang menunggu mereka. Gimana kalau


itu aku, kamu. Berjanji ya Aldi. Jangan hilangkan nyawa siapa pun?”


“Iya aku janji tidak akan menghilangkan nyawanya. Tapi tetap


akan merobek bibirnya dan menendang perutnya!”


“Okey itu bisa aku terima.” Nuke lega Aldi masih mau


menuruti kemauannya.

__ADS_1


“Kau dengar itu Bara?”


“Baik boss!” jadi selama tadi telepon dinyalakan agar Bara


mendengarnya.


“Bara mendengar dari tadi?”


“Iya biar dia tau bukan kau yang meminta mengampuni jiwa si


brengsek tapi pacar aku yang berhati lembut ini.”


“Dokter datang tuan Aldi.”


“Ya suruh masuk saja.”


“Selamat siang Tuan Aldi.”


“Cepat langsung periksa bagian perut. Lalu bibirnya. Apa


lagi sayang? Apa lagi yang terpukul?”


“Tidak ada hanya itu.”


“Sebentar ya, saya periksa dulu. Apa ini sakit nona? Ini..


Kalo begini?” Dokter menekan bagian perut Nuke untuk memastikan bagian yang terluka


“Aww...”


“Apa pusing dan mual?” tanya dokter itu lagi


“Pusing sedikit, mual tidak.”


“Baik. Tuan Aldi sepertinya cedera ringan. Tapi kalau mau


pasti kita USG di rumah sakit siang ini, biar kita lihat adakah pendarahan


dalam perut. Luka di bibir bisa dengan antiseptik saja hingga kering.”


“Okey booking untuk siang ini untuk USG.”


“Baik, ini ada pereda nyeri dan obat demam jika dibutuhkan. Saya bookingkan rumah sakit terbaik di kota, saya permisi dulu.”


“Aldi... gak usah ke rumah sakit aku baik-baik aja.”


“No aku gak mau ambil resiko. Gimana kalau ada pendarahan


dalam. Nanti tambah parah. Kamu harus nurut yang aku bilang! Jangan membantah


lagi.”


“Iya Aldi.”


“Bii.. bereskan semua barang-barang dan bawa ke rumah.


Sekarang juga kita pulang.”


“Aldi.. aku masih ingin stroberinyaaa, aku betah di sini. Aku belum puas makan stroberi itu.”


 Nuke merengek karena ia ingin stroberi yang banyak.


“Di rumah lebih aman sayang. Soal stroberi akan sampai di


rumah sebanyak yang kau mau, ya tenang saja.”


“Huuh.. padahal tadi aku sedang asik memetik sendiri. Di


mana tadi hasil petikan aku. Di sana banyak stroberi yang besar!”


“Apa karena stroberi yang besar bisa membuatmu menciumku?” goda Aldi


“Iih..iih..bu..bukan ituuu.. bukan itu.. Aku jarang makan


buah stroberi yang besar.” muka Nuke semerah stroberi


“Kalo iya juga aku gak papa malah senang banget. Tapi puasa


dulu deh sampe bibirnya sembuh.”


“Hihihih... kasihan yaa hihihi.”


“Meledek yaa?” Aldi mengelitiki perut Nuke


“Aw.. aw.. Aldi.. sakit.”

__ADS_1


“Oh iya aku lupa maaf sayang!”


__ADS_2