Gagal Kawin Lari

Gagal Kawin Lari
Hampir Kehilanganmu


__ADS_3

Nuke girang sekali kalau ia mau ke villa Aldi. Sudah lama ia


tak berlibur.


Selama dalam perjalanan Nuke tak berhenti menatap keluar, ia


terlalu bersemangat. Ia takinget lagi kapan ia berlibur.


"Tuan Aldi... aku senang bisa liburan di villa... sudah


lama banget aku gak liburan."


"Siapa bilang ini liburan ini, kamu harus tetap bekerja


cuma pindah tempatnya.." jawab Aldi mengoda Nuke


"Iya.. iyaa.. aku masih ingat harus tetap


kerja..." Nuke merengut


"Hahhahah... aku bercanda... Selama di Villa kita hanya


istirahat kok!"


"Iiishh Tuan Aldi jahat..."


Jarak yang ditempuh cukup jauh, sekitar 3 jam perjalanan.


Berakhir dengan Nuke tertidur di bahu Aldi. Saat itu memang Aldi yang


membiarkan kepala Nuke terjatuh di bahunya, lalu ia mengatur hingga sangat


nyaman. Nuke pun terlelap cukup lama.


“Ninaa…kita sudah sampai. Ayo bangun.”


“Ugh..eh..maaf..maaf aku ketiduran ya tuan. Maaf.”


“Hmmm..ya dan nyenyak sekali dibahuku.”


“Maafkan aku. Kenaoa tak dibangunkan saja?”


“Sudahlah. Perjalanan memang jauh kan.”


Mereka turun dari mobil dan masuk menuju sebuah villa yang tak


kalah mewqah dengan rumah tinggal Aldi. Villa yang asri penuh bunga dan


pepohonan yang lebat.


"Letakan kopermu di kamar. Dan tolong letakan juga


koperku di kamarku. Kamar kita bersebalahan."


"Wow Tuan Aldi... kolam renangnya air hangat di dalam


ruangan?" Nuke berdecak kagum


"Ya.."


"Boleh ya kita langsung berenang?"


"Kita?"


"Iya Tuan Aldi juga berenang. Berenang bagus untuk otot


kaki Tuan Aldi."


"Yah bagus juga untuk otot mataku, yang termanjakan


dengan melihat lekuk badanmu Nuke.. Hehhehe.." suara hati Aldi yang


bernafsu.


Setelah meletakan semua koper dan membersihkan diri, Nuke


tetap pada rencananya untuk berenang, hari masih sore dan penerangan di kolam


sangat romantis.


"Aku ganti baju dulu di sana ya Tuan Aldi..." Nuke


berlari kecil, Aldi senang melihatnya seperti anak itik yang gembira.


"Ahh.. aah.. yaaaakk...! Byuuurrr!!!" Aldi jatuh


kedalam air dan Nuke masih ganti baju di dalam ruang ganti.


"Tuan Aldi....." Nuke berlari dan meloncat kedalam


air.


Nuke berusaha menarik Aldi ke atas permukaan air. Aldi


terdiam. Sekitar 2 menit Aldi menahan napas. Ya menahan napas karena ia sengaja


melakukannya. Pura-pura pingsan sampai yang ia inginkan terkabul.

__ADS_1


"Tuan... Tuan.. Tuan Aldi.. Bangun..!!!" Nuke


berusaha mengeluarkan air dari perut Aldi dan mulai melakukan pertolongan napas


buatan. "Maaf Tuan Aldi aku harus lakukan."


Lalu Nuke menempelkan bibirnya pada bibir Aldi. Baru


hembusan yang ke 5 Aldi terbatuk.


"Uhuuukkk!!!"


"Tuan!..Tuan Aldi gak papa? Aku takut banget!" Nuke


memeluk kepala Aldi


"Tuan Aldi.. anda baik - baik saja? Saya baru dari


dapur mengambil coklat panas," ujar Bara yang juga tak ada di sana seperti


kode yang di berikan Aldi


"Bara.. jangan sekali-kali pergi tanpa bilang aku,


tolong. Jangan biarkan Tuan Aldi sendirian. Tadi Tuan Aldi jatuh ke kolam dan


pingsan... hiks... hikss.." Nuke memarahi Bara yang tak ada disisi Aldi.


Karena memang Aldi yang menyuruhnya mengambilkan coklat panas.


"Maaf.... tak akan terjadi lagi.."


"Jangan menangis.. aku baik-baik saja... Jangan marah


pada Bara karena aku yang suruh... maaf ya bikin kamu khawatir," bisik Aldi.


"Ayo Tuan Aldi kita ke kamar aja, lupakan


berenang!"


Nuke memandikan mengeringkan dan memakaikan baju Aldi sambil


menangis. Ia tak mau dilarang dan tak mau diajak bicara.


"Hey.. kau tak perlu memandikan aku aku bisa


sendiri," ujar Aldi


"Diam lah Tuan Aldi.. duduk saja yang baik dan biarkan


menangis. Aldi menjadi merasa bersalah ternyata Nuke begitu terpukul dengan


kejahilan tadi.


