
Kawanan burung gereja terbang rendah di sekitar pelataran sekolah. Para siswa berlarian menuju kelas masing-masing setelah terdengar bel berbunyi. Suasa di kelas yang membosankan harus mereka hadapi di jam-jam selanjutnya.
"Ilalang tak hanya kedapati pacaran di lingkungan sekolah, tapi dia juga berkelahi di kelas. Kami sepertinya tak bisa mempertimbangkan Ilalang untuk terus bersekolah di sini."
Karina menatap nanar wanita paruh baya bertubuh gemuk di depannya. Mereka sedang berhadapan di ruang kepala sekolah saat ini.
Ilalang memang tak mengatakan apa pun pasal surat panggilan dari sekolahnya. Karina menemukan surat itu saat hendak mencuci hoodie Ilalang.
Bagaimanapun Ilalang adalah putranya. Sebagai orang tua ia wajib tahu masalah apa yang sedang terjadi di sekolah Ilalang.
"Bu, saya mohon sekali ... tolong jangan keluarkan Ilalang dari sekolah. Saya akan menasehatinya, saya janji." Karina bicara dengan wajah bersungguh.
Ilalang tak boleh sampai dikeluarkan dari sekolah. Bagaimana masa depan putranya nanti. Terlebih, untuk pindah sekolah pun ia tak yakin mengingat predikat siswa buruk yang sudah terlanjur menempel pada Ilalang.
Setelah berhasil membujuk pihak sekolah, Karina berjalan lamban menyusuri koridor. Entah di mana Ilalang. Ia harus bicara dengan anak itu. Ini bukan masalah sepele.
Kepala Karina mendadak pusing memikirkan ucapan pihak sekolah. Ilalang akan benar-benar dikeluarkan jika kedapati pacaran atau berkelahi lagi di lingkungan sekolah.
Ya Tuhan ... anak itu benar-benar sulit diberi pemahaman. Karina kebingungan. Harus bagaimana ia bicara pada Ilalang? Bahkan putranya itu tak mau menatapnya.
Sedang pusing memikirkan Ilalang. Karina tak sengaja menabrak seorang lelaki yang berpapasan dengannya di koridor.
"Eh, maaf Pak. Saya nggak hati-hati. Maafkan saya." Karina mundur seraya mengangkat sepasang matanya ke wajah lelaki tinggi dengan stelan jas hitam di hadapannya. Ia dibuat terkejut.
"Karina?" tanya lelaki itu dengan wajah dingin.
"Mas Tama?"
Karina nyaris tak percaya. Gutama Hermawan, mantan pacarnya, ah bukan, tapi lelaki yang pernah dia tolak cintanya di masa lalu kini sedang berdiri di hadapannya.
Gutama Hermawan, lelaki berusia empat puluh tahun itu merupakan seorang pengusaha sukses. Karina masih tertegun memandangi lelaki tinggi di hadapannya.
"Mas Tama kok ada di sini?" tanya Karina setelah hening sejenak di antara mereka.
"Anak saya sekolah di sini. Kamu sendiri lagi ngapain di sini?" tanya Gutama masih dengan ekpresi dinginnya.
Karina Olivia, wanita sombong yang pernah menolak cintanya tujuh belas tahun yang lalu.
Menurut kabar, Karina telah menikah dengan Angga, CEO perusahaan international. Namun, kenapa Karina terlihat berpenampilan biasa saja, tak mencirikan istri seorang pengusaha sukses?
Sepasang mata Gutama naik turun memperhatikan Karina. Hal itu membuat Karina merasa malu dan tidak nyaman.
"Anakku juga sekolah di sini, Mas." Karina berkata sedikit canggung.
"Begitu rupanya. Baiklah, saya harus pergi." Gutama hanya memandang dengan wajah sinis. Lelaki itu lantas melanjutkan langkahnya diikuti dua orang bodyguard.
Karina menarik nafas panjang seraya memejamkan mata. Astaga, mimpi buruk apa ini? Kenapa dia bertemu lagi dengan lelaki brengsek itu?
