GEJOLAK DI USIA MUDA

GEJOLAK DI USIA MUDA
ANAK PELACUR


__ADS_3

Paginya Ilalang baru saja menuruni anak tangga. Serangam sekolah melekat di tubuhnya dengan hoodie hitam yang menjadi lapisan.


Dia harus menjemput Aurel untuk berangkat sekolah bersama. Astaga, harinya terasa lebih baik sejak ada Aurel di hidupnya. Dia pun mempercepat langkah menuju motornya di garasi.


"Ilalang, tunggu!"


Suara Karina membuat langkahnya terhenti. Hh, mau apa lagi ibunya itu? Ilalang tampak bosan dan tak ingin bertatap muka dengan wanita cantik yang sudah melahirkannya.


"Ilalang, ini ongkos buat kamu. Ambil ya, Nak!" Karina menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan pada Ilalang. Dia mengerti, sekarang putranya itu sudah punya pacar. Pasti Ilalang membutuhkan uang.


"Nggak usah." Ilalang agak gengsi untuk menerima uang itu. Dia menepis tangan ibunya dan segera menaiki motornya.


"Ilalang, bawa uang ini, Nak. Kamu pasti membutuhkannya, Sayang." Karina meraih lengan Ilalang dan langsung menaruh uang itu pada saku hoodie-nya.


Ilalang tak berkata apa pun, dia langsung menyalakan mesin motornya dan berlalu. Karina tersenyum tipis. Biasanya Ilalang menolak mati-matian uang yang ia berikan, tapi kali ini Ilalang menerimanya meski dengan wajah sinis.


Ini semua pasti karena Aurel. Ya, gadis itu membawa perubahan yang baik untuk Ilalang, pikirnya lalu kembali masuk ke dalam rumah.


Motor Ducati merah menepi di depan gerbang rumah Aurel. Ilalang segera turun dari motornya dan mengirim pesan pada pacarnya ikalau dirinya sudah tiba. Tak lama kemudian Aurel pun keluar dari pintu rumahnya. Dia berlarian kecil menghampiri Ilalang.


"Masuk dulu yuk! Masih pagi," ajak Aurel sembari meraih lengan Ilalang.


Ilalang hanya mengangguk. Mereka pun segera memasuki rumah.


Pemuda itu memindai seisi rumah Aurel setibanya dia di dalam. Rumahnya memang tak sebesar rumah ibunya, namun tampak bersih dan nyaman.


"Duduk dulu, ya! Aku mau ambil tas sekolah di kamar," ucap Aurel sembari tersenyum manis pada Ilalang.


"Jangan lama, ya! Aku gampang bosan kalo nunggu," pinta Ilalang sembari meraih lengan Aurel.


"Bentaran doang kok, Sayang." Aurel mendekatkan wajahnya pada Ilalang sembari tersenyum.


Pemuda itu sampai menelan salivanya. Dia pikir Aurel mau menciumnya mungkin. Sial! Gadis itu pun berlalu sembari tertawa kecil padanya.


Ilalang tersenyum tipis. Aurel sangat cantik. Astaga, pikirannya mulai mesum. Dia pun bersandar pada sandaran sofa sembari memainkan ponselnya.


Ada beberapa pesan dari Ali. Temannya itu sudah tiba di kelas rupanya. Ali menanyakan hubungannya dengan Aurel. Dengan percaya diri Ilalang pun menjawab kalau Aurel adalah pacarnya sekarang.


Ali yang kaget segera mengirim banyak pesan pada Ilalang. Pemuda itu tersenyum tipis melihatnya. Ali pasti kaget setelah tahu kalau dirinya berpacaran sekarang.

__ADS_1


Hh, memangnya Ali saja yang punya pacar! Dia pun kini punya pacar! Cantik lagi! Ilalang tak henti tersenyum membaca pesan dari Ali.


"Lho, kamu anaknya Karina, kan?" tiba-tiba suara Bagas membuat Ilalang kaget. Pemuda itu pun segera menghentikan aktifitas dari ponselnya.


Dia segera bangkit dari sofa.


"Iya, Om." Ilalang berkata sembari menatap Bagas yang kini berdiri di hadapannya.


"Kok kamu ada di sini? Kamu jemput Aurel sekolah?" tanya Bagas lagi. Dia menatap pada Ilalang.


Pemuda di hadapannya itu begitu tampan namun terkesan dingin. Dia pernah melihatnya di rumah Karina tempo hari.


Malam itu Ilalang dan Karina sepertinya sedang ada masalah. Bagas tak sempat bertanya banyak hal tentang Ilalang. Padahal, dia ingin sekali bisa dekat dengan anaknya Karina.


"Hm ... iya, Om. Saya jemput Aurel berangkat sekolah," jawab Ilalang dengan perasaan yang tidak nyaman karena tatapan Bagas padanya.


"Kok bisa? Atau Jangan-jangan kalian pacaran ya!" Bagas menunjuk pada Ilalang sembari tersenyum menggodanya.


Ilalang hanya berpaling wajah dengan pipinya yang bersemu merah. Dia sangat malu pada Bagas. Terlebih saat lelaki itu bertamu ke rumahnya tempo hari. Pasti Bagas berpikir kalau dirinya pemuda yang tidak baik.


"Memangnya kenapa kalo aku pacaran sama Ilalang? Om nggak suka?" celetuk Aurel yang tiba-tiba muncul dari tangga. Gadis itu bergegas menghampiri Bagas dan Ilalang yang sedang berdiri berhadapan.


