
"Kita mau langsung pulang?" tanya Aurel pada Ilalang yang sudah duduk di atas motornya.
"Emang kamu mau ke mana dulu?" Ilalang balik bertanya seraya menolehkan kepala ke arah gadis di sampingnya.
"Ya, ke mana kek gitu. Masa iya mau langsung pulang aja sih?" jawab Aurel dengan muka yang dibuat menggemaskan.
Ilalang tersenyum tipis. "Yaudah, gimana kalo kita nonton dulu?" ajaknya.
"Mau!" Aurel begitu bersemangat.
"Yaudah buruan naik!" perintah Ilalang.
Aurel cuma menunjukkan ibu jarinya pada pemuda dengan jaket warna jeans itu. Ia bergegas memegang bahu Ilalang bersiap naik ke motor.
"Aurel!"
Tiba-tiba Bagas datang. Aurel dan Ilalang dibuat sedikit heran. Mau apa dokter spesialis jantung itu datang ke sekolah? Apa Bagas mau menjemput Aurel pulang?
"Apaan sih?" tanya Aurel dengan sinis pada Bagas saat lelaki itu tiba di hadapannya.
"Pulang sama Om sekarang." Bagas langsung menarik lengan Aurel sampai gadis itu turun dari motornya Ilalang.
"Om Bagas apa-apaan sih? Aku mau pulang sama Ilalang." Aurel marah-marah. Wajahnya dipalingkan dari tatapan Bagas. Dia mau naik lagi ke motor Ilalang.
"Aurel, kamu mesti pulang sama Om sekarang. Ayo ikut!" Bagas bergegas menarik lengan Aurel, lantas menyeret gadis belia itu menuju mobilnya.
"Lepasin! Apa-apaan sih? Gaje banget!" rengek Aurel.
Bagas nggak peduli, lelaki itu terus menyeret Aurel ke mobil. Sementara Ilalang hanya memandangi dengan wajah heran. Hingga mobil Bagas meninggalkan pelataran sekolah, pemuda itu masih duduk di atas motornya memandangi.
"Heh, Rumput Liar!"
Suara bariton itu mengejutkan Ilalang. Pemuda itu sontak menoleh. Yuda dan dua temannya, Aldo dan Aska sedang berjalan mendekat padanya.
Ilalang menggeleng tak perduli. Ia segera mengenakan helmnya, lantas menghidupkan mesin motornya.
Yuda dan dua temannya bergegas. Jangan sampai Ilalang kabur sebelum melihat apa yang mau mereka tunjukkan padanya.
"Tunggu, tunggu woi! Main kabur aja lo!" Aldo menahan bagian depan motor Ducati Panigale V4 di mana Ilalang mau tancap gas.
"Mingir, Begoh! Mau gue tabrak lo?!" geram Ilalang.
"Matiin motor lo, bos gue mau ngomong!" Aska turut menimpali seraya memutar kunci motor Ilalang.
"****** lo semua," cetus Ilalang kesal.
__ADS_1
Yuda menghampiri seraya memasang senyum miring saat mata Ilalang menatapnya. "Gue cuma mau kasih tahu ini sama elo," ucapnya, lantas menyodorkan ponselnya ke depan Ilalang.
"Gila, Tante ... enak banget! Ah, Tante ..."
Ilalang mengepalkan buku-buku jemarinya melihat tayangan video yang sedang berlangsung pada layar ponsel Yuda. Matanya yang berapi-api terangkat ke wajah Yuda.
Video berdurasi 10 detik itu memperlihatkan Karina yang sedang berhubungan intim dengan Dhani, pemuda pemilik tempat bermain game di mana Yuda biasa nongkrong bareng teman-temannya.
"Brengsek! Cepet hapus, Begoh!" Ilalang yang murka bergegas menyambar kerah jaket Yuda. Satu tangannya sudah dianggkat tinggi-tinggi hendak menghajar pemuda itu.
"Sabar, Bro. Gue bakal hapus video ini tapi ada syaratnya," desis Yuda. Bibirnya menyeringai tipis.
"Jangan macem-macem lu, Yud. Gue bogem muka lo!" gertak Ilalang dipenuhi emosi.
Dia benar-benar nggak terima. Kenapa Karina sampai tidur dengan Dhani? Ibunya itu benar-benar kelewatan! Bisa-bisanya dia berhubungan dengan temannya. Bahkan, Yuda merekam semua itu entah bagaimana caranya.
"Santuy, Bro. Kalo lo mau gue hapus video ini lo mesti putusin Aurel. Kalo nggak, terpaksa deh gue kirim video panas nyokap lo ini ke grup anak-anak 2 IPA 1. Biar mampus lo," desis Yuda ke wajah Ilalang.
"Brengsek lo!" Ilalang melepaskan Yuda dengan kasar.
"Begoh!" Yuda yang terdorong nyaris jatuh.
Ilalang bergegas turun dari motor dan langsung menghajar Yuda habis-habisan.
Aldo dan Aska berusaha memisahkan Ilalang dari Yuda, tapi usaha mereka sia-sia. Ilalang sangat brutal sudah seperti orang kerasukan.
Ilalang mengangkat sebongkah batu hendak memecahkan kepala Yuda. Namun, tiba-tiba seseorang menghardiknya.
Pemuda itu menoleh langsung. Dua orang guru laki-laki datang dan langsung menahannya yang ingin menghabisi Yuda.
