
Malam itu turun hujan kecil.
Ilalang yang baru saja tiba di rumah segera menepikan motornya di garasi.
Dulu, di garasi luas itu berjejer mobil-mobil sport miliknya. Namun, kini garasi luas itu menjadi kosong, karena hanya motor Ducati merah ini yang sekarang dia miliki.
Dikarenakan hujan semakin deras,
pemuda itu segera berlari menuju pintu rumah.
Matanya melihat ada mobil CRV hitam yang terparkir di halaman. Mobil siapa itu? Apakah temannya Mommy? Ia berpikir.
Ah, persetan itu mobil siapa!
Dia hanya mengibaskan tangan tak perduli, lantas melanjutkan langkahnya memasuki rumah besar itu.
Setibanya di dalam rumah yang tampak sepi, tak ada satu pun pelayan yang menyambut kedatangannya seperti dulu, karena para pelayan itu kini sudah pergi dari rumahnya.
Ibunya tak sanggup lagi untuk menggaji mereka.
Setelah mengunci pintu dari dalam Ilalang segera berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua.
Sudah dua hari dirinya berada di rumah temannya di kota Bandung. Dia pergi dari rumah setelah terlibat perselisihan dengan ibunya.
Ilalang sangat marah saat mengetahui sang ibu bekerja sebagai wanita panggilan pada sebuah prostitusi online.
Awalnya dia tak ingin kembali untuk pulang. Namun, dia juga tak bisa terus menumpang di rumah temannya itu.
Hh, dia hanya seorang pelajar SMA. Untuk mencari pekerjaan pun dia kesulitan mendapatkannya.
Namun, dalam hati dia sungguh ingin pergi dari ibunya. Dia sangat benci dengan profesi wanita yang sudah melahirkannya 18 tahun yang lalu itu.
Semua ini terjadi sejak ayahnya pergi dari rumah. Bahkan lelaki kaya raya itu tidak memberikan uang kompensasi yang sesuai untuk ibunya, dan uang tunjangan untuknya.
Hal yang lebih menyakitkan lagi bagi Ilalang, kini ayahnya sudah menikah lagi dengan wanita yang dulu bekerja sebagai sekertarisnya.
Lelaki bernama Armand Adipati Farlevi itu bahkan tak pernah lagi menemuinya. Dia malah sibuk membesarkan putra tirinya yang tak lain adalah teman satu kelas Ilalang
di sekolah.
Yuda, nama anak tiri ayahnya itu kerap memamerkan barang-barang branded di kelasnya.
Dasar tak tahu malu!
Ilalang tahu semua barang mewah itu pemberian ayahnya. Dia sangat sedih. Kenapa ayahnya seolah melupakan dirinya. Padahal dulu, sang ayah sangat memanjakannya.
Kenapa semua ini terjadi padanya?
Dia ingin meraung sekuatnya, tak mau seperti ini!
Dia tak mau keluarganya menjadi berantakkan dan berakhir sebagai anak broken home. Namun apa daya, semua ini sudah terjadi.
'Gue tahu barang-barang itu lo beli dari duit bokap gue, kan?!'
'Bokap gue sekarang, bukan bokap lo lagi, tahu!'
'Sialan lo!'
'Lo minta aja sama nyokap lo! Tarif nyokap lo 'kan 20 juta sekali open bo! Hahaha ...'
__ADS_1
Buku-buku tangannya mengepal kuat. Ucapan Yuda di kelas dua hari yang lalu masih terngiang-ngiang di telinganya.
Anak tiri ayahnya itu membeberkan profesi ibunya di depan semua teman sekelas mereka.
Akibatnya Ilalang sangat murka.
Dia menghajar Yuda habis-habisan hari itu. Dampak buruk lainnya yang harus dia terima, pihak sekolah men-skorsingnya selama dua hari. Itulah sebabnya ia pergi ke Bandung.
Langkah sepatu boots itu tiba di lantai dua. Dengan perasaan gusar ia melanjutkan langkah menuju pintu kamarnya yang berada paling ujung.
Namun, tiba-tiba telinganya menangkap suara-suara laknat saat melintasi kamar ibunya.
Siapa yang bicara?
Pertanyaan itu pun muncul di benaknya. Pemuda dengan hoodie hitam itu menghentikan langkah, lalu mendekat pada pintu kamar ibunya.
"Aahhh ... Masss ..."
"Kamu suka, Karina?"
"Suka, Mas. Lagi dong, Mas..
Aahhh ... Aahh ..."
Brengsek!
Emosi pemuda 18 tahun itu membuncah!
Suara lenguhan ibunya itu sungguh membuatnya sangat geram. Siapa lelaki yang sedang bersama ibunya di dalam kamar?
Berani benar ibunya membawa pasangan mesumnya ke dalam rumah ini!
BRAAK!
Pintu pun terbuka lebar. Sepertinya pintu itu memang tak dikunci.
Sepasang mata pemuda itu menyala merah melihat ibunya yang sedang melayani seorang lelaki tak dikenal.
