
Baru 30 menit berlalu, tiba-tiba datang sebuah mobil van
hitam berhenti di jalan dekat Nuke dan 2 orang turun dan berusaha menarik Nuke
masuk ke dalam Van. Nuke melawan dengan berteriak dan meronta. Bara berlari
tapi mereka telah masuk mobil. Semua berlalu dengan cepat. Aldi hanya bisa
berdiri lalu berjalan masuk ke mobil untuk mengejarnya.
"Bara kembali ke mobil kita kejar! Pakai mobil itu aku
mobil ini! Cepat hidupkan mobil!" Aldi panik. Ia berencana menghadang dan
menutup jalan mobil itu dari arah berbeda.
Supir memegang kemudi dan Aldi duduk di depan. Mereka
mengejar mobil itu sampai di ujung jalan aspal. Mobil Bara menabrak mobil itu di sudut belakang hingga mobil berputar arah dan terhenti. Seketika mererka berhamburan untuk saling melukai.
Perkelahian tak bisa dihindari. Sebenarnya Aldi membawa
senjata tapi belum ia keluarkan. Dengan tangan kosong Aldi melawan 2 orang juga
Bara dan beberapa pengawal. Mereka dalam kedudukan yang sama dalam jumlah. Tapi keterampilan Bara dan Aldi dalam berkelahi lebih unggul. Hingga musuh kewalahan.
Nuke terikat di dalam mobil
hanya bisa menangis dan berteriak, mendengar suara perkelahian mereka.
Hingga perkelahian berhenti ,Aldi membuka pintu mobil melihat
Nuke yang histeris.
"Kemari baby... you are save with me," Aldi
menarik Nuke dan memeluknya. Lalu Aldi melepas ikatan Nuke dan membopongnya ke dalam
mobil.
Nuke terdiam dan heran. Mengapa Aldi mendadak bisa melihat
dan berjalan dengan baik. Sejak kapan Aldi sembuh? Apa selama ini Aldi bohong padanya?
Dalam beberapa menit Nuke bingung dan berpikir keras.
Tapi Nuke terlalu syok hingga ia pingsan, karena terkena
pukulan di wajah juga perutnya.
"Bara, ikat mereka dan kau tunggu di sini dengan Ji.
Aku ke villa duluan Nuke syok! Panggil polisi!"
"Baik tuan!"
Mendudukan Nuke di kursi depan lalu Aldi membawa pulang ke
villa.
"Bi bawakan kompres air hangat. Kotak obat dan
panggilkan dokter. Panggil tambahan pengawal!" Teriak Aldi sambil
mengangkat Nuke.
Aldi panik melihat Nuke pingsan. Ia tau ini ulah lawan
bisnisnya yang kalah dalam memperebutkan lahan. Atau ada yang lain?
"Sayang, bangun.
Jangan bikin aku khawatir baby."
"Aldi..." Nuke membuka matanya.
"Hay baby. Sudah bangun. Ada yang sakit? Dokter
sebentar lagi datang. Aku panik kamu pingsan. Kasih tau apa yang sakit." Nuke
hanya diam
“Aku.. aah.. ujung bibir Nuke robek dan berdarah.”
“Jangan banyak bicara dulu. Tunjuk saja dimana bagian badanmu yang sakit sayang. Mana kompres air es!” teriak Aldi marah.
__ADS_1
“Ini tuan..”
“Nuke sayang kamu terpukul tadi. Kompres dengan air es ini ya. Biar aku yang lakukan.”
“Aww...!” Nuke berusaha duduk tapi ia meringis kesakitan
tadi perutnya sedikit terpukul cukup keras.
“Mana dokternyaaa, lama sekali sih!”
“Sedang dalam perjalanan Tuan Aldi,” jawab pengawal Aldi
ketakutan karena Aldi terlihat sangat marah.
“Perutmu terpukul juga? Biar aku lihat, ayo biar aku lihat
jangan malu!” Aldi setengah memaksa. Dan Nuke tak kuasa melarangnya. Aldi
membuka bagian perutnya dan melihat ada memar merah di sana.
“Ahh.. aaw..” sekali lagi Nuke meringis kesakitan.
“Kurang ajar! Dia harus mati ditanganku!” Aldi menelepon
Bara.
“Ya boss!”
“Batalkan polisi! Aku ingin membunuh orang itu dengan
tanganku sendiri! Dia melukai Nuke!”
“Baik boss. Belum lapor polisi. Saya juga berencana
menghilangkan jejak sendiri saja. Sebelum menyiksa mereka hingga mengatakan
siapa yang menyuruhnya.”
“Bagus, bawa ke gudang anggur! Dan tunggu aku disana. Jangan bunuh mereka dulu. Tunggu aku.”