"Mau jadi apa kamu? Mau jadi preman di sini? Bisa-bisanya kamu menghajar teman kamu sendiri sampai begitu. Apa surat peringatan kemarin masih belum cukup membuat kamu menyesal, hah?!"
Di ruang kepala sekolah, Ilalang dan Yuda duduk bersisian menghadap Pak Rahmat selaku kepala sekolah Tunas Bakti.
"Keluarin ajalah, Pak. Saya bisa tuntut sekolah ini kalo si Ilalang masih dibiarin sekolah di sini! Enak aja. Udah bikin muka saya bonyok begini." Yuda bergegas menyela.
Meski harus babak belur di pukuli Ilalang, tapi dia puas sekali kalau pihak sekolah mengeluarkan pemuda itu.
"Kamu juga tetap salah, Yuda. Karena kamu yang memulainya." Pak Rahmat menatap tegas pada Yuda.
"Lah tapi 'kan dia yang mukulin saya, Pak!" Yuda nggak terima.
Ilalang hanya diam dengan wajah bosan. Terserah mau dikeluarkan dari sekolah apa nggak, pokonya dia belum puas kalau belum mengirim si Brengsek Yuda ke ruang ICU rumah sakit.
"Yuda, ada apa ini?!"
__ADS_1
Suara seorang wanita mengejutkan mereka. Ilalang menolehkan kepala ke arah pintu dengan malas-malasan. Terlihat Weni, ibunya Yuda datang. Tak lama kemudian seorang lelaki dengan stelan jas hitam juga memasuki ruangan.
"Papa?" Ilalang bangkit berdiri seraya memandangi lelaki yang datang bersama Weni.
"Yuda, kenapa sampai bonyok begini?!" Weni sangat terkejut melihat banyak luka lebam di wajah putranya. "Mas, lihat anakmu ini? Ya Tuhan ...," lanjutnya lagi seraya menoleh pada lelaki yang berdiri di sampingnya.
Angga hanya mengusap kepala Yuda, lantas menatap pada Ilalang dengan wajah dingin.
"Yuda dan Ilalang berkelahi di lingkungan sekolah. Silakan duduk," ucap Pak Rahmat pada Weni dan Angga dengan sopan.
Weni menoleh pada Ilalang dengan wajah geram. "Oh, jadi kamu yang udah mukulin anak saya?! Dasar anak pelacur nggak tahu diri! Saya nggak terima kamu aniyaya anak saya. Pasti saya akan menuntut kamu!"
"Weni, sudah. Ayo duduk." Angga bergegas menyambar lengan istrinya yang hendak mengamuk pada Ilalang. Kemudian ia mengajak Weni duduk pada sofa di ruangan itu.
"Mampus lo!" desis Yuda seraya mencondongkan wajahnya ke telinga Ilalang. Bibirnya tersenyum remeh saat mata pemuda itu menatapnya geram.
Ilalang mengepalkan buku-buku jemarinya sampai memutih. Amarah membuncah gila di dadanya. Ekor matanya melirik ke arah Angga. Namun, sang ayah malah memalingkan wajah seolah tak mengenalnya.
"Ilalang!" Karina berlari ke dalam ruang kepala sekolah. Wajahnya sudah dibanjiri air mata saat tiba dan melihat putranya.
"Kenapa kamu berkelahi lagi, Nak?" lirihnya seraya merangkul kepala Ilalang di dadanya. Karina masih belum menyadari jika Weni dan Angga pun berada di sana.
Ilalang yang sebal pada ibunya segera menepis tangan Karina darinya. Hatinya benar-benar hancur karena perbuatan ibunya itu. Bahkan video panas Karina yang dilihatnya tadi, ia benar-benar jijik.
Karina hanya menatap sendu pada wajah Ilalang yang terus berpaling darinya. Hingga kemudian Weni datang menghampiri.
"Plaak!"
Tak hanya Karina, tapi semua orang di ruangan itu dibuat terkejut saat tiba-tiba Weni menampar Karina di depan semua orang.
"Dasar wanita murahan! Kamu sibuk menjajakan tubuh kamu ya sampai-sampai nggak sempet ajarin anak kamu yang rusak itu?!" Weni marah-marah. Dia menunjuk-nunjuk wajah Karina.
"Bicara apa kamu, Wen? Ngatain saya wanita murahan sedangkan kamu sendiri apa?! Dasar pelakor!" Karina tidak tinggal diam. Dia mendorong Weni dari hadapannya sampai wanita itu terpelanting.
Angga buru-buru maju dan memisahkan mereka. Pak Rahmat turut panik melihatnya.
Ilalang menggeleng dengan wajah jengah, lantas melenggang pergi meninggalkan ruang kepala sekolah. Dia tak mau melibatkan diri dengan masalah ibunya.
"Ilalang!" Karina berteriak lantas mengejar putranya.
Angga baru saja hendak menyusul Karina, tapi Weni menahannya.
"Kamu mau menyusul mereka, Mas? Siap-siap aja kehilangan aku dan Yuda," ancamnya.
Angga hanya mengusap wajahnya dengan kasar dan frustasi. Matanya memandangi punggung Karina menjauh menuju Ilalang.
__ADS_1
Mereka memang bukan keluarga lagi, tapi Ilalang tetap putranya, darah dagingnya. Karina memang hanya mantan istrinya, tapi Ilalang?
Apa ada yang namanya mantan anak?