Dengan perasaan tak karuan, Karina bergegas melanjutkan langkahnya untuk mencari Ilalang.
"Papa!"
"Aurel Sayang!"
__ADS_1
Gutama merentangkan kedua tangannya sambil mengibarkan senyum lebar menyambut gadis berseragam sekolah yang berlari kecil menuju padanya.
"Papa kangen kamu, Sayang." Gutama berbisik setelah melepaskan pelukan itu dari putrinya.
"Aku juga, Pa. Kok nggak bilang mau dateng ke sekolah sih," ucap Aurel dengan wajah yang dibuat menggemaskan.
Gutama hanya tertawa kecil menanggapi.
"Huh, pasti Papa datang ke sekolah gara-gara surat laknat itu ya!" celoteh Aurel lagi.
"Papa nggak percaya kalo kamu berulah di sekolah. Ya ampun, apa iya kamu beneran pacaran?" Gutama terkekeh seraya menggoda putrinya.
Aurel tersenyum kecut."Pasti Om Bagas 'kan yang udah ngadu ke Papa? Dasar tukang ngadu!"
"Sudahlah, Papa mau pulang dulu. Kamu nggak usah pikirin apa-apa. Papa sudah mengurus semuanya. Tapi Papa penasaran, siapa pemuda bernama Ilalang itu?" Gutama mengusap-usap dagunya tampak berpikir.
"Papa mau aku kenalin sama Ilalang?!" Aurel begitu bersemangat.
Gutama mengangguk. "Boleh."
"Yaudah ayo, Pa!" Aurel bergegas menarik lengan ayahnya menuju lapangan basket.
Gutama hanya tersenyum gemas sambil menggelengkan kepalanya. Dia tak begitu memasalahkan Aurel yang sudah memiliki pacar. Baginya itu hal yang wajar karena putrinya sudah beranjak dewasa. Namun, dia harus tahu siapa pemuda itu.
"Pa, itu Ilalang!" Aurel menunjuk pada siswa dengan seragam basket warna merah yang sedang duduk di tepi lapangan.
"Maksud kamu yang itu?" Gutama menunjuk pada Ilalang yang sedang duduk pada bangku di tepi lapangan basket bersama Karina.
Gutama tak menjawab. Matanya belum berpaling dari Ilalang dan Karina. "Aurel, Papa harus kembali ke kantor sekarang."
"Lho kok? Papa!" Aurel keheranan karena sikap ayahnya yang tiba-tiba saja berubah dingin. Gadis itu berusaha mengejar Gutama, tapi sang ayah sudah keburu masuk mobil.
"Papa ..." Aurel berdiri seraya memandangi mobil mewah yang membawa ayahnya melaju kencang meninggalkan area sekolah.
Kembali pada Karina dan Ilalang. Pemuda itu memalingkan wajahnya dari tatapan Karina. Sang ibu sedang menasehatinya. Karina tidak melarang Ilalang berpacaran, asal tidak di lingkungan sekolah.
"Mommy paham, tapi kamu juga harus pikirkan masa depanmu. Kalian masih sangat muda. Jangan terlalu berlebihan kalo pacaran." Karina bicara seraya meraih jemari Ilalang. Ia menatapnya dengan lembut.
"Harusnya Mommy nggak usah datang ke sekolah," cetus Ilalang dengan wajah dingin. Tangan kanannya sibuk memainkan benda bundar warna merah.
"Ilalang, bagaimanapun Mommy adalah orang tuamu, Nak. Mommy bertanggung jawab kalo kamu ada masalah di sekolah."
"Yaudah sekarang 'kan masalahnya udah kelar, mending Mommy pulang aja gih. Aku nggak mau temen-temen aku melihat Mommy di sini."
"Oke kalo itu mau kamu, Mommy akan pulang." Karina bangkit dari duduknya. Diusap rambut Ilalang seraya tersenyum gemas.
"Apaan sih?" Ilalang buru-buru menepis tangan Karina dari kepalanya dengan ekpresi sebal. Pemuda itu bergegas bangkit, lantas pergi menuju lapangan sambil memainkan bola basket di tangannya.