Aldi terdiam, ia tak akan mengaku sepertinya. Sebab jika ia


mengaku kalau itu hanya pura-pura, sepertinya akan terjadi perang dunia. Lebih


baik menurut sajalah dari pada Nuke malah makin menangis.


"Aku gak berguna hampir saja mencelakakan Tuan Aldi...


kalau sedikit saja aku yang payah ini lengah mungkin Tuan Aldi ...Tuan Aldi..


hiks.. hiks.. huwaaaaa... eeeww..." Nuke syok dan gemeteran


"Sudahlah aku baik ba.." perkataan Aldi terputus


"Kasih aku kesempatan untuk merenung Tuan Aldi jangan


mengganggu aku! Aku akan semakin merasa bersalah..." Aldi pasrah dan


menuruti kemauan Nuke yang sedang ngomel dengan dirinya sendiri sambil


memakaikannya baju tidur!


"Perasaan merenung itu diam kenapa ini ngomel-ngomel


ya?" tanya Aldi heran tapi hanya bisa tersenyum


"Tapi..."


"Diam Tuan Aldi.. sekarang masuk ke dalam


selimut!" Nuke memerintah seperti pada anak balita.


"Tapi kita belum makan malam..." ujar Aldi


memelas.


"Oh my God .. iya Tuan Aldi maaf aku lupa... hiks..


hiks.. aku payaahhhh!!" teriak Nuke histeris.


"Sudahlah... jangan sedih lagi... boleh aku minta


peluk?" tanya Aldi sambil membentangkan tangannya. Dan Nuke langsung

__ADS_1


memeluk erat dan menumpahkan tangisnya.


“Aku hampir kehilangan mu... huhuhuh... huhuhu.”


“Waduh.. kenapa jadi begini urusannya ya. Aku tak mengira


akan serumit ini. Apa kehilanganku Nuke itu sangat terpukul? Apa ia masih


menyukaiku atau hanya tugasnya sebagai perawat?”


“Nona Nina makan malam akan dibawa ke dalam kamar,” kata


Bara


“Baiklah, letakan di sini. Tuan Aldi harus makan yang banyak


biar aku suapi. Duduk menyender ya. Tunggu sampai supnya hangat ya. Makan


sayurnya dulu sedikit saja.”


Aldi tak berani melawan dan mengelak, dilihatnya wajah Nuke


tegang dan masih sedih. Dan masih menyalahkan dirinya.


Nuke memperlakukan Aldi seperti balita yang sedang belajar


makan. Minum pun ia pegang. Tugas Aldi hanya membuka mulut, mengunyah dan


menelan.


“Yak selesai makannya.. duduk dulu ya... Sambil aku lemaskan


kakinya.”


“Sudah Nina.. Jangan pijit kakiku.”


“Tidak apa.. jangan larang aku kali ini.”


“Ninaaa.. aku mau kamu duduk di sini disebelahku.”


“Tapi..”


“Aku mau Nina duduk di sebelahku.”


“Ba..baik.. Tuan.” Nuke duduk di samping Aldi. Lalu Aldi


menggenggam tangan Nuke.


“Nina, bisakah jangan memanggilku Tuan lagi. Panggil saja Aldi.”


“Mana bisa begitu.. Tuan Aldi kan pasienku. Atau klien ku.


Aku gak berani. Gak sopan.”


“Aku yang memintanya begitu, mau ya? Untuk aku?”


“Ba..baiklah Aldi.”


“Siapa?”


“Aldiii..”


“Siapa?”


“Aku cubit ya menggodaku seperti itu!”


“Hahahha.. galak banget. Terima kasih sudah mau memanggilku Aldi.


Lebih nyaman dan akrab terdengarnya.” Aldi memulai modusnya dari sekarang.


“Maafkan aku yang tadi siang, aku sangat takut.. Aldi


celaka. Maaf ya. Kalau mau melaporkannya pada kampusku aku tak apa.”


“Enggak lah, ini kesalahan aku sendiri yang tak sabar


menunggumu. Dan terjatuh ke air. Bukan kesalahanmu.”


“Tapi sampai rumah kita periksa ya? Aku takut ada air masuk


dalam paru-parumu.”


“Gak perlu! Kalau nanti aku batuk saja atau merasa tak


nyaman di dada ya?’


“Okey... Cepat beri tahu aku kalau sakit.”


Aldi tersenyum licik apa yang ia inginkan sudah tercapai.


Ciuman dari Nuke. Walau bukan sepenuhnya ciuman tapi tadi bibir mereka menyatu.


Masih bisa ia rasakan bibir lembut Nuke hangat membuat bergetar.


Gak sabar memberikan balasan yang sama hangatnya, *******


dan mengulumnya. Otak Aldi sudah berkelana tak tentu arah.

__ADS_1


__ADS_2