Dia memang selalu melarang keponakannya itu berpacaran selama ini. Itu semua karena orang tua Aurel memberinya tanggung jawab untuk menjaga gadis belia itu.


Dia hanya takut Aurel salah pergaulan dan akhirnya dia yang disalahkan oleh orang tuanya nanti.


"Bokis. Selama ini 'kan Om selalu ngelarang aku pacaran." Aurel melipat kedua tangannya di bawah dada. Dia memasang wajah sebal pada lelaki yang selalu mengatur hidupnya.


"Bukan gitu, Rel. Om cuma takut kamu salah bergaul aja." Bagas berusaha meyakinkan Aurel.


Dia tak ingin terjadi perselisihan lagi antara dirinya dan keponakannya. Aurel memang keras kepala dan susah diberi tahu. Namun Bagas sedikit lega kalau Ilalang yang menjadi pacar keponakannya itu.


"Terserah deh! Ayo, Lang!" Aurel segera meraih lengan Ilalang dan mengajaknya meninggalkan Bagas.


Dia malas mendengarkan ocehan pamannya itu. Baginya dia sudah besar dan tahu mana yang baik dan buruk. Namun, dokter spesialis jantung itu selalu menganggapnya anak kecil.


"Mari, Om." Ilalang pun segera mengikuti Aurel keluar dari rumah itu. Dia tak tahu ada masalah apa pacarnya itu dengan Bagas. Kenapa Aurel seperti sangat benci pada om-nya itu.


"Dasar bocil! Keras kepala!" Bagas hanya menggelengkan kepalanya melihat Aurel sudah menaiki motor besar Ilalang. Sepertinya dia harus menemui Karina, pikirnya.

__ADS_1


Kedua tangan Aurel melingkar di perut Ilalang. Dia sangat senang berboncengan dengan pemuda itu. Persetan dengan Bagas. Pamannya yang bawel dan banyak mengatur. Perasaannya sangat damai saat bersama Ilalang.


Ilalang hanya tersenyum tipis di balik helmnya. Sesekali dia menyentuh jemari Aurel yang berada di perutnya. Perasaan ini sungguh sangat indah. Aurel adalah cinta pertamanya. Dia bahkan tak ingin kehilangan gadis itu.


"Mau langsung ke kelas? Gimana kalo ke kantin dulu? Aku laper nih!" Aurel berkata dengan manja pada Ilalang saat keduanya sudah turun dari motor di parkiran sekolah.


Dia memang jarang sarapan di rumah. Lagi pula di rumahnya tak ada yang membuatkan sarapan. Kadang Bagas memesan makanan siap saji untuk mereka makan.


"Yaudah, ayok!" Ilalang mengusap puncak kepala Aurel sembari tersenyum gemas. Kemudian dia dan Aurel pun berjalan bergandengan menuju kantin.


"Tuh, apa aku bilang. Ilalang sama Aurel emang pacaran, Mik!" tukas Ririn yang sedang mengintai Ilalang dan Aurel di tepi parkiran sekolah. Dia berkata pada Mikha yang sedang berdiri di sampingnya.


"Yaudah, kita susul mereka yuk!" ajak Mikha. Dia tak terima Ilalang jadian sama Aurel.


Gadis itu baru dua hari berada di sekolah mereka, tapi bisa-bisanya dia merebut Ilalang darinya. Sialan! Mikha tidak bisa terima ini. Dia harus memberi pelajaran pada Aurel.


"Makan yang banyak, ya. Aku suapin mau nggak?" Aurel menyodorkan sendok berisikan nasi goreng ke depan mulut Ilalang.


"Makasih. Aku bisa sendiri kok." Ilalang tersenyum lalu menerima suapan Aurel.


Dia sangat senang ada gadis yang begitu perhatian padanya sekarang. Mereka pun melanjutkan makan dengan saling suap-suapan. Sesakali keduanya juga tertawa kecil begitu mesranya.


Yuda dan beberapa temannya tampak geram melihat kemesraan Ilalang dan Aurel. Kemudian dia segera menghampiri mereka.


"Wih, romantis banget kalian. Kalah deh drama Korea yang lagi booming sekarang," tukas Yuda sembari bertepuk tangan setelah berdiri di samping Aurel yang masih duduk satu meja dengan Ilalang.


Ilalang memalingkan wajahnya dari tatapan Yuda. Kedatangan pemuda itu sungguh sangat mengganggu baginya dan juga Aurel. Mood-nya mulai rusak. Gadis di hadapannya itu pun tampak tidak nyaman.


"Aurel, kamu itu cantik. Ngapain juga mau sama si Rumput liar ini! Asal kamu tahu, ya! Ilalang ini cuma anak pelacur!" Yuda menunjuk wajah Ilalang dengan geram.


Dia sengaja mempermalukan pemuda itu di hadapan Aurel. Sukur-sukur kalau setelah ini Aurel akan meninggalkan Ilalang, pikirnya licik.


Aurel membungkam mulutnya kaget dengan apa yang didengarnya. Dia pun segera menoleh pada Ilalang.


"Brengsek!"


Ilalang yang geram atas ucapan menohok Yuda segera bangkit dari bangkunya. Dia menatap pemuda di hadapannya itu dengan penuh emosi. Kemudian dia maju dan langsung meraih kerah seragam Yuda. Ilalang mengangkat tinjunya ke wajah pemuda itu.


"Ilalang, jangan!"

__ADS_1


__ADS_2