Gagal Kawin Lari

Gagal Kawin Lari
16. Terapi renang


__ADS_3

"Hihihi.... Sekarang waktunya kita berenang...!"


Nuke cekikikan mengajak Aldi renang. Biasanya Aldi udah pasang muka tegang.


“Okeey... Siapa takut!” jawab Aldi.


“Tumben? Biasanya udah tegang duluan?”


“Sekarang aku suka berenang!”


Nuke membawa kebahagian tersendiri, buat Aldi biasanya berenang tak sebahagia ini.


Dibalik kacamata renangnya Aldi menikmati lekuk tubuh Nuke.


Nakal memang tapi gimana ini pasti terjadi.


"Tuan Aldi.. pegang pundakku... Kita berjalan keliling


kolam yaa... biar kaki Tuan kuat!"


"Uuugh.. Jangan cepat – cepat. Aku tak mengambang ini loh.  Tanganku pegal. Kau jangan terlalu


jauh.”


“Kenapa sekarang cerewet sekali ya?”


“Apa aku cerewet? Emang ini membosankan!" Aldi tetap ingin terlihat cool, padahal hatinya girang bagai anak tk yang seneng main air.


"Tuan pegang pelampung... Jangan dilepas. Aku akan gerakin kaki Tuan yaaa... Trus ikutin gerakan aku."


“Gerakan lebih cepat!”


“Tuan juga berusaha gerakan kakinya dong.. Aku cuma membantu. Bisa kan?”


“Sudah tapi tak bisaaa!”


“Aku tambah pelampung kecil di paha ya... sebentar.”


“Jangan tinggalkan aku!”


“Kan pegang pelampung, bayi manja!”


“Awas kau ya akan aku balas!”


“Coba dong, aku menantikannya.”


"Aku pengen susu coklat... Perut aku dingin..." pinta Aldi dengan muka melas.


"Hmmm... iya... Kita selesaikan sedikit dulu ya. Baru 4 putaran."


"Sekarang ordernya nanti datangnya lama."


"Okeeeey... Bara bisa minta tolong pesankan susu coklat ke dapur?" Nuke menahan gemes pada Aldi


"Baik."


“Pelampung ini licin, aku gak mau pake!”


“Okey pegang pundakku... Gerakan ya kakinyaa.”


Selama 2 jam mereka bermain air. Yang paling disukai Aldi adalah digendong keliling kolam oleh Nuke. Kesempatannya memeluk Nuke dan menyentuhnya.


"Tuan gerakin kakinyaaa... aku gendong keliling kolam. Terus gerakin."


Aldi sengaja mengoda Nuke dengan tidak menggerakannya.


"Tuan Aldi nakal gak gerakin kakinyaaa!" rengek Nuke frustasi


"Hehehehe... Gerakin kok dikiit... tapi kakinya emang gak mau gerak. Aku udah usaha keras kok! Sungguh deh."


"Tuan gitu ah...Tuan seneng ya menyiksaku. Bikin nilai aku nanti jelek. Aku dinilai gak bisa membuat pasien semangat dan sembuh. Bisa-bisa aku ngulang lagi praktek bekerja ini."

__ADS_1


"Aa... apa.. Ngulang?" Aldi panik ia gak tau kalau efeknya bisa seperti itu. Ia hanya mengulur kesembuhannya. Kalau bisa selamanya. Tapi ternyata gak bisa.


"Iya...ini program terakhir studiku, syaratnya aku harus punya kerja yang berhasil hingga pasien sembuh atau mengalami kemajuan yang berarti.”


“Kalo engga berhasil gimana?”


“Kalo gak ada hasil ya artinya gagal. Dan aku harus mencari lagi pasien baru dan diberi waktu 3 bulan lagi. Diharapkan sampai yang berhasil. Kalo tidak nilaiku buruk! Ugh...uhuukk..!” Nuke kesal


“Menyusahkan sekali peraturannya!”


“Besok mendingan aku cari anak muda yang semangat sembuh dari pada aki-aki yang gak pengen sembuh!" Nuke kesal


"Apa kau bilang aki-aki.. ini rasakan....!!" Aldi melingkarkan tangannya dileher Nuke dan menggelitiki pinggang Nuke dengan tangan yang lain.


"Hahah.. hahah... ampun.. ampun..ampun... Iya.. iya.. bayi bukan aki-aki... Hihihi. "


“Kamu aja yang pengen sama yang ganteng-ganteng ya? Ngakuu?”


“Enggaaak... Tuan Aldi harus semangat biar aku lulusnya cepet.”


"Iya maaf juga ayo latihan sekali lagi..." kali ini Aldi menggerakan kakinya


"Aku harus sembuh di saat yang tepat. Kalo engga Nuke akan merawat orang lain , aku gak rela. Iiishh.. kalo aku sembuh Nuke pergi... Gimana caranya aku sembuh tapi Nuke tetap di sini!" Aldi berpikir keras.