Karina hanya tersenyum kagum memandangi punggung Ilalang menjauh. Diraih tas kecil miliknya dari kursi, ia bergegas pergi.
"Mommy!"
Suara cicitan itu mengejutkan Karina yang sedang berjalan menyusuri koridor hendak meninggalkan sekolah Ilalang. Tubuhnya memutar guna melihat sosok yang memanggilnya.
__ADS_1
"Aurel!"
Karina terkejut sekaligus senang melihat Aurel sedang berjalan cepat menuju padanya.
Bibirnya mengulas senyum manis menyambut dara jelita yang menjadi cinta pertama putranya itu.
"Mommy pasti dari ruang kepsek ya?" tanya Aurel setelah berhadapan dengan Karina.
Karina mengangguk sambil tersenyum menanggapi.
"Terus gimana? Apa Ilalang masih boleh sekolah di sini? Nggak dikeluarin 'kan?" Antusias Aurel sambil menatap Karina.
"Nggak kok. Ilalang masih tetap sekolah di sini," jawab Karina.
"Oh, syukur deh." Aurel tersenyum lega.
"Mommy mau pulang dulu ya. Ilalang nggak suka kalo Mommy datang ke sekolah." Karina bicara lagi.
"Oke, Mom. Hati-hati di jalan ya!" Aurel melepaskan genggaman tangan Karina. Kemudian melambaikan tangan pada saat wanita itu menoleh padanya.
*
"Mas Gutama manggil saya?" Bagas memasuki ruang kerja Gutama di kantornya.
Wajah Bagas tampak ketakutan saat mata lelaki dengan stelan jas hitam yang sedang duduk pada bangku kebesarannya itu terangkat padanya.
Gutama menaikan sudut bibirnya. "Saya mau bicara sama kamu," ucapnya, lantas bangkit dan berjalan menuju sofa-sofa di ruangan luas itu.
Bagas mengekor Gutama dari belakang sambil menerka-nerka. Kira-kira apa yang membuat kakak tirinya itu memanggilnya. Apakah ada kesalahan yang ia buat?
Bagas sejak kecil sangat takut pada Gutama.
"Duduk." Gutama menunjuk sofa kosong di sampingnya dengan dagu dan wajah yang dingin.
"Iya, Mas." Bagas bergegas mendaratkan bokongnya pada sofa kosong yang ditunjuk Gutama. Jantungnya berdegup kencang. Dari ekpresinya, sepertinya Gutama sedang marah besar.
Gutama menatap sinis pada Bagas."Kenapa kamu sampai biarkan Aurel dekat-dekat dengan pemuda bernama Ilalang itu?!"
Bagas dibuat tersentak, dengan tergugup ia menjawab, "Sa-saya juga nggak tahu awalnya, Mas. Aurel nggak pernah cerita."
Gutama menatap geram pada lelaki di depannya. Disambar asbak kristal dari atas meja, lantas melempar benda itu ke wajah Bagas. Beruntung Bagas berhasil menghindar.
"Kamu tidak becus menjaga Aurel!" murka Gutama sambil menunjuk-nunjuk wajah Bagas.
Bagas yang teramat ketakutan pada kakak tirinya itu bergegas turun dari sofa. Dengan merangkak dia bergerak ke hadapan Gutama. "Saya benar-benar minta maaf, Mas. Saya akan lebih ketat lagi sama Aurel. Saya janji--"
"Kalo perlu kamu lenyapkan saja pemuda itu. Saya nggak sudi dia dekat-dekat dengan Aurel. Paham?!" gertak Gutama tidak main-main.
"Pa-paham, Mas." Bagas nyaris menangis ketakutan.
Gutama sudah menyiksanya sejak mereka kecil. Bagas mengalami trauma hebat karena perbuatan lelaki kejam itu.
Namun, kenapa Gutama sangat murka setelah mengetahui Ilalang adalah anaknya Karina? Apa karena wanita itu pernah menolak cintanya? Atau ... ada hal lain yang belum terungkap?
__ADS_1