GEJOLAK DI USIA MUDA

GEJOLAK DI USIA MUDA
LAPAR TAPI GENGSI


__ADS_3

Ilalang masih duduk di bangkunya yang berada di bagian paling sudut kelas.


Dia tampak sibuk dengan permainan game pada ponselnya.


Hanya itu yang bisa dirinya lakukan sembari menunggu guru datang. Dia tak pernah lagi terlibat obrolan dengan teman sekelas.


Keadaannya yang sekarang membuatnya menutup hidup untuk seorang diri dan menyendiri. Seperti depresi yang sedang mendera jiwanya.


Terlebih sejak semua teman sekelasnya mengetahui tentang profesi ibunya. Dia merasa sudah tak punya muka lagi untuk berbaur dengan mereka.


"Wih ... jam tangan lo keren banget, Yud! Di mana lo beli? Boleh pinjem enggak?"


"Iya, Yud. Kacamata lo juga oke punya nih! Pinjem dong!"


"Hehe, so pasti dong! Orang kaya ..."


Yuda menjawab semua temannya yang menyambutnya datang ke kelas pagi itu.


Dia sengaja berkata lantang agar Ilalang mendengarnya.


Dia sangat senang membuat anak dari ayah tirinya itu tersulut emosi. Seperti kejadian dua hari yang lalu saat Ilalang menghajarnya habis-habisan di kelas.


Dia suka membuat Ilalang marah dan berharap saingannya itu dikeluarkan dari sekolah. Yuda tersenyum miring melihat Ilalang yang masih sibuk dengan ponselnya.


Sepasang mata Ilalang terangkat pada Yuda yang sedang dikerumuni oleh semua orang di kelasnya.


Dasar norak!


Ilalang mengumpat dalam hati. Dia sangat geram setiap kali melihat Yuda. Karena pemuda itu adalah anak dari wanita yang sudah membawa pergi ayahnya.


Yuda sedang asik memamerkan semua asesoris yang dikenakannya pada semua teman sekelasnya.


Ilalang hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum remeh. Dasar tak tahu malu! Bibirnya bergetar-getar mengumpat dalam hati.


"Lang, lo kok bengong aja! Ke kantin yuk! Kita sarapan dulu. Baru juga jam tujuh. Pak Gunawan belum tentu dateng!"


Tiba-tiba Ali datang dan langsung menghampiri Ilalang. Hanya Ali satu-satunya orang yang masih mau berteman dengan Ilalang. Meski kini Ilalang bukan lagi pemuda kaya raya, namun bagi Ali pemuda itu tetap Ilalang, temannya.


Tak seperti yang lainnya, Ali tetap menemani Ilalang di saat pemuda itu sedang terpuruk seperti sekarang.


"Gue nggak laper," jawab Ilalang tanpa mau memalingkan wajahnya dari layar ponselnya. Dia tahu Ali pasti akan mentraktir dirinya lagi. Dia tak enak hati pada Ali. Meski sebenarnya perutnya sangat kelaparan sekarang.


"Yaelah, Lang ... padahal gue udah pesan nasi goreng sama Bu Mimin buat kita berdua. Ayok!" Ali meraih lengan Ilalang agar bangkit dari bangkunya.


Dia tahu Ilalang belum sarapan, karena dia sempat mendengar bunyi perut pemuda itu barusan. Dulu Ilalang selalu mentraktirnya di kantin. Sekarang giliran dirinya yang mentraktir Ilalang, pikir Ali.

__ADS_1


"Gue bilang gue nggak laper!" Ilalang menepis tangan Ali darinya. Pokonya dia tak mau merepotkan Ali lagi. Dia bahkan sangat malu pada temannya itu.


"Lang, lo jangan gitu dong. Kita 'kan berteman. Masa gue tega biarin Rumput Liar ini kelaperan sih?"


Ali tersenyum tipis menggoda Ilalang. Dia tahu Ilalang pasti sedang ada masalah dengan ibunya. Itu yang selalu ia dengar dari Ilalang kemarin-kemarin.


Ilalang tak perduli pada Ali. Dia kembali sibuk dengan ponselnya. Walau sebenarnya matanya juga sudah lelah menatap layar ponselnya itu.


Ali hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap dingin Ilalang. Kemudian dia menoleh pada Yuda yang masih asik memamerkan semua asesorisnya. Ali sangat prihatin melihat nasib Ilalang sekarang.


"Lang ... ayok dong! Gue laper banget nih. Lo mau ngasih napas buatan kalo gue pingsan?" Ali masih belum menyerah membujuk Ilalang untuk sarapan.


"Amit-amit deh." Ilalang tak mau menoleh pada Ali.


Ali tertawa kecil mendengarnya. Kemudian dia menarik bangku di sampingnya lalu duduk. Dipandanginya wajah Ilalang yang tampak sangat licin seperti aktor Korea. Kemudian Ali tersenyum saat Ilalang menoleh padanya.


"Ngapain lo lihatin gue kaya gitu? Lo belok, ya?" Ilalang tampak curiga dengan tatapan Ali padanya.


Amit-amit! Sepertinya si Ali sudah nggak normal, pikirnya sembari bergidig.


