
Aurel memegang lengan Ilalang yang sudah siap untuk menghantarkan tinjunya ke wajah Yuda. Pemuda itu tampak sedang dikuasai emosi. Aurel tak ingin Ilalang akan terlibat masalah di sekolah setelah ini.
"Lepasin, Ilalang!" sekali lagi Aurel mencoba menghardik Ilalang yang sudah terbakar emosinya.
Ilalang melepaskan Yuda dengan kasar. Pria itu sampai terpelanting karenanya. Kemudian dia segera meninggalkan kantin tanpa perduli pada Aurel yang berteriak memanggilnya. Persetan dengan semuanya! Ilalang tiba-tiba merasa malu pada Aurel karena ucapan Yuda tadi.
Apakah pacarnya itu akan tetap mau bersamanya, setelah mengetahui profesi ibunya yang tak lain adalah seorang pelacur? Sebaiknya dia tinggalkan saja Aurel. Meski itu pasti akan sangat menyakitkan baginya. Ilalang melanjutkan langkah tanpa menoleh lagi pada Aurel.
"Kamu lihat, kan? Si Rumput Liar itu malah pergi ninggalin kamu, Rel. Udah mending kamu putusin aja tuh si Ilalang. Emangnya kamu nggak malu apa pacaran sama anak pelacur?!" Yuda mengambil kesempatan untuk menghasut Aurel.
"Mau kamu apa sih? Ngapain kamu ngomong kek gitu ke aku? Asal kamu tahu ya! Aku cinta sama Ilalang. Persetan dengan profesi Mommy-nya. Lagi pula aku udah ketemu sama Mommy Ilalang. Kamu itu norak, tahu!" Aurel menatap kesal pada Yuda. Dia segera menyambar tas sekolahnya dari bangku lantas berlalu pergi.
"Ah, dasar! Apa hebatnya sih si Rumput Liar itu! Aneh!" Yuda mendengkus kesal. Dia tak habis pikir Aurel masih perduli pada Ilalang. Memang, pemuda itu jauh lebih tampan darinya. "Sial!" Yuda menggebrak meja di hadapannya penuh amarah.
"Ilalang, tunggu!"
Aurel berlari menuju pada Ilalang yang sedang berjalan menuju kelas. Dia ingin bicara pada pacarnya itu. Dia tahu pasti Ilalang sangat terluka karena ucapan konyol Yuda di kantin tadi.
"Lang," lirih Aurel sembari berdiri di hadapan Ilalang. Dia menatap pemuda itu dengan lembut.
Ilalang hanya terdiam. Dia lantas memalingkan wajahnya ke lain arah, tak ingin bertatapan dengan Aurel. Dia benar-benar sangat malu.
"Lang, kamu baik-baik aja, kan?" Aurel meraih lengan kiri Ilalang sembari menatapnya dalam. Dia bisa melihat kesedihan dari pendar mata pemuda di hadapannya.
"Lepasin. Mulai sekarang kita putus!" Ilalang berkata dengan wajah dingin. Dia rasa ini yang terbaik untuknya dan Aurel. Dia tak ingin Aurel memasuki kerumitan hidupnya lebih dalam lagi.
Nyaris tak percaya, Aurel membungkam mulutnya kaget. Putus? Kepalanya menggeleng dengan mata yang berkaca-kaca.
"Lang, kamu nggak serius, kan? Ayo tarik ucapan kamu tadi! Aku nggak mau kita putus!" Aurel menatap tegas pada Ilalang dengan wajahnya yang sudah dibanjiri air mata. Ia menuntut jika Ilalang tidak bersungguh akan ucapannya tadi.
"Aku serius, Rel. Mulai sekarang kita putus. Jangan lagi temui aku," jawab Ilalang. Dia segera memalingkan wajahnya dari Aurel.
Dia sungguh tak tahan melihat gadis di hadapannya itu menangis.
"Kamu jahat, Lang! Apa salah aku?! Kenapa kamu tega kayak gini sama aku?! Kamu jahat!" Tangisan Aurel pun pecah. Dia memukul Ilalang dengan kepalan mungilnya. Dia tak bisa terima semua ini. Dia masih sangat mencintai Ilalang.
