
Hati Yuda sedang berbunga-bunga saat ini. Bagaimana tidak? Gadis impiannya sedang duduk di sampingnya.
Aurel, akhirnya dia bisa mengantar dara manis itu pulang. Bibirnya mengulas senyum sambil menolehkan kepala pada Aurel.
Gadis itu sedang duduk sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Pandangannya dibuang ke arah jendela. Meski sedang cemberut seperti itu tak merubah betapa manisnya Aurel.
"Udah jangan dipikirin. Lagian harusnya kamu bersyukur bisa putus sama tuh Rumput Liar. Aku gak bisa bayangin deh kalo kamu masih jalan sama Ilalang." Pemuda itu mulai membuka obrolan dengan Aurel. Bibirnya tersenyum begitu manis saat si gadis menoleh.
"Apaan sih? Fokus nyetir aja bisa nggak, sih?!" Aurel membalas dengan wajah sebal pada Yuda.
Jangan pikir dia mau pulang dengan pemuda rese itu karena dia meresponnya.
Kenyataannya dia cuma mau membuat Ilalang cemburu saja, tak lebih. Aurel yakin jika Ilalang masih cinta padanya. Namun, keputusan pemuda itu benar-benar labil dan nggak masuk akal!
"Oke ... sorry. Aku cuma nggak rela aja si Rumput Liar itu nyakitin kamu, Rel. Secara kamu itu cantik, smart and eferiting. Kamu pantes dapetin cowok yang lebih baik dari si Ilalang. Contohnya ya ... aku ini, hehe." Dengan bangganya Yuda berkata seperti itu pada Aurel.
Gadis itu mengangah mendengarnya.
"Dih.."
Aurel bergidig kemudian setelah menoleh pada pemuda di sampingnya.
Amit-amit deh punya cowok macem si Yuda. Udah sok tajir, belagu, pecicilan lagi! Parahnya lagi, mukanya pas-pasan begitu macem dompet karyawan di tanggal tua.
Aurel tersenyum sinis sambil memalingkan wajahnya ke jendela mobil.
Melihat hal itu Yuda merasa tersipu-sipu. Dikiranya si Aurel suka sama dia. Hatinya kembali berbunga-bunga sambil mengemudikan mobilnya menuju rumah Aurel di komplek Aglonema Residence.
"Makasih ya!" Aurel buru-buru mau keluar dari mobil Jeep Wrangler Rubicon hitam yang dikemudikan oleh Yuda.
"Rel, aku nggak boleh mampir dulu gitu? Di luar panas banget! Aku haus Rel!" Yuda segera bicara sebelum Aurel benar-benar keluar dari mobilnya.
"Mendingan kamu langsung pulang aja deh ngadem di depan kulkas! Di luar panas banget!" balas Aurel sambil menyipitkan matanya dari terpaan sinar matahari sore itu.
Dia segera kabur sebelum Yuda bicara lagi. Males banget mesti ajak tuh cowok ke rumahnya. Aurel segera menutup pintu gerbang dan langsung masuk rumah. Persetan pada mobil Yuda yang masih menepi di depan.
"Aurel ... yaahh ... Asem banget tuh cewek, sumpah!" Sambil menggerutu Yuda segera melajukan mobil meninggalkan rumah Aurel.
Bomat deh, Aurel masih cuek padanya.
Yuda rasa ini kesempatan terbaik untuk mendekati Aurel. Terlebih gadis itu baru saja putus dengan Ilalang. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
..........................................................
__ADS_1
Ilalang baru saja tiba di rumahnya. Ia menepikan motor di garasi. Pemuda itu tidak buru-buru turun dari motor setelah membuka helmnya.
Bayangan Aurel tiba-tiba melintas di benaknya. Apakah dia sudah salah mutusin Aurel?
Entahlah, dia sendiri tak tahu.
Namun, melihat Aurel pulang sama Yuda benar-benar membuat hatinya terbakar. Dia masih sangat cinta pada Aurel, tapi keadaan ini tak membuatnya nyaman bila terus bersama dengan Aurel.
"Kamu pantas bahagia, Rel. Tapi bukan sama aku." Lisannya bicara sendiri tanpa disadari.
Hatinya akan kembali sepi setelah putus dengan Aurel. Entah dirinya akan sanggup atau tidak, yang pasti untuk saat ini dirinya masih belum bisa mengiklaskan Aurel dengan pemuda lain.
"Lang, kamu sudah pulang? Ini kunci rumah kamu. Tadi ibu kamu yang titipin sama Tante," ucap seorang wanita paruh baya yang menghadang Ilalang saat pemuda itu hendak memasuki teras rumahnya.
Tante Inez, Ilalang kenal dengan wanita itu.
Dia adalah pemilik rumah di samping. Meski sudah tua, tapi Tante Inez masih terlihat muda. Terlebih style penampilannya yang kekinian. Ilalang geli sendiri kalau bertemu dengan tetangganya yang nyentrik itu.
"Malah senyum-senyum. Nih kuncinya! Dasar Brondong!"
Tante Inez tampak tidak suka dengan cara Ilalang menatapnya. Dia tahu pemuda itu sedang mencibir dalam hati. Inez putuskan segera pergi setelah memberikan kunci rumah Ilalang.
"Ampun deh Mamanya Mikha." Ilalang hanya menggelengkan kepala sambil berjalan menuju pintu.
