
Nuke girang sekali kalau ia mau ke villa Aldi. Sudah lama ia
tak berlibur.
Selama dalam perjalanan Nuke tak berhenti menatap keluar, ia
terlalu bersemangat. Ia takinget lagi kapan ia berlibur.
"Tuan Aldi... aku senang bisa liburan di villa... sudah
lama banget aku gak liburan."
"Siapa bilang ini liburan ini, kamu harus tetap bekerja
cuma pindah tempatnya.." jawab Aldi mengoda Nuke
"Iya.. iyaa.. aku masih ingat harus tetap
kerja..." Nuke merengut
"Hahhahah... aku bercanda... Selama di Villa kita hanya
istirahat kok!"
"Iiishh Tuan Aldi jahat..."
Jarak yang ditempuh cukup jauh, sekitar 3 jam perjalanan.
Berakhir dengan Nuke tertidur di bahu Aldi. Saat itu memang Aldi yang
membiarkan kepala Nuke terjatuh di bahunya, lalu ia mengatur hingga sangat
nyaman. Nuke pun terlelap cukup lama.
“Ninaa…kita sudah sampai. Ayo bangun.”
“Ugh..eh..maaf..maaf aku ketiduran ya tuan. Maaf.”
“Hmmm..ya dan nyenyak sekali dibahuku.”
“Maafkan aku. Kenaoa tak dibangunkan saja?”
“Sudahlah. Perjalanan memang jauh kan.”
Mereka turun dari mobil dan masuk menuju sebuah villa yang tak
kalah mewqah dengan rumah tinggal Aldi. Villa yang asri penuh bunga dan
pepohonan yang lebat.
"Letakan kopermu di kamar. Dan tolong letakan juga
koperku di kamarku. Kamar kita bersebalahan."
"Wow Tuan Aldi... kolam renangnya air hangat di dalam
ruangan?" Nuke berdecak kagum
"Ya.."
"Boleh ya kita langsung berenang?"
"Kita?"
"Iya Tuan Aldi juga berenang. Berenang bagus untuk otot
kaki Tuan Aldi."
"Yah bagus juga untuk otot mataku, yang termanjakan
dengan melihat lekuk badanmu Nuke.. Hehhehe.." suara hati Aldi yang
bernafsu.
Setelah meletakan semua koper dan membersihkan diri, Nuke
tetap pada rencananya untuk berenang, hari masih sore dan penerangan di kolam
sangat romantis.
"Aku ganti baju dulu di sana ya Tuan Aldi..." Nuke
berlari kecil, Aldi senang melihatnya seperti anak itik yang gembira.
"Ahh.. aah.. yaaaakk...! Byuuurrr!!!" Aldi jatuh
kedalam air dan Nuke masih ganti baju di dalam ruang ganti.
"Tuan Aldi....." Nuke berlari dan meloncat kedalam
air.
Nuke berusaha menarik Aldi ke atas permukaan air. Aldi
terdiam. Sekitar 2 menit Aldi menahan napas. Ya menahan napas karena ia sengaja
melakukannya. Pura-pura pingsan sampai yang ia inginkan terkabul.
__ADS_1
"Tuan... Tuan.. Tuan Aldi.. Bangun..!!!" Nuke
berusaha mengeluarkan air dari perut Aldi dan mulai melakukan pertolongan napas
buatan. "Maaf Tuan Aldi aku harus lakukan."
Lalu Nuke menempelkan bibirnya pada bibir Aldi. Baru
hembusan yang ke 5 Aldi terbatuk.
"Uhuuukkk!!!"
"Tuan!..Tuan Aldi gak papa? Aku takut banget!" Nuke
memeluk kepala Aldi
"Tuan Aldi.. anda baik - baik saja? Saya baru dari
dapur mengambil coklat panas," ujar Bara yang juga tak ada di sana seperti
kode yang di berikan Aldi
"Bara.. jangan sekali-kali pergi tanpa bilang aku,
tolong. Jangan biarkan Tuan Aldi sendirian. Tadi Tuan Aldi jatuh ke kolam dan
pingsan... hiks... hikss.." Nuke memarahi Bara yang tak ada disisi Aldi.
Karena memang Aldi yang menyuruhnya mengambilkan coklat panas.
"Maaf.... tak akan terjadi lagi.."
"Jangan menangis.. aku baik-baik saja... Jangan marah
pada Bara karena aku yang suruh... maaf ya bikin kamu khawatir," bisik Aldi.
"Ayo Tuan Aldi kita ke kamar aja, lupakan
berenang!"
Nuke memandikan mengeringkan dan memakaikan baju Aldi sambil
menangis. Ia tak mau dilarang dan tak mau diajak bicara.
"Hey.. kau tak perlu memandikan aku aku bisa
sendiri," ujar Aldi
"Diam lah Tuan Aldi.. duduk saja yang baik dan biarkan
menangis. Aldi menjadi merasa bersalah ternyata Nuke begitu terpukul dengan
kejahilan tadi.