__ADS_1
"Salah kamu, karena kamu memasuki hidup aku. Sebaiknya kita akhiri sebelum kamu menyesal nantinya." Ilalang menangkap kedua tangan Aurel yang masih gencar memukulnya. Dia menatap gadis di hadapannya dengan tatapan tajam.
"Bullshit! Aku benci kamu, Ilalang!" Aurel menarik tangannya dari Ilalang dengan kasar. Dia memalingkan wajahnya dari pemuda itu, kemudian berlalu pergi sembari mengusap kedua pipinya yang basah. Ini sungguh menyakitkan baginya. Aurel menangis sepanjang jalan menuju kelas.
Ilalang menunduk lalu menggelengkan kepalanya frustasi. Kemudian dia menghantamkan tinjunya pada dindin di hadapannya. Ini semua karena ibunya! Karena ibunya seorang pelacur akhirnya dia harus kehilangan cinta pertamanya.
Dia tak bisa terus bersama dengan Aurel. Yuda dan yang lainnya pasti akan membuly Aurel nantinya, karena dia pacaran dengan anak seorang pelacur.
Ilalang tak ingin Aurel merasakan apa yang kini dirinya rasakan. Depresi berat akibat hujatan semua orang karena profesi haram ibunya.
"Rel, lo kenapa? Udah dong ... jangan nangis terus." Windy sedang duduk di samping Aurel yang tak henti menangis di bangkunya.
Beberapa orang pun saling pandang heran melihat Aurel yang terus menangis.
Ilalang memasuki kelas. Dia melihat Aurel yang sedang menangis di bangkunya. Di sana juga ada Windy dan beberapa siswi lainnya yang tampak sedang menenangkan Aurel.
Tidak, dia sangat sedih melihatnya. Aurel pasti sangat kecewa padanya. Namun, dia tak bisa lagi perbaiki semuanya. Pemuda itu segera berjalan menuju bangkunya seolah tak perduli.
Aurel menolehkan kepala ke arah Ilalang. Dia lantas memalingkan wajahnya dan segera bangkit dari bangku. Sebaiknya dia pergi saja. Dia tak mau melihat Ilalang lagi!
"Aurel!"
"Lang, lo ada masalah sama Aurel? Kok dia nangis? Lo apain tuh cewek?" Ali segera menghampiri Ilalang setelah Aurel pergi. Jiwa keponya meronta ria ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Gue putusin dia, Li." Ilalang menjawab tanpa mau menoleh pada pemuda di sampingnya.
"Putus? Lo serius, Lang? Gila!" Ali sampai melotot mendengar ucapan Ilalang barusan.
"Ini yang terbaik buat dia, Li. Gue nggak mau Aurel ikut terjun ke dalam hidup gue yang sial ini. Gue nggak mau, Li." Ilalang menggeleng lesu.
"Dasar begoh lo, Lang. Aurel itu cinta mati sama elo! Gila lo ya!" sewot Ali lalu menggelengkan kepalanya. Dia tak habis pikir Ilalang sebodoh ini. Banyak pemuda yang mengincar Aurel, tapi si bodoh ini malah melepaskan gadis itu begitu saja.
"Terserah elo deh! Gue pusing!" Ilalang segera bangkit dari bangkunya. Dia lantas berjalan meninggalkan kelas. Pikirannya sangat ruet sekarang. Dia sebaiknya ke perpus saja.
"Ilalang, tunggu!" Mikha menghadang langkah Ilalang yang sedang menuju perpus.
__ADS_1
"Ngapain?" tanya Ilalang dengan tatapan dingin dan jengah.
"Kamu putus sama Aurel? Apa itu bener? Jadi kamu beneran pacaran sama dia selama ini?" Mikha menyerang Ilalang dengan banyak pertanyaan. Dia menatap pemuda tampan di hadapannya itu dengan wajah antusias.