“Aldi.. Aldi.. jangan.. jangan berbuat keterlaluan. Aku gak
apa-apa.”
“Gak apa-apa gimana? Perut kamu lebam, pasti sakit. Kasihan.
si brengsek itu! Aku kubuat sobek bibirnya juga!”
“Aldi, jangan.. aku gak mau kamu jadi gak punya hati gitu,
jadi kasar. Jangan ya. Aku gak hanya luka kecil. Aldi jangan lukai orang.”
“Kamu terluka sayang. Kamu kan pacar aku. Kamu dilukai di depan aku!”
"Iya, gtapi jangan membunuh siapapun ya karena ini. Janji sama aku!"
"Yaa..yaaaa.."
“Aldi sejak kapan?” tanya Nuke memandang tajam mata Aldi mencari jawab.
“A..apanya? Sejak kapan apanya?” Aldi gugup di depan Nuke,
padahal tadi bertarung dengan senjata tajam gak pake gugup
“Aldi, kamu tau apa yang aku maksud.”
“Itu nanti dulu ya sayang, nanti aku akan jelasin. Yang
penting kesehatan kamu dulu. Dan
cecunguk itu enaknya aku apain!”
“Aldi, kamu janji gak bakal aneh-aneh. Dia hanya suruhan
bossnya, merek juga punya keluarga di rumah yang menunggu mereka. Gimana kalau
itu aku, kamu. Berjanji ya Aldi. Jangan hilangkan nyawa siapa pun?”
“Iya aku janji tidak akan menghilangkan nyawanya. Tapi tetap
akan merobek bibirnya dan menendang perutnya!”
“Okey itu bisa aku terima.” Nuke lega Aldi masih mau
menuruti kemauannya.
__ADS_1
“Kau dengar itu Bara?”
“Baik boss!” jadi selama tadi telepon dinyalakan agar Bara
mendengarnya.
“Bara mendengar dari tadi?”
“Iya biar dia tau bukan kau yang meminta mengampuni jiwa si
brengsek tapi pacar aku yang berhati lembut ini.”
“Dokter datang tuan Aldi.”
“Ya suruh masuk saja.”
“Selamat siang Tuan Aldi.”
“Cepat langsung periksa bagian perut. Lalu bibirnya. Apa
lagi sayang? Apa lagi yang terpukul?”
“Tidak ada hanya itu.”
“Sebentar ya, saya periksa dulu. Apa ini sakit nona? Ini..
Kalo begini?” Dokter menekan bagian perut Nuke untuk memastikan bagian yang terluka
“Aww...”
“Apa pusing dan mual?” tanya dokter itu lagi
“Pusing sedikit, mual tidak.”
“Baik. Tuan Aldi sepertinya cedera ringan. Tapi kalau mau
pasti kita USG di rumah sakit siang ini, biar kita lihat adakah pendarahan
dalam perut. Luka di bibir bisa dengan antiseptik saja hingga kering.”
“Okey booking untuk siang ini untuk USG.”
“Baik, ini ada pereda nyeri dan obat demam jika dibutuhkan. Saya bookingkan rumah sakit terbaik di kota, saya permisi dulu.”
“Aldi... gak usah ke rumah sakit aku baik-baik aja.”
“No aku gak mau ambil resiko. Gimana kalau ada pendarahan
dalam. Nanti tambah parah. Kamu harus nurut yang aku bilang! Jangan membantah
lagi.”
“Iya Aldi.”
“Bii.. bereskan semua barang-barang dan bawa ke rumah.
Sekarang juga kita pulang.”
“Aldi.. aku masih ingin stroberinyaaa, aku betah di sini. Aku belum puas makan stroberi itu.”
Nuke merengek karena ia ingin stroberi yang banyak.
“Di rumah lebih aman sayang. Soal stroberi akan sampai di
rumah sebanyak yang kau mau, ya tenang saja.”
“Huuh.. padahal tadi aku sedang asik memetik sendiri. Di
mana tadi hasil petikan aku. Di sana banyak stroberi yang besar!”
“Apa karena stroberi yang besar bisa membuatmu menciumku?” goda Aldi
“Iih..iih..bu..bukan ituuu.. bukan itu.. Aku jarang makan
buah stroberi yang besar.” muka Nuke semerah stroberi
“Kalo iya juga aku gak papa malah senang banget. Tapi puasa
dulu deh sampe bibirnya sembuh.”
“Hihihih... kasihan yaa hihihi.”
“Meledek yaa?” Aldi mengelitiki perut Nuke
“Aw.. aw.. Aldi.. sakit.”
__ADS_1
“Oh iya aku lupa maaf sayang!”