Ke mana ibunya pergi?
Ah, pasti lagi ada open bo.
Oh, sial! Buat apa dia memikirkan hal itu? Masa bodoh ibunya ke mana dengan siapa. Dia nggak perduli!
Setibanya di kamar Ilalang tidak buru-buru mandi dan bertukar pakaian. Pemuda itu malah rebahan di atas ranjang setelah melempar tas sekolahnya ke sembarang arah.
Entah kenapa rasa malas menderanya saat ini. Malas mandi, malas makan, malas ngapa-ngapain pokonya! Kepalanya pusing, yang ada di otaknya saat ini cuma Aurel.
"Rel, aku kok kangen banget sama kamu ... apa aku chat kamu aja ya? Sial, gue 'kan udah putus sama Aurel."
Ilalang ngomong sendiri dalam dilema. Sepertinya dia mulai menyesal karena sudah memutuskan hubungannya dengan dara manis bernama Aurel Rafasya Gutama.
"Rel, kamu lagi ngapain? Ih, begoh! Ngapain juga gue terus mikirin Aurel sih? Ugh!" Dengan perasaan yang campur aduk nggak karuan, Ilalang segera beringsut dari ranjang.
Sebaiknya dia mandi saja daripada terus kepikiran Aurel. Mereka sudah putus! Tus! Tus! Kenapa sulit terbiasa tanpa Aurel?! Ilalang membathin sambil menyalakan shower.
Dia berharap bisa melupakan Aurel dan kenangan singkat mereka.
__ADS_1
Air dingin mulai membasahi tubuh, matanya dipejamkan sambil berdiri merasakan cucuran air melewati tubuhnya. Tiba-tiba saja ia teringat ciumannya dengan Aurel.
Oh, sial!
Sepertinya dia menginginkan bibir itu lagi.
Aarkh! Ilalang membuka matanya, tangannya menghantam dinding kaca di hadapannya. Kenapa dia tak bisa melupakan Aurel?
Tak hanya Ilalang, tapi Aurel juga tersiksa akan keputusan yang mendadak dan sepihak ini. Meski hatinya sakit karena keputusan Ilalang, tapi tak bisa dirinya pungkiri jika dirinya masih sangat mencintai pemuda itu.
Sambil mendekap Tedy Bear warna kream di dada, Aurel menangis di kamarnya. Satu kotak tisue sudah habis ia gunakan untuk menyeka air matanya.
"Kamu jahat banget, Lang! Aku benci kamu tapi juga cinta kamu! Aku nggak tahu! Pokonya sebel!" Tangan Aurel memukul-mukul Tedy Bear warna cream itu dengan membabi buta.
Bagas yang kebetulan melintas di depan pintu kamar Aurel mendengar suara tangisan keponakannya itu. Iseng-iseng lelaki itu mengendap di dekat pintu kamar Aurel.
Benar dugaannya, gadis itu sedang menangis. Aurel nangisin apa ya? Bagas berpikir sambil melihat ke atas. Siapa tahu ada jawabnya di sana.
Ternyata nggak ada. Sebaiknya ia tanyakan langsung saja pada Aurel. Sebagai om yang baik, dia tentu mencemaskan keponakannya itu.
"Ngapain nangis? Laper? Om udah pesan makanan kok! Kamu mau makan apa? Seblak? Pizza? Siomay? Cilok? Atau ceker mercon yang di ujung gang? Yang penjualnya cakep mirip anak bangtan itu? Pasti Om beliin apa pun yang kamu mau. Ngapain nangis?"
Bagas berdiri di samping ranjang Aurel. Kedua tangannya dilipat di depan dada. Kepalanya menggeleng melihat Aurel yang masih menangis saja. Sebagai lelaki lajang dia tak pandai menghadapi sikap labil gadis seusia Aurel.
"Aku nggak laper! Pergi sana! Aku nggak mau lihat Om Bagas! Pergi!" Tak disangka niat baik Bagas ditolak mentah-mentah oleh Aurel.
Gadis itu malah melempari Bagas dengan boneka berbagai ukuran yang berhamburan di ranjangnya.
"Iya iya Om pergi!" Bagas buru-buru kabur dari hadapan Aurel.
Dia tak ingin menjadi sasaran emosi gadis belia itu. Entah apa masalahnya, Aurel tak pernah mau bercerita padanya meski mereka tinggal satu rumah.
"Dasar Bocil! Kesambet apa sih, Aurel? Om-nya sendiri ditimpukin!" Bagas segera berjalan meninggalkan kamar Aurel. Kepalanya menggeleng melihat tingkah remaja itu.
"Ilalang ... aku kangen kamu! Aku nggak mau putus sama kamu!" Aurel masih meraung dalam kamarnya.
Tanpa ia ketahui Bagas sedang duduk di depan pintu kamarnya. Lelaki itu sedang makan mie goreng sambil menguping.
Bagas sangat mencemaskan Aurel.
Dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada keponakannya itu. Dialah orang yang pertama disalahkan oleh ayah Aurel jika sampai itu terjadi.
"Ilalang? Oh ... jadi pemuda itu masalahnya?" Bagas manggut-manggut.
__ADS_1
Sepertinya dia harus menemui Karina untuk membicarakan masalah ini, pikirnya sambil mengunyah mie goreng dalam mulut.