Aldi terdiam, ia tak akan mengaku sepertinya. Sebab jika ia
mengaku kalau itu hanya pura-pura, sepertinya akan terjadi perang dunia. Lebih
baik menurut sajalah dari pada Nuke malah makin menangis.
"Aku gak berguna hampir saja mencelakakan Tuan Aldi...
kalau sedikit saja aku yang payah ini lengah mungkin Tuan Aldi ...Tuan Aldi..
hiks.. hiks.. huwaaaaa... eeeww..." Nuke syok dan gemeteran
"Sudahlah aku baik ba.." perkataan Aldi terputus
"Kasih aku kesempatan untuk merenung Tuan Aldi jangan
mengganggu aku! Aku akan semakin merasa bersalah..." Aldi pasrah dan
menuruti kemauan Nuke yang sedang ngomel dengan dirinya sendiri sambil
memakaikannya baju tidur!
"Perasaan merenung itu diam kenapa ini ngomel-ngomel
ya?" tanya Aldi heran tapi hanya bisa tersenyum
"Tapi..."
"Diam Tuan Aldi.. sekarang masuk ke dalam
selimut!" Nuke memerintah seperti pada anak balita.
"Tapi kita belum makan malam..." ujar Aldi
memelas.
"Oh my God .. iya Tuan Aldi maaf aku lupa... hiks..
hiks.. aku payaahhhh!!" teriak Nuke histeris.
"Sudahlah... jangan sedih lagi... boleh aku minta
peluk?" tanya Aldi sambil membentangkan tangannya. Dan Nuke langsung
__ADS_1
memeluk erat dan menumpahkan tangisnya.
“Aku hampir kehilangan mu... huhuhuh... huhuhu.”
“Waduh.. kenapa jadi begini urusannya ya. Aku tak mengira
akan serumit ini. Apa kehilanganku Nuke itu sangat terpukul? Apa ia masih
menyukaiku atau hanya tugasnya sebagai perawat?”
“Nona Nina makan malam akan dibawa ke dalam kamar,” kata
Bara
“Baiklah, letakan di sini. Tuan Aldi harus makan yang banyak
biar aku suapi. Duduk menyender ya. Tunggu sampai supnya hangat ya. Makan
sayurnya dulu sedikit saja.”
Aldi tak berani melawan dan mengelak, dilihatnya wajah Nuke
tegang dan masih sedih. Dan masih menyalahkan dirinya.
Nuke memperlakukan Aldi seperti balita yang sedang belajar
makan. Minum pun ia pegang. Tugas Aldi hanya membuka mulut, mengunyah dan
menelan.
“Yak selesai makannya.. duduk dulu ya... Sambil aku lemaskan
kakinya.”
“Sudah Nina.. Jangan pijit kakiku.”
“Tidak apa.. jangan larang aku kali ini.”
“Ninaaa.. aku mau kamu duduk di sini disebelahku.”
“Tapi..”
“Aku mau Nina duduk di sebelahku.”
“Ba..baik.. Tuan.” Nuke duduk di samping Aldi. Lalu Aldi
menggenggam tangan Nuke.
“Nina, bisakah jangan memanggilku Tuan lagi. Panggil saja Aldi.”
“Mana bisa begitu.. Tuan Aldi kan pasienku. Atau klien ku.
Aku gak berani. Gak sopan.”
“Aku yang memintanya begitu, mau ya? Untuk aku?”
“Ba..baiklah Aldi.”
“Siapa?”
“Aldiii..”
“Siapa?”
“Aku cubit ya menggodaku seperti itu!”
“Hahahha.. galak banget. Terima kasih sudah mau memanggilku Aldi.
Lebih nyaman dan akrab terdengarnya.” Aldi memulai modusnya dari sekarang.
“Maafkan aku yang tadi siang, aku sangat takut.. Aldi
celaka. Maaf ya. Kalau mau melaporkannya pada kampusku aku tak apa.”
“Enggak lah, ini kesalahan aku sendiri yang tak sabar
menunggumu. Dan terjatuh ke air. Bukan kesalahanmu.”
“Tapi sampai rumah kita periksa ya? Aku takut ada air masuk
dalam paru-parumu.”
“Gak perlu! Kalau nanti aku batuk saja atau merasa tak
nyaman di dada ya?’
“Okey... Cepat beri tahu aku kalau sakit.”
Aldi tersenyum licik apa yang ia inginkan sudah tercapai.
Ciuman dari Nuke. Walau bukan sepenuhnya ciuman tapi tadi bibir mereka menyatu.
Masih bisa ia rasakan bibir lembut Nuke hangat membuat bergetar.
Gak sabar memberikan balasan yang sama hangatnya, *******
dan mengulumnya. Otak Aldi sudah berkelana tak tentu arah.
__ADS_1