Brengsek!
Dengan geram ia segera menghampiri mereka.
Sementara Karina, ibunya Ilalang tampak sangat kaget melihat anaknya datang dan melihat semuanya.
Dia segera mendorong lelaki yang berada di atas tubuhnya. Ilalang pasti sangat marah. Karina sangat ketakutan melihat putranya mendekat.
"Cacingan lo! Keluar dari rumah gue!" Ilalang segera menarik bahu lelaki yang sedang bersama ibunya di atas kasur.
"Apa-apaan ini?!"
Lelaki itu masih telanjang bulat saat Ilalang menghajarnya habis-habisan. Dikarenakan baru saja menggumuli tubuh Karina, dia sangat lemas dan tak mampu melawan serangan brutal Ilalang padanya.
"Mampus lo, Brengsek!"
Ilalang terus menghajar lelaki itu dengan membabi buta. Dia tidak terima lelaki itu menyentuh ibunya. Dia ingin membunuhnya sekarang juga.
Karina segera mengenakan pakaian tidurnya dan langsung berlari menuju Ilalang yang sedang menghajar pasangan mesumnya itu.
"Ilalang, udah, Sayang. Dia bisa mati!" Karina menarik lengan Ilalang yang sedang menghajar pasangan mesumnya itu habis-habisan.
__ADS_1
Pemuda itu tak menggubris perkataan ibunya.
Dia malah menepis tangan Karina dengan kasar. Akibatnya wanita berusia 35 tahun itu terlempar sampai tersungkur pada meja rias. Ilalang menoleh kaget. Dia sudah berlaku kasar pada ibunya.
"Karina, apa-apaan ini? Saya sudah bayar kamu mahal tapi malah begini akhirnya!" geram lelaki bernama Baron yang baru saja bercinta dengan Karina.
Dia segera bangkit setelah Ilalang melepaskan dirinya. Wajahnya bonyok-bonyok akibat ulah pemuda itu. Dia sangat kesal.
"Bawa pakaian lo dan pergi dari sini!" Ilalang masih sangat geram melihat lelaki seumuran ayahnya itu. Ingin rasanya dia menghajarnya lagi. Sampai mati bila perlu.
"Sudah, Sayang. Maafkan Mommy--" Karina menarik lengan Ilalang yang ingin maju lagi untuk menghajar Baron.
"Mas Baron, maafkan saya. Saya akan mengembalikan uang Mas Baron. Silakan tinggalkan rumah saya," lirih Karina dengan perasaan yang tidak enak hati pada Baron.
Lelaki itu sudah membayarnya 20 juta seminggu yang lalu. Sementara uang itu sudah habis dipakai membayar uang sekolah Ilalang dan kebutuhan mereka.
Entah dari mana dia bisa mendapatkan uang untuk mengganti uang Baron.
"Kasih tahu anakmu ini kalau ibunya seorang pelacur!" ucap Baron sambil meraih semua pakaiannya dari lantai.
"Brengsek!"
Ilalang yang geram karena ucapan menohok Baron tentang ibunya segera menendang bokong telanjang lelaki itu yang hampir saja keluar dari pintu kamar.
Baron tersungkur ke lantai.
Ilalang segera maju dan kembali menghajarnya habis-habisan di depan pintu. Karina hanya menjerit melihat Ilalang yang sangat brutal menghajar Baron.
"Udah, Nak! Mommy mohon ..." Karina bersimpuh di lantai sambil menangis.
Sial!
Tangisan ibunya itu sungguh menyayat hati Ilalang. Dia pun melepaskan Baron. Lelaki itu segera berlari sembari mengumpat Karina dan Ilalang dengan penuh emosi.
Ilalang masih membelakangi ibunya. Dia tak ingin menoleh dan melihat wajah ibunya yang sudah dibanjiri air mata. Dia putuskan untuk segera pergi menuju kamarnya.
Remuk yang kini ia rasakan pada hatinya.
Pelacur!
Kata-kata Baron tadi terus terdengar di telinganya. Oh, ****! Ilalang menghantam dinding kamar, tubuhnya merosot sampai duduk bersandar pada dinding.
Kenapa?
Kenapa ini harus terjadi padanya? Kenapa ibunya dan ayahnya harus bercerai?
Kenapa?!
Dalam emosi, dipukul-pukul lantai dengan kepalan tangannya.
Kenyataan ini sungguh sangat berat bagi remaja seusianya. Air mata mulai berjatuhan tak tertahan. Namun, dengan cepat dia segera menyekanya.
Tidak, dia bukan anak perempuan yang cengeng. Dia anak laki-laki!
Dia tak boleh menangis!
Akan tetapi, ini terlalu menyakitkan baginya.
Ilalang mendekap kedua lututnya.
__ADS_1
Disembunyikan wajah itu di antara kedua tangan. Punggungnya bergetar hebat. Ya, akhirnya dia tak bisa menahan tangisnya.