"Bukan urusan lo." Ilalang melanjutkan langkahnya melewati Mikha. Dia sedang pusing. Bicara dengan gadis menyebalkan itu hanya akan membuatnya semakin pusing saja.
"Ilalang! Kamu belum jawab pertanyaan aku!" Mikha menghentakkan kakinya geram. Kemudian dia segera menyusul Ilalang. Pokonya dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Ilalang dan Aurel.
Setibanya di perpus Ilalang melihat Aurel yang sedang duduk sendiri. Dia lega melihat Aurel yang sudah tidak menangis lagi. Bahkan gadis itu sedang membaca sebuah novel. Ingin rasanya ia menghampiri Aurel. Ah, tidak. Semuanya sudah berakhir. Gadis manis itu bukan lagi pacarnya.
Ilalang hanya berdiri di balik lemari buku memperhatikan Aurel dari kejauhan. Sampai akhirnya Yuda datang menghampiri gadis itu.
Yuda tampak mencari celah untuk bisa mendekati Aurel. Sialan! Ilalang mengepalkan buku-buku jemarinya penuh emosi. Dia sangat cemburu melihat Yuda mendekati Aurel yang kini merupakan mantan pacarnya.
"Aurel, aku denger kamu udah putus sama si Ilalang. Gimana kalo nanti aku antar kamu pulang sekolah?" Yuda mulai membuka obrolan dengan gadis manis di sampingnya itu. Dia bertopang dagu sembari tersenyum memandangi Aurel.
"Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri," jawab Aurel dingin tanpa mau menoleh pada pemuda di sampingnya. Dia sibuk membaca novel romantis.
"Baca novel apa sih? Oh, ini? Aku udah baca semua karya Dewa Galen lho! Kamu suka novelnya? Di kamarku ada banyak. Mau aku pinjamkan?" Yuda kembali berkata tanpa perduli dengan jawaban sinis Aurel tadi. Pokonya ini kesempatan dia untuk mendekati gadis manis itu.
"Nggak perlu." Aurel segera menutup buku novel tebal yang sedang dibacanya. Dia lantas menoleh pada pemuda di sampingnya dengan tatapan sebal.
Yuda hanya tersenyum gemas melihatnya. Sementara Aurel segera memalingkan wajahnya dan berjalan meninggalkan Yuda yang tampak melongo melihatnya pergi begitu saja.
Pukul dua sore. Aurel sedang berdiri di depan gerbang sekolah. Dia sedang menunggu Bagas yang diminta menjemputnya, karena dia tak mungkin pulang bersama Ilalang. Bahkan mereka sudah putus sekarang. Aurel menyeka titik kecil pada sudut matanya. Dia harus kuat. Tak boleh terus menangisi Ilalang.
"Ayo naik!" Ilalang tiba-tiba menepi di hadapannya. Dengan wajah dingin pemuda itu memintanya untuk naik ke motornya.
"Nggak mau!" Aurel memalingkan wajahnya sebal dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Enak saja! Sudah mutusin tanpa alasan, dan sekarang Ilalang malah muncul di hadapannya. Aurel tak habis pikir.
"Buruan naik, Aurel! Jangan bikin aku emosi." Ilalang kembali menegaskan, masih dengan wajah sinis.
"Aku bilang, nggak mau!" Aurel masih pada pendiriannya. Kemudian dia melihat Yuda yang sedang menuju padanya dengan Rubicon-nya. Ya, sebaiknya dia pulang dengan Yuda saja. Aurel pun segera menyambut Yuda.
"Rel, ayo masuk!" Yuda membuka pintu mobilnya dari dalam untuk Aurel. Pemuda itu memasang senyum terbaiknya.
__ADS_1
"Makasih," ucap Aurel sembari tersenyum tipis. Ekor matanya melirik pada Ilalang yang sedang memperhatikan dirinya dan Yuda. Aurel tersenyum sinis lantas memasuki mobil Yuda.
"Brengsek!" Ilalang mendengkus kesal bukan main melihat Yuda membawa Aurel pergi dengan mobilnya. Hatinya benar-benar terbakar. Bahkan, dia menghantam tangki motornya untuk melampiaskan emosi.