
Pukul dua sore Ilalang tampak sedang berjalan menuju motornya yang berada di parkiran sekolah. Jam pelajaran baru saja selesai, dia ingin segera pulang atau ke mana saja.
Dia sudah tak tahan dengan tatapan semua orang padanya di sekolah. Anak seorang pelac*r! Dia sangat geram mengingat ucapan beberapa orang padanya.
Sebenarnya tinggal di rumah juga tak bisa membuat hatinya nyaman. Terlebih dia harus melihat ibunya di rumah. Entah ke mana dia harus pergi. Dunia ini seolah sudah memusuhi dirinya sekarang.
"Lang, kamu mau pulang?"
Suara seorang gadis membuat Ilalang sedikit kaget. Mikha. Mau apa lagi gadis itu? Ilalang hanya terdiam tanpa mau menoleh pada gadis yang sedang berdiri di belakangnya.
Mikha tersenyum tipis. Meski Ilalang sudah sering melukai hatinya, namun dia tak bisa membenci pemuda itu.
Sikap dingin Ilalang merupakan tantangan baginya untuk meluluhkan hati pemuda pujaannya itu. Mikha segera berjalan dan berdiri di hadapan Ilalang. Dia tersenyum tipis melihat wajah tampan di hadapannya kini. Dia sangat gemas melihatnya.
"Ngapain lo?" tanya Ilalang dengan wajah sinis pada Mikha.
Menurutnya para gadis hanya membuatnya kerepotan saja. Dia bahkan tak pernah berpikir untuk memiliki seorang pacar seperti pemuda lainnya.
"Lang, aku boleh nggak ikut pulang sama kamu? Aku belum dijemput," jawab Mikha dengan pipinya yang merona kemerahan. Dia lantas memalingkan wajahnya sembari tersenyum saat Ilalang menatapnya dalam.
"Nggak boleh!" jawab Ilalang segera memalingkan wajahnya dari Mikha. Dia lantas segera menaiki motor besarnya dan berlalu. Persetan dengan Mikha yang tampak sangat kecewa akan sikapnya.
"Aku cinta sama kamu, Lang." Mikha mengusap kedua pipinya. Dia tak bisa melupakan Ilalang meski pemuda itu selalu menyakiti hatinya dengan sikapnya yang dingin.
Sementara itu, Ilalang masih melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Dia tak tahu harus ke mana. Bahkan di sakunya tak ada uang sepeser pun. Sedangkan untuk pulang rasanya dia sangat malas melihat ibunya di rumah.
"Wis, Ilalang. Baru nongol lagi lo, Bro!" sambut Dani, pemilik tempat bermain game yang berada di jalan Tamrin.
Dulu, hampir setiap hari Ilalang selalu datang ke tempat itu. Namun sudah hampir lima bulan ini dia tak melihatnya. Sekarang pemuda itu datang lagi ke tempatnya. Tentu saja dia sangat senang.
"Gue ke sini bukan buat main game, tapi buat numpang tidur," tukas Ilalang sembari berjalan melewati Dani. Dia lantas melempar tas ranselnya pada bangku panjang yang ada di sana. Ilalang pun meringkuk.
Dani menggelengkan kepalanya melihat Ilalang. Why? Ada apa ini? Ilalang tampak sangat berbeda kali ini. Pemuda itu tampak kusut dan wajahnya juga pucat. Apa dia sedang sakit? Dani segera menghampiri Ilalang.
"Lang, lo sakit?" tanya Dani sembari mengguncang bahu Ilalang yang sedang meringkuk pada bangku.
__ADS_1
"Gue baik-baik aja. Tingalin gue sendiri," balas Ilalang sembari menepis tangan Dani dari bahunya. Mungkin Dani belum mendengar kabar terbaru tentang dirinya. Ilalang mendekap tubuhnya yang mulai terasa kedinginan.
"Oke, tapi lo baik-baik aja, kan?" Dani menatap cemas pada Ilalang.
Ilalang hanya mengibaskan tangannya bermaksud menyuruh Dani pergi. Dia ingin sendiri. Pemuda lebih tua darinya dua tahun itu hanya akan membuatnya merasa tak nyaman saja kalau masih berdiri di sampingnya.
"Oke."
Dani berniat untuk pergi. Namun kemudian Yuda dan beberapa temannya datang. Mereka tertawa renyah melihat Ilalang yang sedang meringkuk di bangku. Dani tampak heran melihat tingkah Yuda dan beberapa temannya itu.
"Hei, Dan! Si Rumput Liar sekarang udah kere! Mana mampu dia main game di sini! Makanya dia malah meringkuk di situ!" Yuda tertawa begitu puasnya bersama semua temannya.
Dani hanya terdiam. Itu bukan urusannya. Sementara Ilalang juga sedang tak ingin meladeni ocehan Yuda. Dia tetap meringkuk sembari memejamkan matanya. Sepertinya tubuhnya sedang kena gejala flu sekarang. Dia merasa sangat lemas.
"Kalo mau pada main ya main aja! Jangan berisik!" Dani berkata dengan suara baritonnya. Yuda dan semua temannya itu memang suka rese dan bertingkah sesuka hatinya.
