
Paginya seperti biasa, Karina terlihat sedang sibuk di dapur. Kali ini dia membuat sanwich untuk menu sarapan putra kesayangannya, Ilalang Alvaro Pahlevi.
Ah, anak itu belum kelihatan dari kemarin. Bahkan, Karina tak tahu apakah semalam Ilalang makan atau tidak. Anak itu nggak keluar kamar lagi sejak pulang sekolah.
Sikap dingin yang Ilalang tunjukkan memang bukan hal baru bagi Karina. Namun, kenapa Ilalang nggak keluar kamar juga?
Ekor mata Karina melirik pada jam dinding di ruang makan. Sudah pukul tujuh pagi?
"Astaga, kenapa Ilalang belum turun juga? Apa dia sakit?" Wajah Karina berubah cemas. Dilepaskan apron motif bunga dari tubuhnya. Wanita itu bergegas meninggalkan dapur menuju kamar Ilalang.
"Lang, kamu sekolah nggak, Nak? Kenapa belum keluar kamar? Lang, buka pintunya dong, Sayang!"
Pemuda yang sedang berdiri di depan standing miror dibuat sedikit terkejut mendengar suara cetar Karina dari balik pintu kamarnya. Suara yang diringin bunyi ketukan pintu itu membuatnya jengah.
Ilalang memutar bola matanya, bosan. Segera ia kenakan hoodie hitam yang sedang dipegangnya. Jangankan menyahut panggilan itu. Mood Ilalang sedang sangat buruk saat ini.
"Ilalang?"
Karina sedikit terkejut saat pintu di hadapannya terdorong ke dalam. Wajah muram Ilalang muncul. Ia menatapnya dengan intens.
"Lang, kamu sakit? Kok lesu gitu?" Karina bertanya pada Ilalang sambil menyentuh dahi putranya dengan punggung tangan.
Namun, bukan jawaban yang dia peroleh. Ilalang malah menepis tangannya, menunjukkan wajah jengah, lantas melenggang pergi begitu saja.
Karina menarik nafas seraya menggelengkan kepalanya. Kemudian ia bergegas menyusul Ilalang menuju tangga.
"Kamu sarapan dulu ya? Mommy udah buatin roti isi buat kamu nih. Mommy juga udah siapin bekal buat di sekolah. Kamu bisa makan bareng Aurel nanti."
Wajah Karina begitu cerah saat bicara seperti itu pada Ilalang. Namun sayang sekali, lagi-lagi respons buruk yang ia dapat dari putranya.
Ilalang hanya berdecak jengah mendengar ucapan ibunya. Aroma sanwich yang lezat tak mampu membuatnya lapar dan bergeas duduk di meja makan.
Pemuda itu terus saja berjalan menuju pintu keluar. Karina terkesiap, ia bergegas menyusul Ilalang usai menyambar kotak bekal dari atas meja.
"Ilalang, tunggu!"
"Ck! Apa lagi sih?"
__ADS_1
Dengan wajah bosan Ilalang menghentikan langkahnya setelah Karina berhasil menghadang. Senyuman manis sang ibu membuatnya berpaling muka jauh-jauh.
"Kalo kamu nggak mau sarapan, bawa bekalnya ya?" Karina menyodorkan kotak Tupperware warna biru ke depan Ilalang. Bibirnya mengukir senyuman manis dan mata yang berharap.
"Nggak perlu. Aku nggak laper." Ilalang sontak menepis kotak bekal itu, lantas bergegas meninggalkan sang ibu dengan acuh.
Karina masih mematung di tempat. Dadanya sesak, hatinya sakit. Bulir bening berjatuhan tanpa bisa dirinya tahan. Lagi, Ilalang menolak memakan makanan yang dia buat untuknya.
Entah bagaimana caranya mengambil hati Ilalang lagi. Karina benar-benar jatuh dalam kesedihan tak berujung.
Ilalang tiba di garasi di mana motor Ducati merah miliknya terparkir. Tanpa menoleh ke arah pintu rumah lagi, pemuda itu bergegas menaiki motornya dan berlalu.
Dari tepi pagar balkon Karina memandangi. Kapan Ilalang kembali seperti dulu lagi. Anak yang manis dan manja. Dia merindukan putranya yang dulu. Sambil berderai air mata, Karina mendekap kotak bekal Ilalang di dadanya.
Jalan komplek perumahan Aglonema Residence tak begitu ramai. Ilalang mengemudikan motornya sedikit kencang. Mengingat sudah pukul tujuh lewat lima belas menit. Kalau nggak buru-buru, dia bisa terlambat di sekolah dan kena hukuman.
Motor melintas ke depan rumah Aurel. Ilalang menolehkan kepalanya secara otomatis. Sial! Ada mobil Yuda di depan rumah Aurel. Apa yang sedang si brengsek itu lakukan? Apakah Yuda datang untuk menjemput Aurel?
Ilalang ingin untuk tak perduli. Lagi pula, Aurel kini bukan lagi pacarnya. Namun, kenapa dia malah menepikan motornya tak jauh dari rumah Aurel?