"Gila lo! Lo pikir gue pisang makan pisang apa! Gue cuma heran aja sama lo. Tadi gue lihat si Mikha nangis keluar dari sini. Lo apain lagi dia?"


Ali menaikan kedua alisnya sembari tersenyum jahil pada Ilalang. Dia tahu kalau Ilalang selalu bersikap dingin pada Mikha.


Mikha pasti sedih karena dia menolak pemberiannya tadi, pikirnya sedikit tak enak hati pada Mikha.


Ali tersenyum tipis. Kemudian ekor matanya menoleh pada kotak makanan milik Mikha yang masih tergeletak di lantai. Dia segera meraihnya.


"Hm, ini punya si Mikha, ya? Kenapa lo buang? Mending gue aja yang makan. Lumayan 'kan buat ganjel perut."


Dengan santai Ali menyantap sepotong roti isi yang masih bersih.


Ilalang menelan salivanya melihat Ali menyantap roti isi itu dengan lahap di hadapannya.


Sialan! Kenapa Ali malah memakannya? Padahal dia juga sedang kelaparan sekarang. Tangan kanannya meremas bagian perut seragamnya.


Gila! Perutnya semakin perih saja. Ilalang segera memalingkan wajahnya saat Ali menoleh padanya.


"Kenapa Lo? Mau? Nih!" Ali yang mengetahui kalau Ilalang sedang kelaparan segera meraih satu potong roti yang masih tersisa.


Dia menyodorkan roti itu pada Ilalang.


Dengan rasa malu Ilalang pun menerima roti itu dan langsung melahapnya.


Rasanya lumayan enak. Dia menghabiskan rotinya. Ali hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum tipis. Ilalang memang memiliki rasa gengsi yang tinggi, pikirnya geli sendiri.

__ADS_1


Sementara itu di rumah Ilalang. Karina sedang menyiram bunga sembari merawat tanaman hiasnya yang teramat banyak. Semua tanaman hias itu berada di taman samping rumahnya.


Dulu ia sangat gemar mengoleksi tanaman hias. Apa lagi kalau dirinya dan Armand baru kembali dari luar negeri, pasti tanaman hias yang dibelinya sebagai oleh-oleh.


Dulu ada tukang kebun yang merawat tanaman hiasnya. Namun kini si tukang kebun itu sudah tak lagi bekerja padanya.


Akhirnya dia sendiri yang harus mengurus semua tanaman hiasnya. Juga mengurus rumah besar yang kini ia dan Ilalang tempati.


Hanya rumah itu satu-satunya harta yang diwariskan Armand pada Ilalang. Karina menyeka keringat pada keningnya dengan punggung tangannya. Terik matahari pagi itu cukup panas menerpa kulit putihnya.


"Permisi, Mbak!"


Terdengar suara dari luar pagar taman. Karina segera menoleh pada sumber suara tersebut.


Seorang lelaki sekitar umur 28 tahun sedang berdiri di belakangnya. Lelaki itu berpakaian rapi dan berparas tampan. Entah siapa dia. Karina baru kali ini melihatnya. Dia pun segera bangkit.


"Ah, iya. Ada apa, Mas?" tanya Karina sembari tersenyum ramah pada lelaki dengan kemeja hitam di depannya itu.


Hanya pagar teralis taman yang menciptakan jarak di antara mereka. Karina bisa melihat jelas lelaki di hadapannya itu.


"Maaf, Mbak. Kalau rumah Pak RT di mana, ya?" jawab lelaki itu sembari tersenyum pada Karina.


Dia sangat tertegum melihat wanita cantik yang kini berdiri di hadapannya itu. Wanita itu hanya mengenakan t-shir putih dipadukan dengan hotpants hitam. Entah kenapa dia sangat memesona di matanya.


"Oh, iya. Rumah Pak RT berselang dua rumah saja dari sini. Itu yang cat dindingnya warna biru. Itu rumah Pak RT, Mas." Karina menjawab apa adanya.


"Oh, iya. Terima kasih, Mbak!" tukas lelaki itu sembari tersenyum.


Karina hanya mengangguk dan segera memutar tubuhnya untuk kembali merawat tanaman hiasnya. Sementara lelaki itu masih berdiri memperhatikan dirinya. Ekor mata Karina melirik lelaki itu yang masih belum pergi.


"Apa lagi, Mas?" tanya Karina sembari menoleh pada lelaki itu. Dia agak risih karena lelaki itu tak juga pergi.


"Eh, nggak, Mbak. Permisi."


Lelaki itu sangat kelabakan melihat Karina menatapnya curiga. Dia pun segera melangkah pergi.


Namun dalam hatinya sebenarnya dia ingin tahu nama wanita itu. Bodoh sekali dia tidak berkenalan tadi, lelaki itu menepak keningnya lalu menggelengkan kepalanya.


Karina hanya menggelengkan kepalanya melihat punggung lelaki itu sudah pergi.


Dia tak ingin terlibat banyak obrolan dengan orang asing, apalagi seorang lelaki.


Meski dirinya seorang janda yang berprofesi sebagai wanita panggilan, dia tetap menjaga imagenya di sekitar lingkungan rumahnya. Dia tak ingin Ilalang sampai mendengar sesuatu yang buruk tentang dirinya lagi.


Dia sangat memikirkan perasaan putranya itu.

__ADS_1


__ADS_2