"Dan, asal lo tahu, ya! Nyokapnya si Ilalang sekarang jadi l**te! Open bo pula dia! Lo bisa tuh, kalo lagi pingin belajar sama yang udah pengalaman!" Yuda kembali berkoar sesuka hatinya. Dia sengaja ingin memancing emosi Ilalang.
Ilalang hanya mengepalkan buku-buku tangannya. Ingin rasanya dia menghajar Yuda sekarang juga. Namun tubuhnya terasa sangat lemas sekarang. Sementara Dani sangat kaget mendengar hal itu.
Dia pernah bertemu dengan ibunya Ilalang saat wanita itu menyusul Ilalang di tempat bermain game miliknya beberapa bulan yang lalu. Ibunya Ilalang masih muda dan sangat cantik, Dani tersenyum miring kemudian.
"Dasar anak lo**e! Nggak tahu malu! Pergi lo dari sini! Sampah!" Yuda masih senang memancing emosi Ilalang.
Dia sangat geram pada pemuda itu yang masih saja meringkuk di bangku. Dia dan semua temannya terus melontarkan kata-kata kotor tentang ibunya Ilalang. Mereka bahkan tertawa sampai terbahak-bahak.
"Sialan!" Ilalang yang sudah tersulut emosi segera bangkit dari bangku. Dia lantas maju dan langsung mencengkeram rahang Yuda dengan tatapan ingin membunuhnya.
"Apa lo? Anak pelac*r!" Yuda masih saja berkoar sembari berusaha melepaskan tangan Ilalang darinya.
Sementara Dani dan semua temannya hanya saling pandang dan tak berani menolong Yuda. Mereka takut terkena sasaran kemarahan Ilalang.
"Sekali lagi lo ngomong jelek tentang Nyokap gue, gue bakal robek mulut lo yang busuk ini. Ngerti lo!" Ilalang melepaskan Yuda dengan kasar. Dia lantas segera pergi meninggalkan tempat itu.
Yuda yang tersungkur segera ditolong oleh beberapa temannya. Dia memegangi rahangnya yang terasa sakit akibat ulah Ilalang.
__ADS_1
"Dasar Rumput Liar sialan!" Yuda berusaha bangkit dibantu oleh beberapa temannya. Dia menatap punggung Ilalang yang sudah menjauh darinya.
Ilalang yang sedang kalut akhirnya memutuskan untuk pergi ke mall. Mungkin di sana dia akan sedikit terhibur, pikirnya. Namun setibanya di mall dia tetap saja merasa kesepian.
Sepasang matanya memandangi lalu lalang orang yang berseliweran di hadapannya.
Kemudian dia melihat seorang anak laki-laki seumuran dirinya sedang berjalan bersama kedua orang tuanya. Mereka tampak sangat bahagia.
Darah Ilalang berdesir. Dia teringat akan dahulu saat dirinya juga datang ke mall ini dengan ayah dan ibunya.
Ilalang memejamkan matanya, kemudian dia memalingkannya sembari menyeka titik kecil pada sudut matanya yang hampir terjatuh. Tidak, itu hanya masa lalu. Dia tak boleh mengingatnya lagi.
Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Pasti Karina sedang menunggunya pulang, pikir Ilalang sembari berdiri di tepi atap mall. Karena tak kunjung merasa tenang akhirnya dia putuskan untuk naik ke lantai terakhir mall.
Ah, tidak. Karina pasti sekarang sedang berada di bar Madam Siska atau sedang di kamar hotel melayani nafsu liar lelaki yang membokingnya.
Ilalang mulai berpikir buruk tentang ibunya, yang sebenarnya sedang menunggunya pulang dengan perasaan cemas.
Ilalang tak ingin pulang malam ini. Hatinya sungguh sedang dilanda dilema yang rumit. Sampai kapan dirinya harus hidup seperti ini? Diremehkan semua orang karena profesi ibunya.
Apakah dia bunuh diri saja sekarang? Mungkin kematian satu-satunya jalan yang bisa membuatnya tenang.
Ya, sebaiknya dia akhiri saja hidup yang menjijikan ini.
Ilalang pun menaiki tembok sepinggang yang menjadi pembatas tepi lantai. Dia berdiri di sana dengan perasaan putus asa. Angin malam membelai wajahnya. Dingin yang ia rasakan, seperti hatinya yang hampa saat ini.
Ilalang memejamkan matanya. Dia sudah bersiap untuk terjun ke bawah sana. Ketinggian mall itu hampir mencapai 30 meter. Sudah dipastikan dia pasti mati kalau terjun sekarang.
Sekilas wajah ibunya melintas di benaknya. Namun Ilalang segera menepisnya. Persetan dengan semua itu. Dia hanya ingin mati sekarang. Dia sudah bersiap untuk terjun.
"Hei!"
Tiba-tiba ada dua tangan yang menarik lengannya. Ilalang yang kaget hampir saja terjatuh ke bawah. Namun kedua tangan itu menariknya sampai dia terjatuh kembali ke lantai dan menimpa orang di belakangnya itu.
"Kyaaa!"
__ADS_1
Ilalang sangat kaget karena dirinya menimpa seorang gadis seumuran Mikha. Gadis itu sangat cantik. Siapa dia? Ilalang dan gadis itu saling berpandangan.