"Silakan masuk, Tuan Putri." Yuda, dengan senyum manis di wajahnya yang pas pasan, dia membukakan pintu mobilnya buat Aurel. Gayanya sudah seperti pangeran-pangeran di film jadul.
"Let's go Baby!" Yuda begitu bersemangat.
Setelah menutup pintu mobil di mana Aurel yang sudah duduk manis, pemuda dengan seragam SMA itu bergegas masuk menyusul Aurel dari pintu di samping kanan mobilnya.
Mobil Jeep Wrangler Rubicon hitam mulai melaju santai meninggalkan pelataran rumah Aurel. Ilalang segera memalingkan wajah ke lain arah saat mobil itu melintas di depannya.
'Sialan si Yuda. Rupanya dia mau deketin Aurel! Brengsek!' geramnya dalam hati sambil memandangi Rubicon hitam itu menjauh.
Waktu menunjuk pukul tujuh lewat tiga puluh lima menit. Anak-anak berseragam berlarian menuju kelas masing-masing setelah bel dibunyikan.
Di koridor terlihat Ilalang yang sedang berjalan cepat bersama Ali. Wajah pemuda itu begitu dilema dan tidak menyimak apa pun yang Ali katakan. Persetan! Pokonya dia sedang sangat kesal saat ini.
"Lang, gimana? Lo mau 'kan balik lagi jadi kapten basket tim kita? Ayolah, Lang ... si Yuda itu nggak ada apa-apanya, yang ada dia cuma bakal bikin nyungsep tim kita kalo terus jadi kapten." Ali masih nyerocos meski Ilalang cuek padanya.
"Lang, woi!" Kesal karena terus di cuekin, akhirnya Ali berteriak juga. Hal itu tentu membuat Ilalang terkejut.
__ADS_1
"Apaan sih lo?" semprot Ilalang.
Ali langsung mingkem. Sepertinya si Rumput Liar lagi badmood. Daripada kena bogem mentah Ilalang, lebih baik dia ambil jurus menjadi batu yaitu diam.
Wajah dingin Ilalang terlihat cool di mata Mikha yang sedang menunggu di depan kelasnya. Gadis itu menyambutnya dengan tersenyum manis sambil memegang kotak bekal yang dibawanya khusus buat crush-nya itu.
Sial! Ilalang melintas di depan Mikha begitu saja. Mikha dibuat terkejut. Ilalang tak sekali pun meliriknya. Gadis itu bergegas menyusul Ilalang sambil memanggilnya.
"Ilalang!"
Semua anak di kelas menoleh serempak. Termasuk Aurel yang sedang duduk bersama Windy.
'Mikha? Mau ngapain tuh cewek deketin Ilalang?' Aurel menyipitkan matanya melihat Mikha menghampiri Ilalang dengan gaya super modelnya yang membuat ia jengah.
"Lang, aku bawain bekal buat kamu. Pasti kamu belum sarapan, kan? Ya, aku tahu gimana kamu, kamu jarang sarapan di rumah iya kan?" ucap Mikha dengan pipi yang bersemu merah.
Tangan gadis itu menyodorkan kotak bekal yang dibawanya ke depan Ilalang. Hatinya berdoa agar pemuda itu tidak menolak bekal pemberiannya lagi.
"Rel ... Rel--" Windy menyikut lengan Aurel, memberitahukan apa yang sedang Mikha lakukan.
Aurel hanya terdiam menyimak.
Dia penasaran, apa Ilalang mau menerima bekal dari Mikha atau nggak. Namun, dia berharap Ilalang akan menolaknya.
Ilalang masih terdiam. Ekor matanya diam-diam melirik ke arah Aurel. Rupanya sang mantan sedang memperhatikan dia dan Mikha. Pandangan Ilalang kembali pada gadis di depannya.
Ali menyimak sambil mengunyah sebungkus chiki. Dia yakin seratus persen kalau Ilalang nggak bakal mau menerima bekal dari Mikha. Seperti yang sudah-sudah. Bahkan, Ali berani taruhan seratus ribu untuk itu.
"Thanks, ya?"
Ilalang mengejutkan semua orang di kelas. Pemuda itu menerima bekal dari Mikha dengan wajah tersenyum manis.
"What?!" Windy memekik nyaris tak percaya. Dia langsung menolehkan kepala ke arah Aurel.
Sementara Aurel hanya memalingkan wajah sambil menyelipkan anak-anak rambut ke telinga. Dia nggak habis pikir, Ilalang menerima bekal dari Mikha. Bahkan dia tersenyum begitu manis pada gadis itu?
Mungkin benar, Ilalang tidak mencintainya lagi. Aurel sangat sedih dan ingin menangis. Ia bergegas bangkit, lantas berjalan menuju keluar kelas. Tatapan sebal ia lontarkan pada Ilalang dan Mikha saat melintasi dua orang yang sedang berhadapan itu.
__ADS_1
Ali memutar lehernya sambil melongo melihat Aurel pergi. Mulutnya masih mengunyah chiki. Dia menelan dengan cepat. Ilalang menerima bekal dari Mikha? Ini benar-benar aneh. Lebih aneh daripada ikan lele yang beranak ular phiton.