"Kita mandi dulu. Ayo aku bantu."


"Yess saat yang dinantikan setiap hari..." Aldi


tersenyum bicara dalam hati.


“Tuan Aldi kenapa tersenyum?”


“Hah? Apa? Aku gak senyum, aku cuma merasa di gigi aku ada


yang nyangkut. Hmmm...”


“Ohh.. kirain senyum-senyum sendiri.”


Karena setiap hari Nuke memandikannya. Awalnya canggung


apalagi waktu ia masih buta. Sekarang ia menikmatinya. Nakalnya Aldi!


"Pakai kacamata renangnya biar gak masuk sabun!"


"Heheh.. justru dengan kacamata ini mataku bebas


melihat lekuk badanmu Nuke... hehehe.." kekeh Aldi dalam hati


"Mulai sekarang mandinya berdiri ya Tuan... Pegang besi


itu agar tidak jatuh."


"Nuke wajahmu hanya 5 cm di depanku mengulas sabun di


leher dan bahuku. Lalu memelukku untuk mengulas sabun di punggung."


"Tuan lebarkan kakinya.. bisa kan?"


"Aaah.. Nuke... Menggosok kedua kakiku sambil jongkok


aku dengan hebat menahan, Ah Nuke aku menegang ketika wajahmu hanya satu


jengkal di depan pedangku."


Badan Nuke basah terkena shower.


"Tuan sudah kering... sebentar aku teruskan mandi


lalu aku keluar."


Nuke mandi kilat dan langsung pakai bathrobe.

__ADS_1


Aldi tertidur di depan TV.


Nuke mendorong kursi sampai pinggir kasur dan membangunkan Aldi agar berpindah ke atas kasur.


"Tuan Aldi bangun dulu.. pindah ke kasur yaaa."


"Hmmm.. dingiin..." guman Aldi dan langsung memeluk Nuke. Wajah Nuke merona.


“Tuan Aldia... lepas dulu. Nanti akan saya bawakan minuman hangat.”


Nuke perlahan melepaskan diri. Mereka berdua polos dibalik bathrobe yang mulai longgar!


“Minum dulu teh camomile ini agar cepat tidur, Lalu sup ayam jagung yaa.. Aku suapin.”


“Mengapa kamu mau jadi perawat?”


“Karena saya suka bidang kedokteran, tapi saya gak bisa


sekolah kedokteran karena gak ada biaya. Jadi dengan sekolah perawat ya miriplah. Hehhee.”


“Sehabis lulus akan kerja di mana?”


“Setelah lulus pastinya melamar di sebuah rumah sakit. Atau menjadi perawat untuk siapa pun yang membutuhkan. Asal gajinya besar.”


“Baiklah, kamu akan jadi prawat saya setelah lulus! Saya bayar berapa pun yang kamu minta.”


“Hahhaha... tuan Aldi gak butuh saya selama itu. Sebentar saja tuan Aldi bisa jalan kok.”


“Tapi saya masih buta!”


“Setelah terbiasa dengan kondisi rumah, tahu kantor, makan


Tuan Aldi akan bisa berjalan tanpa membentur. Bisa dibantu dengan tongkat,”


“Gak mau! Aku sanggup bayar kamu sampai beberapa tahun ke depan! Aku tak mau repot!”


“Ya udah iyaa.. Kita lihat saja nanti. Yang pasti tuan Aldi sembuh dulu dan bisa jalan!”


Nuke menyiapkan baju tidur dan memakaikan nya pada Aldi.


Apakah Nuke biasa saja melihat badan Aldi?


Tentu tidak. Beberapa kali Nuke menahan nafas dan


memalingkan wajah hanya untuk tidak menatapnya.


Jangan tanya warna wajah Nuke semerah apa, sudah semerah


tomat matang!


“Nuke wangi tubuh alami mu sangat menggoda. Aku bisa mabuk


hanya menciumnya tanpa menyentuh,” ucap Aldi dalam hati, sambil melihat kosong


ke depan tepat di dada Nuke.


***


Suster kepala yang bertanggung jawab harus selalu diberi laporang kemajuan pasien.


“Bagaimana Nuke? Apa ada kemajuan?”


“Sudah ada Suster Kepala, bisa menekuk dan melangkahkan kaki


walau belum kuat.”


“Tambahkan jam terapinya juga akupuntur. Nanti nomer nya aku kirim. Ia bisa dipanggil ke rumah, dan sering menangani kasus seperti ini.”


“Baik, terima kasih suster kepala.”


“Ingat waktumu sebentar lagi. Tingkatkan lagi ya!”

__ADS_1


__ADS_2